Menuju konten utama
Kontroversi Langkahi Makam

NU Takut Kualat, Muhammadiyah Anggap Tak Sopan, Kok Sandi Berani?

Muhammadiyah dan NU mengkritik tindakan Sandiaga melangkahi makam KH Bisri Syansuri yang viral di media sosial.

NU Takut Kualat, Muhammadiyah Anggap Tak Sopan, Kok Sandi Berani?
Calon Waki Presiden nomor urut 2 Sandiaga Uno, berbicara saat Deklarasi Relawan Rhoma Irama untuk Prabowo - Sandi, di Soneta Record, Jalan Tole Iskandar Sukmajaya Depok, Jawa Barat, Minggu (28/10/2018). ANTARA FOTO/Kahfie kamaru.

tirto.id - Calon wakil presiden nomor urut 02, Sandiaga Uno kembali menjadi sorotan usai tindakannya melangkahi makam salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Bisri Syansuri, di Kompleks Pesantren Denanyar, Jombang viral. Dalam video yang tersebar di media sosial, ia tampak sedang menabur bunga di makam kiai kharismatik itu.

Setelah selesai, mantan wakil gubernur DKI Jakarta itu terlihat melangkahi makam tersebut untuk beralih menabur bunga ke makam lainnya. Sementara Prabowo yang turut hadir dalam kegiatan itu memilih memutar ketimbang melangkahi makam Kiai Bisri.

Tindakan Sandiaga tersebut kemudian menuai polemik hingga sejumlah tokoh organisasi kemasyarakatan (ormas), seperti NU dan Muhammadiyah turut berkomentar.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj mengaku dirinya tak berani melangkahi makam pendiri NU itu. Sebab, bagi warga nahdliyin ada kekhawatiran “kualat” bila suul adab terhadap kiai kharismatik.

“Kalau warga NU, tidak berani sama sekali. Pasti takut kualat. Enggak berani. Saya saja enggak berani,” kata Said Aqil kepada reporter Tirto, di salah satu restauran di Jakarta Pusat, Senin malam (12/11/2018).

Hal senada diungkapkan Ketua PBNU Robikin Emhas. Menurutnya, sudah menjadi akhlak dan adab seorang Muslim untuk memperlakukan kuburan sepatutnya.

Robikin mengatakan, syariat bagi seorang Muslim ketika ada orang meninggal dunia adalah dimandikan, dikafani, disalati, dan dikubur. “Namun akhlak dan adabnya, ketika sudah ada di kuburan, kuburan itu tidak diperlakukan dengan tidak sepatutnya. Itu soal adab,” kata Robikin.

Sementara itu, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti mengatakan, secara fiqih memang tak boleh seorang Muslim melangkahi makam.

“Secara fiqih, yang melangkahi makam tak boleh, makanya perlu ada nisan. Fungsinya nisan salah satunya untuk mengetahui posisi kepala dan agar tidak sembarangan diperlukan. Ini masalah adab dan tata krama sebenarnya,” kata Mu'ti kepada reporter Tirto, Selasa (13/11/2018).

“Ini untuk semua Muslim, tak hanya Muhammadiyah. Ada hadisnya, walau tentu kualitas hadis bisa dicek masing-masing,” kata Mu'ti menambahkan.

Infografik CI Janji Kontroversial Prabowo-Sandiaga

Dikritik Kubu Jokowi, Dibela Tim Prabowo

Tindakan Sandiaga melangkahi makam salah satu pendiri NU tersebut tak hanya dikritik ormas Islam. Namun, menjadi bahan kritikan oleh tim kampanye Jokowi-Maruf.

“Melangkahi makam seorang ulama, apalagi makam pendiri NU adalah perbuatan yang menyinggung warga nahdliyin,” Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma’ruf Abdul Kadir Karding kepada reporter Tirto.

Karding mengatakan, bagi warga NU, Kiai Bisri adalah ulama panutan yang dihormati dan diteladani. Sikap ini bukan saja karena Kiai Bisri memiliki kedalaman dan keluasan ilmu agama, tapi juga lantaran ia memiliki banyak kontribusi positif terhadap kemerdekaan dan pembangunan bangsa.

“Melangkahi makam adalah tindakan tidak sopan, apalagi ini makam seorang kiai besar,” kata Karding.

Namun demikian, Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Ferry Juliantono mengatakan apa yang dilakukan Sandiaga merupakan tindakan ketidaksengajaan dan perlu dimaafkan.

“Jangan dipersoalkan lagi. Itu tidak sengaja Pak Sandi, dan sudah minta maaf. Kan, enggak sengaja,” kata Ferry kepada reporter Tirto, Selasa siang.

Ferry mengatakan hal tersebut tak perlu diungkit kembali dan sudah saatnya fokus ke isu-isu yang lebih besar. “Saya kok lihatnya kubu seberang selalu membahas hal-hal remeh, ya. Selalu digoreng. Jadi hal-hal substansial seperti ekonomi, ketimpangan, dan lain-lain jadi dipinggirkan,” kata dia.

Kendati demikian, Pengajar Ilmu Politik dan Pemerintahan UGM Yogyakarta, Arya Budi melihat hal tersebut tetap menjadi isu penting, khususnya bagi warga NU.

“Konteks politik itu sangat matters atau sangat berarti, apalagi mengingat makam yang dilangkahi itu dari kiai NU, kita tahu tradisi orang NU datang ke makam sangat kuat. Mereka berdoa di sana dan sangat menghormati. NU tentu tahu etikanya mengunjungi makam,” kata Arya.

“Jika ada capres dan cawapres secara etik dan adab sangat bertolak belakang dengan kebiasaan orang-orang itu [NU], ini akan jadi persoalan. Orang-orang NU akan menganggap orang yang sembarangan melakukan sesuatu di makam itu bukan bagian mereka,” kata Arya.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan lainnya dari Haris Prabowo

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Haris Prabowo
Penulis: Haris Prabowo
Editor: Abdul Aziz