Munawar Kholil, Teroris JAD, Perekrut 57 WNI Ikut ISIS ke Suriah

Oleh: Arbi Sumandoyo - 15 Mei 2019
Dibaca Normal 2 menit
Salah satu buruan teroris paling dicari kepolisian Indonesia atas perannya merekrut dan memfasilitasi puluhan WNI ke Suriah.
tirto.id - Namanya masuk dalam radar penting kepolisian Indonesia dalam daftar buruan kombatan ISIS. Namanya juga disebut dalam kesaksian sidang Aman Abdurrahman, ideolog Jamaah Ansharut Daulah (JAD), yang berbaiat pada Abu Bakar al-Baghdadi, pendiri ISIS. Di JAD, ia menjadi murid kepercayaan Aman.

Munawar Kholil, nama lelaki itu, lahir di Jakarta pada 6 Januari 1987 dan pergi ke Suriah sejak 2015 lalu menjadi perantara orang-orang Indonesia bergabung ISIS. Di kalangan anggota ISIS di Indonesia, Munawar Kholil dikenal dengan nama Ushdul Wagha. Ada juga yang menyebut Usdul Waqa.

Ajun Kombes Didik Novi Rahmanto dari Satgas Penindakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme menyebutnya sebagai "fasilitator", yakni menghubungkan dan mendanai, orang-orang Indonesia yang pergi ke Suriah.

Dalam dokumen internal yang dipegang redaksi Tirto, memuat ratusan WNI yang pergi ke Suriah, nama Munawar kerap muncul di kolom profil orang-orang Indonesia yang berangkat ke negara konflik dan markas Daulah Islamiyah itu. Total, ada 16 kloter pengikut ISIS, terdiri 57 WNI, yang pergi ke Suriah via jalur Turki selama 2015 berkat peran Munawar.

Kebanyakan WNI itu adalah anggota Jamaah Ansharut Daulah dari pelbagai daerah di Indonesia. Ada yang berasal dari Bantul, Bima, Bogor, Cilacap, Depok, Demak, Jakarta, Karanganyar, Nganjuk, Sampang, Semarang, Sragen, Tangerang, dan Tegal. Orang-orang ini direkrut Munawar setelah diberi pemahaman tentang "jihad" dan terhasut propaganda di negeri khilafah.

Di JAD cabang Bandung, Jawa Barat, Munawar adalah salah satu petingginya bersama Khairul Anam dan Syamsul Hadi. Khairul adalah deportan Suriah dan terlibat rencana teror. Ketika pulang dari Suriah, Khairul dibiarkan otoritas Indonesia tanpa dikarantina. Sementara Syamsul Hadi menjadi salah satu dari tiga ulama berpengaruh di komite pusat JAD yang "mengafirkan" Aman Abdurrahman karena berbaiat pada ISIS.

Infografik HL Indepth Kombatan ISIS
Infografik Profil kombatan ISIS asal Indonesia, Munawar Kholil alias Ushdul Wagha. tirto.id/Lugas

Perantara WNI ke Marawi

Sidney Jones, peneliti terorisme dari Institute for Policy Analysis of Conflict, menyebut tugas Munawar selain merekrut anggota baru bergabung dengan JAD-ISIS, juga mendanai mereka yang pergi ke Suriah dan ke Marawi, medan tempur para kelompok pemberontak yang mendukung ISIS di Filipina selatan.

“Dia berhubungan dengan Dr. Mahmud yang menjadi pendana dari Malaysia,” menurut Jones kepada Tirto beberapa waktu lalu.

Dalam laporan yang ditulis Jones tentang konflik Marawi, kontak Munawar dan Dr. Mahmud terjadi sebelum medio 2017. Perang kota antara pasukan bersenjata Filipina dan para petempur ISIS telah meluluhlantakkan ibu kota di pusat Pulau Mindanao itu bak kota hantu.

Saat itu Dr. Mahmud mengontak Munawar, yang berada di Suriah, dan memintanya menyiapkan "jihadis" asal Indonesia untuk bergabung ke Marawi. Munawar kemudian memberangkatkan beberapa orang JAD dari Bima, Nusa Tenggara Barat. Namun, mereka tertahan di imigrasi dan dideportasi.



Penerjemah Majalah Propaganda ISIS

Menurut Sidney Jones, Munawar Kholil terhubung dengan Ganna Pryadharizal Anaedi Putra, eks-wartawan Koran Sindo yang menjadi algojo ISIS. Ganna ditempatkan di divisi komunikasi ISIS dan diberi akses ke Amaq News Agency, media resmi propaganda organisasi terorisme tersebut.

Hubungan Munawar dengan Ganna terjalin saat menjadi penerjemah konten-konten Dabiq, media online propaganda dan perekrutan ISIS. Dabiq diambil dari nama sebuah kota di sebelah utara Suriah yang diyakini ISIS sebagai tempat kaum muslim dan kafir bersemuka dan saling membunuh.


Munawar rutin menerjemahkan isi majalah Dabiq untuk pembaca Indonesia. Terjemahannya bertebaran di internet dan dilansir di situs milik JAD, millahibrahim.net. Terjemahannya pernah diolok-olok oleh Muhammad Jibriel Abdul Rahman via situs arrahmah.com dengan menyebut Aman Abdurrahman, guru Munawar, sebagai "kafir".

Munawar juga berhubungan dengan Rochmat Septriyanto, perekrut WNI ke Suriah, yang ditangkap Densus 88 pada 6 Juni 2017. Rochmat adalah operator penyandang dana bagi WNI yang ingin bergabung dengan ISIS di Marawi.


Achmad Supriyanto, terdakwa pidana kasus terorisme yang berafiliasi dengan Bahrun Naim—disebut otak di balik bom Thamrin 2016—pernah menyebut nama Munawar saat bersaksi di persidangan. Achmad berkata pernah mendatangi pengajian yang pendakwahnya adalah Munawar. Achmad berkata Munawar adalah penghubung anggota JAD bertemu Aman Abdurrahman yang saat itu mendekam di penjara Nusakambangan.

Kombatan ISIS
Penjara Al-Malikiyah lokasi Munawar Kholil dan empat kombatan lain, termasuk Utsman Mahdamy, ditahan oleh pasukan Kurdi. FOTO/tirto.id


Saat Munawar berada di Suriah, Achmad mengaku kenal dengan Munawar lewat grup yang dibuat oleh Ubaidah alias Abu Umar, Ketua JAD Jawa Timur. Grup itu adalah tempat merekrut WNI yang ingin hijrah ke Suriah.

Kini, setelah ISIS jatuh, Munawar masih hidup dan menjadi salah satu kombatan yang ditahan Pasukan Kurdi di penjara Al-Malikiyah, pusat distrik pemerintahan Kota Al-Hasakah, dekat perbatasan Irak.

Di penjara ini pula Utsman Mahdamy alias Abu Tsabitah, ahli IT asal Solo yang bertugas di bagian komunikasi ISIS, ditahan. Selain itu, ada Hadid Nashirul Haq (putra kedua Dr. Amir Mahmud), Abu Aisha, dan Abu Tariq.

Kelima orang itu ditahan Pasukan Kurdi sejak awal 2018.*

Baca juga artikel terkait ISIS atau tulisan menarik lainnya Arbi Sumandoyo
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Arbi Sumandoyo
Penulis: Arbi Sumandoyo
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight