Al-Ilmu Nuurun

Nur Chadijah, Santriwati Kosmopolit & Perintis Pesantren Perempuan

Oleh: Tika Ramadhini - 26 Mei 2019
Dibaca Normal 3 menit
Nyai Nur Chadijah berjasa dalam memelopori kelas khusus perempuan di pesantren tradisional. Bersama suaminya, K.H. Bisri Syansuri, ia belajar di Makkah.
tirto.id - “Oh, Nyai Nur Chadijah ini neneknya Gus Dur” adalah hal pertama yang terlintas di benak saya kala membaca tulisan Muhammad Dahlan dalam buku Ulama Perempuan Indonesia (2002) suntingan Jajat Burhanuddin.

Artikel Dahlan sebenarnya bukan tentang Chadijah, melainkan kiprah tokoh perempuan lain, yakni Sholichah Wahid Hasyim, yang merupakan anak dari Chadijah. Artikel ini juga menceritakan secara singkat tentang kisah hidup Chadijah, yang sebenarnya menarik, namun belum banyak diketahui orang—selain sebatas "neneknya Gus Dur".

Chadijah lahir di Jombang pada 1889. Ia tumbuh besar di lingkungan pesantren dan merupakan putri K.H. Hasbullah dari Pesantren Tambakberas. Pada 1917, di usia 28, ia dan suaminya, K.H. Bisri Syansuri, membuka Pesantren Mambaul Maarif. Pesantren ini kemudian menjadi pesantren pertama di Pulau Jawa yang membuka kelas untuk perempuan.


Cinta Bersemi di Makkah

Chadijah punya pengalaman kosmopolitan bermukim di Makkah selepas masa remaja. Pada 1912 ia pergi ke Makkah bersama ibunya untuk menunaikan ibadah haji. Di Makkah inilah ia bertemu Bisri Syansuri, karena dijodohkan kakaknya, K.H. Wahab Hasbullah.

“Akhirnya, sebelum kembali ke Jombang, pasangan ini resmi menikah di Makkah. Setelah menikah, pasangan muda Bisri dan Chadijah beserta ibu Wahab kembali ke Jombang,” tulis Greg Barton dalam Biografi Gus Dur (2017: 31).

Berdasarkan tuturan banyak orang di Jombang, ada pula yang berpendapat bahwa kisah cinta Chadijah dengan Bisri Syansuri sudah bersemi dalam perjalanan menuju tanah suci. Singkat cerita, mereka menikah dan tinggal di Makkah. Meski keduanya berangkat dengan tujuan berhaji pada awalnya, mereka memutuskan tinggal lebih lama karena Bisri Syansuri hendak menuntut ilmu.


Menurut Nyai Muhasanah Iskandar, cucu Chadijah dan ibunda Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, yang saya temui pada Oktober 2017, ketika bermukim di Makkah Chadijah juga ikut belajar. Persisnya seperti apa metode yang dipelajari, Muhasanah tidak tahu dengan pasti. Namun ia masih ingat ketika neneknya bernostalgia tentang belajar mengaji kepada seorang syekh di Arab. "Harus diulang-ulang sampai benar-benar betul bacaannya. Sampai syekh bilang ‘tayyib, tayyib’ (baik, baik), baru boleh berhenti," tutur Muhasanah sembari tersenyum.

Menonjolnya kemampuan membaca Alquran ini membuat Chadijah dikenal sebagai guru yang jago mengajar ketika pesantren Mambaul Maarif dibuka. Pesantren itu didirikan Bisri Syansuri dan Chadijah sepulang mereka dari Makkah. Chadijah kembali ke tanah air bersama suaminya pada 1914 ketika hamil anak pertama, setelah hampir dua tahun menetap di kota itu. Pada 1917, berbekal sebidang tanah dari ayah Chadijah, mereka merintis pesantren baru di pinggiran kota Jombang.

Membuka Kelas untuk Perempuan

Setelah hampir 10 tahun dibuka, Mambaul Maarif membuat inovasi revolusioner: membuka kelas untuk perempuan. Kelas untuk perempuan pada waktu itu merupakan hal yang masih dianggap aneh, meski sudah ada sekolah untuk perempuan yang bermunculan di kota-kota besar di Hindia Belanda. Dimulai dengan Sakola Istri di Bandung pada 1904 yang didirikan oleh Dewi Sartika, Sekolah Kartini di Semarang pada 1912, dan Diniyah Putri di Padang Panjang pada 1923.

Menurut Elsbeth Locher-Scholten dalam Women and the Colonial State (2000), dekade 1920-1930 memang periode ketika perempuan di Hindia Belanda mulai mencecap literasi, meski masih amat terbatas di kalangan urban dan elite. Di pulau Jawa, Pesantren Mambaul Maarif lah yang menjadi pelopor pendidikan perempuan di pesantren, yang berupaya menjangkau lebih banyak perempuan dan tidak terbatas pada kelas elite.


Sementara Fera Rahmatun Nazilah dalam artikel "Manbaul Maarif, Pesantren Perempuan Pertama di Pulau Jawa" yang dimuat di islami.co mencatat pada awalnya hanya dibuka empat kelas untuk perempuan, namun sambutan tidak terlalu antusias. Malah sempat ada kritikan karena pendidikan perempuan dianggap tidak lazim. Seiring berjalannya waktu, di bawah pengelolaan Chadijah, kelas perempuan ini mampu bertahan dan jumlah muridnya semakin bertambah.

Infografik Al Ilmu Nuurun Nyai Nur Chadijah
Infografik Al-Ilmu Nuurun Nyai Nur Chadijah


Meski Chadijah mengelola kelas perempuan di Mambaul Maarif sejak pertama kali didirikan, suaminya lebih banyak dikenang sebagai sosok yang paling berjasa dalam membuka kelas perempuan pertama di pesantren tradisional di Jawa. Seberapa besar andil Chadijah dalam menggagas kelas perempuan tidak ada yang tahu pasti. Namun berspekulasi bahwa ide ini kemungkinan besar berasal dari Chadijah bukanlah hal aneh, mengingat bakatnya dalam mengajar dan faktor "sesama perempuan".

Pendapat Kiai Nasir Fattah yang saya temui di Tambakberas pada Oktober 2017 mendukung spekulasi ini. "Amat mungkin ide kelas perempuan datang dari Nyai Chadijah, mengingat karakter dan latar belakang Mbah Bisri yang kuat dalam kajian fikih, yang kadang terkesan kaku. Ide kelas perempuan terlalu spektakuler kalau hanya datang dari Mbah Bisri seorang, pasti ada peran besar dari Nyai Chadijah," tuturnya.

Problem utama yang dihadapi kelas perempuan di Mambaul Maarif adalah kesinambungan belajar. Banyak santriwati yang terpaksa tidak melanjutkan pelajaran karena keharusan menikah. Kelas perempuan di Mambaul Maarif pada masa itu memang belum menargetkan cita-cita tinggi seperti mencetak ulama perempuan, tapi sekadar memberi pendidikan dasar serta mempersiapkan mereka untuk menjadi ibu yang baik. Karena itu mereka belajar kitab-kitab seperti Adab al-Mar’ah dan Uqud al-Lujayn, disamping kitab dasar seperti Syafinatun Fiqh dan Aqidat al-Awam.

Standar dan pencapaian murid perempuan pada masa itu tentu terkesan tidak berarti jika dilihat dengan tolak ukur masa kini. Namun, pada waktu itu, bisa membaca, berhitung, dan belajar tentang adab di bangku sekolah sudah merupakan privilese dan kemewahan yang tidak dinikmati semua orang. Beberapa murid perempuan yang menamatkan pendidikan kemudian kembali menjadi pengajar di pesantren.

Chadijah terus mengelola Mambaul Maarif bersama suaminya hingga meninggal pada 1980 di Jombang. Ia dikaruniai usia yang sangat panjang: 91 tahun.

==========

Sepanjang Ramadan hingga lebaran, kami menyuguhkan artikel-artikel yang mengetengahkan pemikiran para cendekiawan Muslim Indonesia di paruh pertama abad ke-20. Kami percaya bahwa pemikiran mereka telah berjasa membentuk gagasan tentang Indonesia dan berkontribusi penting bagi peradaban Islam. Artikel-artikel tersebut ditayangkan dalam rubrik "Al-Ilmu Nuurun" atau "ilmu adalah cahaya".

Tika Ramadhini adalah peneliti pada Leibniz-Zentrum Moderner Orient, Berlin dan kandidat doktor sejarah di Humboldt Universität. Saat ini sedang menulis disertasi tentang kehidupan para perempuan Jawa di Makkah awal abad ke-20. Ia lahir di Jakarta, 23 Maret 1992.

Baca juga artikel terkait AL-ILMU NUURUN atau tulisan menarik lainnya Tika Ramadhini
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Tika Ramadhini
Editor: Ivan Aulia Ahsan