21 Maret 1966

Nurtanio: Bukti Peran Sejarah AU dalam Merintis Industri Pesawat

Oleh: Petrik Matanasi - 21 Maret 2019
Dibaca Normal 2 menit
Nurtanio adalah pelopor industri penerbangan Indonesia. Dia memulainya justru dalam kondisi sulit di masa Revolusi.
tirto.id - Zaman Orde Baru punya Bacharuddin Jusuf Habibie. Di era Orde Lama, Indonesia punya Nurtanio Pringgoadisuryo. Nurtanio termasuk segelintir orang Indonesia yang terobsesi untuk terbang. Bukan sekadar terbang sebagai pilot, tapi juga membuat pesawatnya.

Sedari zaman sekolah, dia sudah berlangganan majalah penerbangan Vliegwereld. Dia tidak sulit memahami bacaan berbahasa Belanda karena itulah bahasa pengantarnya di sekolah (ELS dan MULO). Minatnya pada pesawat ditunjang dengan pendidikan formalnya. Di zaman Jepang, Nurtanio belajar teknik di Kogyo Senmon Gakko, Surabaya. Selain itu dia pernah aktif di Junior Aero Club (JAC) demi memuaskan minat pada penerbangan ketika masih sekolah.

Setelah Indonesia merdeka, Nurtanio termasuk pemuda yang ikut serta masuk Angkatan Udara Republik. Bersama Wiweko Supono, yang sama-sama doyan membuat pesawat, Nurtanio ditempatkan di Biro Rencana dan Konstruksi Angkatan Udara di Maospati, Madiun.

Seperti dicatat buku Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Perjuangan AURI 1945-1950 (2007: 68), biro ini tugasnya mengadakan perbaikan, perawatan, dan pembuatan pesawat mandiri dengan bahan-bahan yang ada. Kala itu Republik Indonesia sangat sulit mendapatkan mesin dan bahan-bahan lain untuk membuat pesawat. Apalagi Angkatan Laut Belanda mengadakan blokade laut yang menyulitkan.

“Nurtanio dalam pembuatan pesawat terbang, diawali dengan membuat glider, pesawat terbang tanpa motor,” tulis J. M. V. Soeparno dalam Nurtanio: Perintis Industri Pesawat Terbang Indonesia (2004: 52).

Di awal masa Revolusi, dengan dibantu teknisi-teknisi AURI, Wiweko dan Nurtanio berhasil membuat pesawat glider bernama Zogling NWG. Di bawah perwira-perwira macam Nurtanio dan Wiweko, sebenarnya terdapat teknisi-teknisi AURI yang juga ahli pesawat, tapi kurang dikenal dalam sejarah. Salah satunya Achmat bin Talim—pemuda Sunda kelahiran 1910—yang pernah bekerja di penerbangan KNIL dan pernah ikut membuat pesawat kayu PK-KKH pesanan pengusaha roti di Bandung.

Gebrakan pertama biro AURI yang dipimpin Nurtanio adalah pesawat olahraga berkursi tunggal dengan mesin silinder Harley Davidson berkekuatan 15 pk yang dinamai Nurweko dengan registrasi RI-X pada 1947.

Sejawat lain di AURI yang “gila” dalam membuat pesawat adalah Yum Sumarsono. Di masa Revolusi dia bekerja keras dengan swadaya dan bantuan kawan membuat helikopter berbekal mesin BMW 500cc 24 pk. Usaha sulit ini lalu tergagalkan oleh Agresi Militer II. Begitu tercatat dalam Awal Kedirgantaraan di Indonesia (hlm. 75-76).

Setelah Revolusi berlalu, Nurtanio dan kawan-kawan terus membuat pesawat percobaan. Di antaranya adalah Si Kumbang, Kunang-kunang, Belalang, dan lainnya. Si Kumbang pertama kali terbang pada 1 Agustus 1954 dan terus disempurnakan.

Gugur dalam Uji Coba Terbang

Ketika ambisi akan industri penerbangan nasional muncul, Nurtanio tak ingin Indonesia terburu-buru. Hingga akhirnya muncul kebijakan membangun Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (LAPIP), berdasarkan Keputusan Menteri/Kasau N0.488 tertanggal 1 Agustus 1960. Indonesia sempat bekerja sama dengan Polandia untuk merintis industri penerbangan itu.

Pada awal 1965, seperti dicatat Benedicta A. Surodjo & J. M. V. Soeparno dalam Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran dan Tanganku: Pledoi Omar Dani (2001: 110-111), Komodor Nurtanio sudah mampu memproduksi pesawat Gelatik dan dipercaya untuk merakit pesawat.

Menghabiskan waktu di depan meja gambar, untuk seorang pelopor industri pesawat sepertinya, tentu hal yang biasa. Tapi Nurtanio berani lebih dari sekadar di belakang meja. Bekerja ala Nurtanio tak melulu memeras otak, tapi juga harus berani berkorban jiwa.

Yum Sumarsono, misalnya, seperti dicatat Bakti TNI Angkatan Udara, 1946-2003 (2003: 120-121), harus kehilangan tangan dalam uji coba terbang pesawat rakitannya yang bernama Kepik. Nahas juga akhirnya dialami Nurtanio, hingga ia harus tutup usia.

Dalam uji coba penerbangan pesawat Super Aero-45 bermesin ganda buatan Cekoslovakia, seperti dicatat Chappy Hakim dalam Awas Ketabrak Pesawat Terbang (2009: 160), Nurtanio dan Supadio jatuh di Bandung pada 21 Maret 1966, tepat hari ini 53 tahun lalu. Penyebabnya adalah salah satu mesinnya mati mendadak.

Masalah penerbangan yang mengancam nyawa pernah dialami Nurtanio sebelumnya. Tapi tak sekalipun pesawat hasil rancangannya sendiri membuatnya terbunuh. Nurtanio malah gugur ketika menerbangkan pesawat buatan luar negeri yang teknologinya dianggap lebih baik.

Infografik Mozaik Nurtanio Pringgoadisuryo
Infografik Mozaik Nurtanio Pringgoadisuryo

Namanya Sempat Dihapus

Setelah kematiannya, laki-laki yang diberi pangkat Laksamana Muda secara anumerta ini pernah dikenang sebagai nama lembaga pembuat pesawat. Nurtanio diresmikan oleh AURI di Bandung menjadi nama lembaga penerbangan, yaitu Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio (LIPNUR), penerus LAPIP. LIPNUR kemudian diubah lagi namanya menjadi Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN).

Setelah era Nurtanio, tak dapat dipungkiri B.J. Habibie dan generasinya di IPTN telah membuat banyak kemajuan dalam industri pesawat terbang.

Di masa Habibie berperan penting dalam industri pesawat, ketika Orde Baru berjaya, lembaga ini kemudian diubah namanya menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (masih disingkat IPTN juga). Nama Nurtanio jelas seperti dilupakan sebagai perintis industri penerbangan Indonesia. Apalagi singkatan IPTN kemudian berganti nama lagi menjadi PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

Bagi Marsekal Chappy Hakim, mantan KSAU, perubahan nama itu, “agak kurang jelas dan terasa juga sebagai suatu penghinaan dirasakan oleh keluarga besar almarhum Nurtanio dan tentu saja Korps Angkatan Udara.”

Hilangnya nama Nurtanio itu ibarat mencoret peran sejarah AURI dalam perintisan industri penerbangan Indonesia. Dengan hilangnya nama Nurtanio, orang-orang tidak akan mencari tahu lagi siapa itu Nurtanio Pringgoadisuryo, laki-laki kelahiran Kandangan 3 Desember 1923, yang sedari zaman Revolusi sudah merancang pesawat. Padahal Nurtanio adalah satu bukti penting bahwa orang Indonesia sudah mampu membuat pesawat sendiri, bahkan di masa-masa sulit.

Kini namanya dicoba dikenang kembali dengan menamakan pesawat N219 produksi PTDI sebagai Nurtanio.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan