Nasi Merah & Nasi Putih, Mana yang Lebih Baik untuk Sahur?

Oleh: Yandri Daniel Damaledo - 9 Mei 2019
Dibaca Normal 2 menit
Mengonsumsi nasi saat sahur bisa menjadi pilihan tepat agar menyimpan energi saat berpuasa. Namun, beras putih atau merah yang lebih baik?
tirto.id - Beras adalah makanan pokok rata-rata orang di Asia Tenggara. Menurut data International Rice Research Institute (IRRI) menunjukkan konsumsi beras masyarakat Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia, mencapai 160 kilogram per tahun pada tahun 2000 dan mulai menunjukkan penurunan di 2002.

Sementara data Susenas menunjukkan, pada 2014 konsumsi nasi masyarakat Indonesia mencapai 87,63 kilogram per tahun atau 240 gr per hari per orang pada 20014.

Untuk konsumsi beras per kapita pada 2014 mencapai 97,23 kg/kapita/tahun. Angka itu turun tipis dari konsumsi pada 2013 yang sebesar 97,40/kapita/tahun.

Pada bulan Ramadan seperti sekarang ini, nasi menjadi salah satu bahan makanan yang kerap orang-orang konsumsi saat sahur, karena mengandung karbohidrat yang bisa menjaga energi.

Namun, sebaiknya jenis nasi merah atau putih yang harus Anda pilih?

"Kalau misalkan untuk bisa tahan lama (berpuasa), harus makan tinggi serat. Nasi putih tidak apa-apa. Tetapi lebih bagus lagi nasi merah (karena kandungan seratnya tinggi)," ujar ahli gizi, Dr Jovita Amelia, Msc, SpG. di Jakarta, Selasa (30/4/2019).

Makanan berserat tinggi seperti nasi merah bisa membuat tubuh Anda tetap berenergi setelah sahur hingga berbuka.

Nasi merah juga kaya protein, zat besi, zinc, selenium dan vitamin B ketimbang nasi putih sehingga menjadi rekomendasi Jovita untuk Anda konsumsi saat sahur.

Selain nasi merah yang juga sumber karbohidrat (sebaiknya porsinya 50-60 persen), jangan lupa lengkapi makanan sahur Anda dengan hidangan mengandung protein (15-20 persen), lemak (20-25 persen).

"Sahur harus makanan pokok, protein dari lauk pauk. Porsi banyak sayuran dan buah, lalu karbohidrat kompleks untuk menjaga energi," kata Jovita yang melayani konsultasi melalui aplikasi Halodoc itu.

Pastikan asupan cairan dan zat besi cukup saat sahur demi distribusi oksigen tetap terjaga selama berpuasa sehingga tubuh akan terasa lebih bugar, tidak mudah lemas dan tidak mudah mengantuk.

Melansir Huffingtonpost, Chloe McLeod, ahli diet dan olah raga terakreditasi mengatakan, kita tahu nasi merah lebih bergizi daripada nasi putih, tetapi mengapa ini tepatnya? Itu tergantung pada seberapa cepat tubuh Anda mencerna beras (dan seberapa penuhnya akan membuat Anda dari waktu ke waktu).

"Alasan utama [beras merah lebih sehat] ada di sekitar indeks glikemik. GI mengacu pada seberapa cepat tubuh akan mencerna karbohidrat. Kami ingin jumlah itu sedekat mungkin dengan yang satu," kata McLeod.

"Jika kamu melihat nasi basmati cepat saji yang biasanya berwarna putih, GI sekitar 63. Sedangkan GI beras merah sekitar 50."

Beberapa rumah sakit di Indonesia mencoba mengulas soal manfaat beras merah bagi kesehatan dalam situs resminya. Misalnya Rumah Sakit Mitra Keluarga dan RS IMC Bintaro.

Beberapa dokter juga secara gamblang mengungkapkan keunggulan beras ini antara lain, dr. Manfaluthy Hakim, Sp.S(K), yang pernah jadi Ketua Kelompok Studi Neurofisiologi dan Saraf Tepi Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi) seperti dikutip dari laman Antara.

Nutrisi dalam beras merah sangat penting untuk pembentukan selubung mielin yang melindungi saraf.

Beras merah juga dipercaya bermanfaat untuk kesehatan jantung, menurunkan kadar kolesterol jahat, antioksidan.

Beras ini juga bisa mengurangi lemak pada tubuh, karena beras merah yang kaya serat membantu dalam membakar lemak, akibat butuh energi lebih banyak untuk mengurainya.

Berdasarkan Self Nutrion Data, dalam setiap 100 gram nasi merah mengandung dieter fiber atau serat makanan sebanyak 2 gram.

Bandingkan dengan nasi putih yang nihil. Serat ini lah yang menjadi salah satu keunggulan utama dari beras merah. Kandungan serat pada beras merah berdampak pada glycemic index (GI) yang rendah.

GI rendah berimbas pada level glukosa yang juga rendah masuk ke dalam darah. GI merupakan angka yang menunjukkan potensi meningkatnya gula darah yang berasal dari karbohidrat.

“Beras merah sebuah pilihan untuk sehat yang bisa diandalkan. Penelitian menunjukkan dengan beras merah Anda bisa mendapatkan manfaat kesehatan seperti peningkatan asupan serat makanan,” kata Kelly Toups, seorang pakar diet yang terdaftar pada Whole Grains Council seperti dikutip Live Science.

Beras putih atau beras merah itu hanya pilihan. Pilihan-pilihan itu ada di masing-masing orang untuk investasi kesehatan di masa depan.

Pilihan yang tepat tentunya akan menentukan kesehatan, tapi apapun pilihannya, sesuatu yang berlebihan tentunya juga tidak baik.


Baca juga artikel terkait RAMADAN 2019 atau tulisan menarik lainnya Yandri Daniel Damaledo
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Yandri Daniel Damaledo
Editor: Agung DH
DarkLight