Nasionalis Hindu India: "Internet Sudah Ada di Zaman Mahabharata"

Oleh: Husein Abdulsalam - 23 Januari 2019
Dibaca Normal 4 menit
Klaim bahwa kitab Weda, Mahabharata, dan Ramayana sebagai gambaran kemajuan teknologi India kuno muncul sebagai reaksi terhadap kolonialisme Inggris.
tirto.id - Di India, sains, gerakan, dan program politik bercampur baur dengan cara yang ganjil.

Di satu sisi, ada banyak ilmuwan handal, penemu, dan pebisnis teknologi berdarah India baik di kampung halaman maupun di diaspora. Badan Penelitian Luar Angkasa (ISRO) India adalah lembaga penerbangan luar angkasa pertama yang akan mengirim misi ke Mars. Sundar Pichai hari ini menduduki kursi CEO Google, sementara Satya Nadella memimpin Microsoft. Tak berlebihan juga jika menyebut India terdepan dalam pengembangan teknologi digital.

Bicara soal matematika dan fisika juga tak lengkap jika tidak menyebut tiga tokoh asal India: Srivinasa Ramanujan, Satyendra Nath Bose, dan Subrahmanyan Chandrasekhar. Ramanujan punya kontribusi besar dalam pengembangan pendekatan analitik dalam teori bilangan; fungsi eliptik, deret tak terhingga, dan pecahan kontinyu. Sementara Chandrasekhar diganjar Nobel Fisika 1983 atas temuannya soal evolusi bintang, Bose ialah fisikawan teoritik yang namanya diabadikan menjadi nama partikel sub-atomik Boson.

Di sisi lain, politik membuat sains di India nampak absurd.

Pada Kongres Sains India ke-106 yang digelar 3-7 Januari silam, seorang pejabat tinggi universitas di India mengatakan Kurawa—anak Raja Dretarastra dan Gendari yang jumlahnya seratus dalam epos Mahabharata—bisa lahir dari seorang ibu berkat adanya teknologi sel punca dan bayi tabung. Pejabat itu bernama Gollapalli Nageshwar Rao. Ucapannya tak dimaksudkan sebagai lelucon.


Menurut Rao, orang-orang India telah menggunakan teknologi itu sebelum ilmuwan modern menemukannya. Laki-laki yang kini menjabat wakil rektor Andhra University itu juga mengatakan Rama dalam epos Ramayana menggunakan astras dan shastras yang bisa memburu targetnya. Baginya, itu adalah gambaran bahwa Rama telah menguasai ilmu peluru kendali. Wisnu pun menguasai teknologi serupa.

"Dewa Wisnu menggunakan peluru kendali yang dinamakan 'Cakra Wisnu' dan memburu targetnya," sebut Rao, seperti dilansir Indian Express.

Di kisah Ramayana pula, menurut Rao, 24 jenis pesawat berbagai ukuran dan kapasitas dimiliki Rahwana. Dia menggunakan pesawat itu untuk tujuan yang berbeda-beda. Sejumlah bandaranya terletak di Sri Lanka.

Di acara yang sama, seorang peneliti senior di The World Community Service Centre (WCSC) yang berkantor di Tamil Nadu juga mengatakan Isaac Newton tidak memahami gravitasi sepenuhnya karena ia tidak dapat menjelaskan "gaya tolak gravitasi". Peneliti itu bernama Kannan Jegathala Krishnan dan bukan hanya itu yang dia jelaskan.

Menurut Khrisnan, gelombang gravitasi—gelombang yang dipelajari Albert Einstein dan kemudian keberadaannya dideteksi Observatorium LIGO pada 2017 silam—seharusnya diganti namanya menjadi "Gelombang Narendra Modi".

Narendra Modi ialah politikus Bharatiya Janata Party (BJP). Ia menjabat perdana menteri sejak 2014 dan dikenal sebagai salah seorang politisi ultra-kanan terpenting India.

Narasi Menandingi Penjajah Inggris

Meskipun menuai kontroversi, klaim-klaim anakronik semacam itu rupanya sudah sering terdengar sepanjang sejarah India modern. Jejaknya bisa ditelusuri hingga ke sikap Arya Samaj terhadap kolonialisme Inggris.

Arya Samaj didirikan pada 1875 dan muncul sebagai bagian gerakan Reformasi Nasionalis Hindu anti-kolonialisme Inggris.

Peneliti kebudayaan Hindu Wendy Doniger mencatat dalam Beyond Dharma: Dissent in the Ancient Indian Sciences of Sex and Politics (2018) bahwa Swami Dayanand Saraswati, pendiri Arya Samaj, mengatakan Krisna (salah satu dewa yang menitis menjadi manusia) dan Arjuna (salah satu dari Pandawa dalam Mahabharata) sudah pergi ke benua Amerika melalui Siberia dan Celah Bering lima ribu tahun lalu.

Reformis Hindu abad ke-19 di India lainnya mengklaim bahwa penyusun kitab Weda telah mendarat Amerika jauh sebelum Columbus. Walhasil, si penjelajah utusan Spanyol itu menyebut penduduk lokal sebagai orang "Indian".

Dengan begitu, menurut Doniger, ada dua argumen disampaikan Nasionalis Hindu kepada penjajahnya. Pertama: "Anda saintifik, tapi kami juga spiritual; Agama kami lebih bijak daripada sains Anda—dan Kitab Suci agama kami mengandung sains lebih yang lebih kuno daripada punya Anda". Kedua: "Kami lebih baik daripada Anda, dalam bidang keagamaan dan ilmu pengetahuan karena agama kami saintifik dan sains kami religius dan kami ingin Anda angkat kaki."

Klaim-klaim sejenis berlanjut hingga abad ke-20 dan ke-21 dan menurut Doniger "berbelok tajam ke kanan" seiring berkembangnya Hindutva, sebuah ideologi ultra-nasionalis yang menyuarakan hegemoni ajaran Hindu dan cara hidup ala Hindu.

Dalam "Explainer: What are The Origins of Today’s Hindu Nationalism?" (2016) yang terbit di The Conversation, Ketan Alder menjelaskan istilah Hindutva dipopulerkan oleh pejuang anti-kolonial India Veer Savarkar melalui pamflet berjudul Hindutva: Who is a Hindu. Terbit pada 1923, pamflet itu memandang agama Hindu sebagai pemersatu, sementara tradisi Islam dan Kristen dianggap asing dan tidak layak untuk berkembang di India.

Pada 1925, Keshav Hedgewar mendirikan apa yang kelak berkembang sebagai Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS). Melalui RSS, para penganut Hindutva berusaha mengembangkan dua prinsip dasar nasionalisme Hindu: organisasi (Sangathan) dan pelayanan (Seva).


RSS menyuarakan keyakinan bahwa peradaban Hindu, yang menempati kawasan yang disebut India hari ini, adalah peradaban yang sangat maju. Demikian menurut Sohini C dalam artikel "Bowel Cleanse for Better DNA: The Nonsense Science of Modi's India" (2019) yang terbit di South China Morning Post. Namun, bagi RSS, kemajuan itu terhambat oleh kedatangan penjajah Inggris dan pemukim Muslim. Bagi mereka, apa yang diklaim Inggris (atau Eropa) sebagai penemuannya sejatinya adalah karya umat Hindu di masa lampau.

Sebagian anggota RSS yang tidak puas dengan kebijakan politik Kongres (partai beraliran sekuler) bikinan Mohandas Gandhi kemudian mendirikan BJP pada 1980. Pada 2014, untuk pertama kalinya BJP memperoleh suara mayoritas. Modi pun didapuk sebagai perdana menteri.

Kata Modi: Ganesha Itu Hasil Operasi Plastik

Modi membikin satu kementerian yang secara khusus menangani Ayurveda, Yoga and Naturopathy, Unani, Siddha, dan Homoeopathy (Kementerian AYUSH)—semacam pengobatan tradisional ala India.

Pada Oktober 2014, Modi mengatakan bedah komestik dan rekayasa genetika sudah dilakukan ribuan tahun lalu. Dalih Modi ialah Karna dan Ganesha dalam epos Mahabharata.

