Noda Rasisme dalam Olimpiade

Oleh: Putu Agung Nara Indra - 11 Agustus 2016
Dibaca Normal 4 menit
Olimpiade merupakan ajang olahraga terbesar di dunia ini. Olimpiade juga sering dianggap sebagai puncak pencapaian prestasi dari seorang atlet. Namun, Olimpiade pun tidak lekang dari berbagai kontroversi. Kecurangan, doping, politisasi, hingga rasisme adalah noda-noda yang pernah mencemari acara olahraga paling prestisius ini.
tirto.id - Hari itu, 5 Agustus 2016. Atlet-atlet dari seluruh penjuru dunia telah hadir di Rio de Janeiro, Brazil, untuk mengikuti acara pembukaan Olimpiade Rio 2016. Udi Gal, pelatih tim layar Israel, tengah bersiap-siap untuk memasuki bis yang disediakan panitia. Tiba-tiba pintu itu tertutup.

Gal terkejut dan menoleh ke dalam bis. Ia melihat bahwa bis sudah terlebih dahulu dipenuhi oleh delegasi asal Lebanon, negara yang hingga saat ini masih terlibat peperangan dengan Israel. Gal sontak memprotes tindakan delegasi Lebanon. Gal dan beberapa anggota delegasi Israel memaksa masuk ke dalam bis.

Langkah mereka dihentikan oleh Saleem a-Haj Nacoula, kepala kontingen Lebanon. Tidak tanggung-tanggung, Nacoula bahkan sengaja merentangkan tubuhnya di pintu bis supaya anggota kontingen Israel tidak bisa masuk. Pihak panitia yang tidak ingin keributan memuncak akhirnya mengarahkan kontingen Israel ke bis lain.

Peristiwa itu segera memantik reaksi beragam. Menteri Kebudayaan dan Olahraga Israel, Miri Regev, bahkan menuding tindakan ini sebagai aksi rasis. “Tindakan itu jelas-jelas menunjukkan sikap anti-Semit, dan bentuk paling buruk dari rasisme!,”tandasnya kepada Israel Radio.

Sementara itu, Nacoula—yang aksinya dianggap heroik oleh media-media Lebanon-- menolak bahwa tindakannya didasarkan pada sentimen rasial. Ia bahkan balik mempertanyakan motivasi delegasi Israel masuk ke dalam bis kontingen Lebanon, padahal ada 250 bis lain yang disediakan untuk mengantar para atlet.

“Kenapa mereka harus masuk ke bis delegasi Lebanon? Saya harus berdiri di depan pintu dan berkata kepada panitia bahwa kami tidak akan membiarkan mereka naik bus dengan kami!,” tandas Nacoula dikutip dari The Times of Israel.

Hanya beberapa saat setelah peristiwa itu, sebuah kejadian berbau rasisme kembali menjelang pembukaan Olimpiade Rio 2016. Sebuah video yang rencananya akan diputar pada acara pembukaan akhirnya dibatalkan karena dianggap mengandung stereotipe negatif nan rasis.

Video yang dibuat oleh Fernando Meirelles—sutradara Brazil yang terkenal dengan film “City of God”-- menggambarkan seorang supermodel yang dijambret oleh seorang anak. Anak itu digambarkan berkulit hitam dan berasal dari daerah kumuh di Brazil atau lazim disebut favela. Video tersebut memantik protes dari banyak pihak karena dianggap menyuburkan imaji buruk terhadap warga kulit hitam dan penghuni favela di negara itu.

Fernando Meirelles menampik anggapan rasisme tersebut. Ia menyatakan, publik menangkap esensi yang keliru dari video buatannya.

“Tidak ada adegan yang menggambarkan perampokan, kecuali dua orang petugas keamanan yang tengah mengejar seorang pedagang asongan. Mereka bertiga adalah aktor profesional,” ujarnya kepada Washington Post. Di sisi lain, ia juga mengakui bahwa isi video itu adalah sebuah “lelucon yang tidak lucu”.




Olimpiade dan simbolisasi keunggulan ras

Rasisme merupakan salah satu penyakit kambuhan yang tidak hanya menjangkiti Olimpiade, tetapi juga peradaban dunia pada umumnya. Sejarah dunia menunjukkan, hampir dalam setiap rentang jaman, kita dapat menemui bentuk-bentuk rasisme dalam berbagai variannya. Abad ke-19 memperlihatkannya dalam bentuk perbudakan, sementara abad ke-20 memperkenalkan kita kepada makhluk bernama fasisme. Menjelang abad ke-21, kita pun masih menemui sisa-sisa rasisme dalam wujud politik apartheid di Afrika Selatan.

Kamus Merriam-Webster mendefinisikan rasisme sebagai “sebuah keyakinan bahwa ras adalah penyebab utama dari kapasitas dan sifat manusia serta perbedaan rasial tersebut akan menciptakan keunggulan inheren terhadap ras-ras tertentu”.

Sementara itu, Ensiklopedia Britannica mendefinisikan rasisme sebagai “tindakan, praktik, atau kepercayaan apapun yang merefleksikan pandangan dunia yang rasis—ideologi yang menganggap manusia bisa dibagi berdasarkan entitas biologis yang disebut ras, yang mengamini adanya kaitan antara sifat-sifat fisik yang diwariskan [secara genetis] dan kepribadian, intelektualitas, moralitas, dan serbaneka kultural-behavioral lainnya, serta anggapan bahwa beberapa ras ditakdirkan untuk lebih superior dari ras lainnya.”

Rasisme dapat tumbuh subur karena dipupuk melalui simbol-simbol tertentu. Di sisi lain, simbol tersebut harus diawetkan melalui kultus-kultus, sekaligus digaungkan kepada khalayak ramai dalam sebuah perayaan monumental untuk mendapatkan afirmasi publik dalam skala luas. Olimpiade dalam konteks ini seringkali menjadi sarana paling efektif untuk mencapai hal-hal tersebut.

Olimpiade Berlin 1936 merupakan salah satu contoh yang paling nyata. Dalam Olimpiade yang sering disebut sebagai “Olimpiade Nazi” itu, Kanselir Jerman Adolf Hitler sengaja menyiapkannya sebagai sebuah ajang untuk memperlihatkan superioritas ras Arya kepada dunia. Diktator kontroversial ini mempersiapkan segalanya dengan baik, mulai dari membangun monumen-monumen, gedung-gedung, dan venue olahraga yang sangat megah, hingga merancang acara pembukaan nan gagah.

Kebijakan anti-Semit yang dipegang Hitler juga membuat beberapa atlet meradang. Seorang atlet Jerman, Margaret Bergmann Lambert, dikeluarkan dari kontingen Jerman hanya karena ia berdarah Yahudi. Ia tetap dikeluarkan meskipun dirinya sempat menyamai rekor nasional Jerman dalam cabang lompat tinggi. Tak hanya itu, Hitler bahkan memerintahkan untuk mengulang pertandingan sepak bola antara Peru—tim yang didominasi pemain kulit hitam dan Austria—negara tempat Hitler dilahirkan-- yang berakhir dengan kekalahan 2-4 untuk Austria.

Tetapi Hitler akhirnya kena batunya. Ia sempat menolak untuk memberi selamat kepada Cornelius Johnson, atlet kulit hitam Amerika Serikat yang berhasil memenangkan medali emas. Namun, beberapa saat kemudian, Hitler harus rela mengakui keunggulan atlet kulit hitam lainnya, Jesse Owens, yang berhasil menyabet empat medali emas dalam cabang atletik. Dalam salah satu cabang, Owens bahkan berhasil mengalahkan salah satu atlet andalan Hitler yang bernama Luz Long.

Ironisnya, sepulangnya ke AS, Jesse Owens masih harus menerima diskriminasi rasial. Ia dan keluarganya sempat kesulitan mencari hotel untuk menginap di Manhattan. Yang lebih menyedihkan lagi, Owens harus menggunakan lift barang untuk menghadiri jamuan makan malam kehormatan untuk merayakan kemenangannya. Saat itu, warga kulit hitam memang dilarang menggunakan lift yang sama dengan orang kulit putih.


Olimpiade dan Protes Terhadap Diskriminasi

Posisi olimpiade yang berlimpah publikasi dan peliputan media membuatnya menjadi salah satu ajang untuk menunjukkan protes politik. Hal ini pernah ditunjukkan oleh dua atlet kulit hitam AS, Tommie Smith dan John Carlos, pada gelaran Olimpiade Mexico City 1968.

Tommie Smith berhasil memenangkan emas pada nomor lari 200 meter, sedangkan John Carlos memenangkan medali perunggu untuk cabang yang sama. Pada saat medali selesai dikalungkan dan lagu kebangsaan AS dialunkan, keduanya serempak mengangkat tangannya yang berbalut sarung tangan hitam. Tommie Smith mengangkat tangan kanannya, sementara John Carlos mengangkat tangan kiri. Mereka juga mencopot sepatunya sehingga memperlihatkan kaus kaki hitam yang mereka kenakan.

Aksi kedua atlet ini merupakan bentuk protes mereka terhadap diskriminasi rasial di AS sekaligus dukungan mereka terhadap gerakan “Black Power”. Mereka menonjolkan atribut hitam sebagai bentuk solidaritas terhadap warga kulit hitam. Tangan kanan yang diangkat oleh Smith melambangkan kekuatan warga kulit hitam di AS. Sementara itu, kepalan tangan kiri Carlos merupakan lambang dari persatuan seluruh warga kulit hitam di AS. Kepalan tangan kanan Smith dan tangan kiri Carlos merupakan representasi dari gabungan antara kekuatan dan persatuan warga kulit hitam di AS.

“Jika saya menang di sini maka saya adalah orang Amerika, bukan orang kulit hitam Amerika. Tapi, jika saya melakukan suatu hal yang buruk, mereka langsung mencap saya sebagai 'Negro'. Kami adalah warga kulit hitam dan kami bangga menjadi bagian dari kulit hitam,” papar Tommie Smith kepada BBC.

“Warga kulit hitam di Amerika akan mengerti atas apa yang kami lakukan hari ini,” sambungnya.
Sayangnya, pemerintah dan orang kulit putih di AS tampaknya tidak mau mengerti. Dua hari setelah aksinya, kedua atlet ini dipulangkan dari olimpiade. Mereka juga mendapatkan banyak ancaman kematian di negaranya sendiri.

Rasisme memang belum mau enyah dari kehidupan manusia. Ia masih bercokol di olahraga—salah satu bidang kehidupan yang digadang-gadang mampu menjadi pemersatu seluruh umat manusia. Ekspresi rasisme dan juga olah raga adalah perwujudan dari gagasan manusia. Maka, mengutip Pramoedya, kita memang benar-benar harus adil sejak dalam pikiran.

Baca juga artikel terkait RASISME ATLET atau tulisan menarik lainnya Putu Agung Nara Indra
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Putu Agung Nara Indra
Penulis: Putu Agung Nara Indra
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight