Mr. Erbil: Pria-Pria Gaya di Tengah Bangsa Militan Kurdi

Oleh: Joan Aurelia - 21 Agustus 2018
Dibaca Normal 2 menit
Kaum milenial Kurdi membentuk komunitas fesyen dengan tujuan mengubah pandangan publik tentang Irak.
tirto.id - Erbil adalah sebuah daerah di utara Irak dengan beragam kisah kontras. Di kawasan tersebut, ada orang ditangkap karena dianggap terlibat ISIS. Bulan lalu, seorang pelaku bom bunuh diri beraksi di dekat gedung gubernur. Erbil pun sempat menjadi tempat pengungsian sejumlah korban kekerasan di Mosul.

Selain cerita-cerita itu, ibukota Kurdistan ini dikenal sebagai kawasan pusat perdagangan yang ditinggali oleh masyarakat yang berasal dari berbagai latar belakang etnis dan agama. Di sana, baru saja dibuka restoran khusus wanita. Ada pula sosok-sosok perempuan yang dianggap inspiratif lantaran berani mewujudkan mimpinya mulai disorot di media sosial.

Salah satu pihak yang mempromosikan peran perempuan-perempuan tersebut ialah Mr. Erbil, komunitas pecinta fesyen yang seluruh anggotanya ialah pria. Komunitas ini didirikan pada bulan Februari 2016. Mereka memanfaatkan Instagram sebagai cara untuk dikenal oleh masyarakat di berbagai daerah. Linimasa akun Instagram Mr. Erbil memuat foto-foto wanita Erbil yang mereka anggap bisa berdampak positif bagi masyarakat.

Bagi Mr. Erbil, dampak positif itu bisa berawal dari hal yang sederhana. Mereka pernah menampilkan sosok seniman perempuan yang berpesan agar orang tetap berani tampil menjadi diri sendiri dan mewujudkan impian. Ada pula potret wanita imigran yang datang ke Erbil dan berhasil menjadi desainer sepatu. Akun ini juga sempat menampilkan wanita muda pendiri Lala Candles, produk lilin dekoratif.

Tulisan pada caption unggahan tersebut menyebut bahwa sang pendiri memutuskan membuat lilin lantaran ingin mempertahankan salah satu benda yang punya makna dalam budaya Kurdi. Pengusaha itu berharap agar orang di dalam dan luar negeri bisa mengenal produk lokal Erbil.


Keinginan itu senada dengan hal yang dipikirkan oleh Ahmed Nauzad, salah satu penggagas Mr. Erbil. Ia berharap agar penjahit lokal Erbil bisa terus berkarya dengan menciptakan beragam produk busana seperti setelan jas atau blazer. Nauzad pun ingin agar material lokal Erbil bisa terus digunakan untuk membuat busana dan aksesori.

The Times of Israel memuat pernyataan Nauzad yang menyebut bahwa salah satu material busana yang dihasilkan di kota tersebut ialah bahan wool yang berasal dari bulu domba. “Bahan ini otentik. Mungkin terkesan kasar tetapi kualitasnya baik,” tuturnya.

Media tersebut turut memuat foto Nauzad dan kawan-kawan. Mereka sama-sama mengenakan suit yang terdiri dari jas, waistcoat, dan celana. Gaya itu boleh dikatakan sebagai ciri komunitas Mr. Erbil. Mereka gemar memadupadankan berbagai bentuk dan motif busana formal. Andaikata setiap busana dibuat oleh penjahit lokal, keuntungan penjahit tersebut bisa jadi cukup baik.

Awalnya, komunitas ini terdiri dari 22 pria yang berusia 18-32 tahun. Kepada The Times of Israel, Nauzad berkata bahwa anggota Mr. Erbil berasal dari berbagai latar suku, agama, dan latar belakang. Ada yang bekerja sebagai dokter, pegawai pemerintahan, pengusaha, dan periset pasar. Setahun setelah didirikan, jumlah anggota bertambah jadi dua kali lipat. Jumlah orang yang hendak jadi anggota pun terus bertambah.

Infografik Kurdish Dandies


Komunitas ini mengadakan pertemuan rutin tiga bulanan. Dalam pertemuan itulah para anggota melakukan eksperimen gaya. Bila sedang menonjolkan kemampuan gaya, anggota Mr. Erbil tidak selalu tampil dalam setelan jas berwarna gelap.

Potret pertemuan yang beredar di dunia maya mengesankan keberanian mereka dalam memadupadankan jenis busana. Ada sosok yang tampil memakai jas biru tua bermotif bunga-bunga oranye berukuran besar. Ada pula yang mengenakan jas motif houndstooth. Di samping itu, ada anggota yang berani memadukan waistcoat cokelat terang dengan jas biru tua. Ada juga yang mengenakan setelan jas cokelat muda dengan dalaman kemeja bermotif dan dasi merah menyala.



Pertemuan rutin sengaja diadakan di lokasi yang menarik karena salah satu agenda utama ialah berfoto. Pose-pose foto mereka bisa dibandingkan dengan pose model yang ada dalam majalah mode pria. Potret yang diunggah di Instagram membuat komunitas ini akhirnya disorot oleh media-media gaya hidup seperti Elle, GQ, dan Esquire.

Penampilan mereka pun sukses menyerupai potret pria-pria gaya di Italia. Mereka sama-sama gemar mengenakan celana yang panjangnya di atas mata kaki serta mengenakan busana atau aksesori warna warni. Gaya pria fashionable Italia yang terkesan lebih santai, kasual, dan eksperimental jadi kiblat anggota Mr. Erbil. Hanya saja, mereka tak lupa dengan misi lain di balik tampilan gaya.

“Kami ingin mengubah citra Kurdi. Kami ingin berkata bahwa hidup di sini juga indah dan normal. Kami ingin memotivasi kaum muda Irak agar tidak hanya protes tentang situasi negatif yang terjadi di sekitar kami. Kami ingin mereka tetap optimistis. Selain itu kami ingin agar perempuan mendapat haknya serta tidak lagi jadi korban kekerasan. Kami pun ingin menunjukkan bahwa produk yang dibuat di Kurdi tidaklah buruk,” tutur anggota komunitas ini kepada Vogue Arabia.

Baca juga artikel terkait FASHION atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)


Penulis: Joan Aurelia
Editor: Maulida Sri Handayani