3 Januari 2015

Nice Guys Write Classic Rock: Obsesi Denny Sakrie Menulis Musik

Denny Sakrie. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Nuran Wibisono - 3 Januari 2020
Dibaca Normal 4 menit
Denny Sakrie adalah penulis musik yang punya kedekatan dengan objek tulisannya. Mengawali karier sebagai penyiar radio di Makassar.
Salah satu perdebatan di dunia penulisan musik yang terus ada hingga sekarang adalah apakah seorang penulis musik harus menjaga jarak dari objek tulisannya, dalam hal ini musisi atau band?

Bagi mereka yang merasa perlu menjaga jarak dari objek penulisan, alasan yang dipakai adalah mereka tak ingin kedekatan dengan musisi atau band memengaruhi penilaian dalam tulisan.

Sedangkan yang merasa penulis musik tetap perlu menjaga hubungan baik dengan musisi atau band lazim memakai argumen: kedekatan itu akan membuat tulisan lebih dalam dan bisa mengisahkan cerita-cerita yang mungkin tidak terdapat di media atau arsip manapun.

Untuk kasus kedua, Denny Sakrie adalah contoh terbaiknya. Penulis musik kelahiran Ambon ini dikenal punya hubungan baik dengan para musisi dan kedekatan itu amat bermanfaat. Tulisan-tulisannya yang muncul di media ataupun di blog pribadinya sering kali membuat pembaca mengetahui sesuatu yang tidak pernah dimuat di media manapun. Hal ini bisa dilakukan karena kedekatan personal Denny dengan banyak musisi.


Di tulisan tertanggal 2 Januari 2015, misalnya, Denny menyebut musisi Fariz RM sebagai sahabatnya. Denny menambahkan keterangan bahwa Fariz kerap dipanggil Bule oleh para kawan dekatnya. Mereka berdua memang sudah kenal sejak lama.

“Pada saat saya masih bekerja sebagai penyiar di Radio M97 FM Classic Rock Station, saya kerap mengajak Fariz siaran bareng membahas band-band klasik rock seperti Yes, Genesis, Traffic, dan banyak lagi,” tulis Denny. “Begitu pula ketika saya jadi penyiar di FeMale Radio, saya kerap mengundang Fariz sebagai partner siaran membahas musik, mulai dari Earth, Wind & Fire hingga Gino Vannelli. Fariz memang suka mengobrol dan bertukar pikiran.”

Karena dekat dengan banyak musisi pula Denny bisa dengan mudah menggali informasi soal narasumbernya. Soal Fariz, Denny meminta komentar dari Keenan Nasution, musisi yang mendirikan Sabda Nada dan Gipsy, sekaligus salah satu kunci penting dari karier musik Fariz.

“Saya masih ingat si Bule datang ke rumah masih menggunakan seragam sekolah. Bercelana pendek terus gebuk-gebuk set drum dan ngeband bareng Oding dan Debby, adik-adik saya,” tulis Denny meniru ucapaan Keenan.


Berangkat dari Radio

Sama seperti banyak orang di Indonesia, karier Denny di dunia musik tidak berangkat dari bangku sekolahan. Pria kelahiran 1963 ini adalah sarjana ekonomi dari Universitas Hasanuddin. Namun dia sudah menulis sejak 1979 ketika masih duduk di bangku SMP. Etalase tulisannya adalah Harian Pedoman Rakyat, surat kabar lokal Makassar yang sudah ada sejak 1947.

Nama Denny di dunia musik mulai dikenal luas sejak jadi penyiar radio Madama di Makassar pada 1988. Di radio legendaris itu, Denny juga menjabat sebagai music director. Setelah tiga tahun bekerja di sana, Denny memutuskan pindah ke episentrum industri musik Indonesia: Jakarta.

Di Jakarta, Denny bekerja di beberapa radio. Mulai dari Radio Suara Irama Indah, Prambors, juga FeMale Radio. Pada 1995 Denny bergabung dengan M97 FM, radio yang khusus memutarkan lagu-lagu rock klasik.

Saat itu, menurut Denny, radio ini diniatkan menjaring pendengar pria dewasa hingga paruh baya. Genrenya sudah pasti: rock lebih spesifik lagi, rock klasik yang berasal dari era 60-an hingga 1980-an. Radio ini sukses besar dan menjaring banyak pendengar. Collector’s Time, segmen yang diampu Denny setiap Rabu pukul 21.00-24.00, menjadi salah satu favorit para pendengar.

Seperti namanya, segmen ini membahas musik kesukaan para kolektor maupun para musisi. Di segmen ini Denny kerap mengundang bintang tamu. Mulai dari penggemar Kiss, bankir yang mendatangi banyak konser di luar negeri, maupun penggila Beatles. Denny juga mengundang musisi untuk bercuap-cuap di segmen ini. Tercatat Chrisye, Deddy Stanzah, Donny Fattah, hingga Harry Roesli pernah jadi bintang tamu Denny.

“Saat itu, Denny sudah menyiapkan programnya dan selalu membawa CD-CD. Buat gue, itu mind blowing karena kebanyakan CD yang dibawa almarhum itu hanya pernah gue baca di majalah. Jadi kalau denger playlist DenSak, gue jadi kayak sekolah lagi, belajar lagi,” ujar Hikmat Darmawan, sahabat Denny sekaligus kolega di M97 FM.


Denny juga dengan gagah berani memainkan musik-musik prog rock yang terhitung nyaris nihil dimainkan di radio komersial saat itu. Salah satu yang punya kenangan dengan M97 dan musik prog rock ini adalah Rizki Santoso.

“Saat itu M97 FM tampil beda dengan radio-radio lainnya. Segmen musik prog rock seolah mendapat tempat tersendiri. Saat itu, King Crimson, James Gang, Gentle Giant hanya berbunyi di M97 FM. Sungguh masa-masa indah,” tulis Rizki di laman Facebook-nya.

Menurut Hikmat, perlahan-lahan Denny menjelma sebagai ruhnya M97 FM. Pengetahuannya yang luas dan renjananya yang kuat terhadap musik rock klasik memang sejalan betul dengan visi radio sekaligus klop dengan segmentasi pendengarnya. Maka Denny pun diangkat menjadi music director.

Bagi Hikmat, Denny adalah teman sekaligus mentor yang menyenangkan. Dia tidak jaim, suka bercanda, juga suka saling ledek dengan para kolega. Ini adalah suasana yang menyegarkan di tengah ritme kerja di radio yang rapat dan rawan bikin tertekan.

Denny juga orang yang terus belajar. Ia suka membaca buku musik. Suatu hari Hikmat melihatnya membawa buku—yang ia lupa judulnya—yang berisi tentang genealogi pengaruh band. Misal: Eric Clapton terpengaruh oleh siapa dan memengaruhi siapa dan kerja sama dengan siapa saja. Buku ini yang menurut Hikmat kelak jadi akar penopang bagi Denny untuk mendapatkan pemetaan yang kompleks tentang sejarah musik rock klasik.

Sejak 2000-an Denny bisa dibilang lebih menekuni musik Indonesia. Dan pada saat itu pula bermunculan banyak ide di kepalanya. Beberapa di antaranya adalah membuat buku tentang Bing Slamet dan Benyamin S. Obsesi lainnya adalah menulis buku tentang sejarah dangdut dan musik Melayu di Indonesia.

Obsesi Denny terhadap musik Indonesia sebenarnya bisa dilongok di blog pribadinya. Di luar pekerjaannya sebagai penyiar radio dan kontributor untuk berbagai media—termasuk Rolling Stone Indonesia dan ikut menyusun daftar prestisius 150 Album Indonesia Terbaik Sepanjang Masa—Denny rutin menulis di blognya.

Energi yang ia tuangkan di blognya amat besar. Untuk ukuran orang yang sibuk, produktivitasnya menulis di blog amat mencengangkan. Tak jarang dia bisa menulis dua atau tiga postingan dalam satu hari. Pada 2014 ada 155 postingan blog yang artinya ada 12-13 artikel per bulan atau 3-4 artikel setiap minggu. Hampir di tiap postingan selalu ada gambar atau foto langka.




Obsesi Menulis Musik

Secara penulisan, Denny memang bukan yang terbaik. Dia, misalnya, tidak sebagus Andreas Harsono dalam penulisan naratif; tidak serapi dan sehidup tulisan Wendi Putranto; tidak secerkas dan secerdas tulisan musik Taufiq Rahman; tak semeledak penulis-penulis musik muda semacam Raka Ibrahim atau Muhammad Hilmi.

Namun Denny Sakrie menghadirkan kekuatan lain yakni sejarah, pengarsipan, serta persentuhan langsung dengan pelaku musik Indonesia. Lagi-lagi itu terlihat betul di blognya. Keunggulan lain Denny adalah aksesnya terhadap para kolektor musik maupun penjual piringan hitam dan CD bekas. Dari jaringan ini Denny sering mendapat informasi tentang rilisan langka yang kemudian akan dia bagi kisahnya di blog.

Selain itu Denny juga punya kekuatan berupa keteguhan menulis—yang hanya berbeda setipis helai rambut dengan obsesi—soal musik Indonesia. Bersama Komunitas Pecinta Musik Indonesia (KPMI), Denny ikut menulis dan mengedit buku Musisiku yang terdiri dari dua jilid. Kepada kawan-kawannya sesama penulis, seperti Hikmat, Eric Sasono, juga Ekky Imanjaya, Denny sering bercerita tentang impiannya menulis buku tentang musisi legendaris Indonesia.

“Makanya gue kaget dan merasa kehilangan banget saat dia meninggal. Karena banyak pengalaman yang baru diobrolkan dan belum dibukukan,” ujar Hikmat.


Denny Sakrie memang meninggal tiba-tiba pada 3 Januari 2015, tepat hari ini 5 tahun lalu, karena serangan jantung, sehari setelah dia mengunggah artikel terakhir di blognya tentang Fariz RM. Usianya masih terlampau muda untuk mimpi-mimpi besarnya yang belum terwujud.

Kepergian Denny membuat banyak orang merasa kehilangan. Entah itu musisi, pemilik label, sesama penyiar, bahkan para penulis dan pengamat musik yang berusaha mengejar ilmu dan kemampuannya. Ada banyak orang yang merindukan cerita-cerita musiknya atau kuis-kuis iseng tentang musik Indonesia yang kerap ia bikin di Twitter.

Tapi saya pikir Densak berpulang dengan tenang dan bahagia. Sebab di laman keterangan diri dalam blognya, pria kelahiran 1963 ini menuliskan, “…karena saya yakin tanpa musik, hidup ini tidak ada arti sama sekali.”

Dan kita sama-sama tahu, Denny Sakrie telah menjalani hidup yang penuh arti.

Baca juga artikel terkait MUSIK INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Musik)

Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight