Morrissey Tua: Banyak Cakap, Seksis, Reaksioner

infografik morrissey
Morissey. FOTO/nme.com
Oleh: M Faisal Reza Irfan - 24 Desember 2017
Dibaca Normal 3 menit
Beberapa musisi lebih suka banyak cakap ketimbang berkarya. Salah satunya Morrissey.
tirto.id - Cuaca Stertford tak terlalu cerah pada suatu hari di bulan Mei 1982. Di jalanan yang lengang, Johnny Marr dan Steve Pomfret berjalan menuju 384 Kings Road. Sembari mengisap sigaret, raut wajah mereka begitu antusias.

Sesampainya di lokasi, sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul juga. Namanya Steven Patrick Morrissey, rekan Pomfret yang mengidolakan New York Dolls, David Bowie, dan Patti Smith. Setelah lama berbasa-basi, Marr menjelaskan maksud kedatangannya: ia ingin Morrissey gabung dengan bandnya.

Morrissey tak segera menjawab sampai keesokan harinya. “Well, aku setuju gabung bandmu," kata Morrissey kepada Marr via telepon. Sejak itulah The Smiths berdiri.

Baca juga: Bagaimana Rezim Konservatif di Inggris Melahirkan Musik Shoegaze?

Perlahan, The Smiths mulai menarik atensi publik. Musik mereka dinilai punya karakter unik yang tak ikut-ikutan punk, rock, maupun new-wave yang waktu itu jadi musik arus utama. Mengendus bakat Morrissey dkk, label independen Inggris Rough Trade mengontrak mereka.

Di bawah naungan Rough Trade, The Smiths menghasilkan empat buah album, The Smiths (1984), Meat Is Murder (1985), The Queen Is Dead (1986), dan Strangeways, Here We Come (1987).

Album-album The Smiths melahirkan nomor-nomor cemerlang yang sampai hari ini terus diingat. Misalnya “Nowhere Fast,” “Well I Wonder,” “Bigmouth Strikes Again,” “Girlfriend in a Coma,” “Miserable Lie,” sampai sepasang lagu yang bertahun-tahun kemudian dicomot untuk mengiringi tragisnya kisah cinta Summer dan Tom Hansen di 500 Days of Summer: “There Is a Light That Never Goes Out,” serta “Please, Please, Please, Let Me Get What I Want.”

Sayangnya nasib baik tak berlangsung lama. The Smiths bubar pada 1987 akibat konflik antara Morrissey dan Marr serta pengelolaan manajemen band yang buruk.

Morrissey Sekarang, Bukan Morrissey yang Dulu

Tentu mustahil membicarakan The Smiths tanpa menyinggung Morrissey. Lirik-liriknya yang bermuatan politis, satir, cerkas, dan indah dalam waktu bersamaan adalah sebuah signature bagi The Smiths.

Kemampuan Morrissey dalam mengolah citra The Smiths sudah diakui publik. The Guardian menyebut Morrissey telah membuka jalan bagi berkembangnya skena Manchester 1980an dan “ledakan Britpop" era 1990an yang menyelamatkan musik arus utama dari kemunduran. Selain itu, Morrissey dirasa “berpengaruh langsung” dalam warna musik—terutama dari segi penulisan lirik—band-band macam Pulp sampai Belle and Sebastian.

Sementara Tom Holmes dari Rolling Stone menggambarkan Morrisey sebagai “seorang yang punya misi, serdadu sensitif dengan pendapat-pendapat personal yang kuat."

Slant Magazine dalam artikelnya menyatakan Morrissey merupakan murid Oscar Wilde yang mencintai punk tetapi bernyanyi layaknya Frank Sinatra. Bersama Marr, Morrissey membentuk “duo penulis lagu terbesar 1980an.”

Setelah The Smiths bubar, Morrissey masih memperlihatkan tajinya. Misalnya saat menciptakan balada “Margaret in Guillotine”—dari album Viva Hate (1987)—yang dibuat khusus untuk Perdana Menteri Inggris masa itu, Margaret Thatcher.

Baca juga: Mengenang 3 Dekade Konser Guns N Roses Pertama di Inggris

Bahwa Morrissey benci Thatcher, itu sudah jadi rahasia umum. “The kind people/Have a wonderful dream/Margaret on the guillotine/’Cause people like you make me feel so tired,” demikian Morrissey mengganyang Thatcher dalam lirik. Masuk refrain, ia kembali murkanya tumpah dengan sebaris kalimat “When will you die?” yang diulanginya lima kali berturut-turut.

Tapi kini kondisinya berbeda. Alih-alih menggubah musik-musik bernas, Morrissey lebih suka mengumbar hal-hal yang ironisnya membuat ia terlihat bodoh lagi amatir.

Ketika publik internasional digegerkan serangkaian kasus pelecehan seksual oleh tokoh-tokoh publik seperti Harvey Weinstein dan Kevin Spacey beberapa waktu lalu, Morrissey turut unjuk suara. Namun bukannya mengutuk, pernyataan Morrissey justru membela para pelaku.

“Setahu saya, dia berada di kamar bersama anak berusia 14 tahun dan usia Kevin Spacey 26 tahun,” ujarnya dalam wawancara dengan media Jerman, Der Spiegel. “Orang akan bertanya-tanya di mana orangtua si anak, dan apakah anak itu benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi?”

Setelah menyalahkan korban, ia menambahkan, “Itu sebabnya tuduhan semacam itu tidak terdengar kredibel bagi saya. Menurutku, serangan ke Spacey salah sasaran.”

Sontak seluruh manusia waras sejagat merisak Morrissey. Sadar tersudut, ia buru-buru membela diri.

“Apa saya bakal bunuh Donald Trump [meski saya mengkritiknya]? Ya tidak. Apa saya memberikan dukungan kepada Kevin Spacey? Tentu tidak juga. Apa saya mendukung pelecehan seksual? Tidak pernah,” ujarnya dilansir BBC.

Ia menegaskan Der Spiegel telah gagal “menyampaikan pandangannya secara adil.”

Bukan kali ini saja Morrissey meracau sembarangan. Oktober lalu, sesaat setelah pemilihan pimpinan Partai Independen UK (UKIP)—partai berhaluan populis sayap kanan—yang melibatkan Annie Marie Waters dengan Henry Bolton berlangsung, Morrissey menyatakan bahwa pemilihan UKIP dicurangi supaya Waters yang notabene aktivis anti-Islam kalah.


“Saya sangat terkejut ketika melihat Anne Marie Waters tidak terpilih jadi pimpinan UKIP. Ada kecurangan dalam pemungutan suara,” tegasnya saat tampil dalam BBC 6 Music.

Waters memang dikenal Islamofobik dan secara terang-terangan pernah menyebut Islam “jahat.” Tak cuma itu, ia juga mendirikan Pegida UK, organisasi ultra-kanan anti imigran yang secara visi-misi bertujuan melawan islamisasi di Inggris.



Apabila dirunut ke belakang, ada banyak ucapan Morrissey yang membuat Anda berpikir apakah dia masih waras atau tidak. Morrissey pernah menyebut "tidak ada yang baru" dari Lady Gaga, mengatakan Madonna “dekat dengan pelacuran terorganisir,” serta mengklaim aksi teror Anders Behring Breivik di Norwegia pada 2011 yang menewaskan 77 orang tidak seberapa dibandingkan “kejadian di McDonald’s atau Kentucky Fried Chicken.” Disclaimer: Morrissey adalah seorang vegan.

Bagaimanapun publik akan jadi hakim atas semua yang keluar dari mulut Morrissey: apakah ia masih jadi primadona Britpop seperti pada era 80an atau justru nampak seperti pecundang parlemen yang hobi cari sensasi di tengah tuntutan menyelesaikan pekerjaan legislatifnya.

Agaknya, pilihan nomor dua lebih realistis untuk disematkan kepada Morrissey. Lebih-lebih, album barunya Low in High School yang bersampul anak kecil membawa kapak dengan papan bertuliskan “Axe in Monarchy” itu tidak membuat situasi lebih baik.

Hadapilah, Morrissey yang dulu bukanlah yang sekarang. Ada saatnya musik yang dimainkannya membuat—atau memaksa—kita memaafkan perilakunya barang sejenak. Dan sepertinya momentum seperti itu sudah berakhir.

Baca juga artikel terkait MUSISI DUNIA atau tulisan menarik lainnya M Faisal Reza Irfan
(tirto.id - Musik)

Reporter: M Faisal Reza Irfan
Penulis: M Faisal Reza Irfan
Editor: Windu Jusuf
DarkLight