Molotot.com & Jabar Edun yang Mencuri Perhatian Saat Debat Pilgub

Oleh: Mufti Sholih - 14 Maret 2018
Dibaca Normal 3 menit
Beberapa istilah unik muncul pada debat Pilgub Jabar 2018, terutama dari Paslon nomor urut dua.
tirto.id - “Kami punya program Molotot.com untuk mencegah kasus korupsi.”

Pernyataan itu disampaikan Anton Charliyan dan sontak disambut tawa seluruh tamu dan pendukung pasangan calon yang datang ke acara debat calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Bandung, Jawa Barat, Senin malam (12/3/2018).

Gelak tawa itu terjadi sekitar pukul 20.39 WIB dan muncul saat Anton tampil di depan 2.000-an orang di Sabuga. Anton merupakan pensiunan inspektur jenderal polisi dan menjadi calon wakil gubernur Jawa Barat mendampingi Tubagus Hasanuddin, keduanya diusung PDI Perjuangan.

Sepanjang debat, mantan Kapolda Jawa Barat dan Kapolda Sulawesi Selatan ini berulang kali mengeluarkan istilah unik yang mengundang tawa. Setidakya ada lima istilah dan puluhan gimmick unik dari Anton sepanjang debat.

Sebelum berceloteh tentang Molotot.com, Anton sempat membuat sejumlah pengunjung venue debat terkekeh. Itu terjadi tatkala dirinya menerangkan tentang konsep Jabar Edun. Kata Edun merupakan istilah prokem dalam bahasa Sunda yang berarti edan, tapi bukan itu makna yang Anton maksudkan, Edun merupakan akronim.

“Ekonomi, Dunia, dan Network,” kata Anton dan disambut tepuk tangan pendukung.

“Lewat program ini akan ada lapangan pekerjaan baru dan sektor wisata bakal menyerap pekerjaan,” kata Anton melanjutkan penjelasannya.

Setelah Jabar Edun, Anton baru menjelaskan soal Molotot.com yang sebelumnya sudah disebutkan Tubagus Hasanuddin pada sesi pertama pemaparan visi dan misi. Molotot.com merupakan konsep pengawasan untuk menekan angka korupsi. Molotot yang dalam bahasa Indonesia berarti membelalakkan mata atau melotot.

“Kami punya program Molotot.com untuk menciptakan clean dan good government agar dapat mencegah kasus korupsi. Masalah korupsi, kan, sebetulnya disebabkan oleh dua hal: satu akhlak, dan dua administratif. Bagaimana cara menjaga akhlak? Kami sudah siapkan reward and punishment. Kepada mereka yang salah, akan kami sikat,” ucap Anton.

Belum usai membuat pengunjung Sabuga tertawa dengan istilah Molotot.com, Anton kembali berujar istilah aneh yang membuat hadirin di venue terdiam dan lantas terbahak.

“Kadang-kadang manusia ini memang kadarkum.”

“Kadang-kadang sadar, kadang-kadang kumat,” ucap Anton yang diiringi tawa dan tepukan tangan pendukungnya.

Anton tampaknya sadar dirinya mendapat perhatian dari pendukung dan pengunjung venue, ia pun tampak memanfaatkan momentum itu buat kembali mencuri perhatian. Jelang akhir segmen 4, Anton yang menanggapi pernyataan ambigu Uu Ruhzanul Ulum dari Paslon nomor satu soal pembubaran pengajian dengan kembali memunculkan istilah yang membuat hadirin kembali terbahak.

“Padahal kami punya program esje. Eling [sadar] sebelum jadi edan, jangan sampai edan sebelum jadi eling,” kata Anton yang mengundang tawa.

Tak Hanya Istilah

Cara Anton berkomunikasi tak hanya membuat istilah-istilah unik. Anton juga menggunakan gimmick mengacungkan dua jari untuk melambangkan nomor urutnya. Gimmick itu muncul saat debat dan break.

Gimmick yang paling gampang diingat adalah saat mementaskan gendang pencak, yakni tarian silat yang diiringi kendang saat sesi kelima. Tarian silat ini sebelumnya dipertontonkan Tubagus Hasanuddin sebagai pasangannya tapi dengan gaya yang serius.

Anton mengubah gerak tarian yang konvensional dengan melipat tiga jarinya menjadi dua jari dan menggerakkan lengannya empat kali sesuai irama ketukan gendang.

Ia juga melakukan aksi serupa saat pasangan Sudrajat dan Ahmad Syaikhu menampilkan pentas seni. Anton tampak berjoget sembari ‘mencuri kesempatan’ mengacungkan dua lengannya.

Selain menari, Anton juga sempat membuat gimmick lucu lainnya. Ia menghentikan suaranya dan tak lagi menjawab pertanyaan dari moderator Rosianna Silalahi lantaran waktu menjawab sudah habis.

Ikon Debat

Tingkah Anton selama Debat Pilkada Jawa Barat tak pelak menjadikannya sebagai "bintang" panggung. Begitu pernyataan Acep Iwan Saidi, ahli komunikasi dan semiotika dari Institut Teknologi Bandung. Acep sempat datang ke acara debat dan menyaksikan langsung dari dekat ulah setiap pasangan calon dalam debat yang ditayangkan langsung KompasTV.

Sepanjang pengamatan Acep, Anton menjadi leader di panggung. Anton mampu membangun komunikasi dengan baik lewat istilah dan gimmick. “Pada titik itu harus kita akui Anton punya kelebihan,” ucap Acep lewat sambungan telepon kepada Tirto.

Gaya komunikasi yang ikonik ini mengingatkan kita pada Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam Debat Pilkada DKI Jakarta 2012. Jokowi tampil dengan mengenakan baju kotak-kotak dan membawa alat peraga saat debat. Jokowi menunjukkan desain penataan Bukit Duri yang ia janjikan tak digusur melainkan dibuatkan kampung deret.

Lima tahun sebelum Jokowi, Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf melakukan hal serupa dalam Debat Pilkada Jawa Barat tepatnya pada 2008. Pasangan dengan akronim Hade ini membuat simbol dua jari dilingkarkan dan menyisakan tiga jari lalu menggunakan telunjuk untuk dicobloskan ke lingkaran yang terbentuk dari dua jari yang dilingkarkan.

Tak hanya pintar memainkan peran dan membuat simbol di atas panggung, Anton mengimbangi kekurangan dari Tubagus Hasanuddin yang dia nilai terlalu kaku. Tubagus Hasanuddin, dianggap tak mampu berkomunikasi dengan luwes, meski saat jeda kerap mengobrol dengan pasangan calon lain yang menjadi saingannya.

Soal kekurangan pasangan ini terjadi hampir merata di semua pasangan mulai dari Ridwan Kamil-Uu Ruhzanul Ulum, Tubagus Hasanuddin-Anton Charliyan, Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik), dan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (dua DM). Dari empat pasangan itu, Acep menilai tiap pasang punya kekurangan.

“Ridwan memiliki ketenangan. Ketenangan Ridwan dimatikan pasangannya yang menurut saya, Kang Uu ini ngampung.”

“Pasangan Asyik, dua-duanya kalem tapi kelebihan ada di wakilnya yang lebih luwes dan supel…Sementara dua DM tampak berimbang. Tapi ada kelebihan di Dedi Mulyadi yang terlalu percaya diri,” ujar Acep.

Berawal dari Spontanitas

Sikap Anton yang kerap mengeluarkan istilah dan gimmick unik itu rupanya tak disiapkan matang. Menurut Anton, istilah dan gimmick tersebut muncul dengan sendirinya. Ia mengaku kerap membuat akronim untuk sejumlah hal.

“Karena saya kan suka [membuat akronim] daripada tegang,” kata Anton.

Mantan Kadiv Humas Polri ini mengatakan dirinya hanya bersikap apa adanya tanpa skenario selama debat. Dari empat akronim yang diucapkan, Anton mengatakan hanya Jabar Edun yang ada dalam program visi misi kampanye.

Cawagub PDIP ini mengaku tidak berkomunikasi dengan tim pemenangan dan pasanganya Tubagus Hasanuddin saat menyampaikan akronim-akronim tersebut.

“Beliau (Hasanuddin) kan sudah tahu kalau saya tukang ceplas ceplos. Kami mah polos-polos saja apa adanya,” ujar Anton

“Mudah-mudahan ada yang suka.”

Baca juga artikel terkait DEBAT PILGUB JABAR 2018 atau tulisan menarik lainnya Mufti Sholih
(tirto.id - Politik)

Reporter: Mufti Sholih
Penulis: Mufti Sholih
Editor: Mufti Sholih