Neno Warisman, dari Penyanyi ke Politisi

Oleh: Petrik Matanasi - 23 Juli 2018
Dibaca Normal 2 menit
Neno Warisman pernah jadi artis sebelum masuk dunia politik. Dia tercatat sebagai salah satu artis Indonesia paling awal yang berani mengenakan jilbab.
tirto.id - Belum lama ini, Neno Warisman mengalami musibah. Mobilnya, Xenia dengan plat nomor B 1247 ECK, terbakar di depan rumahnya di Cimanggis, Depok. Ini membuat namanya terangkat lagi.

Keterlibatannya dalam gerakan ganti presiden pun dikaitkan dengan terbakarnya mobil itu. Menurut keterangan polisi setelah kejadian, mobil Neno meleduk bukan lantaran dibakar orang, tapi karena korsleting aki.

Pada zamannya, di era 1980-an, Neno Warisman adalah penyanyi yang produktif. Dekade berikutnya ia menyingkir dari hingar-bingar dunia hiburan dan lebih banyak aktif dalam kegiatan sosial-kemasyarakatan. Beberapa tahun belakangan, seperti halnya beberapa bekas artis lain, ia mulai terjun ke dunia politik.

Bagaimana kisah perjalanan hidup orang ini sebenarnya?

Berangkat dari Dunia Selebritas

Pemuda-pemudi atau penikmat televisi dan radio era 1980-an, sebagian besar mengenal Hajjah Neno Warisman. Dia punya banyak album dan terlibat dalam beberapa film juga sinetron. Sah sudah bagi Neno Warisman untuk disebut artis.

Album-albumnya antara lain: Neno (1983), Matahariku (1983), Matahatiku (1984), Kulihat Cinta Dimatanya (1985), Katakan Cinta Padaku (1986), Pujaan Dewi (1987), Sebuah Obsesi (1988), juga album kompilasi berjudul The Very Best of Neno Warisman.

“la juga pernah menjadi penyanyi di Istana Negara selama 7 tahun,” tulis Azrul Fadjri dalam buku Perempuan-perempuan pilihan (2004: 53).

Di dunia drama, Neno pernah terlibat dalam sinetron TVRI berjudul Sayekti dan Hanafi (1988). Sinetron bertema sosial ini sukses di pasaran dan meraih Piala Vidia dalam Festival Film Indonesia 1988. Tentu saja nama Neno kian melambung.

Karier menyanyi Neno memang tak menggema lagi di era 1990-an. Tapi ada hal luar biasa yang dilakukan Neno di akhir 1980-an. Neno berani mengenakan sesuatu yang belum bisa direstui secara resmi oleh Orde Baru: jilbab.

“Pemerintah Orde Baru selalu menghalang-halangi umat Islam untuk menerapkan syariah Islam dalam kehidupan sehari-hari, misalnya melarang para perempuan memakai jilbab untuk menutupi auratnya,” tulis Merle C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 (2008).

Jilbab sempat dilarang dikenakan di sekolah, tetapi larangan itu menghilang setelah 1992. Setidaknya Neno sudah terlihat berjilbab sejak 1989. Majalah Panji Masyarakat (20/1/1989) pernah memuat bagaimana Neno Warisman berani menggunakan jilbab.


“Saya senang banget lihat wanita berjilbab. Padahal dulu, sebelum saya umrah saya merasa biasa-biasa aja,” kata Neno seperti dikutip Panji Masyarakat.

Perempuan dengan nama lengkap Titi Widoretno Warisman ini tergolong generasi artis awal yang mengenakan jilbab. Jauh sebelum musim hijrah artis beberapa tahun terakhir ini.

Pada 1992, Neno menikah dengan Widiono Doni Wiratmoko. Saat itu usia Neno sudah 28. Mereka menikah di Masjid Pondok Indah, Jakarta. Perkawinan itu kemudian bubar. Dari pernikahan tersebut, Neno melahirkan tiga anak, yakni Giffari Zakka Waly, Maghfira Izzani Maulania, serta Raudya Tuzzahra Ramadhani.

infografik neno warisman


Dari Panggung Nyanyi ke Panggung Oposisi

Setelah era keartisannya berlalu, Neno tetap populer. Dia dikenal sebagai tokoh pendidikan anak, bahkan ada yang menyetarakan Neno dengan Seto Mulyadi. Buku Inspiring Stories: 30 kisah para tokoh beken yang menggugah (2008:220) yang disusun Ahmadun Yosi Herfanda & Irwan Kelana menyebut, “sejak 2002 sampai sekarang [Neno] mengelola Neno Education Care. Sejak 2005, Neno bekerja sama dengan Dr Seto Mulyadi. Neno Education Care dikembangkan menjadi Seto-Neno Foundation.”

Neno juga pernah bergiat di Yayasan Buah Hati. Jadi pembicara di seminar, diskusi, atau talkshow tentang anak dan remaja adalah hal yang biasa baginya. Bagaimanapun, Neno adalah orang tua dari tiga anak.

Rupanya Neno tak hanya berhenti beraktualisasi di bidang pendidikan anak. Neno belakangan terjun juga ke dunia politik. Sebagai warga negara, Neno jelas punya hak untuk berpolitik. Perempuan yang hampir tiga dekade berjilbab ini adalah kader dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sudah pasti Neno Warisman menjadi aset berharga dari partai berlambang bulan sabit tersebut. Ini juga yang jadi salah satu penyebab bertahannya popularitas Neno Warisman setelah moksa dari dunia keartisan.

Dua tahun terakhir, nama Neno Warisman ikut menghiasi berita nasional. Dalam kasus penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Neno sangat proaktif. Neno Warisman adalah penggagas dan penggiat dari Gerakan Ibu Negeri (GIN), yang terkait dengan demonstrasi anti-Ahok.

Foto dalam situs koperasisyariah212.co.id menggambarkan Neno membawa brosur bertuliskan “100 JUTA IBU NEGERI MEMINTA PENISTA AGAMA DI ADILII.” Angka 100 juta itu menjadi klaim bagi GIN yang digalang Neno bahwa ada ada 2/5 warga Indonesia yang mendukungya. Dengan kata lain, dia merasa mewakili 100 juta ibu di Indonesia. Inilah salah satu bukti kejelian Neno Warisman dalam berpolitik.

Neno Warisman juga berperan dalam persidangan Ahok. Ia bertindak sebagai koordinator saksi ahli bahasa. Demi membuktikan bahwa kalimat Ahok terkait Surat Al Maidah 51 adalah pelanggaran hukum dan karena itu sangat sah jika negara memenjarakan bekas Bupati Belitung Timur itu. Neno termasuk orang yang sangat bahagia atas kemenangan Anies Baswedan sebagai Gubernur Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta.

Nama Neno kian moncer karena menginisiasi gerakan #2019GantiPresiden. Gerakan itu sempat menjadi sorotan karena aksi persekusi yang dilakukan saat car free day di Bundaran HI.

Aktivitas Neno saat ini membuat dirinya lebih populer dibanding era 1980-an ketika ia masih aktif menyanyi. Toh, Neno memang tidak diingat publik seperti Betharia Sonata atau Christine Pandjaitan yang menyanyikan lagu-lagu pop cengeng Rinto Harahap, atau Meriam Bellina yang menyanyikan lagu Pance Pondaag. Mereka tidak bisa dibandingkan dengan Neno.

Neno begitu biasa saja untuk diingat publik. Popularitasnya di masa kini lebih karena aktivitas politiknya yang kadang-kadang kontroversial.

Baca juga artikel terkait PENYANYI INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan