Nasib Ikhwanul Muslimin Usai Kematian Mursi

Oleh: Tony Firman - 25 Juni 2019
Dibaca Normal 4 menit
Pasca kudeta militer, Ikhwanul Muslimin Mesir terpecah ke dalam kelompok tua dan kelompok muda yang berseberangan dalam mengambil sikap terhadap represi pemerintahan al-Sisi.
tirto.id - Kematian Muhammad Mursi, mantan presiden Mesir yang terpilih secara demokratis itu, menyisakan teka-teki dan telah membangkitkan kecaman publik dunia khususnya dari Ikhwanul Muslimin dan sejumlah kelompok Islamis lainnya.

Mursi yang ditahan sejak dikudeta militer oleh Jenderal Abdel Fattah el-Sisi pada Juli 2013 dinilai sengaja dibunuh secara perlahan dengan membiarkan penyakit menggerogotinya sampai mati, tanpa intervensi medis.

Dilansir dari The New Arab, Mursi memang punya riwayat penyakit diabetes, hati, dan ginjal. Ia dilaporkan sudah lama kehilangan pandangan di mata kirinya. Laporan Human Rights Watch (HRW) pada 2017 mencatat Mursi pernah pingsan dan koma akibat diabetes di dalam penjara. Ia dianggap tidak pernah mendapat akses layanan pengobatan yang mumpuni.

Anggota parlemen Inggris Crispin Blunt yang menyelidiki kondisi penahanan Mursi pernah menulis laporan panjang tentang kondisinya. "Jika Morsi tidak segera mendapatkan perawatan medis yang memadai, ia akan mati secara prematur," ujarnya.

Kekhawatiran para pihak pemantau HAM rupanya benar-benar terjadi.

Dilansir dari Aljazeera, Partai Kebebasan dan Keadilan (FJP), anak kandung Ikhwanul Muslimin (IM) di Mesir yang menjadi kendaraan politik Mursi di Pemilu 2012, menyebut pemerintah Mesir bertanggung jawab atas "kematian perlahan yang disengaja" yang menimpa Mursi.

Mohammed Sudan, pentolan IM di London, Inggris, menyatakan kematian Mursi sebagai pembunuhan berencana. Pemerintah, menurut Sudan, sengaja membiarkan kondisi kesehatannya memburuk tanpa diberi akses layanan kesehatan.


Di Turki, masjid-masjid mengadakan salat jenazah pada Selasa di hari pemakaman Mursi. Tak ketinggalan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyebut rezim tiran Mesir sebagai dalang dan menggambarkan Mursi sebagai seorang martir.

Di Qatar, negara yang banyak mencurahkan perhatian pada gerakan IM, Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani menyampaikan kesedihan yang mendalam atas kematian Mursi.

Hamas, anak kandung IM di Palestina yang melakukan perlawanan bersenjata dan mengontrol Jalur Gaza memberikan penghormatan kepada Mursi dengan memuji sebagai sosok pemimpin yang melayani Mesir dan mendukung perjuangan Palestina. Di Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur, salat jenazah ditunaikan oleh banyak warga Palestina pada Senin malam.

Partai Ennahdha di Tunisia yang mendaku terinspirasi oleh pergerakan IM di Mesir berharap "insiden menyakitkan" itu dapat menjadi alasan untuk mengakhiri penderitaan ribuan tahanan politik di Mesir dan dapat memulai dialog menuju politik demokratis baru.

Sementara Amnesty International dan PBB telah menyerukan penyelidikan independen yang "cepat, tidak memihak, menyeluruh dan transparan" atas kematian Mursi.

IM Mesir Pasca Kudeta 2013

IM adalah organisasi islam dan politik transnasional yang didirikan oleh Hassan al-Bana pada 1928 silam di Kota Ismailia, Mesir. Kegelisahan Banna melihat keruntuhan Kekhalifahan Utsmaniyah pada 1924, kolonialisme Inggris di Mesir, dan maraknya sekulerisme adalah salah beberapa faktor yang mendorongnya mendirikan IM.

Dari organisasi kecil di Ismailia, IM bertransformasi menjadi kelompok agama dan politik yang paling terorganisir. Irfan Husain di buku Fatal Faultlines (2011) mencatat, anggota IM naik drastis dari sekitar 800 orang di tahun 1936, menjadi 2 juta pada 1948 sebelum kematian Banna. Membengkaknya keanggotaan IM karena mereka tak cuma berkutat pada masalah kesalehan umat anggota, tetapi juga turun ke akar rumput berdema, mengelola masjid, sekolah dan lainnya untuk mendekatkan garis perjuangan IM.

Selama memperjuangkan cita-cita memimpin negeri, IM kenyang mengalami represi di rezim Nasser, Sadat, dan Mubarak. Ketiganya menutup peluang IM untuk menerapkan kebijakan berdasar agama secara luas ke khalayak umum. Bahkan di era Nasser, pemimpin terkemuka IM Sayyid Qutb dieksekusi mati pada 1966 atas tuduhan merencakan pembunuhan terhadap Nasser pada 1954.

Sejarah akhirnya mencatat, sekali lagi IM harus merasakan pukulan telak karena kematian Mursi.

Kematian Mursi seakan menjadi puncak kegetiran gerakan IM Mesir kiwari. Bagaimana tidak, sejak Revolusi Mesir 2011 berhasil mendesak mundur Husni Mubarak yang telah 30 tahun berkuasa, IM adalah kandidat terkuat untuk mengisi kekosongan pemerintahan.

Segera setelah Mubarak lengser, IM menjalin hubungan dengan militer untuk mengkonsolidasikan kekuatan. Di bawah Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata (SCAF) sebagai pemerintahan sementara pasca lengsernya Mubarak, IM diizinkan membentuk partai politiknya sendiri, Partai Kebebasan dan Keadilan (FJP) —sebuah langkah mustahil di era Mubarak.


Mursi menjadi ketua FJP dan namanya diusung dalam Pilpres Mesir 2012. Ia sukses memenangkan pemilu dengan mengantongi 51,73 persen suara. Ini adalah kemenangan besar IM karena berhasil menguasai pemerintahan Mesir setelah lebih dari delapan dekade bergerilya menggalang dukungan dan kekuatan.

Nahas, kekuasaan IM berlangsung singkat: setahun lebih sedikit. Para pengamat menilai, pemerintahan singkat Mursi lantaran kebijakannya yang bernafaskan Islamis menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat liberal dan kelompok minoritas. Akibatnya muncul gelombang protes anti-Mursi turun ke jalanan. Belum lagi krisis ekonomi dan reformasi aparatur negara seperti pada tuntutan Revolusi 2011 dianggap tak dilaksanakan oleh Mursi.

Kekacauan ini dimanfaatkan oleh kelompok militer untuk mengambil alih kekuasaan. Di bawah pimpinan Jenderal Abdel Fattah al-Sisi yang menjabat sebagai Menteri Pertahanan sekaligus Kepala Angkatan Bersenjata Mesir, Mursi dikudeta pada 3 Juli 2013.

Para pendukung IM merespons kudeta Mursi dengan mendirikan kamp-kamp protes di alun-alun Nahda dan di dekat masjid Rabaa al-Adawiya. Hari-hari berikutnya, penghancuran gerakan Islamis IM dimulai.

Pada 4 Juli 2013, jaksa penuntut memerintahkan penangkapan sejumlah anggota senior IM, termasuk pemimpin tertinggi Muhammad Badie dan wakilnya, Khairat El-Shater atas tuduhan menghasut kekerasan dan mengganggu keamanan dan ketertiban nasional.

Berminggu-minggu menggelar aksi damai, pengunjuk rasa IM dibubarkan paksa dengan kekerasan pada 14 Agustus 2013 di Nahda dan Rabaa. Sebanyak 638 orang tewas dan 4.000 orang lainnya terluka. Represi itu diikuti dengan penetapan IM sebagai organisasi terlarang, aset-asetnya disita, kantor surat kabar FJP ditutup, IM ditetapkan sebagai organisasi teroris pada 25 Desember 2013 dengan tuduhan melakukan serangan mematikan di markas kepolisian.

