19 April 1953

Mula dan Akhir Perjalanan K.H. A. Wahid Hasjim

Oleh: Irfan Teguh - 19 April 2019
Dibaca Normal 4 menit
Saat menjadi Menteri Agama, K.H. Abdul Wahid Hasjim mendorong diadakannya pengajaran agama di sekolah-sekolah umum.
tirto.id - Beberapa hari setelah proklamasi kemerdekaan 1945, Sukarno membentuk Kabinet Presidentil yang hanya bertahan sampai 14 November 1945, karena kemudian digantikan oleh Kabinet Sjahrir I. Pada kabinet pertama, Wahid Hasjim menjadi Menteri Agama.

Ia kembali menjadi Menteri Agama empat tahun kemudian, tepatnya mulai 20 Desember 1949 dalam Kabinet RIS (Republik Indonesia Serikat). Usia kabinet ini lagi-lagi tak panjang. Dinamika politik di tahun-tahun permulaan masa kemerdekaan memang begitu kencang.

Saat Mohammad Natsir menjadi Perdana Menteri pada September 1950, Wahid Hasjim kembali terpilih sebagai Menteri Agama. Kabinet ini pun berusia pendek, Natsir diganti pada April 1951, dan Wahid Hasjim pun berhenti. Itulah jabatannya yang terakhir sebagai Menteri Agama.

Dilahirkan di Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, pada 1 Juni 1914, sejak kecil Wahid hidup di lingkungan pesantren. Ayahnya, K.H. Hasjim Asy’ari, adalah pahlawan nasional dan tokoh paling terkemuka dari Nahdlatul Ulama (NU).

Saat mengandung, Nafiqah—ibu Wahid Hasjim—merasa sangat lemah dan badannya tak berdaya. Kondisi tersebut menurut H. Aboebakar dalam Sejarah Hidup K.H. A. Wahid Hasjim (2011) membuat Nafiqah bernazar.

“Bila bayi dalam kandunganku ini nanti lahir dengan selamat, tiada kurang suatu apa pun, setelah badanku segar dan kuat kembali, akan kubawa ia menghadap kepada bekas guru ayahnya di Madura, yaitu Kiai M. Kholil Bangkalan,” ucapnya.

Ketika usianya telah 3 bulan, Wahid Hasjim pun di bawa ke Madura. Perjalanan jelas tidak mudah. Mereka mula-mula naik kereta api yang penuh sesak oleh para pedagang. Mereka sempat kesulitan mendapatkan tempat duduk.

Sesampainya di pelabuhan, suasana bertambah ramai. Setelah menyeberang dan sampai di Pulau Madura, mereka melanjutkan perjalanan menggunakan dokar. Hujan deras dan guntur bersahutan ketika mereka tiba di rumah yang dituju.

Pelopor Pendidikan Modern

Warsa 1932, Wahid berangkat ke Makkah. Bersama sepupunya, di kota suci itu ia memahirkan bahasa Arab dan ilmu-ilmu lainnya. Orang-orang Makkah kagum akan kemahiran bahasa Arab Wahid. Menurut catatan Tempo dalam Wahid Hasyim: Untuk Republik dari Tebuireng (2011), ia malah telah menguasai dua bahasa asing pada usia 15 tahun.

Ia juga seorang pembaca yang lahap, termasuk rajin membaca sejumlah media seperti Penjebar Semangat, Daulat Rakjat, dan Pandji Pustaka. Sementara dari luar negeri, ia membaca Ummul Qura, Shautul Hijaz, Al-Latha’iful, dan lain-lain.

Setelah pulang dari Makkah pada 1933, Wahid mengajar di Pondok Pesantren Tebuireng. Karena bacaannya luas, ia berpikir untuk mengadakan pembaruan dalam pendidikan di pesantren.

Dalam catatan H. Aboebakar yang menulis Sejarah Hidup K.H. A. Wahid Hasjim (2011), pada 1935 Wahid mulai melakukan pembaruan tersebut, yakni dengan mengadakan pengajaran pengetahuan umum, utamanya bahasa. Ia berpegang pada kalimat berikut: “Barang siapa mengetahui bahasa sesuatu golongan, ia akan aman dari perkosaan golongan itu.”

“Telah diciptakan suatu cabang Perguruan Tebuireng mengenai pengajaran bahasa-bahasa, yang dinamakan An-Nizam, yang khusus memberi kesempatan memperdalam pengetahuan mengenai bahasa-bahasa, dan kesusastraan asing, seperti bahasa Inggris, Arab, Belanda, dan lain-lain. Madrasah ini berdiri langsung di bawah pimpinannya sendiri,” tulis H. Aboebakar.

Sementara menurut laporan Tempo, cikal bakal pengajaran pengetahuan ini bermula saat Wahid baru pulang dari Makkah. Ia yang saat itu masih berusia 19 tahun, menyarankan kepada ayahnya untuk mengubah sistem pendidikan pesantren, seperti sorogan atau bandongan, dengan model kelas seperti di sekolah model Barat.

Tak hanya itu, imbuh Tempo, ia pun mengusulkan memperbanyak pendidikan non-agama, dengan alasan bahwa sebagian besar santri tidak semuanya akan menjadi ulama sehingga perlu dibekali dengan keterampilan praktis.

Sang ayah tak langsung menyetujuinya. K.H. Hasjim Asy’ari tak hendak mengubah Pesantren Tebuireng secara revolusioner. Sebagai jalan tengah, ayahnya mengizinkan ia untuk membentuk madrasah sendiri di dalam Tebuireng pada 1934, yang bernama Nizamiah atau An-Nizam.

“Pesantren yang pelajari pendidikan umum pertama kali adalah Tebuireng. Gus Wahid dululah yang masukkan materi bahasa Jerman, bahasa Inggris, model klasikal,” ucap Kiai Haji Imam Tauhid yang puluhan tahun sempat mengurus Kesepuhan Pondok Pesantren Tebuireng sebagaimana dikutip Tempo.

Ketika menjabat sebagai Menteri Agama, Wahid pun menggagas diajarkannya pengetahuan agama di sekolah-sekolah umum. Menurut Ahmad Zaini, penulis buku K.H. A. Wahid Hasyim: Pembaru Pendidikan Islam dan Pejuang Kemerdekaan, seperti diungkapkannya kepada Tempo, gagasan tersebut lahir karena Wahid sadar bahwa pendidikan nasional di Indonesia terlampau sekuler.

Sebelum menjadi Menteri Agama yang pertama, Wahid bahkan mendirikan sekolah tinggi Islam di Jakarta yang kemudian menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogyakarta.

Pada 1950, ia menjadikan Fakultas Agama UII menjadi Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN). Sementara pada 1957, didirikan juga Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA). Tiga tahun kemudian, kedua perguruan tinggi ini dilebur menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN).

Pada perjalanannya, perguruan tinggi Islam di Indonesia kian berkembang. Kiwari tak hanya IAIN, tapi ada juga Universitas Islam Negeri (UIN) dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN).

Penampilan dan Pergaulan

Sebagai seorang yang tumbuh di lingkungan pesantren, Wahid Hasjim tak melulu sarungan. Ia malah kerap berpenampilan mengenakan kemeja lengan panjang, dasi, sepatu pantofel, dan sesekali memakai jas.

“Bapak dandy untuk orang pesantren di zamannya,” ujar salah seorang anaknya seperti dikutip Tempo dalam Wahid Hasyim: Untuk Republik dari Tebuireng (2011).

Tempo menambahkan, asisten pribadinya yakni Kiai Haji Syaifuddin Zuhri, sempat bertanya kepadanya tentang cara berpakaian Wahid Hasjim yang kerap necis. Ia pun menjawab, “Jika mereka belum tertarik gagasan kita, biarlah sekurang-kurangnya mereka tertarik kepribadian kita.”

Penampilannya yang demikian dibarengi oleh pergaulannya yang luas. Menurut Greg Barton dalam Biografi Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid (2011), rumahnya sering dikunjungi tamu dari pelbagai golongan, termasuk anak-anak muda dan orang-orang Eropa.

Salah seorang kawan baiknya, imbuh Barton, adalah seorang Jerman yang telah masuk Islam bernama Williem Iskandar Bueller. Kepada kawannya itu ia sering mengirim anaknya, Gus Dur, untuk bermain di rumahnya.

“Di sinilah Gus Dur mulai mencintai musik klasik, khususnya karya-karya Beethoven. Gus Dur terpesona oleh musik Beethoven sejak hari pertama ia mendengarnya lewat gramofon Bueller,” tulisnya.

Hal lain dalam keseharian pergaulannya, Wahid juga menghormati tamu-tamunya yang berbeda-beda latar belakang. Sepeti ditulis Tempo, salah satu cara ia menghormati tamu itu adalah dengan menyimpan korek api di kantong jas atau celananya untuk membantu sang tamu yang hendak merokok. Ia sendiri tak merokok.

Penampilannya yang rapi dan pergaulannya yang luas, menurut Berton tak menjadikan Wahid Hasjim terlampau serius, ia malah penuh humor. Sekali waktu saat kelompok kader-kader muda mengunjunginya, Gus Dur disuruhnya untuk menyajikan teh dan biskuit, serta mengikat tali-tali sepatu mereka yang tertidur.




INFOGRAFIK-KH-WAHID-HASJIM-MOZAIK-NAUVAL
undefined

Antara Bangkalan dan Cimindi

Pada 18 April 1953, Wahid dan rombongannya yang menggunakan Chevrolet berangkat dari Jakarta hendak menuju Sumedang untuk menghadiri rapat NU.

Pukul satu siang saat kendaraan berada di Cimindi, daerah antara Cimahi dan Bandung, hujan turun deras yang mengakibatkan mobil selip karena jalanan licin. Sementara di depan dan belakang mobil tersebut terdapat banyak kedaraan lain yang tengah melaju. Kecelakaan pun tak dapat dihindarkan.

“K.H. A. Wahid Hasjim bekas Menteri Agama telah meninggal dunia dalam suatu kecelakaan mobil di antara Cimahi dan Bandung. Jenazahnya sedang diusahakan untuk diangkut ke Jakarta dengan ambulans,” demikian kabar dari sebuah radio seperti terdapat dalam Sejarah Hidup K.H. A. Wahid Hasjim (2011) yang ditulis oleh H. Aboebakar.

Kecelakaan lalu lintas itu terjadi pada Sabtu. Sehari kemudian yakni pada Ahad, 19 April 1953, tepat hari ini 66 tahun yang lalu, Wahid Hasjim meninggal dunia.

Baca juga artikel terkait NAHDLATUL ULAMA atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Nuran Wibisono
Penulis: Irfan Teguh