Menuju konten utama

Nasib Emoji di Tangan Generasi Milenial

Jumlah emoji sudah sangat banyak, namun masih terlalu sedikit untuk dapat mengekspresikan kenyataan. Namun soal putaran uang, emoji memicu sangat banyak.

Nasib Emoji di Tangan Generasi Milenial
ilustrasi emoji. foto/shutterstock]

tirto.id - Yang terpilih menjadi Oxford Dictionaries Word of the Year 2015 adalah sebuah emoji. Bukan kata “emoji” itu sendiri; sebuah emoji yang dikenal dengan sebutan “the face with tears of joy emoji” atau “the LOL emoji” — emoji tertawa sampai menitikkan air mata. Tidak pernah sebelumnya hal ini terjadi. Walau bersejarah, pemilihan ini menimbulkan perdebatan. Oxford University Press dinilai mengambil keputusan yang tidak masuk akal. Sebuah emoji bukan kata, apalagi frasa.

[what] Kata emoji sendiri berasal dari bahasa Jepang, "e" dan "moji" — "e" berarti “gambar” sedangkan "moji" berarti “huruf” atau “karakter”. Emoji berbeda dengan pendahulunya, emoticon, yang berasal dari kata-kata dalam bahasa Inggris, emotion dan icon.

Dalam argumennya, Oxford University Press berpendapat bahwa emoji telah diterima luas sebagai bentuk ekspresi yang dapat menerobos batas-batas bahasa. Jadi… emoji yang bukan kata dan bukan frasa itu adalah bahasa?

Berbicara mengenai bahasa, kebanyakan dari kita biasanya langsung berpikir tentang bahasa yang terucap dan tertulis. Padahal ada bentuk lain yang tak terucap dan tak tertulis namun terlihat: bahasa isyarat. Emoji sebagai sistem tanda dengan sendirinya mengandung isyarat. Namun sistem tanda dalam bahasa tidak sama dengan bahasa isyarat. Maka emoji bukan bahasa.

Emoji belum menjadi bahasa, tepatnya. Emoji bisa menjadi bahasa suatu saat nanti, namun itu pun masih belum pasti. Tinggalkan dulu urusan masa depan itu. Terlepas dari kelayakan emoji menjadi bahasa saat ini, emoji sudah memenuhi fungsi komunikasi: menyampaikan maksud dan gagasan serta mempengaruhi sikap dan perilaku lawan bicara.

Era digital telah mengubah cara kita menjalin interaksi dengan sesama manusia. Dengan perubahan cara berinteraksi, normal jika ada perubahan dalam cara berkomunikasi.

Di sinilah emoji sangat berguna. Secara spesifik, emoji memiliki kemampuan untuk menyampaikan pesan di era digital. Sebelum emoji, bahkan sebelum emoticon, manusia telah berkomunikasi dengan isyarat. Emoji melengkapi bahasa tertulis sebagaimana gerak isyarat melengkapi bahasa terucap.

Lebih dari itu, sebenarnya. Emoji memungkinkan penggunanya untuk berkomunikasi tanpa batasan bahasa. Bukan tanpa alasan para linguis merasa bahwa emoji suatu saat dapat berkembang menjadi bahasa.

Sekarang saja emoji sudah layak disamakan dengan pijin. Menurut KBBI, pijin berarti “alat komunikasi sosial dalam kontak yang singkat (misal dalam perdagangan) antara orang-orang yg berlainan bahasanya dan tidak merupakan bahasa ibu para pemakainya.”

Alat komunikasi, namun bukan bahasa. Dan perdagangan bukan satu-satunya kontak singkat yang menjadi sarana tumbuh suburnya pijin, yang salah satu penggerak keberadaannya adalah kebutuhan yang mendesak. Pijin tumbuh subur di mana para budak dan pencari suaka bertemu dengan orang-orang yang tidak berbicara dalam bahasa mereka. Dengan kata lain, pijin terbentuk dari alasan-alasan yang kurang menyenangkan. Dari desakan.

Emoji Lahir dengan Cara Menyenangkan

Emoji, sementara itu, lahir dengan cara yang menyenangkan. Docomo, perusahaan telekomunikasi Jepang, di akhir 1990an mencari cara untuk muncul ke permukaan dalam persaingan pager yang sangat ketat.

Seorang pegawainya, Shigetaka Kurita, mengajukan gagasan untuk menambahkan gambar kartun ke dalam pesan — awalnya untuk menarik perhatian pengguna yang masih remaja. Selain itu ada alasan yang lebih besar: bahasa Jepang terlalu rumit serta kaya akan konteks, makna, dan emosi; bahasa tertulis dalam teks singkat saja tidak cukup untuk memenuhi tujuan komunikasi.

Gagasan Kurita inilah yang akhirnya menjadi emoji.

Pada 2007, Apple merilis iPhone pertamanya. Untuk menembus pasar Jepang, Apple merasa perlu menambahkan fungsi emoji ke dalam sistem operasi mereka. Fenomena emoji dalam iPhone akhirnya mendunia dan para pengguna iPhone di luar Jepang mencari cara untuk dapat menggunakan emoji di iPhone mereka masing-masing — dengan mengunduh aplikasi bahasa Jepang. Pada akhirnya emoji tersedia di semua iPhone dan smartphone di seluruh dunia.

Di antara semua penggunanya, milennial adalah yang paling menguasai penggunaan emoji. Bahkan Bible Emoji, Injil yang disampaikan dengan emoji, memiliki target pasar yang spesifik: milenial. Mereka lebih menguasai penggunaan emoji karenalebih menguasai penggunaan smartphones ketimbang generasi pendahulunya.

Lain hal, emoji muncul dan berkembang di eranya milenial—zaman yang serba cepat dan visual, di mana berbincang tak berarti bertatap muka. Emoji dapat memenuhi kebutuhan milenial untuk menyampaikan pesan dengan cepat tanpa harus bertele-tele merangkai kata. Dengan emoji pula emosi yang tepat dapat tersampaikan. Emoji mengurangi kemungkinan terjadinya miskomunikasi dengan menambah emosi ke dalam teks yang datar.

Infografik Emoji

Lagipula bahasa dan cara berkomunikasi selalu dan akan selalu berevolusi. Dan aktor utama dalam evolusi tersebut selalu dan akan selalu generasi yang lebih muda dan dalam hal ini, ya milenial itulah para aktor utamanya.

Manusia pada dasarnya senang bermain-main dengan bahasa dan setiap kali kita menemukan cara baru berbahasa, kita akan bermain dan bereksperimen dengannya. Akan atau tidaknya emoji menjadi bahasa sangat tergantung kepada para penggunanya: para milenial.

Jumlah Emoji dan Perputaran Uang

Jumlah emoji dalam versi terbaru, v4.0 adalah 2.444 jenis. Itu jenisnya saja. Emoji face with tears of joy di iPhone memiliki tampilan yang berbeda dengan emoji face with tears of joy di Android atau Twitter.

Dan 2.444 jenis emoji itu terbagi ke dalam banyak kategori, dari ekspresi hingga jenis alat transportasi hingga bendera negara sehingga memungkinkan penggunanya untuk menyampaikan segala jenis makna. Namun jumlah sebanyak itu, yang mampu menyampaikan beragam makna dalam percakapan, belum cukup banyak untuk menyampaikan semua makna dalam percakapan.

Karena itulah jalan emoji untuk menjadi bahasa masih sangat jauh. Kosa kata yang ada dalam dunia emoji masih sangat kurang jumlahnya.

Tapi kurangnya jumlah emoji itu tidak berbanding lurus dengan berlimpahnya pemasukan karena emoji. LINE, misalnya. Chatting app ini meraup pendapatan sebesar 75 juta dolar Amerika Serikat dari penjualan sticker--namanya saja yang berbeda; konsepnya sama dengan emoji--di tahun pertama kemunculannya.

Dari tahun ke tahun kosa kata emoji terus bertambah kaya, namun ada satu hal yang tidak berubah: tak pernah ada emoji yang bersifat ofensif. Emoji, bahkan yang tampilannya ofensif pun—pistol, wajah yang marah, atau jari tengah—dalam penggunannya sama sekali tidak terasa ofensif.

Emoji selalu berhasil menyampaikan emosi positif. Emoji tidak memiliki bakat jahat. Emoji tidak bisa menyakiti. Emoji lahir dengan cara yang menyenangkan dan membuat percakapan menjadi lebih menyenangkan.

Baca juga artikel terkait EMOJI atau tulisan lainnya dari Taufiq Nur Shiddiq

tirto.id - Gaya hidup
Reporter: Taufiq Nur Shiddiq
Penulis: Taufiq Nur Shiddiq
Editor: Zen RS