Naluri untuk Menari dan Mengapa La La Land Disukai

Infografik Manusia Gemar Menari
Adegan Film La La Land. FOTO/Summit Entertainment
Oleh: Dea Anugrah - 22 Januari 2017
Dibaca Normal 3 menit
Film La La Land sukses dan laris di bioskop karena berhasil membangkitkan naluri purba manusia: menari.
tirto.id - Sejak adegan pertama, film La La Land sudah menjelaskan dirinya: di atas jalan tol yang mampat, orang-orang keluar dari mobil-mobil buat menyanyi dan menari bersama.

Yang menarik, peralihan dari kegiatan yang lumrah dilakukan saat terjebak kemacetan lalu lintas (melamun, main ponsel) ke kegiatan yang ganjil (joget massal di tengah jalan) itu seolah berlangsung sonder rencana, dengan spontan. Kamera pun merekamnya hanya dalam satu take panjang, seperti mata yang tak berkedip.

Damien Chazelle (penulis skenario dan sutradara) dan Mandy Moore (koreografer), merancang adegan itu sebagai jembatan yang menghubungkan penonton dengan dunia La La Land, dunia tempat tari dan lagu tidak disekat dari gerak dan cara bicara sehari-hari, juga di mana kenyataan mungkin melingkupi “yang fantastik”. Di dunia semacam itu, wajar bila seseorang yang berjalan di trotoar tiba-tiba menyanyi sambil melakukan chasse seperti pebalet, kemudian mengambang di udara.

Jembatan itu agaknya berfungsi secara baik. Pada pekan kedua penayangannya, jumlah penonton La La Land di bioskop-bioskop Amerika Serikat meningkat, dan menghasilkan 3,3 juta dolar lebih banyak ketimbang pekan pertamanya. Dan hingga 17 Januari silam, pemutarannya di seluruh dunia telah menghasilkan 133,9 juta dolar, lebih dari empat kali lipat ongkos pembuatannya.

Kritikus tari pemenang Hadiah Pulitzer Sarah Kaufman menulis di The Washington Post: sebagaimana Vincente Minelli (An American in Paris) dan Stanley Donen (Singin' in the Rain), Chazelle yakin bahwa tari dapat diandalkan sebagai alat bercerita. Maka, tari menjadi bahasa sinematik yang kaya dalam La La Land. Gerak dan iramanya sanggup menyampaikan cerita, suasana, serta pikiran dan perasaan karakter-karakter dalam film itu secara lengkap dan indah.

Kaufman benar, namun, jika lingkup pembicaraan diperluas, dalam arus minat terhadap La La Land ada peran faktor yang lebih besar daripada keberhasilannya sebagai film, yaitu “ingatan kolektif” tentang tari yang terdapat dalam diri tiap-tiap orang.

Novelis Zadie Smith, dalam wawancaranya dengan The New York Times pada November lalu, mengatakan bahwa minat kepada tari akan selalu ada. Ia mencontohkan video-video Justin Bieber di YouTube yang telah ditonton hingga miliaran kali (video dengan jumlah pemutaran terbanyak di situs itu, “Gangnam Style” oleh penyanyi Korea Selatan Psy, juga mengandalkan tarian).

Kata Smith, baik sebagai bagian dari ritual akil balig di desa-desa di Gambia dan Senegal maupun ajojing di kelab-kelab malam Inggris (kita bisa menambahkan: juga di depan panggung-panggung dangdut), tari adalah simbol “perjalanan melintasi batas-batas” dan ia senantiasa membangkitkan kegembiraan yang intens—meski sukar dijelaskan.

Di gua-gua tua di Rhodesia dan Afrika Barat Laut, menurut buku To Dance is Human (1987) karya Judith Lynne Hanna, jumlah gambar orang menari hanya kalah dari gambar perburuan. Ia lebih banyak ketimbang “perang”, “kongko”, dan “tidur.”

“Dalam pelbagai kebudayaan di seluruh dunia, tari merayakan segalanya. Ia merayakan hidup, ia merayakan kematian,” ujar penari dan koreografer Ray Mercer suatu kali. “Saat kau kehilangan kata-kata, kau bisa menari. Itulah yang menghubungkan umat manusia.”

Jejak ketertarikan manusia terhadap tari bahkan dapat dirunut ke masa yang lebih purba lagi. “Pada Zaman Es yang terakhir, keselamatan umat manusia bergantung pada kerja sama,” ujar arkeolog Stephen J. Mithen dari University of Reading, Inggris. “Dan mereka merawat hubungan sosial menggunakan tarian dan nyanyian komunal.”

Dalam bukunya The Singing Neanderthals (2006), Mithen menyatakan bahwa spesies-spesies manusia prasejarah, termasuk para moyang Homo sapiens, telah menari sejak 1,5 juta tahun lalu sebagai cara untuk bercakap-cakap dengan lingkungan dan sesamanya, buat mengadu kepada “yang di atas sana”, dan buat mengajak lawan jenis beranak-pinak. Dengan kata lain, bagi mereka, tari adalah bagian penting dari hidup sekaligus sebuah bahasa serba-bisa.

Apakah kesukaan dan kepekaan terhadap tari terbawa dalam evolusi dan terwariskan kepada manusia-manusia zaman ini? Sebuah laporan penelitian yang disiarkan jurnal Public Library of Science Genetics pada Februari 2006 memberikan jawaban positif.

Riset genetika itu melibatkan kelompok subjek yang terdiri dari 85 penari dan pembelajar tari tingkat lanjut di Yerusalem dan dua kelompok kontrol, “atlet” dan “manusia rata-rata.” Temuannya: gen-gen penyedia kode “serotonin transporter” dan “vasopressin regulator” para penari berbeda dari orang kebanyakan.

Keadaan itu membuat tubuh para penari memproduksi lebih banyak zat serotonin dan vasopressin. Serotonin bertanggungjawab atas mood dan “pengalaman spiritual”, sedangkan vasopressin mengatur perilaku sosial manusia. Maka, secara alamiah, orang-orang dengan bakat menari mempunyai kecenderungan untuk jadi lebih “relijius”, atau persisnya “spriritual”, dan luwes dalam pergaulan.

Pada Desember 2005, riset lain yang dipimpin oleh William Brown dari Rutgers University, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa kemampuan menari berkaitan dengan “kebugaran genetik”, salah satu faktor utama yang dipertimbangkan bawah-sadar manusia dalam memilih pasangan.



Studi itu menelaah 183 remaja Jamaika dalam rentang umur 14 hingga 19 tahun, yang menari dan direkam menggunakan kamera-kamera penangkap-gerak (motion capture). Dengan demikian, rekaman yang dihasilkan ialah rekaman gerak tari yang murni, berbeda dari rekaman biasa yang memungkinkan bias penilaian karena preferensi tampang, warna kulit, dan lain-lain.

Para penonton rekaman-rekaman itu, baik laki maupun perempuan, rupanya menyukai dan menganggap bagus tarian subjek yang bertubuh simetris. Dan simetri tubuh, sejalan dengan banyak penelitian, dikenal sebagai indikator resistansi makhluk hidup terhadap penyakit dan ancaman-ancaman fisik. Orang-orang yang tubuhnya simetris akan menghasilkan keturunan-keturunan yang sehat dan kuat. Tengara itulah yang ditangkap oleh para penonton rekaman-rekaman tari dalam riset Brown dan timnya, dan mengarahkan mereka dalam memilih.

Dan di sisi lain, sebagaimana pada setiap “bahasa”, ada pula hal yang tidak praktis tetapi tak kalah penting dari tari. Martha Graham, seorang penari dan koreografer tari modern asal Amerika Serikat, mengutarakannya secara ringkas: “Tari adalah penemuan, penemuan, penemuan....”

Lewat tari, orang menemukan kembali tubuhnya. Berkat tari, ia teringat bahwa tubuh bukan sekadar jasad, bukan sekadar sehimpun materi—sebab menari berarti “aku bergerak”, bukan “aku menggerakkan” atau “aku digerakkan.”

“Dan dalam tari,” kata Graham, sebagaimana dikutip Goenawan Mohamad dalam kolom tetapnya di majalah Tempo pada 2 Mei 2011: “Terkandung sikap khidmat kepada hal-hal yang dilupakan, misalnya mukjizat tulang-tulang lentik dengan kekuatannya yang halus.”

Baca juga artikel terkait MENARI atau tulisan menarik lainnya Dea Anugrah
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Dea Anugrah
Penulis: Dea Anugrah
Editor: Zen RS
DarkLight