Seri Pesepakbola Muslim

Mousa Dembele: Terorisme Justru Merendahkan Agama Islam!

Oleh: Wan Faizal - 20 Mei 2020
Dibaca Normal 2 menit
Sebagai pesepakbola muslim sekaligus warga negara Belgia, Mousa Dembele mengutuk aksi terorisme berkedok Islam yang terjadi di Brussel pada 22 Maret 2016 silam.
tirto.id - Sebagai pesepakbola muslim sekaligus anggota Timnas Belgia, Mousa Dembele tidak bisa melupakan aksi terorisme di negaranya pada 22 Maret 2016 silam. Kala itu, ibu kota mencekam usai bom meledak di Bandara Internasional Brussel.

Jam 8 pagi, terdengar suara tembakan, diikuti dua ledakan beruntun dari terminal bandara. Laporan awal menyebutkan, setidaknya 14 orang tewas dan puluhan lainnya terluka akibat insiden ini.

Sejumlah media internasional, termasuk The Guardian, memberitakan, kejadian di bandara ini merupakan serangan bunuh diri. Sementara Wall Street Journal melaporkan, "terdengar teriakan dalam bahasa Arab sebelum terjadi ledakan".

Beberapa saat berselang, tepatnya pukul 09.11, ledakan berikutnya terjadi di sebuah kereta antara stasiun bawah tanah Maelbeek dan Schuman yang membuat aktivitas transportasi langsung dihentikan.

Usai kejadian disebutkan, 20 orang meninggal dunia dan 55 orang cedera, termasuk 10 orang di antaranya dalam kondisi kritis. Pemerintah Belgia pun menetapkan status darurat akibat serangan terorisme yang kemudian diklaim oleh ISIS itu.


Islam Bukan Teroris

Mousa Dembele mengutuk keras aksi terorisme di Brussel itu. Terlebih, tindakan yang jauh dari keberadaban tersebut dikaitkan dengan orang-orang yang mengaku berjuang atas nama Islam. Bagi gelandang Timnas Belgia ini, Islam tidak pernah mengajari kekerasan.

"Apa yang terjadi, bagi semua orang, adalah sebuah kekecewaan besar. Terlebih bagi kami warga muslim," tandas Mousa Dembele kepada ESPN.

"Kita tidak bisa membiarkan terorisme menang. Mereka tidak bisa menganggap diri mereka muslim dan merendahkan agama kami," tukas pesepakbola yang kala itu memperkuat klub Premier League di Inggris, Tottenham Hotspur.

Kegeraman Mousa Dembele bertambah karena selama ini media seakan tak obyektif dalam menilai Islam. Ia menegaskan bahwa dalam ajaran agama Islam tidak ada anjuran untuk melakukan 'jihad' dengan cara keji seperti itu.

"Mereka (teroris) telah menciptakan bahaya besar, terutama karena media tidak selalu memberitakan Islam dengan bagus. Jihad seperti itu tidak dibenarkan dalam agama kami karena mereka membunuh orang-orang," bebernya.

Seperti beberapa pesepakbola muslim top lainnya, Mousa Dembele berupaya sebisa mungkin mengikis Islamofobia di Eropa. Tidak ada agama manapun, baginya, yang merestui tindakan keji terhadap sesama makhluk Tuhan.


Muslim Mali di Belgia

Nama lengkapnya adalah Moussa Sidi Yaya Dembele. Lahir di Antwerp, Belgia, tanggal 16 Juli 1987, dari keluarga imigran muslim asal Mali. Ada kejadian unik terkait nama depannya itu.

Eks gelandang Germinal Beerschot, Willem II, dan AZ ini terlahir dengan nama Moussa dengan dua huruf 's'. Namun, saat ini ia lebih dikenal bernama Mousa, hanya dengan satu huruf 's'. Ini terjadi karena keteledoran Dembele sendiri.

"Ceritanya sebenarnya panjang. Saat saya akan memperpanjang paspor, saya salah menulis nama dengan satu 's' saja," ungkapnya, dilansir The Guardian, jelang Piala Eropa 2016.

"Saya akhirnya tetap menggunakan nama itu sampai sekarang," imbuh pengemas 82 caps dan 5 gol bersama Timnas Belgia yang kini berkiprah di klub Liga Super Cina, Guangzhou R&F, ini.

Kesalahan penulisan nama itu justru berguna. Ada pesepakbola lain yang bernama nyaris sama, yakni Moussa Dembele (dengan dua huruf 's'), striker Lyon yang juga berdarah Mali. Bedanya, Moussa Dembele lahir di Perancis, sedangkan Mousa Dembele di Belgia.

Mousa Dembele punya darah Mali dari keluarganya yang memang memeluk Islam. Ayahnya, Yaya Dembele, adalah eks pesepakbola profesional yang juga pernah memperkuat Tottenham Hotspur.

Keluarga Mousa Dembele datang ke Belgia pada akhir dekade 1970-an untuk bekerja dan menjalin bisnis ekspor-impor dari Mali.


Kendati lahir dan dibesarkan di Belgia, bahkan sudah memperkuat tim nasional Belgia sejak level U16, namun Mousa Dembele tidak akan pernah melupakan Mali, negeri leluhurnya.

Gelandang yang kini berusia 32 tahun ini merasa punya ikatan kuat dengan Mali. Ia bertekad membantu perkembangan sepak bola salah satu negara di Afrika itu usai gantung sepatu kelak.

"Saya sudah lima kali berkunjung ke Mali. Setiap kali ke sana saya selalu merasakan perasaan yang berbeda. Saya ingin memberikan sesuatu kepada Mali suatu saat nanti," tekad Mousa Dembele.

Baca juga artikel terkait SERI PESEPAKBOLA MUSLIM atau tulisan menarik lainnya Wan Faizal
(tirto.id - Olahraga)

Kontributor: Wan Faizal
Penulis: Wan Faizal
Editor: Iswara N Raditya
DarkLight