Model Virtual di Ranah Fesyen: Model Betulan Bakal Tergusur?

Oleh: Joan Aurelia - 8 November 2019
Dibaca Normal 4 menit
Model virtual kian diminati sejak 2012. Apa sebabnya?
tirto.id - Lima atau 10 tahun ke depan mungkin Anda tidak lagi melihat selebritas seperti Cate Blanchett dan Chloe Moretz di iklan produk kecantikan SK-II. Perusahaan kosmetik asal Jepang yang tenar lewat produk water treatment essence atau cairan yang disebut-sebut mampu meremajakan kulit itu tengah bekerjasama dengan perusahaan asal Selandia Baru untuk menciptakan sosok virtual yang mampu berinteraksi dengan konsumen.

Mereka menciptakan perempuan Asia berusia awal kepala dua bernama Yumi. Yumi tak seperti duta SK-II lain yang wajahnya menunjukkan karakter etnis tertentu. Bentuk hidung Yumi bisa menandakan bahwa ia berasal dari India. Matanya menunjukkan ia mungkin punya darah campuran Jepang. Warna kulitnya bagai percampuran kuning langsat dan sawo matang. Fast Company menyebut Yumi sebagai cerminan perempuan kulit berwarna--yang belakangan jadi daya tarik dalam dunia mode dan kecantikan.

Tugas utama Yumi adalah memberikan tips kepada konsumen SK-II soal cara perawatan kulit yang tepat. Tugas lainnya ialah menjawab pertanyaan konsumen SK-II terkait permasalahan kulit mereka. Nantinya konsumen SK-II di berbagai negara bisa berinteraksi dengan Yumi lewat tayangan video.

“Kami akan membuat Yumi semirip mungkin dengan manusia,” kata Sandeep Seth, CEO SK-II kepada Fast Company.

Dengan demikian, sosok Yumi akan jadi sedikit berbeda dengan model virtual populer seperti Lil Miquela, Shudu, dan Imma yang biasanya tampil sebagai foto model.


Model Virtual adalah Eksperimen

Popularitas model virtual di media sosial Instagram selama tiga tahun belakangan telah mendorong tim SK-II untuk terjun ke ranah serupa. Dalam ranah kecantikan, perhatian publik terhadap model virtual muncul kala melihat Shudu--model 27 tahun asal Afrika Selatan ciptaan fotografer asal London Cameron James Wilson--tampil di linimasa Fenty, lini produk kecantikan milik Rihanna, pada awal 2018.

Februari tahun lalu, Wilson bercerita kepada Harper’s Bazaar bahwa Shudu murni tercipta sebagai eksperimen.

“Shudu adalah cara saya mengeksplorasi kreativitas di waktu luang,” katanya.

Selain Wilson ada Brud, perusahaan rintisan yang bergerak dalam bidang kecerdasan visual.

Pada 2016, tim Brud menciptakan perempuan virtual berusia 19 tahun asal Brasil bernama Miquela Sposa atau Lil Miquela. Tahun lalu, Miquela, perempuan yang diciptakan bergaya hypebeast (mengenakan busana dan aksesori streetwear kelas atas) jadi perbincangan setelah potret dirinya yang tengah mengenakan busana dan aksesori premium bermerek Chanel, Dior, dan Balenciaga tersebar di media sosial.

Publik bertanya-tanya apakah Miquela betul-betul manusia? Apakah dia (saat itu) benar-benar dibayar oleh rumah mode adibusana ternama untuk jadi model?

Beberapa tahun lalu Miquela muncul di sebuah tayangan video dan menyatakan bahwa ia benar-benar eksis di dunia. Sampai hari ini tidak ada konfirmasi apakah ia benar-benar dibayar oleh Chanel untuk memakai barangnya atau tidak.

Bisa saja kasusnya sama seperti Shudu yang dipotret dengan lipstik oranye bermerek Fenty. Potret tersebut hanyalah hasil kreativitas Wilson yang ia unggah di media sosial dan kemudian dimuat ulang (repost) oleh admin media sosial Fenty. Wilson menganggap hal tersebut sebagai bonus promosi.

Saat ini Miquela telah memiliki lebih dari 1.5 juta pengikut di Instagram. Sejumlah unggahannya menunjukkan potret diri mengenakan jenama premium.

CNBC pernah berusaha melacak penghasilan Lil Miquela. Tapi pihak Brud enggan menjawab pertanyaan CNBC. Kabar yang beredar adalah Brud mendapat tambahan dana dari investor sebesar $125 juta untuk mengembangkan sosok virtual.

Andai Miquela diperlakukan layaknya influencer pada umumnya, ia bisa mendapatkan ratusan ribu dolar per unggahan.

Pada 21 Oktober lalu, Huffington Post mencatat bahwa bayaran yang bisa didapat influencer dengan pengikut Instagram 25.000 adalah $2000 per unggahan. Bayangkan saja berapa yang bisa didapat Miquela yang punya jutaan pengikut.

Para pengusaha di Asia yang bergerak dalam bidang usaha kecerdasan virtual pun turut menciptakan sosok model virtual. Di Jepang ada sosok Imma. Perempuan virtual yang kini punya 157.000 pengikut. Dalam bio-nya, tim pembuat Imma terang-terangan mencantumkan kontak manajemen yang dihubungi bila ada lini fesyen yang hendak berkolaborasi dengannya.

Salah satu debut Imma adalah tampil dalam iklan lini kosmetik asal Jepang Kanebou Cosmetics. Dalam potret tersebut, ia bersanding dengan model manusia sungguhan dan mempromosikan produk alas bedak.

Maret lalu di Jepang muncul model virtual laki-laki bernama Liam Nikuro. Ia dicitrakan sebagai calon musisi berusia 21 tahun yang punya darah campuran AS-Jepang dan tinggal di Tokyo dan Los Angeles. Japan Times melaporkan bahwa Nikuro akan jadi sosok seperti aktivis.

Infografik Lil Miquela Rev
Infografik Lil Miquela


Ia tak hanya berbagi informasi soal kegiatan sehari-hari seperti bekerja dengan produser musisi pemenang Grammy tetapi juga bicara tentang isu perubahan iklim, kondisi politik, bencana alam, hingga situasi protes di Hong Kong.

Nikuro menyatakan bahwa sebagai calon musisi, ia akan membuat berbagai proyek agar dunia “jadi tempat yang lebih baik”. Unggahan-unggahan itu membuat Nikiro memiliki belasan ribu pengikut di Instagram.

Perusahaan retail makanan seperti KFC bahkan juga menciptakan manusia virtual sebagai materi promosi. Pria virtual itu diibaratkan sebagai Kolonel Sanders versi milenial. Ia muda, bertubuh kekar, dan punya wajah rupawan layaknya model internasional.

Digital Media Director KFC Steve Kelly menyatakan bahwa sosok tersebut dirancang sebagai metode pemasaran yang asyik. “Orang-orang sangat menyukai influencer virtual,” kata Kelly kepada jurnalis New York Times Tiffany Hsu.

Otomatisasi di Ranah Mode

Pada 2015 Amazon dikabarkan mematenkan metode kecerdasan virtual yang memungkinkan komputer membuat data tentang jenis busana yang laku dijual melalui platform tersebut. Saat itu kabarnya Amazon hendak menciptakan "desainer virtual" yang mampu merancang busana sesuai minat pasar.

Selain itu, Amazon juga sempat dikabarkan hendak menciptakan sistem dan mesin pembuatan kain. Rencananya mesin tersebut hanya memproduksi kain dengan motif dan ukuran tertentu sesuai pesanan konsumen agar tidak ada limbah kain yang ditimbulkan dari proses produksi pakaian. Empat tahun lalu, Amazon belum mau bercerita banyak soal rencana-rencananya dan tidak berani memastikan rencana mana yang hendak dieksekusi terlebih dahulu.

Juni lalu The Verge melaporkan Amazon menciptakan StyleSnap. Fitur yang memungkinkan publik untuk mencari tahu jenis busana yang mereka inginkan. Cara kerjanya, konsumen memotret atau menaruh gambar para fitur StyleSnap, lalu sistem akan mencarikan benda tersebut atau benda serupa yang tersedia di platform jual beli Amazon.

Menurut The Verge, sistem tersebut masih butuh banyak penyempurnaan dan Amazon akan terus mengupayakan agar fitur yang dilandasi aplikasi kecerdasan virtual itu bisa berkembang maksimal.

Inovasi Amazon adalah langkah awal yang umum dilakukan oleh pebisnis retail ketika hendak terjun ke ranah kecerdasan virtual.

Minat pelaku mode terhadap industri kecerdasan visual muncul setelah lembaga riset McKinsey merilis laporan bahwa pada 2055, 51% pekerjaan manusia dari segala sektor akan tergantikan oleh mesin.

Business of Fashion melaporkan bahwa dalam ranah fesyen, penciptaan mesin jahit otomatis atau sewbots juga jadi salah satu jalan dalam mengeksplorasi ranah kecerdasan virtual. Keberadaan mesin tersebut diramalkan mampu mengurangi kebutuhan pekerja garmen--mesin dibayangkan bisa mengubah sistem produksi busana terutama di negara-negara konveksi seperti Bangladesh.

Munculnya model virtual adalah perkembangan lain dari ekosistem fesyen yang mulai berkiblat ke ranah kecerdasan virtual. Keberadaannya juga dikhawatirkan bakal mengurangi kebutuhan ranah fesyen akan model sungguhan.

Mode dan Model Virtual

Penggunaan model virtual di ranah mode mulai terlihat sejak 2012. Pada saat itu majalah mode pria yang berbasis di London, Arena Homme +, pernah menampilkan potret fesyen yang menampilkan sejumlah tokoh dalam gim Final Fantasy. Dalam rubrik foto tersebut, para tokoh Final Fantasy mengenakan busana milik label premium Prada.

Pada 2015, Nicholas Ghesquiere, direktur kreatif rumah mode Louis Vuitton, memakai sosok Lightning, (karakter dalam Final Fantasy) sebagai model kampanye busana musim semi.

Dalam wawancara dengan Telegraph, Ghesquiere mengatakan, ”Lighting adalah simbol perempuan heroik. Ia mampu menggambarkan keadaan zaman sekarang di mana jejaring sosial begitu dekat dengan kenyataan. Lightning adalah simbol ekspresi diri.”

Setahun berselang, para kreator sosok virtual di ranah media sosial mulai bermunculan.

Wilson, pencipta Shudu, meyakini keberadaan model virtual tidak bertujuan untuk menggantikan posisi model manusia. “Model virtual seperti karya seni. Ia ada untuk melengkapi ranah seni dan mode.”

Baca juga artikel terkait FASHION atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - )

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Windu Jusuf
DarkLight