Negara Mana Saja yang Tak Punya Ibu Negara?

Oleh: Tony Firman - 22 Februari 2019
Dibaca Normal 5 menit
Posisi ibu negara kerap dianggap penting dan menjadi sorotan di Indonesia, khususnya dalam dua pilpres terakhir.
tirto.id - Seberapa penting kehadiran seorang ibu negara dalam pemerintahan seorang presiden Indonesia?

Sejak pilpres 2014, isu keberadaan ibu negara jadi salah satu bahan perdebatan warganet di media sosial. Prabowo Subianto, mantan komandan jenderal Kopassus yang ikut bertarung dalam dua edisi Pilpres terakhir, dikabarkan telah lama berpisah dari Titiek Soeharto, putri mantan Presiden Soeharto yang dinikahinya pada 15 Mei 1983.

Prabowo bukannya tak pernah bersuara tentang perihal tersebut lantaran beberapa pendukungnya sempat menanyakan siapa yang bakal menjadi ibu negara jika ia menang pilpres. Salah satunya seorang pengguna Twitter dengan nama akun @gatse8.

"Om @Prabowo08, kalo nanti om terpilih jadi Presiden di 2014..kira-kira yang bakal jadi Ibu Negara siapa ya?" Prabowo menjawab: "Bung @gatse8, berikut saya sampaikan kriteria ibu negara jika saya presiden: Ia harus memiliki sifat-sifat yang dimiliki ibu kandung saya," kicau Prabowo lewat akun resmi Twitternya pada 26 September 2013.

Bahkan calon wakil presiden pendamping Prabowo dalam Pilpres 2019, Sandiaga Uno, ikut-ikutan menyarankan agar posisi ibu negara diisi oleh Titiek Soeharto yang mendukung kampanye pilpres sang mantan suami.


"Tadi saya godain Mbak Titiek, siap nggak jadi ibu negara? Terus kelihatan cocok nih, apalagi sudah bersanding sama ibu negara dari presiden ke-6 Ibu Ani (Yudhoyono). Jadi kalau dilihat dari panggung kelihatan cocok banget," ujar Sandiaga pada 3 Mei 2018.

Posisi ibu negara di Indonesia disinggung dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 141 Tahun 1999 tentang Sekretariat Presiden (PDF). Keppres tersebut menyebutkan ibu negara masuk dalam pelayanan jajaran sekretariat presiden yang bertugas memberikan pelayanan kerumahtanggaan, keprotokolan, dan pelayanan pers kepada Presiden, Wakil Presiden maupun istri Presiden (ibu negara).

Sedangkan dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 97 Tahun 2007 Tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2005 Tentang Staf Khusus Presiden, posisi ibu negara masuk dalam pelayanan Staf Khusus Presiden. Dalam pasal 11A tertulis "Masing-masing Staf Khusus Presiden dibantu paling banyak 2 (dua) Asisten dan untuk Sekretaris Pribadi Presiden dapat dibantu paling banyak 3 (tiga) Asisten, yang satu di antaranya diperbantukan kepada Ibu Negara."

Namun, tidak ada peraturan yang jelas dan mengikat terkait apakah seorang presiden Republik Indonesia wajib memiliki istri maupun suami saat aktif menjabat. Keberadaan sosok istri pendamping kepala negara alias first lady nampaknya dianggap penting hanya karena para presiden Indonesia sejak Sukarno sampai Joko Widodo selalu memiliki pasangan.

Asal-usul First Lady di Amerika Serikat

Independent menyebut konsep ibu negara sebagai warisan masyarakat feodal di mana seorang raja dianggap sudah pasti didampingi seorang ratu. Warisan seperti ini masih bertahan pada sistem pemerintahan modern baik model parlementer dengan perdana menteri maupun presidensial yang dipimpin presiden.

Meski jumlahnya masih sedikit, ada pula yang disebut first gentleman alias pasangan laki-laki seorang kepala negara perempuan. Masyarakat Filipina mengenal satu first gentleman, yakni Jose Miguel Arroyo, suami Presiden Gloria Macapagal Arroyo yang menjabat presiden filipina pada 1998-2001. Jose Miguel kini menjabat Ketua DPR Filipina. Di Argentina, Cristina Fernández de Kirchner beralih dari first lady menjadi presiden pada 2007 hingga 2015. Suaminya, Nestor Kirchner, presiden Argentina sejak 2003-2007, praktis menjadi first gentleman hingga akhir hayatnya (2010).

Satu-satunya first gentleman Indonesia adalah Taufik Kiemas, suami dari Megawati Sukarnoputri, presiden Indonesia yang menjabat dari 2001 hingga 2004.

Di Amerika Serikat, peran first lady tidak pernah ditetapkan dalam sebuah aturan formal. Namun, ibu negara lazimnya punya tugas menemani perjalanan dinas sang suami menghadiri acara resmi baik di dalam maupun luar negeri, mengurus Gedung Putih, dan tampil sebagai panutan bagi perempuan AS.

Asal-usul pekerjaan ibu negara dapat dilacak kembali ke era Dolley Madison, istri dari presiden AS keempat James Madison. Dolley dianggap sebagai ibu negara pertama lantaran perangainya yang sangat memperhatikan segala aspek kehidupan di Gedung Putih. Dolley mendekorasi ruangan dengan gaya yang elegan dan nyaman. Ia juga dikenal sebagai sosok yang ramah kepada tamu dan terlibat urusan-urusan politik sang suami.

Dolley sebenarnya sudah akrab dengan Gedung Putih jauh sebelum suaminya jadi Presiden. Pada masa kepemimpinan Presiden Thomas Jefferson, ia sudah diminta mengisi posisi ibu negara. Istri Jefferson sudah lama meninggal pada 1782, lama sebelum ia terpilih jadi orang nomor satu di Gedung Putih.

Singkatnya, peran mencolok Dolley mewariskan praktik-praktik baru mengenai tugas seorang istri presiden AS. Setelah kematian James Madison pada tahun 1836, Dalley terus mendapat keistimewaan, misalnya berhak duduk di kursi kehormatan saat menghadiri Kongres AS, menjadi orang pertama AS yang menerima pesan telegraf, hingga dimakamkan secara kenegaraan pada 1849.


Sejak 1977, ibu negara AS menempati Kantor Ibu Negara (Office of the First Lady of the United States) di bawah koordinasi staf kepresidenan dan terletak di sayap timur Gedung Putih. Peran ibu negara sejak 1989 juga banyak berubah dengan keterlibatan terbuka mereka dalam kampanye politik suaminya hingga mewakili presiden untuk menghadiri acara resmi dan seremonial. Setelah masa jabatan suaminya berakhir, seorang ibu negara biasanya menerbitkan memoar perjalanan karier suami dan pengalaman mendampinginya.

Ada beberapa presiden AS yang dilantik dalam status lajang, meski kemudian menikah ketika sudah memerintah. Misalnya Grover Cleveland. Ketika dilantik pada 1885, Grover adalah pria lajang. Baru setahun kemudian ia menikahi Frances Folsom. Dari pernikahannya, lahir enak orang anak. Sebaliknya, Presiden AS ketujuh Andrew Jackson harus kehilangan istrinya dua bulan sebelum ia menjabat. Jackson dilantik ketika menduda. Posisi ibu negara digantikan oleh keponakannya, Emily Donelson.

Tak Selalu Butuh Pendamping

Bukan berarti setiap kepala negara selalu didampingi pasangan. Beberapa kepala negara atau pemerintahan bahkan berstatus tidak menikah, menduda, atau menikah lagi ketika menjabat presiden.

Di AS, selain Thomas Jefferson yang memutuskan menduda, ada James Buchanan presiden AS ke-15 yang melajang. Buchanan nyaris menikah pada 1819 di usia 28 tahun. Saat itu, ia bertunangan dengan Anne C. Coleman, putri keluarga kaya asal Pennsylvania. Namun, entah kenapa Buchanan menyudahi hubungannya dengan Coleman. Tak lama berselang, Coleman meninggal dunia, diduga bunuh diri karena kecewa.

Buchanan tidak pernah punya istri, tapi dia didampingi first lady. Jabatan itu diberikan pada keponakannya, Harriet Lane Johnston, yang mengambil peran sebagai nyonya rumah untuk Gedung Putih dan menggunakan kedekatannya dengan kekuasaan untuk memperjuangkan beberapa isu sosial.

Ada kabar Buchanan menjalin hubungan cinta dengan senator Alabama bernama William Rufus King serta Wakil Presidennya sendiri, Franklin Pierce. Sejarawan seperti Jim Loewen dan John Howard yang mempelajari kehidupan sang presiden mengatakan Buchanan dan King hidup bersama meski tidak pernah menikah. Pada zaman itu pernikahan sejenis bukanlah sesuatu yang lazim dan masih sulit diterima umum.

Beberapa kepala negara/pemerintahan di luar AS tak memiliki ibu negara. Ian Khama, misalnya, presiden Botswana kelima yang menjabat dari 2008 sampai 2018. Ia pernah mengatakan akan berencana mencari calon istri setelah tak lagi menjabat presiden. Mantan presiden Filipina Benigno Aquino III juga konsisten melajang dari 2010 sampai 2016.

Evo Morales, presiden Bolivia sejak 2006, tidak menikah dan mendapuk kakak perempuannya Esther Morales Ayma untuk mengisi posisi ibu negara. Namun Evo punya jalinan asmara dan memiliki dua anak dari hubungannya dengan seorang perempuan.

Peran pasangan kepala negara di Eropa tidak semenonjol di AS. Sebutan ibu negara kurang populer dan persoalan pasangan dianggap sebagai urusan pribadi. Beberapa kepala negara atau pemerintahan Eropa juga lajang, gay/lesbian, atau bercerai ketika menjabat.

Jacinda Ardern yang dilantik pada 2018 adalah perdana menteri perempuan ketiga sepanjang sejarah Selandia Baru. Ia tidak menikah namun memiliki pasangan bernama Clarke Gayford. Keduanya dikarunia seorang anak pada September 2018.

Dalia Grybauskaitė adalah presiden Lithuania sejak 2009 sampai sekarang. Selain tercatat sebagai presiden perempuan pertama Lithuania, ia tidak menikah dan tidak mempunyai anak. Pemimpin perempuan lainnya yang memilih melajang adalah Park Geun-hye, presiden Korea Selatan kesebelas. Park Geun menjabat dari 2013 sampai 2017. Ketika ditanya soal pasangan, presiden perempuan Korea Selatan pertama ini berseloroh tidak mencari suami lantaran sudah menikahi negaranya.

Perdana Menteri Belanda Mark Rutte yang memerintah sejak 2010 memilih melajang dan menyatakan tetap bahagia. Namun Rutte mengungkapkan suatu hari mungkin ia akan memiliki istri dan anak.

Vladimir Putin, presiden Rusia kedua (2000–2008) dan keempat (2012–sekarang) bercerai dari istrinya pada 2013. Sampai kini, Putin masih menduda. Pada Desember 2018, Putin sempat melontarkan keinginannya untuk menikah lagi.

Infografik Pemimpin Negara Berstatus Jomblo
Infografik Pemimpin Negara Berstatus Jomblo. tirto.id/Fuad


Perancis punya posisi ekstrem terkait pasangan kepala negara. Publik Perancis tidak begitu suka dengan gelar ibu negara. Brigitte Macron, istri dari Presiden Emmanuel Macron pernah dipetisi warga pada 2017. Pasalnya, sang suami mengusulkan ada jabatan khusus ibu negara. Penampilan Brigitte yang kerap berada di samping Macron dalam acara kenegaraan juga mengundang kritik warga dan menyamakannya dengan Ratu Marie Antoinette yang selalu tampil di muka mendampingi Raja Louis XVI. Selama ini, jabatan first lady memang tidak dikenal dalam konstitusi dan protokoler Perancis.


Adapun François Hollande, presiden Perancis sebelum Macron, juga tidak menikah. Namun ia punya pasangan. Pasangan pertama bernama Segolene Royal (pisah 2007), kedua bernama Valerie Trierweiler (pisah 2014), dan terakhir Julie Gayet.

Pada 2017, ada sebuah foto yang menampilkan deretan pasangan kepala pemerintahan dari berbagai negara seperti Turki, AS, Prancis, Belgia, Bulgaria, Luksemburg, Slovenia, dan Islandia. Dikutip dari CNN, dari kesepuluh pasangan kepala negara yang ada dalam foto tersebut, sosok pria bernama Gauthier Destenay tampil menonjol di barisan belakang. Destenay adalah suami dari Perdana Menteri Luksemburg Xavier Bettel. Bettel dan Destenay menikah pada 2015, tepat saat Luksemburg melegalkan penikahan sesama jenis.

Bettel bukanlah satu-satunya perdana menteri aktif yang terbuka soal orientasi seksualnya. Perdana Menteri Serbia Ana Brnabić yang menjabat sejak 2017 tidak berusaha menutup-nutupi bahwa dirinya seorang lesbian, meski pernikahan sesama jenis belum legal di negerinya. Pasangan Brnabić bernama Milica Djurdjic. Perdana Menteri Islandia Leo Eric Varadkar juga secara terbuka menyatakan dirinya gay. Pasangannya, Matthew Barrett, adalah seorang dokter di Mater Misericordiae University Hospital.

Baca juga artikel terkait IBU NEGARA atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Tony Firman
Editor: Windu Jusuf