Obituari

Nawal El Saadawi: Feminisme adalah Melawan Kapitalisme & Patriarki

Oleh: Hasya Nindita - 27 Maret 2021
Dibaca Normal 5 menit
Nawal El Saadawi tak putus berkarya meski direpresi rezim dan jadi target pembunuhan. Melahirkan karya-karya yang mengubah hidup banyak pembacanya.
tirto.id - “Menulis adalah senjata untuk melawan sistem—yang memperoleh otoritasnya dari kekuasaan autokratis yang selama ini dipraktikan oleh para penguasa negara, juga ayah atau suami dalam keluarga. Bagiku, kata-kata tersurat serupa pemberontakan terhadap ketidakadilan yang dilakukan atas nama agama, atau moral, atau cinta,” demikian tulis Nawal El Saadawi dalam memoar A Daughter of Isis (1999).

Memoar itu hanyalah satu dari setidaknya 50-an judul buku karya El Saadawi. Sepanjang hidupnya, dia telah menulis banyak hal soal perempuan dan feminisme. Dia benar-benar mewujudkan omongannya sendiri, melawan sistem patriarki di Mesir dengan kata-kata.

El Saadawi menerbitkan buku pertamanya saat berumur 13 tahun. Sejak itu, dia tidak pernah berhenti menulis, bahkan ketika terus direpresi oleh pemerintah dan mendapat ancaman pembunuhan.

El Saadawi kehilangan pekerjaannya sebagai direktur kesehatan publik di Kementerian Kesehatan Mesir akibat buku kontroversialnya, Women and Sex. Melalui buku yang terbit pada 1972 itu, El Saadawi mengonfrontasi berbagai agresi terhadap tubuh perempuan, termasuk soal khitan perempuan.

Buku itu membawa sekaligus dua hasil yang berbeda. Bagi mereka yang menyetujui pemikiran El Saadawi, buku itu dianggap memberi pengaruh signifikan bagi gerakan feminisme gelombang kedua. Sebaliknya, ia memicu kemarahan berbagai lembaga politik dan agama di Mesir karena dianggap mencederai nilai-nilai patriarki yang selama ini mapan.

Pemerintah Mesir lantas melarang peredaran buku itu selama hampir dua dekade.

Terlepas dari kontroversi itu, Women and Sex berjasa meroketkan nama El Saadawi. Tapi, karya kemudian dianggap sebagai magnum opus El Saadawi adalah novel Women at Point Zero (1975).

Novel ini mengisahkan seorang tahanan perempuan di Penjara Qanatir. Firdaus, nama perempuan itu, adalah seorang pelacur yang akan dieksekusi. Di sisa hidupnya, Firdaus bersedia menceritakan kisah hidupnya kepada seorang psikiater yang dia percayai.

Melalui tuturan Firdaus, El Saadawi mengeksplorasi persoalan ketimpangan yang dihadapi perempuan dalam masyarakat Mesir yang patriarkal.

Tak Terbendung

El Saadawi adalah seorang feminis tangguh. Pada 1981, dia pernah dijebloskan ke penjara selama beberapa bulan karena dianggap sebagai musuh negara oleh Presiden Anwar Sadat. Meski dipenjara, El Saadawi tetap tekun menulis.

Dia bahkan menulis di atas gulungan tisu toilet dengan sebuah pensil alis yang diselundupkan oleh sesama narapidana. Tulisan pengalamannnya selama dipenjara itu lantas diterbitkan sebagai Memoir from the Women’s Prison pada 1984.

Kecurigaan negara terhadapnya tak lekang meski rezim berganti. Di era Presiden Hosni Mubarak, El Saadawi ditempatkan di bawah pengawasan polisi. Namanya—juga penulis Naguib Mahfouz—bahkan masuk dalam daftar sasaran pembunuhan kelompok militan Islamis.

Pada 2011, El Saadawi yang telah senja usia itu masih turun ke jalan bersama ribuan rakyat Mesir melawan rezim Mubarak di Tahrir Square. Lagi-lagi, El Saadawi ikut pula mendukung demonstrasi yang berujung pada penggulingan Presiden Mursi pada 2014.

Setelah itu, terbitlah rezim militer Abdul Fattah El-Sisi. Mantan jenderal itu kemudian mempersekusi dan membunuh setidaknya 1.000 pendukung Ikhwanul Muslimin dan Mursi.

Keberpihakan El Saadawi kepada El-Sisi sontak menuai banyak kritik. Saat itu, El Saadawi menilai Ikhwanul Muslimin lebih keji dibandingkan kelompok militer. Padahal, kedua kelompok ini tidak jarang berkongsi.

Terlepas dari sikap politiknya waktu itu, El Saadawi nyatanya terus menerus direpresi pemerintahnya sendiri. Dan dia tetap menulis. Selain karena keteguhan sikap, limpahan semangat dari para pembaca ikut memacunya keteguhannya. Hampir tiap hari dia menerima surat pembaca yang isinya berupa ucapan terima kasih karena tulisannya telah mengubah hidup mereka.

“Pernah seorang pemuda datang kepadaku di Kairo bersama istri yang baru saja dinikahinya. Pria itu ingin memperkenalkan istrinya kepadaku dan berterima kasih. Katanya, buku Anda membuatku menjadi pria yang lebih baik. Karena karya-karyaku, dia ingin menikah bukan karena perbudakan, tapi dengan perempuan merdeka,” tutur El Saadawi sebagaimana dikutip The Guardian.

El Saadawi juga mengatakan bahwa ia tidak menyesali satu pun dari bukunya. Pada 2009, kepada The Guardian dia mengatakan, dia akan tetap menulis buku yang sama jika mengulang lagi hidupnya.

“Semuanya sangat relevan bahkan hingga hari ini: masalah gender, kelas, kolonialisme (baik oleh Inggris dulu kala atau Amerika Serikat sekarang ini), mutilasi alat kelamin perempuan maupun laki-laki, kapitalisme, pemerkosaan seksual, dan pemerkosaan ekonomi,” tegas El Saadawi.

Setelah sekian lama memperjuangkan hak dan kesetaraan perempuan, El Saadawi akhirnya wafat pada 21 Maret 2021 di umur 89 tahun.

Dokter Penentang Khitan Perempuan

Nawal El Saadawi lahir pada 27 Oktober 1931 di desa Kafr Tahla, Kairo bagian utara. Ayahnya adalah seorang pekerja pemerintah sementara ibunya merupakan anak dari keluarga yang cukup kaya.

Jiwa pemberontak El Saadawi kemungkinan bersemi sejak masih anak-anak. Pada saat berumur 6 tahun, dia dipaksa melakukan praktik khitan perempuan. Dia bercerita, dirinya dibawa paksa dari tempat tidurnya pada larut malam dan melakukan prosedur pengangkatan klitoris.

Ketika dia menangis dan mencari ibunya, El Saadawi justru melihat ibunya berdiri di antara mereka yang melakukan prosedur itu sambil tersenyum. Pengalaman traumatis itu diabadikannya dalam The Hidden Face of Eve (1977).

Praktik khitan perempuan sendiri secara resmi dilarang di Mesir pada 2008. Namun, keluarga-keluarga dari kalangan konservatif masih saja mempraktikkannya.

“Sejak aku masih kecil, sebuah luka membekas begitu dalam di jiwaku dan tidak pernah sembuh,” tulis El Saadawi dalam buku nonfiksinya itu.

Sang ayah bahkan sempat ingin menikahkan El Saadawi secara paksa kala dirinya berumur 10 tahun. Didukung oleh ibunya, El Saadawi pun menolaknya dan bersikeras untuk melanjutkan studi hingga jenjang perguruan tinggi. Kala itu, El Saadawi sudah menyadari bahwa perempuan tidak mendapat penghargaan yang layak sebagaimana laki-laki.

El Saadawi lulus dari jurusan kedokteran Universitas Kairo dan melanjutkan studinya di New York’s Columbia University. Setelah mengetahui dampak buruk dari praktik khitan perempuan, El Saadawi pun mulai memprotes dan melawan praktik tersebut melalui kampanyenya akan hak-hak perempuan.

Pengalaman praktik medisnya di desa-desa kecil juga memperkaya pengetahuan dan menyulut kemarahannya akan sistem patriarki. Melalui praktik medisnya, El Saadawi mengobservasi masalah fisik dan psikologis perempuan yang tertindas gara-gara budaya patriarki dan penindasan kelas.

Saat berpraktik di daerah kelahirannya, Dokter El Saadawi juga mengobservasi kesulitan dan ketidaksetaraan yang dihadap oleh perempuan di daerah pedesaan.

Setelahnya, El Saadawi tak pernah lelah mengkritisi berbagai praktik agama bahkan yang paling sakral dalam Islam—termasuk ibadah haji yang digambarkannya sebagai peninggalan paganisme.

El Saadawi dan Feminisme

“Tidak ada lagi feminis. Feminisme bagi saya adalah perlawanan terhadap dominasi laki-laki dan dominasi kelas. Kita tidak bisa memisahkan antara penindasan kelas dan patriarki,” kata El Saadawi seperti dikutip dari Al Jazeera.

Meski dikenal luas sebagai penentang klitoridektomi, pandangan feminisme El Saadawi tentu saja lebih luas daripada itu. Pandangannya berakar pada pemikiran Marxis tentang pertentangan kelas, dominasi imperium, patriarki, kapitalisme, dan fundamentalisme agama.

Pandangan feminisme El Saadawi disebut-sebut tidak jarang membuat feminis lain merasa sebal. Dia, misalnya, mengutuk para perempuan yang mengenakan pakaian minim kebarat-baratan, tapi juga tidak setuju pada pemaksaan kerudung.

“Perempuan hanya dihargai sebatas sebagai tubuh yang harus disamarkan di balik kerudung atas nama agama atau ditutupi oleh riasan. Perempuan diajari bahwa mereka tidak seharusnya menghadapi dunia dengan wajah aslinya,” kata El Saadawi dalam sebuah wawancara dengan Refinery29.

Infografik Nawal El Saadawi
Infografik Nawal El Saadawi 27 Okt 1931-21 Maret 2021. tirto.id/Fuad


El Saadawi juga mengatakan, perempuan diperdaya oleh media yang rasis, kapitalisme, dan patriarki. Media kerap menggambarkan perempuan hidup dalam kebebasan, padahal sebenarnya terbelenggu. Menurut pendiri sekaligus pimpinan Arab Women’s Solidarity Association itu, sesuatu yang membuat perempuan cantik adalah kepercayaan dirinya.

“Feminisme itu tidak tunggal, ada berbagai macam feminisme: feminis liberal, feminis sosialis, feminis Islam, feminis Yahudi, feminis Kristen, dan masih banyak lagi. Apa yang disebut feminisme sebenarnya adalah perempuan yang terbebas dari patriarki dan kapitalisme. Penindasan patriarki, kelas, dan agama itu sama,” katanya.

Di Mesir yang patriarkal, seorang lelaki boleh menikahi hingga empat perempuan berdasar hukum Islam. Si lelaki pun boleh menceraikan salah satu istrinya, bahkan dengan alasan sederhana sekali pun. El Saadawi tentu saja tidak mau mengindahkan peraturan itu.

El Saadawi tak hanya tangguh karena perannya sebagai aktivis feminis atau karena pengalamannya dalam gerakan. Dia juga ditempa oleh kehidupan pribadi yang penuh turbulensi.

Pernikahan El Saadawi dan Ahmed Helmi, suami pertamanya, berlangsung pada 1955. Helmi adalah salah seorang rekannya di kampus. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan, Mona Helmi. Namun, dua tahun kemudian pasangan ini bercerai.

Sang dokter lalu menikah lagi dengan koleganya, Rashad Bey. Lagi-lagi, itu adalah pernikahan yang singkat dan mereka pun juga bercerai.

El Saadawi menikah untuk ketiga kalinya dengan Sherif Hatata pada 1964. Pernikahannya kali ini dikaruniai seorang anak laki-laki, Atef Hetata. Tapi, setelah lebih dari 40 tahun berumahtangga, El Saadawi menceraikan Hatata pada 2010.

Gara-garanya, Hatata ketahuan berselingkuh. Padahal, Hatata adalah penerjemah dari banyak buku El Saadawi. Jadi jelas, El Saadawi bukanlah perempuan yang gampang menyerah, sekali pun terhadap suami sendiri, jika dia merasa harkatnya dirisak.

“Aku telah menceraikan dua suami sebelumnya. Ketika yang ketiga juga mencederai hak-hakku, aku juga menceraikannya dan menolak untuk tinggal bersamanya,” tegas El Saadawi sebagaimana dikutip The New York Times.

Kehidupan El Saadawi jelas bukanlah jalan yang lempang. Tak hanya dirundung negara, dia juga terus-menerus mendapatkan ancaman pembunuhan.

Demi alasan keamanan, El Saadawi akhirnya memutuskan untuk mengasingkan diri ke Karolina Utara dan menjadi dosen di Duke University pada 1993-1996. Di sana, dia menulis dua buku autobiografi lagi. Meski begitu, pada dekade pertama abad ke-21, dia masih juga harus menghadapi berbagai tantangan dari sejumlah otoritas Islam yang menuduhnya murtad.

Baca juga artikel terkait FEMINISME atau tulisan menarik lainnya Hasya Nindita
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Hasya Nindita
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight