Narasi dalam Rajah Tubuh

Oleh: Arman Dhani - 28 Juni 2016
Dibaca Normal 2 menit
Bajak Lala, salah satu sikerei (dukun) dalam film “The Mentawai” pernah bicara begini: ”Halo orang-orang dari penjuru dunia, datanglah ke kepulauan Mentawai segera. Saat ini Mentawai masih hidup. Aku masih hidup. Namun, jika aku mati, kalian tidak akan menemukan kebudayaanku lagi.” Ia bicara tentang kebudayaan dan tato yang ada dalam masyarakatnya yang terancam pundah karena perkembangan zaman dan stigma buruk.
tirto.id - Truman Capote, jurnalis dan penulis In Cold Blood, pernah punya pandangan menarik tentang tato. Para pemakai tato, kata Capote, adalah orang-orang inferior yang berusaha membangun citra macho atas dirinya. Mereka sebenarnya lemah, tato adalah simbol pengganti yang digunakan untuk menunjukan atau setidaknya menutupi kelemahan seseorang. Mereka butuh sebuah gambar yang dirajah di atas kulit agar dia bisa hidup lebih berani dan lebih kuat. Tapi tentu saja kita boleh tidak setuju pada Capote.

Tato dalam banyak peradaban memiliki maknanya sendiri. Chris Rainier, seorang fotografer dan peneliti, dalam bukunya Ancient Marks: The Sacred Origins of Tattoos and Body Marking, menyebut tato sebagai simbol dari peradaban masa lampau yang agung. “Tubuh manusia,” kata Raineir “entah ada di kedalaman hutan Amazon, tersapu dinginnya angin Arctic, atau disepuh matahari di Polynesia merupaan peta dari sebuah kebudayaan dan mitologi,” katanya. Tato merupakan simbol dari geografi jiwa yang diekspresikan dalam bentuk lukisan, rajah tubuh.

Buku Ancient Marks berusaha mengeksplorasi hubungan menarik antara manusia, kebudayaan, dan tradisi tua yang ada dalam tubuh manusia sejak ribuan tahun lampau. Tato merupakan penanda dari kebudayaan, simbol tradisi, yang dapat menjelaskan relasi manusia dengan sesamanya, alam semesta, dan Tuhan. Bagi Raineir setiap tato memiliki kisahnya sendiri, peradaban modern boleh jadi membiaskan dan mengubah makna tato menjadi kebudayaan populer. Namun, bagi suku-suku di dunia, ia adalah ruh dan identitas mereka.

Peradaban barat modern yang pertama kali bersentuhan dengan tato polinesia tercatat pada 1769. Ketika itu, Joseph Banks— seorang naturalis yang menaiki kapal Inggris Endeavour— melihat gadis berusia 12 tahun tengah ditato. Peristiwa itu membekas karena proses tato yang mengerikan, menggunakan jarum sepanjang 12 inci. Sementara ketika anak gadis itu melawan ia dipukuli dan ditahan oleh orang-orang di sekitarnya.

Beberapa kebudayaan tentang tato bisa kita lihat di Indonesia. Orang-orang Suku Mentawai yang tinggal di kepulauan Mentawai percaya bahwa tato bukan hanya penanda bagi mereka yang hidup, tapi akan dibawa sampai mati. Orang Mentawai percaya bahwa tato merupakan simbol keseimbangan alam. Benda-benda yang dekat dengan aktivitas keseharian mereka seperti hewan dan tumbuhan mesti diabadikan di atas tubuh mereka sebagai pembeda dengan yang lain.

Selain orang-orang Mentawai, Suku Dayak Iban dan Suku Dayak kayaan yang ada di Kalimantan Barat juga menggunakan seni rajah tubuh sebagai identitas kebudayaan mereka. Masyarakat Dayak Iban percaya Batara (Tuhan) menghendaki orang Iban bertato sebagai penanda bagi Batara untuk mengenali orang-orang Iban. Selain itu, satu simbol tato yang berupa bunga terung, merupakan penanda bagi orang Iban untuk bisa masuk ke surga.

Lantas sejak kapan stigma buruk mulai muncul di Indonesia? Mungkin kita bisa mundur ke tahun 1983. Saat itu, masyarakat Indonesia mengalami teror Penembakan Misterius. Berdasarkan rangkuman eksekutif Komnas HAM Peristiwa Penembakan Misterius adalah pelanggaran Hak Asasi Manusia yang menimpa orang-orang yang dianggap preman atau pengganggu masyarakat. Penembakan misterius terjadi pada periode 1982 sampai dengan 1985 di Jawa Tengah. Pada minggu pertama Juli 1983, ada 17 mayat residivis ditemukan di Kabupaten Tegal. Sampai pertengahan Juli 1983, sudah ada 20 mayat gali yang ditemukan di seputar Solo. Sebanyak 7 orang tewas dalam waktu 5 hari.

Hasil pelaksanaan operasi ini di Solo (Daerah Kowil 95 Solo) ada sekitar 35 penjahat telah ditemukan tewas tertembak sampai dengan Juli 1983. Sejak 10 Juli hingga 15/16 Juli 1983, tercatat ada 7 orang penjahat kambuhan tewas, 5 orang tewas akibat terkena tembakan, dan 2 orang lainnya tewas akibat luka jerat di leher. Angka ini dianggap terlalu kecil. Menurut David Bourchier dalam buku Crime, Law and State Authority in Indonesia, korban petrus mencapai 9.000an jiwa.

Kebanyakan dari korban Petrus adalah preman yang mudah dikenali dengan ciri tato. Korban-korban yang menjadi sasaran atau target penembakan misterius ini telah dipilih secara khusus, bahkan sudah ada daftar yang dibuat sebagai daftar Target Operasi (TO). Para korban seringkali dinyatakan sebagai penjahat, gali, preman, dan biasanya lebih sering adalah mantan residivis. Ciri-ciri yang paling menonjol adalah korban biasanya mempunyai tato, Komnas HAM menyebutkan dalam laporan mereka bahwa pada masa itu tato identik dengan preman dan sejenisnya.

Stigma ini terus berkembang dalam berbagai kesempatan. Di koran, ketika berita kejahatan terjadi, pelakunya kerap disimbolkan dengan tato yang ada dalam tubuhnya. Tokoh antagonis dalam televisi kerap kali dicitrakan gondrong dan memiliki tato. Berita buruk dan pencitraan negatif yang terus-menerus ini membuat publik memiliki persepsi negatif terhadap pemilik tato. Mereka dianggap penjahat dan bukan dari bagian masyarakat kebanyakan.

Belakangan persepsi itu berubah. Tato tidak lagi punya nilai buruk, tetapi punya nilai artistiknya sendiri. alam riset yang dilakukan oleh PEW Research pada 2006, dua dari 10 orang di Amerika memiliki tato. Alasan memiliki tato juga beragam. Misalnya untuk meningkatkan kepercayaan diri, nilai sentimentil terhadap peristiwa, dan apresiasi terhadap seniman si pembuat tatonya sendiri. Selain itu, tato dianggap aksesoris.



Secara ekonomis tato memiliki potensi industri yang sangat besar. Di Amerika Serikat nilai industri tato mencapai 1,65 miliar dolar per tahun. Industri ini terkait mulai dari jasa pembuatan seniman, peralatan tato seperti tinta dan jarum, hingga industri penghapusan tato. Ongkos pembuatan tato rata-rata senilai 750.000 rupiah sampai dengan 1,5 juta rupiah per jam, tergantung kerumitan dan detail yang hendak dibuat.

Charlie Evans, seorang seniman tato yang ada di Jakarta, menyebutkan bahwa tato telah mengalami perubahan makna. Banyak pelanggannya yang membuat tato dengan alasan personal. Sebagai seniman, ia sendiri sering bertanya tentang makna dari sebuah tato. Kedai Tato Bahagia, studio milik Charlie, kerap berbagi cerita dan makna dari setiap tato yang ia buat. Charlie berharap tato tidak sekedar aksesoris, tapi juga sebuah cerita.

Baca juga artikel terkait TATO atau tulisan menarik lainnya Arman Dhani
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Arman Dhani
Penulis: Arman Dhani
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti