Nikolai Starostin di Antara Gulag dan Kecintaan Pada Sepakbola

Oleh: Faisal Irfani - 7 Januari 2019
Dibaca Normal 4 menit
Bagaimana sepakbola menjadi alat perlawanan di tengah kekuasaan tiran Joseph Stalin?
tirto.id - Di bawah komunisme, sebagian besar tim bola di Rusia—atau lebih tepatnya di Moskow—punya hubungan dengan institusi maupun perusahaan yang dikontrol pemerintah.

CSKA Moskow, misalnya, merupakan tim Tentara Merah (Red Army). Dynamo, punya kedekatan khusus dengan satuan polisi rahasia Rusia, N.K.D.V. Lalu Lokomotiv Moscow adalah klub milik perusahaan kereta api negara. Sedangkan Torpedo, didanai pabrik mobil bernama Torpedo-ZiL yang reputasinya cukup mentereng.

Keadaan itu, mau tak mau, membikin masyarakat Rusia jengah. Menyaksikan sepakbola tak ubahnya seperti menonton seremoni olahraga dari pemerintah. Tak ada greget, tak ada persaingan yang kompetitif.


Hingga akhirnya, muncul satu tim yang mendobrak pakem: Spartak Moskow. Beda dengan yang lain, Spartak sama sekali tak punya afiliasi ke pemerintah. Ia didirikan secara mandiri oleh orang-orang yang merasa harus menjunjung tinggi identitas dan preferensi politiknya sebagai warga Rusia tanpa harus dihalangi negara.

Popularitas Spartak cepat membumbung tinggi. Memilih Spartak merupakan langkah kecil untuk mengatakan tidak kepada hegemoni rezim Soviet yang saat itu dipegang Joseph Stalin. Dengan dukungan yang kuat, Spartak perlahan menjelma jadi klub beringas di Rusia.

Namun, rezim merasa terancam dengan eksistensi Spartak. Berbagai cara pun diambil untuk membungkam mereka. Di sinilah, nantinya, sepakbola memainkan perannya sebagai elan perlawanan.

Sosok Vital: Nikolai Starostin

Nama “Spartak” terinspirasi oleh sosok Spartacus, gladiator Romawi yang memimpin pemberontakan melawan Kekaisaran pada 2.000 tahun silam. Spartacus kemudian dikenal sebagai simbol perlawanan terhadap para penindas di seluruh dunia. Keberanian dan sikap ala Spartacus itulah yang mendorong Nikolai Starostin mendirikan Spartak Moskow.

Kisah Starostin, sebagaimana ditulis Toke Theilade dalam “Spartak, Survival and Success: The Story of Nikolai Starostin” (2016) yang dimuat di These Football Times, dimulai pada 1902, enam tahun usai Georges Duperont menerjemahkan aturan sepakbola ke dalam bahasa Rusia untuk kali pertama. Saat itu, sepakbola mulai jadi olahraga populer di kalangan masyarakat pra-revolusi. Banyak tim bola lahir di seluruh penjuru negeri.

Namun, kendati populer, sepakbola dianggap elitis. Biaya menyaksikan pertandingan lebih mahal dibanding upah untuk para pekerja. Tidak seperti di Eropa Barat, di Soviet, sepakbola hanya bisa dinikmati oleh segelintir pihak, atau dengan kata lain kelompok borjuis yang punya duit cukup banyak.

Starostin tumbuh bersama tiga saudaranya, Andrey, Petr, dan Aleksandr. Ia mengenal sepakbola sejak berusia sembilan tahun. Setelah Revolusi Bolshevik 1917 meletus, ia menjadi tulang punggung keluarga dengan bermain sepakbola dan hoki es.

Seiring waktu, kualitas olah bola Starostin kian mantap dan menjadikan dirinya sebagai salah satu pemain sayap terbaik di Soviet. Di saat bersamaan, kombinasi antara gerak-geriknya yang lincah, tembakannya yang kuat, dan, yang paling penting, karismanya di lapangan, memberinya kehormatan untuk memakai ban kapten timnas Rusia—saat itu masih bernama Uni Soviet.

Menjadi pemain bintang membikin Starostin bertemu banyak tokoh berpengaruh. Contohnya Aleksandr Kosarev, Ketua Liga Pemuda Komunis, atau yang biasa dikenal Komsomol. Mereka lalu banyak ngobrol satu-dua topik, termasuk soal politik, hingga akhirnya bersepakat untuk membentuk tim sepakbola yang mencerminkan masyarakat kelas pekerja di Rusia. Pada 1934, klub yang bernama Spartak Moskow ini lahir.


Bersama tiga saudaranya, Starostin yang kala itu berumur 33 tahun dan sudah memasuki masa senjakala kariernya, mulai bergerilya mencari dukungan. Gayung bersambut, klub bikinan Starostin tak sulit untuk memperoleh bala pasukan. Masyarakat kelas pekerja ramai-ramai mencurahkan perhatiannya kepada Spartak.

Empat tahun usai berdiri, Spartak berhasil memenangkan Liga Rusia. Prestasi ini bahkan diulangi di tahun berikutnya. Pencapaian tersebut praktis membikin nama Spartak kian diperbincangkan. Jumlah pendukung mereka pun melonjak sampai 50 ribu orang.

Faktor prestasi memang berpengaruh dalam mengerek popularitas Spartak. Meski begitu, ada alasan lain yang tak bisa ditepikan dan mungkin menjadi faktor utama melambungnya nama Spartak. Bagi sebagian besar masyarakat Rusia, Spartak merupakan klub bola yang tidak mewakili kepentingan pemerintah seperti halnya Dinamo, Torpedo, maupun CSKA.

Spartak adalah simbol kebebasan di mana masyarakat bisa berpartisipasi di dalam kegiatan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pemerintah. Mendukung Spartak kurang lebih berarti mendukung kebebasan di tengah hidup yang penuh aturan ini dan itu.

Akan tetapi, masa bulan madu tersebut perlahan terusik dengan segala upaya pembungkaman yang dilakukan rezim Stalin. Pemerintah merasa popularitas Spartak bisa jadi ancaman serius terhadap keberlangsungan negara dan, oleh karenanya harus dibasmi dari peredaran.

Musuh Utama: Beria

Akhir 1930-an, Stalin mengeluarkan kebijakan “Pembersihan Besar-Besaran” untuk memburu dan menyingkirkan lawan politik—atau mereka yang dianggap mbalelo terhadap Partai Komunis—dalam skala yang masif. Tugas ini dilakukan oleh satuan polisi rahasia Rusia yang juga jadi jadi cikal bakal KGB, N.K.D.V.

Kondisi tersebut membikin banyak penggemar Spartak memberontak. Simon Kuper, lewat bukunya, Football Against the Enemy (1994), menulis ketika N.K.D.V. meningkatkan jangkauannya ke dalam kehidupan masyarakat, dukungan para penggemar untuk Spartak dibarengi dengan kebencian terhadap Dinamo yang dianggap sebagai klub polisi. Maka, tak heran apabila saat kedua tim bertemu, banyak penggemar Spartak lantang berteriak, “Bunuh polisi!.”

Penggemar Spartak tambah getol merisak pendukung Dinamo karena klub kesayangan mereka berhasil memenangkan tiga gelar juara liga dalam kurun waktu tersebut. Mengencingi prestasi Dinamo yang rutin berada di bawah Spartak.

Pemandangan ini sontak bikin Lavrenti Beria, Presiden Dinamo sekaligus Kepala N.K.D.V., murka. Lebih-lebih, pada 1936, Spartak pernah "merusak" perayaan Hari Kebudayaan Fisik Nasional yang dihadiri Stalin di Lapangan Merah dengan mempertontonkan permainan sepakbola alih-alih senam maupun olahraga yang "teratur" lainnya sesuai anjuran pemerintah.


Korban pertama adalah Kosarev, anggota Dewan Pembina Spartak, yang dieksekusi selama periode Pembersihan Besar-Besaran Stalin. Tewasnya Kosarev menjadi pukulan telak bagi Spartak sebab, catat Jim Riordan dalam “The Strange Story of Nikolai Starostin, Football and Lavrentii Beria” (1994, PDF) yang dipublikasikan di jurnal Europe-Asia Studies, selama ini lobi-lobi Kosarev kepada Partai Komunis telah membikin Spartak aman dari serangan politik.

Setelah Kosarev, giliran Starostin yang dijadikan target. Starostin dituduh macam-macam: melakukan terorisme, membajak produk manufaktur kereta api, melancarkan propaganda anti-Soviet, mempromosikan olahraga yang borjuis dan kapitalis, hingga rencana pembunuhan Stalin—meski tak terbukti kebenarannya.

Pada 1942, setelah berkali-kali lolos dari penangkapan, Starostin dan ketiga saudaranya akhirnya ditangkap dan dibuang ke Gulag bersama tahanan politik lainnya selama 10 tahun.


Infografik Nikolai Starostin
Infografik Nikolai Starostin


Bagi banyak orang, Gulag identik dengan kematian, penderitaan, dan kondisi hidup yang ekstrem. Namun, Starostin menemukan fakta bahwa di neraka ini orang masih mencintai sepakbola dan Spartak. Ketenaran Starostin menolongnya untuk bertahan.

“Popularitas Spartak,” Starostin kemudian mengenang, "mendahului saya secara luas".

Di Gulag, Starostin diperlakukan bak pahlawan. Para penghuni kamp tahanan melakukan segalanya untuk melindunginya, membuatnya nyaman, dan rela duduk berjam-jam demi mendengarkan pengalaman Starostin melawan rezim.

“Para tahanan akan diam seperti tikus untuk mendengarkan cerita sepakbola saya,” terangnya seperti dilansir The Guardian. “Bagi kebanyakan orang, sepakbola adalah satu-satunya, dan kadang-kadang kesempatan terakhir, untuk mempertahankan harapan hidup dan hubungan antar-manusia.”

Rupanya, Starostin hanya bertahan tiga tahun di Gulag. Pada 1945, atas permintaan seorang jenderal, ia dipindahkan ke Amur, daerah Timur Rusia yang berbatasan dengan Asia, guna melatih tim lokal bernama Dinamo Komsomolsk.


Reputasi Starostin juga menarik minat Vassily, putra Stalin, untuk memboyongnya ke Moskow guna melatih tim Angkatan Udara Soviet, VVS Moscow. (Hal yang ironis, bukan?) Walaupun berada dalam perlindungan Vassily, Beria masih getol mengejar Starostin. Untuk menjamin keselamatan Starostin, Vassily bahkan rela berbagi ranjang dengannya.

Akhirnya, Starostin dapat hidup dengan lega usai Stalin meninggal dan Beria dieksekusi pada 1953. Setahun berselang, ia dan saudara-saudaranya dibebaskan serta namanya direhabilitasi beberapa tahun kemudian.

“Sangat menyedihkan ketika harus bertahun-tahun [ditahan] di Gulag. Tapi, saya harus tenang karena tahun-tahun itu tidak sia-sia. Banyak hal dalam hidup yang membantu saya untuk belajar, memberi saya kesempatan untuk mengenal negara saya sendiri: mulai dari Ukhta, Vladivostok, Inta, hingga Alma-Ata. Semua bisa terjadi karena sepakbola,” Starostin bilang.

Selama empat dekade berikutnya, Starostin tetap bersama Spartak. Ia menyaksikan klub yang didirikannya bertahan di tengah dinamika yang ada: runtuhnya Uni Soviet, kolapsnya tim-tim Rusia akibat masalah finansial, hingga korupsi maupun suap yang menyelimuti tubuh federasi. Starostin juga menjadi saksi bagaimana Spartak berjaya di level domestik dengan menggondol sembilan trofi juara sejak kompetisi Liga Premier Rusia dilaksanakan pertama kali pada 1992.

Dari cerita Starostin, kita paham bahwa ia telah melakukan segalanya untuk klub yang dicintainya. Dari kisah Starostin pula kita juga yakin bahwa dirinya merupakan jelmaan Spartacus yang paripurna: dicintai orang biasa, tetapi dipandang sebagai ancaman oleh para penguasa.

Baca juga artikel terkait REVOLUSI RUSIA atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Faisal Irfani
Editor: Nuran Wibisono