Muktamar PKB, Muktamar Sandiwara?

Oleh: Andrian Pratama Taher - 21 Agustus 2019
Dibaca Normal 2 menit
Ketua Umum Barikade Gus Dur Priyo Sambadha mengatakan muktamar PKB sandiwara belaka, termasuk pemilihan Muhaimin Iskandar sebagai Ketua Umum.
tirto.id - "Dengan niat ibadah, pengabdian di mata Allah SWT, disertai niat pengabdian total kepada merah putih dan NKRI tercinta, saya mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, saya bersedia memimpin kembali PKB 2019-2024."

Abdul Muhaimin Iskandar mantap mengucapkan kalimat tersebut setelah secara aklamasi ditetapkan kembali sebagai Ketua Umum PKB periode 2019-2024. Dia pertama kali menduduki posisi puncak pimpinan PKB sejak Mei 2004 atau 14 tahun lalu.

Suara untuk Imin bulat didapat dari 100 persen dewan pengurus wilayah--kepengurusan partai tingkat provinsi yang jumlahnya 34, juga dari 100 persen dewan pengurus cabang.

Penunjukan kembali Imin tidak mengherankan sama sekali bagi Ketua Umum Barikade Gus Dur Priyo Sambadha. Sebab, katanya kepada reporter Tirto, Selasa (20/8/2019) kemarin, Imin dipilih dalam sebuah "muktamar sandiwara".

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring, sandiwara berarti "pertunjukan lakon atau cerita; drama; teater; tonil," juga "kejadian (politik dan sebagainya) yang hanya dipertunjukkan untuk mengelabui mata, tidak sungguh-sungguh."

Muktamar PKB persis seperti ini, kata Priyo.

"Muktamar ini hanya formalitas untuk Muhaimin bisa mengangkangi PKB lebih lama lagi. Saat ini terhitung sudah tahun ke-11 Muhaimin menguasai PKB sejak ia secara sepihak memecat Gus Dur selaku Ketua Dewan Syuro DPP PKB," katanya.

11 tahun lalu, tepatnya pada 2008, adalah tahun-tahun penuh gejolak bagi PKB. Imin dipecat karena dianggap "bermain-main" ke Istana, mendekati Susilo Bambang Yudhoyono yang hendak maju lagi sebagai presiden. Buntutnya Imin dan Gus Dur menggelar muktamar sendiri-sendiri. Muktamar Ancol diselenggarakan Muhaimin; sementara Gus Dur menggelar Muktamar Parung.


Berdasarkan "informasi dari dalam", Priyo bahkan mengatakan beberapa peserta muktamar ditekan untuk memilih kembali Imin dan tidak mencalonkan yang lain.

Satu hal lagi yang menunjukkan betapa muktamar ini penuh sandiwara, kata Priyo, adalah tidak diundangnya pihak-pihak yang mungkin berbeda sependapat dengan Imin. Selain keluarga Gus Dur, Lukman Edy (sekjen hasil muktamar 2005) dan Abdul Kadir Karding (sekjen hasil muktamar 2014) pun tidak diundang.

Lukman Edy, yang menjabat Ketua DPP PKB, menduga dia tak diundang karena gagal menjadikan Imin--atau yang kini berganti jadi Gus AMI, inisial nama panjangnya--sebagai capres atau cawapres pada Pilpres 2019.

"Kok, sepertinya masih ada dendam pasca-pilpres? Yang dikembangkan masih narasi tidak puas di Pilpres 2019 soal penentuan capres dan cawapres," katanya, Selasa.

Pada Juli lalu, Lukman Edy sempat bilang masih terbuka peluang munculnya calon ketua umum baru. Apa pun bisa terjadi saat muktamar, katanya saat itu.

Ketua Steering Committee Muktamar V PKB Ida Fauziyah bertanya balik, "sandiwara di mana?" saat reporter Tirto meminta komentarnya terkait pernyataan Priyo Sambadha. Dia menegaskan pemilihan Imin itu terbuka dan tak pura-pura.

"Kan, terbuka, ya, terbuka. Jadi prosesnya adalah teman-teman provinsi melakukan penjaringan, mendengar pandangan dari pengurus di wilayah tersebut. Ini terbuka: muktamar terbuka; proses meminta aklamasi juga terbuka. Kami tidak meminta rapat tertutup, media juga mengikuti," kata Ida.

Sementara soal mantan sekjen, Imin menegaskan ketidakhadiran keduanya hanya upaya mencari perhatian.

"Itu cari-cari akal aja, cari perhatian, aja, itu," kata Imin di sela-sela muktamar.


Dikondisikan


Pengamat politik dari UIN Jakarta, Adi Prayitno tidak sepakat pula jika Muktamar PKB disebut sandiwara. Menurutnya yang lebih cocok adalah "muktamar dikondisikan untuk memilih Imin kembali".

Lagipula Imin punya modal untuk itu. Dia bisa membawa PKB memperoleh suara besar pada pemilu. Tahun 2014 PKB mendapat suara 9,04 persen, lalu naik jadi 9,69 persen tahun ini.

"Jadi pihak-pihak yang berpotensi menjadi troublemaker, menghambat proses Imin jadi ketua umum lagi, itu enggak dilibatkan," kata Adi kepada reporter Tirto.

Oleh karena alasan-alasan itu, menurut Adi, Muktamar PKB hambar belaka, apalagi jika dibanding Kongres PDIP yang juga diselenggarakan di Bali beberapa pekan lalu.

"Sekalipun sudah menebak siapa yang jadi Ketum (Megawati Soekarnoputri) dalam Kongres PDIP, tapi orang membicarakan kemungkinan ketua harian, wakil ketua bahkan," katanya.

Baca juga artikel terkait MUKTAMAR PKB atau tulisan menarik lainnya Andrian Pratama Taher
(tirto.id - Politik)

Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Rio Apinino
DarkLight