Ms. Marvel dalam Komik: Asal-Usul, Representasi, & Suara Generasi

Penulis: R. A. Benjamin, tirto.id - 27 Jul 2022 10:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Selain merepresentasikan keberagaman, karakter Ms. Marvel juga hadir sebagai penyambung lidah generasinya.
tirto.id - Dia berkulit gelap, bertopeng, dan mengenakan burkini bersimbol petir. Pertama kali saya melihat Kamala Khan sebagai Ms. Marvel adalah dalam video gim Marvel Future Fight. Di sana, dia dikategorikan dalam karakter bertipe combat, sama dengan karakter-karakter lebih populer dengan tradisi panjang seperti Black Panther dan Hulk.

Saat itu, sulit untuk tidak melihatnya sebagai karakter pelengkap belaka—atau dimasukkan demi sekadar keberagaman. Setidaknya sampai saya membaca komiknya.

Luwesnya format komik superhero Amerika memungkinkan penciptaan Kamala. Tidak ujug-ujug muncul, Kamala menggunakan nama Ms. Marvel sebagai alter egonya. Nama itu sudah tak asing bagi fan Marvel lantaran pernah digunakan Captain Marvel sebagai nama samaran alternatif. Dengan keterikatan pada karakter yang telah mapan, dia perlahan tumbuh menjadi karakter yang bagi banyak orang mungkin lebih menarik ketimbang Captain Marvel sendiri.

Kamala alias Ms. Marvel pun hadir membawa beberapa terobosan. Pertama, tentu soal representasi. Dia adalah karakter jagoan muslim pertama di semesta Marvel yang membintangi komiknya sendiri.

"Intinya adalah membuat karakter yang tidak hanya terlihat seperti saya, tetapi benar-benar [untuk] penggemar seperti saya, dan untuk keponakan-keponakan saya; untuk membuat konten untuk mereka," ujar Sana Amanat, co-creator karakter Kamala Khan dalam A Fan's Guide to Ms. Marvel (2022).

Dalam dokumenter pendek yang sama, Iman Vellani menyatakan bahwa Kamala Khan adalah karakter berkulit cokelat pertama yang pernah dilihatnya di sampul komik. Bagi aktor Kanada berdarah Pakistan yang kemudian ditunjuk untuk memerankan Ms. Marvel versi live-action, itu adalah hal yang "ia butuhkan", mengingat dirinya tumbuh dengan sedikit atau bahkan tak punya representasi di komik.

Bagi banyak kalangan, Ms. Marvel yang ini adalah relatable kid. Dia membumi, terasa nyata bagi sebagian orang. Kemunculannya diapresiasi dalam ulasan dan surat-surat pembaca yang muncul dalam setiap edisi komik.

Dengan serial televisinya sendiri, Ms. Marvel kini bergabung dalam Marvel Cinematic Universe (MCU) Fase Keempat. Kelak, dia bakal tampil di film Captain Marvel berikutnya, The Marvels (2023). Perjalanan yang cukup singkat sejak kemunculannya dalam komik.

Ms. Marvel Volume One (2014)

Sebelum Ms. Marvel, Gwendolyn Willow Wilson telah mengumpulkan beberapa kredit penulisan komik seperti Cairo, Vixen, dan Women of Marvel. Sementara itu, guratan seniman komik Adrian Alphona bisa ditemukan dalam komik-komik seperti Marvel Apes dan Runaways. Keduanya lantas menggabungkan kekuatan demi meluncurkan saga Ms. Marvel yang sepenuhnya baru.

Kamala Khan adalah perempuan biasa dari keluarga imigran yang tak suka memukul hewan maupun manusia. Hobinya menulis fan fiction Avengers—terutama Captain Marvel, gemar makan gyro, dan sebagai remaja yang patuh, belumlah lama sejak dia merasa bahwa melanggar peraturan terasa menyenangkan.

Suatu malam, kabut hijau misterius (Terrigen Mist) membangkitkan kekuatan Inhuman yang bersemayam pada diri Kamala. Dia tiba-tiba memiliki kemampuan morfogenetis yang sejauh ini ditampilkan dengan membesar-kecilkan seluruh atau beberapa bagian tubuhnya—semacam kombinasi Mr. Fantastic dan Ant-Man.

Keluarganya yang mendapati Kamala tak tampak seperti biasanya (lantaran ia masih beradaptasi dengan kekuatan barunya) menyuruh dia ke mesjid, mendengarkan khotbah agar mendapat perspektif ihwal hidup. Bagaimanapun, dia berasal dari keluarga muslim Pakistan-Amerika yang memelihara tradisi. Kamala sulit mendapatkan izin untuk menghadiri pesta atau banyak aktivitas yang melibatkan non-muhrim, dan perjodohan khas Pakistani mungkin tak lama lagi hadir di hidupnya. Sedari awal, dia punya latar yang kuat, sekaligus baru untuk komik superhero Amerika.

Sentuhan warna yang vibran laiknya gambar-gambar urban sketch menambah keunikan kisah Kamala. Itu diperkuat lagi dengan panel-panel solid nan riuh yang sesekali ditampilkan dengan variasi gaya. Ambil contoh satu halaman penuh bergaya cutaway tatkala Ms. Marvel dan Wolverine hendak keluar dari gorong-gorong.

Selain Wolverine, turut hadir pula Loki, Captain Marvel sendiri, dan sidekick seperti Lockjaw untuk menemani Kamala beraksi. Mereka seakan bertugas "menyambut" karakter anyar ini ke semesta Marvel. Meski begitu, para karakter veteran dan populer itu pun tidak sekadar hadir secara ala kadarnya.

Loki, misalnya, dikisahkan mendatangi dunia Kamala lantaran sebuah device yang nyaris membobol penghalang antara Midgard dan Asgard. Sang God of mischief pun hadir dengan karakteristiknya sendiri—kadang membantu, tapi lebih sering menyusahkan. Dia bisa dikatakan sebagai salah satu di antara beberapa antagonis lainnya dalam 19 issue komik ini.

Plot team up yang melibatkan banyak superhero memang tak pernah usang. Adapun kisah paling menarik dalam serial komik ini justru ketika Ms. Marvel sendiri (dengan bantuan teman-teman non-superhero) membongkar kisah supervillain manusia berkepala burung kloningan Thomas Edison bernama The Inventor. Sang villain punya motif unik, yakni membereskan kegagalan-kegagalan generasi lampau—bahwa kantong kanvas dan mobil hibrida tidaklah cukup untuk menganulir kesalahan eksploitasi lingkungan.

Tujuan yang sepintas terdengar mulia itu dicapai dengan cara keliru: menggunakan anak-anak sebagai pembangkit energi. The Inventor memanfaatkan anak-anak muda (segenerasi dengan Kamala) yang sedari lahir telah diberitahu bahwa hidup mereka tak berguna—lebih berharga hidup sebagai baterai ketimbang sebagai manusia.

Di sinilah, Ms. Marvel meraih status sebagai pahlawan di New Jersey, sekaligus menjadikannya unik. "Tak banyak superhero yang mau menghabiskan waktu melacak anak-anak yang hilang di Jersey City," ujar seorang polisi selepas Kamala mengalahkan The Inventor.

Infografik MS Marvel
Infografik MS Marvel. tirto.id/Quita


Selain sebagai penyelamat, Ms. Marvel juga diplot sebagai sosok yang memperjuangkan suara generasinya. Bahwa eksistensi mereka bukanlah sebagai perkakas pula samsak bagi generasi-generasi sebelumnya, bahwa hidup mereka berarti.

Tanpa dilatari skill bela diri atau persenjataan, kisah Kamala memang tak dimaksudkan jadi komik yang sarat akan aksi dan pertarungan memukau. Dengan kekuatan yang tak seheboh Scarlet Witch atau Captain Marvel, adalah pilihan masuk akal untuk menghadapi musuh-musuh dengan ancaman lebih kecil macam robot, drone, atau yang lebih manusiawi seperti patah hati.

Kamala lantas memang beraksi bersama kelompok Inhuman dan bahkan Avengers, tapi juga tak melupakan kodrat superhero yang membutuhkan sekelompok manusia biasa untuk menopang aksinya. Kehadiran karakter Bruno Carreli, misalnya, tak ubahnya sosok sidekick yang membantunya dalam banyak hal, terutama urusan saintifik.

Aspek sains juga tak ditinggalkan begitu saja. Bruno banyak ditampilkan terutama dalam proses transformasi Kamala menemukan potensi dirinya yang baru, entah itu cara berjalan di atas air atau mengendalikan tubuh yang mengecil (yang jauh lebih sulit ketimbang mengontrol tubuh yang membesar).

Dengan problema remaja, cinta-cinta tak sampai, Kamala menyongsong hidup baru sekaligus akhir komik origin-nya seiring kiamat menjelang, yang kelak berlanjut di komik Marvel lainnya, Secret Wars.

Menuju Takdir yang Lebih Besar

Dalam kover issue #18, Bruno digambarkan bermimpi sedang menggenggam tangan Kamala layaknya kekasih. Di sampingnya, Kamala sedang memimpikan dirinya dielu-elukan Avengers.

Ada harga yang harus dibayar seiring Kamala yang berfokus pada tugas barunya sebagai pemberantas kejahatan dan transformasi menjadi superhero.

Dalam kelanjutan komiknya, Ms. Marvel Volume Two (2016) yang juga digarap oleh Wilson dan Alphona, Kamala mulai sibuk sebagai personel Avengers. Dia diceritakan musti menghadapi tuduhan akan keberpihakan pada elite dan merepresentasikan hal yang lebih besar ketimbang identitasnya sendiri sebagai remaja yang mulai menghadapai cinta dan perkara yang membuntutinya.

Sejak membintangi komiknya sendiri, Kamala juga mulai tampil dalam beberapa judul komik Marvel lainnya. Dia bergabung dalam Champions bersama superhero belia lain, seperti Miles Morales dan Nova, atau tampil dalam komik yang berbeda-beda bersama Peter Parker, Captain Marvel, Lockjaw, hingga Squirrel Girl.

Kau mungkin tak menemukan kisah origin Ms. Marvel disandingkan dengan kisah origin superhero yang bisa diingat di luar kepala macam Spider-Man atau Batman. Namun, kau juga sangat mungkin tak banyak menemukan karakter superhero perempuan yang berkulit gelap, muslim, dalam komiknya sendiri yang unik dan bukan sekadar menghadirkan keberagaman.

Baca juga artikel terkait KOMIK atau tulisan menarik lainnya R. A. Benjamin
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: R. A. Benjamin
Editor: Fadrik Aziz Firdausi

DarkLight