Muda Bersama Saudara Tua

Oleh: Petrik Matanasi - 23 September 2016
Dibaca Normal 4 menit
Nasib berbeda dialami orang-orang Indonesia di masa pendudukan Jepang. Mereka yang pernah sekolah bisa jadi tentara. Tapi bagi mereka yang tidak berpendidikan, nasibnya bisa buruk karena menjadi romusha.
tirto.id - Setelah Jepang datang, banyak yang berubah di Indonesia. Bendera merah-putih halal berkibar dan Indonesia Raya halal berkumandang. Tak ada lagi warga negara kelas satu yang terdiri dari orang-orang kulit putih Eropa Belanda. Mereka sudah dimasukan ke kamp interniran. Namun, banyak hal berbau barat, yang biasa dinikmati anak muda Indonesia yang pernah duduk di sekolah menengah Belanda, jadi sulit dinikmati. Buku-buku berbahasa Belanda dilarang. Donald Izacus Panjaitan, yang belakangan dikenal sebagai Pahlawan Revolusi, pernah diperiksa militer Jepang karena membaca buku berbahasa Eropa.

Mereka yang muda di zaman pendudukan Jepang, umumnya lahir antara tahun 1918 hingga 1930. Menurut George McTurnan Kahin, dalam Nasionalisme dan Revolusi Indonesia (1995), terdapat 1.789 pelajar sekolah menengah dan 639 mahasiswa sekolah tinggi di Indonesia pada 1940. Kira-kira di antara lebih dari 2000 pemuda, hanya satu orang saja yang mengenyam sekolah modern.

Generasi ini merasakan dampak dari depresi ekonomi dunia 1929, yang dikenal sebagai malaise atau zaman meleset. Hidup mereka makin sulit setelah datangnya Jepang. Hidup generasi muda itu penuh dengan ketidakpastian, baik nyawa maupun masa depan mereka, karena kapan saja sekutu bisa saja datang menggempur Jepang di Indonesia.

Pagupon Omahe Dara, Melu Nipon Tambah Sengsoro

Serdadu-serdadu Jepang tergolong gila hormat. Jika bertemu tentara Jepang, maka wajib hukumnya memberi hormat para mereka. Jika tidak wajah mereka akan ditempeleng serdadu Jepang. Memaksakan adat militeristik Dai Nippon sering dilakukan di Indonesia. Apa yang tidak patut di Indonesia akan nampak patut di masa pendudukan Jepang.

Tidak hanya ringan tangan, tentara Jepang juga kerap memaksakan budayanya. Di zaman Jepang, kepala orang Indonesia haruslah seperti Jepang. Penggundulan rambut jadi hal biasa. Padahal bagi orang Indonesia, kepala merupakan wujud kehormatan seseorang yang biasanya ditutup peci atau blangkon atau tutup kepala lainnya. Sebagian dari mereka, yang berpendidikan tinggi, tak suka dengan penggundulan rambut bagi pemuda anak anak-anak laki-laki. Beberapa mahasiswa Sekolah Kedokteran Ika Dai Gakku pernah berontak ketika rambut mereka akan digunduli serdadu-serdadu Jepang.

Zaman Jepang masa menyakitkan bagi Chairil Anwar. Dia kehilangan kebebasan berpuisinya. Karena puisi Diponegoro, dia harus merasakan siksa keji Kenpeitai (Polisi Militer) Jepang.

Tak hanya Chairil yang sial. Para santri dan kyai juga dapat jatah penderitaan bagi Jepang. Padahal, intelektual Jepang begitu paham bagaimana memperlakukan orang Islam Indonesia. Namun, militer Jepang memang jauh dari cerdas dalam bersikap terhadap orang Indonesia. Bukan cerita baru jika di masa pendudukan Jepang ada tradisi bernama seikirei (membungkukkan badan ke arah Tokyo setiap pagi untuk menghormat pada Dewa Matahari). Tentu saja penduduk Indonesia yang mayoritas Muslim menolak kebiasaan ini karena dianggap menyekutukan Tuhan.

Begitulah hidup bersama “Saudara Tua” bernama Jepang. Orang-orang Indonesia, sebagai “Saudara Muda” harus tunduk kepada “Saudara Tua”. Jika “Saudara Tua” minta padi, maka setorlah padinya. Jika minta serahkan radio, maka serahkan juga radio yang mahal itu tanpa ragu. Pilihan yang diberi pemerintah balatentara Jepang kepada rakyat Indonesia hanyalah, tunduk atau disiksa.

Jangan pernah sekritis Chairil. Meski puisi Diponegoro tak menyebut-nyebut Jepang, namun pihak Jepang berhasil mencium kata Belanda itu maksudnya Jepang. Di Jawa Timur, Cak Durassim pernah kena siksa gara kalimat, “pagupon omahe dara, melu nipon tambah sengsoro.” (Pagupon rumah burung dara, ikut Jepang tambah sengsara).



Mereka-mereka Yang Jadi Serdadu

Terbatasnya jenis pekerjaan di masa pendudukan Jepang membuat banyak pemuda bergabung dengan militer Jepang. Seperti Heiho, Pembela Tanah Air (PETA) di Jawa, Gyugun di Sumatera. Dengan menjadi militer muda, setidaknya mereka punya penghasilan dan tidak menjadi pengangguran.

“Saya memasuki Seinendojo supaya tidak menganggur,” kata Kemal Idris seperti dikutip Ben Anderson dalam Revolusi Pemoeda (1988). Menurut Joyce Lebra, dalam Tentara Gemblengan Jepang (1988) lulusan Seinendojo (pusat latihan pemuda) itu sebagian ikut menjadi asisten pelatih calon perwira PETA di Bogor. Dan belakangan mereka pun jadi perwira PETA juga. Bersama Kemal Idris, ada Zulkifli Lubis, Supriyadi juga Daan Mogot.

Menurut Ahmad Yani, dalam biografi Ahmad Yani Tumbal Revolusi (2007) yang ditulis anaknya, gaji seorang Letnan PETA kira-kira Rp 6 di tahun 1944. Harga daging sekilo kala itu 6 sen. Tentu saja tak semua orang di zaman Jepang bisa beli daging. Beras sulit. Daun liar seperti genjer saja dimakan pada masa itu. Hingga lahirlah lagu Genjer-genjer.

Di Jawa dan Sumatera, Jepang memberi kesempatan kepada pemuda untuk jadi militer. Semula Jepang membuka lowongan Heiho (pembantu tentara). Lalu di Jawa dibuka Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA). Para perwiranya dilatih di Bogor untuk menjadi komandan. Mereka yang diambil sebagai perwira itu mau tidak mau adalah orang-orang berpengaruh dan masih ada hubungan orang berpengaruh. Karena yang diambil adalah mereka yang berpendidikan dan berpengaruh di masyarakat. Di masa ini orang-orang muda seperti Ahmad Yani, Suharto, Kemal Idris, Supriyadi, Daan Mogot, Zulkifli Lubis, Pranoto Reksosamudro, terjaring menjadi perwira PETA.

Di Sumatera, tentara sukarela yang disebut Gyugun didirikan. Menurut Mestiak Zed dalam bukunya Gyugun Cikal-Bakal Tentara Nasional di Sumatra (2005), pusat pendidikan perwira didirikan di Lahat, Medan, Padang dan Aceh sejak Oktober 1943. Jepang melatih orang-orang ini untuk menjaga objek vital di Sumatra.

“Untuk pertama kalinya orang-orang Sumatera memperoleh pendidikan dan pelatihan militer modern lewat Gyugun,” tulis Mestika Zed dalam bukunya. Mestika Zed mencatat, nama-nama penting mantan Gyugun seperti Djamin Ginting, Mauludin Simbolon, Barlian, Alamsyah, M Nuh, Nurdin Panjie, RM Ryacudu. Orang-orang ini belakangan punya peran di Sumatra. Diantaranya punya keturunan yang juga berpengaruh di Sumatera. Di Sumatera, Gyugun merupakan elite strategis yang mengisi posisi penting militer Indonesia setelah Proklamasi.

Di Jawa, kondisinya tak jauh beda. Mereka yang bergabung dalam PETA dan Heiho kemudian juga ikut memainkan peranan penting dalam revolusi kemerdekaan Indonesia. Setelah revolusi, mantan PETA dan Gyugun mendominasi dalam Tentara Nasional Indonesia. Di era 1960an bekas Gyugun dan PETA itu mulai banyak yang jadi jenderal. Merekalah generasi muda era Jepang yang paling beruntung. Sebelum Jepang datang, tentara adalah profesi yang hina bagi orang-orang Indonesia bagi kalangan priyayi. Hanya macam orang-orang Bagelen, Ambon dan Minahasa yang lebih maklum dan terbuka pada profesi ini.

Yang Paling Menderita

Tentu saja, peluang jadi serdadu hanya untuk mereka yang pernah sekolah. Jika tidak berpendidikan, "Saudara Tua" juga punya lowongan, yakni menjadi Romusha. Nampaknya generasi muda yang berusia di atas 15 tahun pada zaman Jepang lebih banyak yang menjadi romusha ketimbang jadi PETA.

Romusha adalah orang-orang pilihan, dipilih oleh camat-camat atau kepala-kepala desa. Menurut Ben Anderson, dalam Revolusi Pemoeda, orang-orang yang tak disenangi atau yang ditakuti biasanya dipilih untuk menjadi romusha. Romusha adalah orang-orang malang yang rusak masa mudanya oleh perang dan balatentara Jepang yang ganas. Mereka harus meninggalkan kampung halaman, hanya sesekali diberi pakaian, tidak banyak di beri makan. Namun, "saudara tua" memberi mereka lebih. Lebih banyak memberi pekerjaan.

Paling sial adalah romusha yang bekerja membangun benteng rahasia Jepang. Tak hanya bekerja hingga kurus. Demi kerahasiaan, tak menutup kemungkinan mereka akan dihabisi setelah benteng itu selesai dibangun.

Menjelang selesainya perang, jika mereka masih hidup, Jepang yang sudah kalah pun tak sanggup memulangkan mereka ke kampung halaman mereka. Di antara mereka ada yang tinggal dan beranak-pinak di Tailand. Ada juga yang bertahan di Indonesia Timur. Di masa revolusi kemerdekaan, mereka berjuang untuk kemerdekaan Indonesia juga. Sebagian bisa pulang karena ikut jadi serdadu Belanda.

Generasi muda yang tak kalah malang, selain jadi romusha, tak lain jadi Jugun Ianfu, atau perempuan yang ikut dalam peperangan. Banyak cerita yang beredar, dari Jawa mereka dibohongi hendak disekolahkan ke Jepang atau Singapura. Pramoedya Ananta Toer, dalam bukunya Perawan Remaja Dalam Cengkraman Militer (2001) mencatat soal adanya seruan untuk mendaftarkan anak-anak gadis untuk disekolahkan. Belakangan, Pram menemukan banyak cerita pilu soal perempuan-perempuan malang itu.

Dari Jawa, banyak gadis-gadis yang dikapalkan. Arah berlayar pun sebagian ke Jepang. Namun, jauh sekali sebelum Jepang, kapal itu berbelok dan singgah di sebuah pulau. Baik di sekitar Kalimantan maupun sekitar Morotai. Di situ derita menyapa mereka. Mereka menjalani perkosaaan berulang-ulang, bahkan nyaris belasan kali sehari. Kata serdadu Jepang, demi kemenangan Asia Timur Raya, tetapi tak pernah mereka mengaku demi kesenangan serdadu-serdadu cabul itu.

Baca juga artikel terkait SOSIAL BUDAYA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti