Muchdi PR Sudah Mendukung Jokowi Sejak 2014

Oleh: Rio Apinino - 12 Februari 2019
Dibaca Normal 1 menit
Muchdi PR sebetulnya telah mendukung Jokowi sejak Pemilu 2014. Dia juga ofensif ke Prabowo. Ketika itu ia adalah kader PPP, partai yang sebetulnya mendukung bekas sejawatnya itu.
tirto.id - Muchdi Purwoprandjono atau Muchdi PR menyatakan diri mendukung Jokowi-Ma'ruf Amin dalam Pilpres 2019. Ia bersikap begitu karena melihat dalam lima tahun terakhir Jokowi "sudah berbuat banyak."

"Jelas pembangunan yang dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Mulai jalan tol, pelabuhan, bandara, industri lain," katanya, Minggu (10/2/2019) malam. "Itu tidak bisa dilakukan oleh Prabowo lima tahun ke depan," tambah Muchdi.

Meski tampaknya mendukung karena telah melihat apa yang dikerjakan Jokowi, Muchdi sebetulnya telah ada di sisi Jokowi sebelum ia jadi presiden. Sebelum ia melakukan apa-apa, membangun apa-apa, mengklaim apa-apa. Itu terjadi tahun 2014.

Dengan mengenakan kemeja putih bertuliskan 'Harley Davidson', Muchdi PR mendeklarasikan dukungan untuk Jokowi di Gedung Perwari, Menteng, Jakarta, 1 Mei 2014, atau dua bulan sebelum hari pencoblosan (9 Juli 2014).

Ketika itu Muchdi PR adalah kader PPP, yang notabene mendukung Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Mengenai perbedaannya dengan partai, Muchdi bilang: "saya belum jadi apa-apa di PPP. Kader bebas saja. Saya bukan pengurus PPP, kok."

Muchdi mengaku mendeklarasikan dukungan terhadap Jokowi dalam kapasitasnya sebagai 'orang Muhammadiyah', lebih tepatnya Ketua Umum Perguruan Silat Tapak Suci Putra Muhammadiyah. Kala itu ia mendeklarasikan dukungan dengan nama Relawan Matahari Indonesia (RMI). Acara deklarasi didatangi langsung oleh Jusuf Kalla.

Mengungkit Prabowo


Manuver Muchdi bukan cuma itu. Ia juga mengancam akan "buka-bukaan" soal Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yang merekomendasikan pemecatan terhadap Prabowo Subianto karena kasus penculikan aktivis pro-demokrasi tahun 1997-1998.


Selasa, 24 Juni 2014, dalam Deklarasi Komunitas Malioboro pendukung Jokowi, Muchdi meminta SBY—ketika itu masih jadi presiden—untuk buka suara soal rekomendasi DKP yang akhirnya memberhentikan Prabowo. Hal ini, katanya, agar tak ada lagi informasi simpang siur. Muchdi merasa dirugikan karena dia dianggap terlibat bahkan mengendalikan Tim Mawar, padahal dia mengaku tidak.

SBY dianggap tahu karena dia turut menandatangani dokumen DKP hingga ikut dalam pertemuan-pertemuan DKP, dalam kapasitas sebagai Kepala Staf Umum ABRI.

"Tinggal SBY yang belum angkat suara," katanya.

Serangan-serangan ini sekaligus menandakan semakin lebarnya perpecahan antara dirinya dan Prabowo.

Sebelumnya Muchdi adalah pengganti Prabowo sebagai Danjen Kopassus. Ia pun turut mendirikan Gerindra pada 6 Februari 2008, tanda bahwa keduanya sebenarnya dekat sebelum dipisahkan oleh politik. Muchdi kemudian didaulat sebagai Wakil Ketua Umum. Tapi itu tak berlangsung lama. Tiga tahun setelah itu, tepatnya pada 23 Februari 2011, dia memilih keluar dari Gerindra dan bergabung ke PPP.

Sedikit banyak Muchdi turut berperan atas kemenangan Jokowi-JK. Mereka menang dengan 70.997.833 suara atau setara 53,15 persen. Sementara Prabowo-Hatta Rajasa, hanya memperoleh 46,85 persen (62.576.444 pemilih).


Sejarah berulang pada Pilpres 2019. Jika lima tahun lalu Muchdi PR berbeda sikap politik dengan partainya, PPP, maka tahun ini pun begitu. Muchdi PR mendukung Jokowi ketika ia menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Partai Berkarya yang secara resmi mendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Jika ada persamaan lain, maka itu adalah respons dari aktivis HAM. Tahun 2014, LBH Jakarta merilis "35 Jenderal Pendukung Jokowi-JK, 5 Jenderal Diduga Bermasalah", salah satunya Muchdi PR. Pun dengan saat ini. Koordinator Kontras, Yati Andriyani, mengatakan bergabungnya Muchdi PR ke kubu petahana mempertegas kalau HAM memang hanya sekadar dagangan politik, tak lebih dari itu.

Muchdi diduga aktor di balik pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib pada September 2004. Pada salah satu persidangan, jaksa mengatakan Muchdi PR itu sakit hati pada Munir karena terus menerus bicara soal penculikan aktivis. Pembunuhan, dengan kata lain, dilandasi dendam. Mendengar ucapan itu Muchdi hanya menatap ke arah jaksa. Sesekali ia tersenyum dan tangan kanan diletakkan di dagu.

"Apa pun bisa dilakukan, apa pun bisa diterima, termasuk Muchdi demi [kepentingan] elektoral semata," kata Yati.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Rio Apinino
(tirto.id - Politik)

Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Rio Apinino