24 Mei 1543

Nicolaus Copernicus Mengubah Pemahaman Manusia atas Alam Semesta

Oleh: Husein Abdulsalam - 24 Mei 2018
Dibaca Normal 4 menit
Membongkar nalar
sempit. Menjungkir balik
poros di langit.
tirto.id - Nicolaus Copernicus mati tanpa pernah menyadari De revolutionibus, buku yang ditulisnya sejak tahun 1530-an itu, rampung dicetak. Sejak awal Desember 1542, sakit yang dideritanya semakin parah. Separuh tubuhnya lumpuh akibat stroke.

Menurut pengakuan murid dan sejawatnya sesama pegawai gereja, Tiedemann Giese, hasil cetak akhir De revolutionibus memang sampai ke tangan Copernicus pada hari kematiannya, 24 Mei 1543, tepat hari ini 475 tahun lalu. Copernicus melihat buku tersebut. Tapi, sejak beberapa hari sebelumnya, ingatan Copernicus sudah lumpuh.

Dalam karyanya yang termasyhur dan menjadi rujukan orang banyak, The Structure of Scientific Revolutions (1962), sejarawan sains Thomas Kuhn (1922-1996) membahas secara khusus mengenai apa yang disebutnya paradigm shifts, yakni ketika suatu pandangan dunia yang dominan tergantikan oleh pandangan dunia lain.

Kuhn menggambarkan kemajuan dalam sains sebagai proses variasi dan seleksi alam ala Charles Darwin. Dia tidak mengatakan bahwa peningkatan ketelitian dan kekuatan memprediksi yang dihasilkan sejumlah teori dibanding teori-teori yang dianut sebelumnya menunjukkan penggambaran realitas alam yang lebih baik. Namun, mereka dipilih dari berbagai teori yang ada oleh komunitas ilmuwan karena improvisasinya dalam penggunaan instrumen dan kemampuannya memecahkan teka-teki dalam dunia sains.

Tanpa disadari Copernicus, salah satu paradigm shifts dalam sejarah sains dipicu mula-mula oleh gagasan yang dia tulis dalam De revolutionibus: Matahari adalah pusat alam semesta, bukan Bumi seperti yang dianut kebanyakan orang Eropa pada waktu itu.


Mahasiswa Drop Out yang Gemar Mengamati Langit

Nicolaus Copernicus lahir di kota Toruń, Warmia, Polandia pada 19 Februari 1473 dengan nama Mikolaj Kopernik. Ayahnya, laki-laki yang bernama Mikolaj Kopernik juga, merupakan pedagang tembaga. Sedangkan ibunya, Barbara Watzenrode, berasal dari keluarga saudagar. Di usianya yang ke-10, Kopernik diasuh pamannya, seorang pendeta bernama Lucas Watzenrode.

Saat Copernicus berusia 18, sang paman menitahkannya untuk kuliah University of Kraków, Polandia. Belum sampai lulus, Copernicus sudah disuruh sang paman untuk melanjutkan studi hukum-hukum gereja (ilmu kanon) di University of Bologna, Italia. Sang paman berharap keponakannya itu dapat kembali ke Polandia untuk bekerja di gereja.

Namun, harapan sang paman pupus. Coperninus lagi-lagi tidak lulus. Dia lebih giat mempelajari astronomi dan matematika ketimbang hukum-hukum Gereja. Di Kraków, Copernicus bertemu astronom Albert Brudzewski. Sedangkan di Bologna, dia bertemu astronom Demonico Maria Novara.

Pada masa itu, orang-orang Eropa umumnya mempercayai konsepsi alam semesta geosentris yang dijabarkan Claudius Ptolemeus. Copernicus muda mempelajari konsepsi tersebut mula-mula melalui Brudzewski dan Novara.

Arun Bala menuliskan dalam "The Dialogical Copernican Revolution" yang dimuat di buku Asia, Europe, and the Emergence of Modern Science: Knowledge Crossing Boundaries (2012) bahwa konsepsi alam semesta Ptolemeus dibangun dalam tiga kerangka pemikiran: kosmologi Aristoteles untuk menjelaskan gerak benda, optik Plato sebagai kerangka ontologis observasi benda-benda langit, dan matematika Euclid untuk memprediksi dan menjelaskan posisi planet-planet. Aristoteles, Plato, dan Euclid merupakan tiga filsuf besar asal Yunani. Pemikiran mereka amat berpengaruh, bahkan hingga saat ini.

Lewat Almagest, Ptolemeus mengungkapkan bahwa Bumi ada di pusat alam semesta, sementara Matahari, Bulan, planet-planet lain, dan bintang-bintang berputar mengelilinginya.

Menurut Ptolemeus, planet-planet menempuh suatu lingkaran besar yang disebut deferent saat mengelilingi Bumi. Di saat yang bersamaan, planet-planet tersebut juga menempuh suatu lingkaran yang disebut epicycle.

Ukuran lingkaran epicycle lebih kecil dari deferent. Jika deferent menempatkan Bumi sebagai sumbunya, epicycle menempatkan lintasan deferent sebagai sumbunya. Gagasan dua lingkaran ini dibuat Ptolemeus guna menjelaskan gerak retrogade planet-planet. Retrogade merujuk gerak planet-planet yang kerap berbalik arah jika diamati dari Bumi: semula bergerak ke arah barat menjadi ke arah timur dan kemudian ke arah barat lagi.

Meski rumit, Associate Professor di Monash University Michael J.I. Brown mengatakan dalam artikelnya di The Conversation bahwa perhitungan yang dikembangkan Ptolemeus mampu memprediksi posisi planet-planet secara akurat. Konsepsi tersebut, selama lebih dari seribu tahun, juga menjadi alat penjelas utama cara kerja dan gerak alam semesta yang dianut orang-orang Eropa.

"Mungkin Novara yang meyakinkan Copernicus bahwa sistem Ptolemeus terlalu kompleks untuk memenuhi keharmonisan formula matematis. Dan, pasti ada cara yang lebih sederhana selain itu [untuk menjelaskan sistem alam semesta]," sebut Jerome J. Langford dalam Galileo, Science, and the Church (1966).


Heliosentrisme dan Hal-Hal yang Belum Selesai

Copernicus kembali menetap di Polandia sejak 1503. Di sana, dia menjadi asisten pamannya sekaligus sebagai pegawai gereja. Keputusan untuk menetap di Polandia diambilnya setelah menempuh studi di University of Padua, Italia.

Singkat cerita, setelah gagal lulus dari University of Bologna, Copernicus meminta sang paman untuk membiayainya kuliah hukum dan kedokteran di University of Padua. Kali ini dia lulus dan mendapatkan gelar dari University of Ferrara. Di Padua dan Ferrara ini pula, Kopernik mulai melatinkan namanya menjadi Nicolaus Copernicus.

"Dia mengatur sedemikian rupa, mungkin karena alasan keuangan terkait upacara kelulusan dan tradisi kampus Bologna, sehingga menerima gelar doktor bidang hukum-hukum gereja dari University of Ferrara," sebut Langford.

Sembari mengurusi administrasi gereja yang diampu pamannya, Copernicus mempelajari lebih giat soal pergerakan bintang dan planet. Pada 1508, Copernicus memuji-muji pergerakan Matahari, Bulan, dan planet-planet lewat puisi pengantarnya untuk buku terjemahan karya-karya Theophylactus yang ditulis kawan sekampusnya di Kraków, Laurentius Corvinus.

N.M. Swerdlow dan O. Neugebauer menuliskan dalam Mathematical Astronomy in Copernicus’ De Revolutionibus: In Two Parts (1984) bahwa puisi itu menandakan Copernicus mulai mengungkapkan hal-hal yang berada di luar anggapan umum pada saat itu.

"Mungkin, Copernicus tengah mengalihkan fokus kajiannya ke model alam semesta yang dikonsepkan Maragha School dari Ptolemeus, sekalipun belum sampai pada simpulan teori heliosentris," sebut Swerdlow dan Neugebauer.


Enam tahun kemudian, Paus Leo X mengumumkan kepada kepala pemerintahan dan universitas bahwa dia tengah mencari teolog dan astronom yang berkenan mengirim pandangannya soal kalender eklesiastikal, kalender resmi gereja yang digunakan untuk menghitung hari-hari penting semisal Paskah. Copernicus pun mengirim pandangannya.

Lalu, pada 1530, Copernicus mulai membagikan konsepsinya mengenai sistem alam semesta lewat Commentariolus kepada sejawat-sejawatnya. Dan, dua tahun berikutnya, Copernicus menyelesaikan manuskrip De revolutionibus.

infografik mozaik copernicus

Di Antara Ilmuwan Arab

Copernicus mampu mempertahankan argumen bahwa Matahari adalah pusat alam semesta dan setiap planet, termasuk bumi, mengelilingi matahari dalam orbit lingkaran dengan memanfaatkan data-data observasi yang termuat dalam Alphonsine Tables serta Epitome in Almagestum Ptolemei yang ditulis Georg Puerbach dan Joannes Regiomontanus.

"Bukan kebetulan juga, Copernicus memanfaatkan hasil observasi dan parameter model astronomi yang telah dikemukakan ilmuwan-ilmuwan Arab," sebut Michal Kokowski dalam "Copernicus, Arabic Science, and the Scientific (R)evolution" yang dimuat di buku Asia, Europe, and the Emergence of Modern Science: Knowledge Crossing Boundaries.

Menurut Kokowski, Copernicus menggunakan hasil observasi Thabit ibnu Qurra al-Harrani, Muhammad ibnu Jabir al-Battani, Abu Ishaq Ibrahim Ibnu Yahya al-Zarqali, dan Nuruddin al-Betrugi.

Selain itu, salah parameter penting yang digunakan Copernicus adalah teknik geometris "Tusi-Couple" yang dikembangkan Nasirudin al-Tusi. Menurut Kokowski, penggunaan Tusi-couple itu secara tidak langsung menandakan Copernicus setuju dengan kritik-kritik yang disampaikan ilmuwan Muslim seperti Ibnu al-Haytham, Ibnu Rushdi, atau Nuruddin Al-Bithruji terhadap konsepsi semesta ala Ptolemeus.


Meski demikian, The Copernican Revolution (1957) yang ditulis Thomas Kuhn menyebutkan De revolutionibus terlalu rumit dan selama beberapa dekade hanya bisa dibaca orang-orang yang bergelut dengan astronomi dan matematika.

Sementara itu, Arun Bala mengungkapkan konsep heliosentris ala Copernicus tidak bisa menjawab beberapa pertanyaan mendasar dalam kajian alam semesta. Mengapa benda-benda jatuh ke arah Bumi, sementara Bumi sendiri bukan pusat alam semesta? Mengapa air laut tidak tumpah, gunung tidak berterbangan, dan angin tidak bertiup kencang saat Bumi berotasi dalam kecepatan yang amat tinggi, 460 meter per detik?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang mungkin tersisa dari Copernicus untuk kemudian dijawab ilmuwan-ilmuwan Eropa selanjutnya. Tycho Brahe (1546-1601) mengkritik rumusan yang dikembangkan Copernicus. Menurut ilmuwan sekaligus bangsawan asal Denmark tersebut, rumusan Copernicus tidak mampu menjelaskan pergerakan planet-planet secara jangka panjang.

Sementara itu, Johannes Kepler (1571-1630) merumuskan dalam kerangka heliosentris bahwa planet-planet bergerak dalam lintasan elips. Kemudian, Galileo Galilei (1564-1642) menyempurnakan teori heliosentris ala Copernicus dengan hasil observasinya lewat teleskop. Sedangkan Isaac Newton (1653-1727) menelurkan teori mekanika dan gravitasi yang secara ampuh mampu menjawab persoalan yang ditinggalkan Copernicus.

Setelah itu, paradigm shifts perlahan terjadi. Pada akhirnya, konsepsi alam semesta ala Ptolomian tergantikan oleh konsepsi alam semesta Copernican. Meski "Copernican Revolution" telah diterima secara umum dan menjadi barang lumrah di abad ke-21, ada sekelompok orang yang justru mundur ke belakang: mereka percaya bahwa bumi adalah pusat alam semesta dan berbentuk datar. Mereka kaum yang kufur terhadap kemajuan ilmu pengetahuan.

Baca juga artikel terkait SAINS atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Husein Abdulsalam
Editor: Ivan Aulia Ahsan