Benny dan Wapres

Nasib Benny dan Habibie: Dipercaya, Setia, lalu Dijauhi Soeharto

Ilustrasi BJ Habibie dan Benny Moerdani. tirto.id/Fuadi
Oleh: Petrik Matanasi - 17 Juli 2020
Dibaca Normal 3 menit
Januari 1974 Benny Moerdani dan BJ Habibie kembali ke Indonesia dari Korea Selatan dan Jerman Barat. Keduanya kemudian menjadi orang kepercayaan Soeharto.
Awal 1974, seminggu setelah peristiwa Malari, seorang kolonel baru tiba di Jakarta dari Seoul. Sebelumnya ia tinggal bertahun-tahun di Negeri Ginseng sebagai konsulat jenderal.

Masih di bulan dan tahun yang sama, seorang insinyur juga tiba di Jakarta setelah menempuh perjalanan panjang dari Jerman. Sebelumnya, ia adalah orang penting di perusahaan penerbangan Messerschmitt-Bölkow-Blohm.

Si insinyur bukan orang baru bagi Presiden daripada Soeharto. Mereka pertama kali bertemu di Makassar pada 1950. Dua hari setelah tiba di Indonesia, ia menemui Soeharto dan agak kaget ketika diberi tugas untuk mengembangkan teknologi di Indonesia.

“Pak Harto, saya hanya bisa membuat kapal terbang. Mengapa saya diberi tugas begini?” tanyanya.

“Kamu bisa membuat kapal terbang, berarti bisa membuat yang lain-lain,” jawab Soeharto.

Insinyur itu adalah Baharuddin Jusuf Habibie. Menurut A. Makmur Makka dalam The True Life of Habibie: Cerita di Balik Kesuksesan (2007:97), mulanya Habibie menjadi penasehat presiden dan membangun BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). Selanjutnya ia membangun industri pesawat terbang di Bandung.

Menurut Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto (2016:115), dalam pertemuan itu juga Soeharto bertanya kepada Habibie, "Kenal Benny?" Habibie menjawab tak mengenalnya.

Benny yang dimaksud Soeharto adalah Leonardus Benyamin Moerdani, kolonel yang baru datang dari Seoul. Seperti Habibie, Benny juga diberi jabatan baru, bahkan merangkap beberapa posisi, yaitu sebagai Wakil Kepala BAKIN (Badan Koordinasi Intelijen Negara), Kepala Intel Screening, Kepala Satuan Tugas Intel Kopkamtib, Kepala Pusat Intel Strategis, dan Asisten Intel Hankam. Kala itu pangkatnya telah Brigadir Jenderal.

"Dia (Benny) akan jadi Kepala Intel Hankam dan saya tugaskan menjagamu biar tidak diganggu siapapun," ujar Soeharto kepada Habibie. Benny pun kemudian mengenal Habibie. Sebagai orang yang pernah merasakan pendidikan kolonial, keduanya bisa berbicara dalam bahasa Belanda.

Menurut Salim Said, karena lebih tua, Benny dipanggil "Mas Benny" oleh Habibie. Ia bahkan berkantor di Gedung BPPT yang dipimpin Habibie. Sebagai bawahan yang baik, Benny menjaga Habibie.

“Untuk waktu yang lama, hubungan Benny dengan Habibie amat dekat,” tulis Salim Said.

Mulai 1978, Habibie diangkat menjadi Menteri Riset dan Teknologi. Ia juga banyak memimpin perusahaan, salah satunya IPTN (Industri Pesawat Terbang Nurtanio)--yang belakangan Nurtanio diganti menjadi Nusantara. Perusahaan ini kemudian menjadi PT Dirgantara Indonesia.

Untuk memperluas kawasan industri pesawat terbang, pemerintah hendak memindahkan pangkalan udara Husein Sastranegara. Namun hal ini banyak yang menentang, salah satunya Benny dengan alasan ongkos pemindahkan pangkalan udara sangat mahal. Benny sebagai Panglima ABRI gagal membujuk Soeharto, namun justru Sukardi sebagai Kepala Staf Angkatan Udara yang berhasil meyakinkan pemerintah sehingga pangkalan udara itu batal dipindahkan.


Akhir Habibie seperti Benny

Ketika menjadi menteri, Habibie pernah dianggap tidak loyal kepada pemerintah oleh seorang petinggi intel ABRI karena masih menjadi petinggi di perusahaan Jerman. Namun Habibie membantah hal itu. Ia juga dianggap melakukan “kebohongan” ketika memberitahu presiden bahwa Iran ingin membeli helicopter Puma yang dirakit di Bandung.

Pihak intel mendapat informasi bahwa penjualan helikopter itu disertai dengan rudal Exocet. Mereka kemudian mengecek ke Prancis dan ternyata Indonesia tidak punya hak menjual rudal itu ke Iran. Bahkan Indonesia diancam akan diembargo jika menjual senjata itu. Maka pembelian helikopter pun batal.

Tahun 1990 ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) dibentuk dan habibie sebagai ketuanya. Hal ini tidak disenangi Benny yang saat itu kekuasaannya sudah dikurangi oleh Soeharto dengan hanya menjadi Menteri Pertahanan Keamanan (Menhankam).

Menurut Kivlan Zen dalam Konflik dan Integrasi TNI AD (2004:78), Benny tak suka pada Habibie karena tak mau bergabung dalam Centre for Strategic and International Studies (CSIS) di mana Benny menjadi Ketua Dewan Kuratornya. Bagi Benny, ICMI adalah tangan bagi kelompok sektarian.

Pada 1993, Habibie menjadi salah satu kandidat wakil presiden. Menurut Sri Bintang Pamungkas dalam Menggugat Dakwaan Subversi: Sri-Bintang Pamungkas di Balik Jeruji Besi (2000:336), Habibie didukung oleh Partai Persatuan Pembangunan (PPP), satu-satunya partai Islam hasil fusi dari sejumlah partai di awal 1970-an. Tjipta Lesmana dalam Dari Soekarno sampai SBY (2009:138) menyebutkan bahwa Soeharto sebetulnya menginginkan Habibie sebagai pendampingnya.

Namun, sebagian jenderal yang dianggap sebagai kelompok Benny Moerdani tidak menyukai hal tersebut. Mereka menginginkan wakil ABRI menjadi wakil presiden. Try Sutrisno yang lima tahun sebelumnya gagal mereka naikkan, kembali didorong untuk mendampingi Soeharto.




Salim Said mencatat bahwa ketika Kepala Staf Sosial Politik (Kasospol) ABRI, Letnan Jenderal Harsudiono Hartas tengah berada di Kementerian Dalam Negeri, ia ditanya wartawan tentang siapa calon wakil presiden dari ABRI. Hartas keceplosan menyebut nama Try Sutrisno. Maka Soeharto pun harus “mengalah” kepada ABRI dan menjadikan Try sebagai wakil presiden. Meski demikian, Benny harus tersingkir dari lingkaran kekuasaan.

Meski batal menjadi wakil presiden, Habibie masih dekat dengan Soeharto. Menurut Salim Said, hubungan Benny dengan Habibie memburuk di masa itu. Benny tampak cemburu atas perlakuan Soeharto terhadap Habibie yang berbeda dengan yang ia terima.

Sementara Habibie berpikiran baik terhadap Benny yang dianggapnya profesional. Benny berusaha menjaga Soeharto dari citra buruk dengan mengkritisi bisnis kerabat Soeharto. Namun Soeharto tidak terima dan menjauhi Benny. Bagi Habibie, Benny adalah korban.

Setelah pengaruh Benny di ketentaraan habis dan masa jabatan Try Sutrisno sebagai wakil presiden berakhir, barulah Habibie mendampingi Soeahrto pada Maret 1998. Dua bulan setelah resmi menjadi wakil presiden, Soeharto lengser dan ia menajdia orang nomor satu di republik ini.

Setelah Mei 1998, Habibie dimusuhi Soeharto karena dianggap berkhianat dengan mau menggantikan Soeharto menjadi presiden. Nasib Habibie akhirnya seperti Benny yang tersingkir dari lingkaran Soeharto. Setelah dipercaya dan loyal, keduanya sama-sama dimusuhi.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight