Korban Rusuh 21-22 Mei 2019

Nestapa Sandro: Bukan Perusuh, Tewas Ditembak, Tak Dapat Santunan

Oleh: Haris Prabowo - 1 Juli 2019
Dibaca Normal 8 menit
"Ya ampun sakit.”, “Anakku gimana?”. Kata-kata itu diucapkan Sandro sebelum menghembuskan nafas terakhir usai peluru menghujam tubuhnya pada 22 Mei 2019.
tirto.id - “Ma, Abang mau berangkat kerja dulu. Mau dagang lagi. Sekalian mau lihat situasi, kalau nanti pasar buka, ya alhamdulillah, kalau enggak buka, ya, abang pulang cepet.”

Sandro (32 tahun) mengatakan itu kepada istrinya Siti Rahma alias Rere (33 tahun) tepat di depan rumah kontrakan mereka di Kampung Serpong, Tangerang Selatan pada Rabu 22 Mei 2019. Pagi itu, sekitar pukul tujuh kurang sepuluh menit, bapak dua anak ini hendak berangkat ke Pasar Tanah Abang guna menjalankan tugas sebagai tulang punggung keluarga: mencari nafkah dengan berjualan pakaian anak.

Tak seperti biasanya Azra Alfatih, putri kedua Sandro tiba-tiba saja bangun dari tidur menuju pintu keluar menyapa sang ayah yang sedang mengikat tali sepatu.

“Ayah mau ke mana?” kata putri kecilnya yang masih berumur lima tahun.

Seperti tak mau ketinggalan, Orlin Keko, putri sulung Sandro yang baru berumur tujuh tahun ikut bergabung. Dalam setelan baju seragam sekolah Orlin coba menahan sang ayah kerja.

“Jangan berangkat kerja ya, Yah. Di sini aja sama Orlin,” seraya bersiap menimba ilmu.

“Ayah mau dagang. Kalau Ayah enggak dagang, kita mau makan apa hari ini?” sahut Sandro.

Melihat tingkah maja kedua putrinya Sandro menunda langkah. Di teras depan rumah ia sempatkan diri bercanda sembari menciumi pipi, kening, dan hidung Azra. Rere sempat heran melihat tingkah suaminya. Sebab sangat jarang Sandro berlaku demikian ke anak-anaknya. Biasanya, kata Rere, selepas sapa, Sandro langsung menuju Stasiun Serpong, yang jaraknya hanya sekitar 500 meter dari kontrakan.

“Yah, nanti jangan lupa ya pulangnya beliin dedek es krim,” kata Azra.

“Iya, Ayah janji,” sahut Sandro.

“Jangan bohong, Yah.”


Sandro hanya tersenyum ke kedua putrinya itu. Sekali lagi, ia pamit ke Rere. Sandro harus bergegas. Ia ingin mengejar commuter line tujuan Stasiun Tanah Abang pukul 07.10 WIB. Rahma bilang, hari itu Sandro memang berangkat agak lebih pagi dari hari-hari biasanya, yang biasanya berangkat sekitar pukul sembilan atau sepuluh pagi.

“Iya. Ya udah ya, Ma. Nanti kalau Abang pulang cepet ya insyaAllah pulang cepet,” kata Sandro ke sang istri.

Sandro melangkahkan kaki menuju Stasiun Serpong, meninggalkan istri dan kedua putrinya pagi.

Telat Pulang Tunggu Aman


“Abang itu dagang sudah lama. Dari zaman masih ada Sogo Jonggok. Itu dari tahun berapa ya lupa. Itu Blok A dan Blok Tanah Abang belum jadi, dia udah dagang. Sebelum ketemu dan kenal saya, saat dia masih bujangan,” kata Rere kepada reporter Tirto, Kamis 20 Juni 2019.

Sandro, ialah salah satu perantau asal Jambi di Tangerang Selatan yang berjualan kain di Tanah Abang. Ia sudah berjualan di Tanah Abang sejak sekira 15 tahun lalu. Pertemuannya dengan Rere terjadi pada tahun 2008. Merasa sehati keduanya akhirnya sepakat menikah pada 2009. Putri pertama mereka, Orlin lahir pada 2012. Tiga tahun berikutnya putri kedua mereka Azra Alfatih lahir.

Rere, Orlin, dan Azra tak pernah menyangka percakapan di beranda kontrakan dengan satu-satunya lelaki di keluarga ini akan menjadi yang terakhir. Sebab dalam hitungan jam Sandro bakal menjadi satu dari sembilan korban tewas kerusuhan sengketa pemilu di sekitar Tanah Abang. Ia meregang nyawa akibat luka tembak di bagian bawah tulang rusuk, sebelah kanan.

Rere bercerita, satu hari sebelumnya, tanggal 21 Mei sore, Sandro sempat meminta izin untuk pulang lebih larut, sekitar pukul 21.00 WIB atau 22.00 WIB malam. Sandro mengabarkan keadaan keadaan Tanah Abang dan Bawaslu RI sedang ramai demonstran yang memprotes keputusan KPU soal rekapitulasi suara Pilpres 2019. Para peserta aksi menganggap keputusan KPU memenangi Jokowi tidak sah, sehinggap Bawaslu RI patut menganulir. Karena keadaan yang ramai itu, Sandro berencana pulang lebih larut untuk menunggu keadaan aman.

“Ma, pulangnya agak maleman ya, sekitar jam 9 atau 10. Karena abang nyari jalur aman. Karena ini lagi rame di Bawaslu," kata Sandro.

“Yaudah, bang. Hati-hati di jalan.”


Tepat pukul 21.00 WIB, Sandro sampai di rumah kontrakannya. Tak ada yang berbeda dari malam-malam sebelumnya. Ia langsung mandi, makan, istirahat sembari bersenda-gurau dengan kedua putrinya. Lalu tertidur dan sahur bersama seperti hari yang sudah-sudah.

Kamis 22 Mei 2019, waktu menunjukkan 03.00 WIB dini hari. Di daerah Tanah Abang, saat itu sedang terjadi bentrokan besar, buntut panjang dari aksi protes di Bawaslu RI yang sudah dimulai dari 21 Mei siang. Meski massa aksi sempat membubarkan diri pasca salat Tarawih, namun sejumlah massa kembali lagi ke depan Bawaslu RI dan berakhir ricuh sekitar pukul 22.38 WIB.

Di saat yang sama, Sandro beserta istri dan kedua putri melaksanakan sahur.

Kita cuma sahur saja. Dalam keadaan itu kita enggak nonton. Posisinya kita sahur sama anak-anak. Memang kita enggak tahu kalau ada bentrok di Tanah Abang malam itu. Kita juga jarang nonton tivi. Itu tivi biasanya memang hanya dipake anak-anak aja nonton. Saya dan abang mah jarang. Kita sahur biasa, setelah itu salat subuh, pas pagi pun mau berangkat itu seperti biasa,” kata Rere.

Setelah memanjakan dan mencium berkali-kali putri keduanya, Azra, pagi itu Sandro berangkat ke Tanah Abang.

Kabar Sandro Ditembak


Di waktu yang tak jauh berbeda dengan Sandro, Zulkifli (42 tahun) juga berangkat ke Tanah Abang. Ia pedagang kain di Tanah Abang, tetangga satu kontrakan, dan teman dekat Sandro dari Jambi. Tepat pukul 07.30 WIB, Zulkifli tiba di Stasiun Tanah dengan perasaan kaget. Bentrokan ternyata membuat aparat kepolisian dan pihak stasiun melarang para pedagang berjualan di area Pasar Tanah Abang.

Pintu stasiun pun ditutup. Zulkifli tak bisa ke mana-mana. Yang bisa ia lakukan saat itu adalah mencari teman-temannya sesama asal Jambi, yang mungkin berada di lokasi, untuk diajak pulang ke rumah. Selang tak seberapa lama, Zulkifli menelpon Kamsari, pemilik kontrakan yang rumahnya kerap menjadi tempat kumpul ia, Sandro, dan perantau Jambi lainnya.

“Pak, Tanah Abang rusuh ini,” kata Zulkifli.

“Ya udah, hati-hati. Mending pulang sajalah,” balas Kamsari.

Zulkifli manut. Pukul 08.30 WIB ia memutuskan kembali ke Serpong, artinya ia hanya sejam berada di Stasiun Tanah Abang. Sesampainya di rumah kontrakan, sekitar pukul 09.00 WIB, Zulkifli didatangi oleh Refdi Dores (37 tahun), kakak kandung Sandro. Dengan wajah tak tenang Refdi mengajak Zulkifli kembali ke Tanah Abang.

“Ayo kita ke RSUD Tarakan [Cideng, Tanah Abang],” kata Refdi.

“Ngapain?” sahut Zulkifli.

“Ada yang ngasih tahu kalau Sandro ketembak.”

Mendengar jawaban Refdi, Zulkifli kaget. Yang segera dipikirkan oleh Zulfkili dan Refdi adalah bagaimana jalan menuju RSUD Tarakan. Sebab kerusuhan membuat banyak akses jalan ditutup termasuk operasional Stasiun Tanah Abang.

Wartawan Tirto mencoba menghubungi Refdi, untuk menanyakan dari siapa kabar pertama kali Sandro tertembak ia dapat. Ia mengaku pagi mendapat telepon dari orang yang tidak dikenal, yang mengabari kalau Sandro masuk rumah sakit akibat tertembak. Refdi menduga, orang itu merupakan rekan kerja Sandro di Tanah Abang.

Refdi mendapat kabar Sandro ditembak dan dibawa ke RSUD Tarakan sekitar pukul 10.00 WIB. Segera ia mengabari Donna Ayu Putri, adik kandung Sandro yang berada di Jambi.

“Abangmu masuk RS ini. Ketembak,” kata Refdi kepada Donna pagi itu.

Sebenarnya Refdi sudah sempat memberi kabar ke WhatsApp Group (WAG) para pedagang kain di Tanah Abang bahwa hari ini pasar akan tutup imbas dari bentrokan yang terjadi semalam sebelumnya.

“Cuma kayanya paket data Sandro mati, makanya enggak tahu dan akhirnya berangkat. Abang Refdi juga enggak kepikiran sama Sandro, tiba-tiba berangkat dia. Eh, tiba-tiba bang Refdi dapat kabar adiknya udah ketembak," kata Donna kepada wartawan Tirto, Sabtu, 22 Juni lalu.

"Sempat menyesal juga dia. Dia enggak sempat ngabarin [Sandro].”


Refdi bercerita kepada Donna bahwa Sandro dalam keadaan tak sadarkan diri saat ia tiba di rumah sakit. Sekitar pukul 15.00 WIB Sandro siuman. Ia sempat meminta Refdi memijat kepalanya yang terasa ngilu. Sandro sempat bertanya keadaan kedua putrinya dan bertanya apakah mereka sudah makan apa belum.

“Anak-anakku di mana?” tanya Sandro lemas.

“Iya, nanti ke sini. Sekarang enggak boleh ke sini,” kata Donna mengulang cerita Refdi kepadanya.

Dokter di RSUD Tarakan berbicara kepada Refdi peluang Sandro selamat kemungkinan 80 persen bila menjalani operasi. Tanpa berpikir panjang, Refdi menyetujui. Kata Donna, operasi berjalan lancar mulai pukul 16.30 WIB hingga rampung pukul 19.00 WIB.

Usai operasi Refdi terus menemani Sandro. Ia sempat menyuapi Sandro makanan sekitar dua sampai tiga sendok karena sang adik mengaku lapar. Sekitar pukul 22.00 WIB, Sandro sempat meminta Refdi membelikan makanan, namun kerusuhan bikin pedagang menutup warung lebih cepat atau tidak berjualan sama sekali.

Bagaimana Anak-Anak

Tomi, salah satu pedagang kain di Tanah Abang yang juga perantau asal Jambi ikut menemani Refdi menjaga Sandro. Kepada Donna, Tomi mengaku sempat sedikit berdialog dengan Sandro pada malam itu.

“Abang sempat tahu siapa yang menembak?” tanya Tomi kepada Sandro.

Sandro sempat membuka sedikit alat pernafasan oksigen yang menempel di hidungnya. Ia hanya menjawab singkat. “Brimob.”

Addendum: Untuk diketahui, pihak kepolisian jauh-jauh hari sudah mengatakan tidak membekali aparatnya dengan peluru tajam untuk menangani aksi massa pada 21 dan 22 Mei 2019. Hal itu diucapkan Karopenmas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Senin (20/5/2019).

Dedi mengakui, Tim anti-anarkis memang disiagakan. "Pleton anti-anarkis itu yang mengendalikan hanya Kapolda, sangat ditentukan dengan kondisi di lapangan,” kata Karopenmas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Kamis (23/5/2019).

