Menuju konten utama

Muncul Subvarian Baru Omicron BA.4.6 yang Dilaporkan 43 Negara

Guru Besar FKUI Tjandra Yoga Aditama menyebut subvarian Omicroan BA.4.6 lebih menular dari BA.5 dan BA.2.75.

Muncul Subvarian Baru Omicron BA.4.6 yang Dilaporkan 43 Negara
Ilustrasi Omicron. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Direktur Pascasarjana Universitas Yayasan Rumah Sakit Islam Indonesia (YARSI) Tjandra Yoga Aditama menyampaikan soal kemunculan subvarian baru Omicron BA.4.6.

“BA.4.6 sudah dilaporkan ada di setidaknya 43 negara dan diperkirakan sudah ada sejak beberapa minggu yang lalu,” tutur Tjandra melalui keterangan tertulis, Rabu (10/8/2022).

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu menyebut pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) telah dilakukan pada 5.681 sampel BA.4.6 dalam tiga bulan terakhir. Data itu sudah dimasukkan dalam database Global Initiative on Sharing Avian Influenza Data (GISAID).

Menurut Tjandra, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) melaporkan BA.4.6 sebagai penyumbang kasus COVID-19 sekitar 4,1 persen di Amerika Serikat (AS). Akan tetapi, empat negara bagian AS, yaitu Iowa, Kansas, Missouri, dan Nebraska mencatat BA.4.6 menyumbang 10,7 persen kasus COVID-19.

“Di daerah mid-Atlantic dan di selatan juga angkanya lebih tinggi dari rata-rata nasional,” kata Mantan Direktur Penyakit Menular World Health Organization (WHO) Asia Tenggara itu.

Tjandra mengutip data dari The Centre for Medical Genomics di Rumah Sakit Ramathibodi Thailand, yakni BA.4.6 sekitar 15 persen lebih mudah menular daripada BA.5 di dunia secara umum. Lalu, BA.4.6 juga 28 persen lebih mudah menular daripada BA.5 di Asia.

Selain itu, BA.4.6 sekitar 12 persen lebih mudah menular dibandingkan BA.2.75 di dunia secara umum dan 53 persen lebih mudah menular dari BA.2.75 di Asia.

"BA.4.6 secara genomik agak mirip dengan BA.4, perbedaannya adalah pada mutasi spike atau tonjolan R346T," kata Tjandra.

Tjandra mengatakan secara umum belum ada bukti BA.4.6 menimbulkan penyakit yang lebih berat, dapat menghindar dari imunitas atau resisten terhadap vaksin.

Menurut Tjandra, Indonesia tidak perlu khawatir yang berlebihan dengan subvarian baru ini. Ia beralasan varian atau subvarian bari COVID-19 akan terus bermunculan.

“Tetapi, perkembangan ini juga tidak boleh dianggap remeh. Perlu diperiksa dengan amat cermat tentang kemungkinan ada tidaknya BA.4.6 di negara kita, apalagi di tengah kenaikan kasus sekarang ini,” kata dia.

Baca juga artikel terkait SUBVARIAN BARU OMICRON atau tulisan lainnya dari Farid Nurhakim

tirto.id - Kesehatan
Reporter: Farid Nurhakim
Penulis: Farid Nurhakim
Editor: Gilang Ramadhan