"Kita semua membaca tentang Karna di Mahabharata. Jika kita berpikir sedikit lagi, kita menyadari Mahabharata mengatakan Karna tidak dilahirkan dari rahim ibunya. Ini berarti ilmu genetika ada waktu itu. Itulah sebab Karna bisa lahir di luar rahim ibunya," ujar Modi.

Modi, lalu, mengatakan, "Kita menyembah Dewa Ganesha. Pasti ada beberapa ahli bedah plastik waktu itu yang menempatkan kepala gajah di tubuh manusia dan mempraktikkan operasi plastik."

Modi juga memerintahkan pejabatnya untuk merevisi buku-buku yang bakal digunakan untuk suplemen bacaan semua sekolah dasar dan menengah negeri. Sebelumnya, Guardian melaporkan Modi menulis kata pengantar sebuah buku pelajaran sekolah di Gujarat semasa menjabat menteri kepala negara bagian tersebut. Di buku itu, Modi menyampaikan bahwa Rama dalam Ramayana adalah orang yang menerbangkan pesawat pertama di dunia dan teknologi sel punca sudah dikenal oleh masyarakat India kuno.

Pada April 2018, menteri kepala Tripura yang juga kader BJP, Biplab Kumar Deb, mengklaim bahwa internet sudah eksis sejak masa India kuno. .Buktinya, menurut Deb, bisa ditemukan di epos Mahabharata menceritakan hal tersebut.

"Komunikasi dimungkinkan karena teknologi kita menakjubkan dan maju di masa itu. Kita punya internet dan sebuah sistem satelit komunikasi. Tak mungkin internet atau media tidak tersedia pada zaman Mahabharata," ujar Deb.


Jurnalis Atlantic Alexis C. Madrigal menelusuri jejak ucapan Deb di koran-koran India dan menemukan klaim yang lebih absurd lagi. Deb sempat mengatakan orang-orang Eropa dan Amerika Serikat hanya mengklaim teknologi yang sebenarnya sudah dimiliki orang-orang India kuno.

Sejumlah protes memang melayang ke Deb, tapi ia menganggap pengkritiknya sebagai orang yang berpikiran sempit. Menurutnya, orang India seharusnya menganggap India sebagai bangsa besar.

"Setiap orang India harus memiliki pemikiran yang sama bahwa India adalah negara terbaik dan unggul di seluruh dunia. Negara saya memiliki teknologi itu bertahun-tahun yang lalu; yang tidak dimiliki negara mana pun juga. Saya bangga akan hal itu dan saya pikir setiap orang India harus merasa bangga. Saya ulangi: kita harus menerima kebenaran dan tidak boleh bingung," ujar Deb.


Infografik Klaim Sains dari mahabharata
Infografik Klaim Sains dari mahabharata



Tentu bukan cuma pejabat seperti Modi dan Deb yang membuat pernyataan ngawur tentang sains. Menteri Pengembangan Sumber Daya India Satyapal Singh bahkan pernah mengatakan bahwa teori evolusi Darwin adalah kekeliruan ilmiah. Menteri Kepala Uttarakhand Ramesh Pokhriyai juga menyatakan, "Astrologi adalah sains yang hebat. Faktanya, ia lebih unggul dari sains. Kita harus mempromosikannya."

Pada dasarnya, para pejabat publik ini berusaha membuat mitologi Mahabharata atau Ramayana bisa diterima nalar modern dengan cara menyelipkan klaim-klaim seputar sains dan teknologi yang jamak ditemui hari ini. Usaha itu hanya bisa dilakukan apabila si penuturnya menganggap isi dua kitab tersebut secara harafiah menggambarkan peristiwa masa lampau.

Di sisi lain, mereka sebetulnya sedang mengarang mitos politik baru tentang masa lampau India. Narasi yang hendak dibangun ialah: bangsa India sekarang ialah pewaris kejayaan masa lalu, dan kejayaan di masa depan mesti diraih. Namun, sebagaimana dicatat Doniger, pembangunan mitos kejayaan masa lalu India oleh BJP beriringan dengan pengerahan sentimen anti-Muslim dan penolakan atas pelbagai versi ajaran Hindu yang tak sesuai ideologi Hindutva.

Baca juga artikel terkait SEJARAH KOLONIAL atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Husein Abdulsalam
Editor: Windu Jusuf