Sesuai dengan standar operasional prosedur, lanjut Dedi, bahwa peleton anti-anarkis itu tidak boleh membawa peluru tajam. Penggunaan peluru tajam di bawah kontrol dan kendali Komandan Kompi Brimob.

“Komandan Kompi Brimob nanti membagikannya pun harus seizin kepada Komandan Batalion, baru bisa diserahkan kepada pleton anti-anarkis. Pleton anti ini pun sangat selektif dalam menggunakan peluru tajam. Semua standar operasional prosedur penanganan kerusuhan anarkis,” terang dia.

Pada 22 Mei pagi, Kapolri Tito Karnavian menegaskan tidak pernah memerintah 'tembak di tempat' sebab, mereka sudah punya tahapan dalam menangani unjuk rasa.

"Saya tidak pernah menyatakan tembak di tempat. Kita memiliki SOP tahapan-tahapan mulai dari yang
soft sampai yang hard," kata Tito di Kemenkopolhukam, Jakarta, Rabu (22/5/2019) malam.

Tomi mengaku ke Donna hanya mendengar satu kata itu. Setelah itu Sandro menggunakan alat pernafasan oksigen itu lagi. Tak lama setelah itu, Sandro sempat mengeluh dan menangis karena kesakitan.

“Yaa ampun sakit.”

“Anakku gimana?”

Refdi dan Tomi hanya memberikan semangat dan menenangkan Sandro sebisa mungkin.



Beberapa anggota keluarga Sandro dan Refdi bertolak dari Jambi menuju Jakarta pada 22 Juni sore, setelah mendengar kabar Sandro akan pulih hingga 80 persen jika berhasil dioperasi. Namun di tengah perjalanan keluarga mendapat kabar Sandro telah berpulang.

“Keluarga rencana mau ke Jakarta. Dengar kabar gitu kan senang hati keluarga, makanya mau berangkat ke Jakarta. Tapi, saat keluarga kami sampai Lahat [Sumatera Selatan] sekitar pukul 04.31 WIB [tanggal 23 Juni] dapat kabar kalau Sandro sudah tidak ada lagi,” kata Donna yang mendapat kabar wafatnya Sandro dari Refdi.

Kamsari berharap mendapat kabar baik dari Refdi soal keadaan Sandro. Namun, setelah salat Subuh di rumahnya ia mendapat kabar duka dari Refdi.

“Pak, Sandro udah enggak ada, tolong kasih tau Rere,” kata Kamsari menirukan ucapan Refdi.

“Jujur, saya bingung bagaimana ngasih tahu Rere. Akhirnya saya telepon Zul [Zulkifli] terlebih dahulu, baru memberi tahu Rere. Sedih rasanya,” kata Kamsari kepada wartawan Tirto.

Ditembak di Bawah Rusuk Sebelah Kanan

Jenazah Sandro keluar dari RSUD Tarakan Kamis 23 Mei 2019 sekitar pukul 11.00 WIB. Jenazah sempat dibawa sebentar ke Serpong untuk kemudian sekitar pukul 13.00 WIB dibawa menuju Jambi. Keluarga sepakat memakamkan Sandro di kampung halamannya, di Merangin, Jambi.

“Itu dibawa dengan mobil yang memang disediakan oleh Pemprov Jambi, yang jemput dari mereka, dapat bantuan dari mereka. Nyampe Merangin, Jambi, jam 10 pagi, sebelum Jumatan [24 Mei],” kata Donna.

Sesampainya di Jambi, Donna melihat jelas bagaimana luka tembak yang terdapat di tubuh abangnya itu. “Di dada, di bawah tulang rusuk sebelah kanan. Operasi kemarin itu hanya penutupan luka saja. Peluru udah enggak ada lagi. Itu pun kemarin sampai ke Jambi masih berlubang. Tembus ke belakang. Pas sampai Jambi pun pas masih dikafani, darahnya masih banyak,” kata Donna.

Menolak Dituding Perusuh

Polri mengklaim korban tewas akibat kerusuhan 21-22 Mei 2019 berjumlah 9 orang. Dalam berbagai konfrensi pers, Polri dan pemerintah yang diwakili Menkopolhukam Wiranto acap menarasikan bahwa mereka yang tewas ialah perusuh. Di saat bersamaan Polri mengklaim telah bertindak sesuai prosedur dan membantah menggunakan peluru tajam dalam menghadapi para demonstran. Persoalannya, baik Polri maupun pemerintah hingga saat ini tak pernah menjabarkan ke publik perihal nama-nama korban yang mereka tuduh sebagai perusuh, dimana mereka tewas, kenapa mereka tewas, siapa yang membuat mereka tewas, dan jika tuduhan perusuh itu benar siapa yang mendanai mereka?

Di sisi lain investigasi yang dilakukan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) justru menunjukkan dugaan adanya kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian saat menghadapi kerusuhan 22 Mei 2019.



Zulkifli merasa tak terima jika pihak kepolisian dan pemerintah menuduh Sandro sebagai perusuh tanpa bukti dan data yang jelas. Ia merasa tudingan tersebut bahwa Sandro perusuh dan dikaitkan dengan pilihan politik tertentu dinilai tak masuk akal.

“Masalahnya pendidikan kami kaya gini, kami hanya dagang di Tanah Abang. Dagang doang. Kalau duit tahu, untung rugi tahu, kalau masalah politik ampun, deh, enggak ah. Masalah dukung mendukung itu kan harusnya jadi masalah pribadi, itu pilihan masing-masing,” kata Zulkifli.

Bahkan beberapa hari sebelum kejadian itu, saat mendengar akan ada demo besar-besaran di Bawaslu RI, Sandro sempat menggerutu kepada Zulkifli.

“Itu orang-orang ngapain sih protes dan demo? Toh, enggak mengubah kita-kita ini yang orang kecil, memangnya kita dapet duit?” kata Sandro, sepenuturan Zulkifli.

“Kalau memang dia pendemo, harusnya dari malam dia enggak pulang. Ini kan dia pulang ke rumah. Dia masih makan, main sama anak di rumah, tetep gitu. Kalau memang ada apa-apa kan dia harusnya ikut terus dari awal,” lanjut Zulkifli.

Hal serupa juga disangsikan oleh Kamsari. Sandro sudah 10 tahun mengontrak di salah satu rumah kontrakan milik Kamsari. Dan selama itu pula, kata Kamsari, ia tak melihat gelagat aneh di diri Sandro.

“Ibaratnya saya dan Bang Repdi itu sudah semakan-seminum. Berjuang bareng. Anak-anak Jambi itu biasanya nongkrong di rumah saya. Makanya saya tahu persis bagaimana mereka itu, termasuk Sandro. Enggak ada yang dicurigai ikut demo atau ikut 01 atau 02, enggak masuk menurut saya [tudingan Sandro adalah perusuh],” katanya.

Keluarga Korban Butuh Santunan


Donna bilang pihak Polsek Serpong sempat berkunjung ke kediaman Sandro. Di sana mereka bertemu Refdi, Rere, dan kedua anak Sandro. Pihak kepolisian mengonfirmasi Sandro memang bukan seorang perusuh.

“Pihak polisi itu ngomong ke Bang Refdi, kalau memang Sandro bukan perusuh. Sudah dikonfirmasi oleh pihak kepolisian. Sudah jelas kalau bukan pendemo,” kata Donna kepada wartawan Tirto.

Polisi juga sempat bertanya kepada Refdi apakah kasus Sandro ini akan dibawa ke jalur hukum. Namun polisi juga mengingatkan jika kasus Sandro berlanjut ke ranah hukum maka jenazah Sandro mesti diotopsi ulang. Keluarga akhirnya mengurungkan niat.

“Iya kasian juga sama yang meninggal. Cuma tanggung jawab negaranya gimana? Ada kompensasi atau santunan? Adik kami asli pedagang kaki lima. Enggak ada uang,” jawab Refdi.

Hingga saat ini, Rere pun mengaku belum mendapat santunan maupun kompensasi sama sekali. Baik dari pemerintah pusat maupun dari pemerintah daerah. “Cuma memang kita sudah mengikhlaskan, enggak nuntut apa-apa. Cuma buat putri kita aja ini buat biaya pendidikannya, apalagi tulang punggung yang cari nafkah enggak ada. Ini dua putri masih kecil-kecil banget,” tutup Rere.

Baca juga artikel terkait AKSI 22 MEI atau tulisan menarik lainnya Haris Prabowo
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Haris Prabowo
Penulis: Haris Prabowo
Editor: Jay Akbar
Artikel Lanjutan
DarkLight