Motif Pembunuhan Sadis Ryan Jombang & Skandal Salah Tangkap Polisi

Oleh: Faisal Irfani - 23 Oktober 2018
Dibaca Normal 4 menit
Dipicu cinta dan harta, Ryan Jombang menghabisi belasan orang.
tirto.id - Ada banyak peristiwa penting di Indonesia sepanjang 2008. Mulai dari kematian diktator Orde Baru, Suharto, hingga serangan kekerasan bermotif kebencian terhadap pawai "Aliansi Kebangsaan Untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan" di Monas.

Tak ketinggalan, 2008 juga menjadi saksi bagaimana publik Indonesia digegerkan geger oleh kisah pembunuhan berantai yang melibatkan Very Idham Henyansyah alias Ryan Jombang.

Pada April 2009, Majelis hakim Pengadilan Negeri Depok menjatuhkan vonis hukuman mati kepada Ryan. Menurut keterangan majelis hakim, Ryan terbukti bersalah atas pembunuhan berantai dengan 11 korban.

Kasus Ryan Jombang adalah gambaran tentang cinta buta, tuntutan ekonomi, serta tercorengnya wajah kepolisian.


Karena Cinta, Harta, dan Keluarga

Kasus Ryan pertama kali terkuak pada Juli 2008 ketika tujuh potongan tubuh manusia dalam dua tas serta kantong plastik ditemukan di dekat Kebun Binatang Ragunan, Jakarta Selatan. Potongan tubuh tersebut diketahui milik Heri Santoso, 40 tahun, manajer penjualan di sebuah perusahaan swasta. Heri adalah gebetan Ryan yang dibunuh di sebuah apartemen yang terletak di kawasan Margonda Raya, Depok.

Dalam The Bastard Legacy: Warisan Legendaris Para Bedebah (2015), Jounatan menerangkan bahwa keputusan Ryan untuk menghabisi Heri didorong oleh faktor cemburu. Satu hari sebelum pembunuhan, Heri datang ke apartemen Ryan. Setibanya di sana, Heri melihat foto Noval, pacar Ryan. Heri, yang tertarik dengan ketampanan Noval, menggoda Ryan agar merelakan sang kekasih agar tidur dengannya.

Mendengar celetukan tersebut, Ryan langsung murka. Keduanya lantas terlibat adu mulut sebelum akhirnya berlanjut ke baku hantam. Merasa terdesak, Ryan pergi ke dapur dan mengambil pisau dan menusuk Heri tepat di ulu hati. Heri ambruk dan merintih kesakitan. Dalam kondisi tak berdaya, Ryan menyeret Heri ke kamar mandi. Tubuhnya ditelentangkan, kepalanya dihajar dengan tongkat besi. Heri pun tewas.


Dilanda kepanikan dan keinginan menghilangkan jejak—Ryan lalu memotong tubuh Heri. Berbekal pisau, Ryan memutilasi Heri ke dalam beberapa bagian: lutut, paha, tangan, alat vital, dan leher. Potongan-potongan itu lantas dimasukkan ke dalam tas dan kantong plastik. Ryan kemudian memanggil taksi dan meminta sang supir mengantarnya ke Ragunan. Di sanalah kemudian ia membuang potongan tubuh korbannya.

Usai melakukan aksi sadisnya, masih menurut The Bastard Legacy: Warisan Legendaris Para Bedebah, Noval datang ke apartemen Ryan. Kepada sang pacar, Ryan mengaku baru membunuh Heri. Tak hanya membunuh, Ryan juga mengaku memboyong barang-barang berharga Heri, dari dompet hingga laptop. Keduanya lantas foya-foya dengan barang hasil rampasan itu.

Selang beberapa hari kemudian, tim reserse Polda Metro Jaya menangkap Noval. Pasalnya, Noval teridentifikasi menggunakan kartu ATM milik Heri dan wajahnya terekam kamera ATM. Dari Noval pula polisi berhasil menciduk Ryan.

Dalam proses penyidikan, Ryan mengaku telah membunuh Heri. Namun, polisi mencium gelagat ketidakberesan karena Ryan cenderung ceria ketika berkata bahwa ia sudah menghabisi nyawa Heri. Benar saja, Heri bukanlah korban Ryan yang pertama. Setelah didesak dengan berbagai cara, Ryan mengaku telah menghabisi sekitar 10 orang di kampung halamannya, Jombang. Semua korban dikubur di halaman belakang rumah.

Pembunuhan di Jombang dilakukan Ryan dalam kurun waktu 2006-2008. Berbeda dengan kasus Heri, aksi brutal Ryan di Jombang didasari motif ekonomi, walaupun ada beberapa kasus yang dilandasi alasan yang lebih personal, demikian terang Direskrim Polda Jatim Kombes Pol Rusli Nasution, seperti dilaporkan Antara.

Pola pembunuhan yang dilakukan Ryan di Jombang adalah sebagai berikut. Ryan bertemu korban di suatu tempat dan mengajaknya ke rumah. Beberapa lama kemudian, entah siang atau dini hari, barulah Ryan membantainya. Aksi ditutup dengan merampas barang-barang berharga milik korban serta mengubur mereka di halaman belakang. Mayoritas korban berhasil dibawa ke rumah Ryan karena terpikat dengan rayuannya.

Di luar motif ekonomi dan cemburu, aksi brutal 'Si Jagal dari Jombang' tersebut juga didorong rasa trauma masa kecilnya yang tidak bahagia. Sewaktu masih anak-anak, Ryan sering jadi korban kekerasan ibunya. Pengalaman itu membuatnya memendam kebencian terhadap sang ibu yang bertahan hingga ia dewasa dan akhirnya disalurkan lewat hasrat membunuh.

Yusti Probowati Rahayu, psikolog asal Universitas Surabaya yang memeriksa kondisi psikologis sang jagal mengatakan bahwa kepribadian Ryan sangat manipulatif. Ryan, kata Yusti, “mudah bohong, agresif, tidak mudah ditebak, egosentrik, dan jika menginginkan sesuatu ia tidak melihat dari sisi moral”.

“Orang seperti Ryan itu justru berbahaya karena tidak bisa dideteksi. Beda kalau kita bertemu preman yang penampilannya sangat sangar. Begitu ketemu orang seperti itu, radar kita seakan memberi tanda, ini orang gawat, jangan deket-deket,” terangnya.

Berdasarkan pemeriksaannya, Yusti juga menyebut bahwa sosok Ryan "agak obsesif-kompulsif"; apabila ia punya keinginan terhadap sesuatu, ia “akan terus memikirkan bagaimana cara mendapatkannya”. Karena itulah sekali saja ia tak ketahuan membunuh, dia membunuh lagi dan lagi, dan "akhirnya keenakan".


Sempat Salah Tangkap

Di sisi lain, kasus Ryan Jombang ternyata mencoreng wajah kepolisian karena sempat salah tangkap.

Salah tangkap ini terjadi kala polisi sedang mengusut mayat korban bernama Aldo. Dalam kasus itu, polisi menciduk tiga “tersangka”: Imam Hambali alias Kemat, Devid Eko Priyanto, dan Maman Sugianto. Ketiganya adalah warga desa di Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang.

Seperti dicatat Gatra dalam “Pengakuan Ryan Menguak Kesalahan” (2008), kasus salah tangkap tersebut bermula dari laporan warga yang menemukan sesosok mayat tak dikenal di kebun tebu di Dusun Braan, Desa Bandar Kedungmulyo, Jombang, pagi hari 29 September 2007. Temuan ini kemudian dilaporkan ke Polsek Bandar Kedungmulyo.

Dari Polsek Bandar Kedungmulyo, informasi penemuan mayat itu diteruskan ke Polsek Perak, yang pada 27 September 2007 menerima laporan orang hilang bernama Moh. Asrori atau Aldo, warga Desa Kalangsemanding, Perak. Polisi mempersilakan agar pihak keluarga melapor mengenali jasad korban di Rumah Sakit Umum Jombang.

Masih mengutip laporan Gatra, ayah korban, Jalal, dan kakak korban, Agung Wibowo, meyakini mayat yang sudah rusak tersebut sebagai Aldo. Mereka berpatokan pada bekas luka di kaki kanan akibat tersengat knalpot, gigi taringnya yang gingsul, kukunya yang panjang terawat, dan potongan rambutnya yang tipis di kanan-kiri tipis dan tebal di bagian belakang.


Oleh polisi, keterangan keluarga dipercayai begitu saja tanpa melakukan pengecekan ulang sesuai prosedur baku. Berbekal keterangan keluarga, polisi bertindak sembrono: menangkap Kemat, Devid, dan Maman dengan tuduhan “bersekongkol untuk membunuh Aldo”. Mereka melakukan aksi keji itu, terang polisi, lantaran “Aldo tak mau diajak kencan.” Baik Aldo maupun Kemat kebetulan adalah gay.

Sebagaimana salah tangkap pada umumnya, ketiga “tersangka” itu juga mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan. Berkali-kali mereka ditekan untuk mengakui kejahatan yang tidak mereka perbuat. Tak jarang, paksaan selama proses penyidikan disertai aksi kekerasan, dari dipukul sampai ditodong dengan pisau.

Infografik Ryan Jombang


Tekanan tersebut berimbas hingga ke meja hijau. Di persidangan, Kemat dan Devid bungkam. Mereka tak menyanggah tuduhan jaksa. Diamnya kedua orang ini diyakini banyak pihak muncul karena “trauma selama proses penyidikan”. Akhirnya, majelis hakim tetap menjatuhkan vonis pada Kemat dan Devid. Kemat dihukum 17 tahun penjara, sedangkan Devid 12 tahun.

Kebenaran mulai terungkap tatkala Ryan memberikan keterangan kepada polisi, tak lama setelah ia diringkus. Ia mengaku bahwa dirinyalah yang membunuh Aldo. Alasan Ryan menghabisi Aldo: Ryan tersinggung karena Aldo, yang dianggapnya jelek, mengajaknya kencan. Plus, Aldo menyebut Ryan "seperti kucing"—entah apa maksudnya.

Bagi Devid dan Kemat, kabar dari Ryan adalah titik terang dan bukti bahwa mereka benar-benar tak bersalah—kendati keduanya harus mengajukan Peninjauan Kembali (PK) agar vonisnya bisa dianulir. Di sisi lain, keterangan Ryan jadi tamparan keras bagi kinerja polisi.

Kriminolog dari Universitas Indonesia, Erlangga Masdiana, mengatakan bahwa profesionalisme dan rendahnya SDM Polri menjadi penyebab maraknya kasus salah tangkap yang disertai kekerasan. Hal itu, catat Erlangga, dilakoni sebagian penyidik demi “mengejar target menuntaskan pengusutan suatu perkara.”

Kasus Ryan memang sempat mengejutkan masyarakat Indonesia. Namun, yang lebih bikin kaget lagi adalah salah tangkap yang menjadi blunder besar polisi.

Baca juga artikel terkait PEMBUNUHAN atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Hukum)


Penulis: Faisal Irfani
Editor: Windu Jusuf