Sampai 8 September 2018 pengadilan kriminal Kairo menangani 739 orang simpatisan IM dengan berbagai macam dakwaan mulai dari pembunuhan petugas polisi, hasutan, kekerasan dan perusakan properti selama kerusuhan di Rabaa 2013. Ada 47 orang pemimpin IM termasuk Badie, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Mursi sendiri mulanya dijatuhi hukuman mati pada Mei 2015 sebelum akhirnya ditangguhkan pada November 2016.

Perpecahan Internal

Represi pada IM oleh al-Sisi, yang disebut-sebut paling brutal sepanjang sejarah berdirinya mereka, telah bikin perpecahan internal.


Khalil al-Anani, ilmuwan politik Doha Institute for Graduate Studies dan penulis buku Muslim Brotherhood: Religion, Identity, and Politics (2016) mengatakan dalam esainya untuk Aljazeera, banyaknya tokoh senior yang diciduk pemerintah menyebabkan IM dilanda krisis kepemimpinan.

IM terbelah menjadi dua kubu: para pemimpin lama yang konservatif, dan para anggota muda yang revolusioner serta bergairah untuk terus bertarung melawan rezim. Kelompok muda percaya bahwa mengembalikan Mursi ke jabatan presiden adalah suatu keharusan karena menganggap Mursi masih secara sah berstatus presiden yang dipilih rakyat. Langkah itu tentu jadi mustahil sekarang.

“Kepemimpinan baru telah mengadopsi posisi konfrontatif dan non-kompromi, kepemimpinan lama cenderung mengakomodasi represi rezim dan menjaga pintu terbuka untuk tawar-menawar dan rekonsiliasi dengan rezim,” tulis al-Anani.

IM juga terbagi antara kepemimpinan internal dan eksternal. Para senior IM yang melarikan diri ke Turki pasca-kudeta membentuk badan baru bernama Biro Eksternal yang mengendalikan kegiatan IM dari luar Mesir.


Infografik Revolusi dan Kontrarevolusi mesir
Infografik Revolusi dan Kontrarevolusi mesir


Kamal Habib, jurnalis dan analis politik Mesir, menilai kematian Mursi sebagai momentum bersatunya kembali IM yang dapat membikin penguasa mengendorkan cengkramannya. Namun jikapun IM bersatu, sejumlah ilmuwan politik lainnya menilai rezim al-Sisi tak akan dengan mudah ditundukkan.

"IM tentu marah karena apa yang terjadi, tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Kelas penguasa telah meletakkan kakinya dan tidak akan membiarkan apapun menyimpang dari kebijakannya," ujar Mustafa Kamel al-Sayed profesor ilmu politik American University of Cairo kepada Al-Monitor

Senada dengan al-Sayed, Ammar Ali Hassan sosiolog politik dan kolumnis surat kabar Al-Masry Al-Youm mengatakan pemerintah saat ini tidak akan mengubah kebijakannya terhadap IM karena merasa kelompok ini salah di mata pemerintah. Menurut Hassan, rekonsiliasi bisa terjadi asalkan IM mau mengakui bahwa kekuasaannya dijungkalkan karena protes publik.


Hingga sekarang, perlakuan keras pemerintah Mesir masih terlihat jelas dan cenderung rahasia. The New York Times melaporkan, prosesi pemakaman Mursi dilakukan secara senyap, dijaga ketat dan tidak mengizinkan awak media meliput. Beberapa jam setelah kematian Mursi, pembawa berita televisi pro-pemerintah mengancam simpatisan IM agar tidak menggelar aksi turun ke jalan.

"Kepada siapa pun yang ingin mengubur negara ini: kami akan menguburmu lebih dulu," ancamnya.

Baca juga artikel terkait POLITIK MESIR atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Politik)


Penulis: Tony Firman
Editor: Nuran Wibisono