Advertorial

Modal Utama Memulai Usaha

Ilustrasi membuat konsep bisnis. FOTO/iStockphoto
Oleh: Advertorial - 16 September 2020
Dibaca Normal 2 menit
Masih banyak pelaku bisnis yang hingga kini hanya mengandalkan dana pribadi.
Kementerian Koperasi dan UKM RI melaporkan bahwa usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memiliki pangsa sekitar 99,99% (62,9 juta unit) dari total keseluruhan pelaku usaha di Indonesia. UMKM bahkan mampu memberikan kontribusi sekitar 60% terhadap total Pendapatan Domestik Bruto Indonesia, atau Rp8.573,9 triliun, dan mempekerjakan hampir 117 juta orang atau 97% dari total tenaga kerja Indonesia.

Di situasi pandemi ini, terdapat lima sektor bisnis yang dinilai tahan krisis, yaitu bisnis makanan dan minuman atau food and beverage (F&B), usaha penjualan kebutuhan bahan pokok, sektor jasa atau produk kesehatan, usaha jasa pendidikan dan pelatihan, serta bisnis sektor digital.

Namun ada satu kendala: lebih dari 23 juta UMKM belum memiliki akses perbankan, padahal mereka membutuhkannya untuk bertahan di tengah situasi pandemi Covid-19. “Saat ini, baru sekitar 41 jutaan UMKM yang terhubung dengan lembaga perbankan untuk mendapatkan akses kredit,” ungkap Ketua Dewan Pembina UMKM Rizayati.

Ini berarti masih banyak pelaku bisnis yang hingga kini hanya mengandalkan dana pribadi. Selain modal yang terbatas, mereka pun berpotensi mengalami persilangan antara pos keuangan bisnis dan pribadi yang kian mengancam keberlangsungan usaha.

Bukan Sekadar Memisahkan Keuangan


Jika ingin sukses berbisnis, memisahkan keuangan pribadi dan bisnis adalah hal mutlak, karena seperti kata Natalie Bruns, akuntan senior dari Holbrook & Manter, “Ketika pemilik usaha kecil menggabungkan dana pribadi dan dana bisnis mereka, perhitungan untuk bisnisnya bisa jadi sulit dan ceroboh.”

Kebiasaan pelaku usaha mencampuradukkan pemasukan bisnis dan pengeluaran pribadi maupun sebaliknya membuat kondisi keuangan usaha tak tergambar secara akurat. Maka Jenius, salah satu aplikasi keuangan populer di Indonesia, membuat inovasi teranyar: Jenius untuk Bisnis.

Pertama-tama, pengguna Jenius bisa melakukan aktivasi akun bisnis supaya uang pribadi dan bisnis tidak tercampur. Aktivasi akun bisnis bisa dilakukan di aplikasi Jenius tanpa registrasi ulang, sehingga pengguna tak perlu mendaftar maupun mengantre di bank untuk mendapatkan akun baru. Semua sudah tersedia di dalam satu aplikasi.

Setelah memisahkan antara uang pribadi dan bisnis, agar bisnis berjalan lancar, diperlukan pula landasan yang kokoh dan kecermatan. Salah satu cara untuk membangun fondasi itu adalah dengan membuat catatan mendetail untuk bisa melacak arus kas, pendapatan, dan pengeluaran dengan jelas, apalagi jika bisnis dijalankan bersama rekan yang lain. Lewat akun bisnis Jenius, pengguna tak perlu lagi repot karena penelusuran histori transaksi bisa dilacak melalui fitur In & Out.



Akun bisnis Jenius memiliki fitur lain yang membuat bisnis kian mudah dijalani, seperti Send It untuk memudahkan transfer; m-Card yang berlaku sebagai kartu debit virtual untuk transaksi online; Card Center untuk pengaturan kartu debit virtual; Jenius Contacts yang berisi data nomor ponsel atau email untuk bisnis; serta $Cashtag sebagai identitas baru untuk kirim dan terima uang. Alih-alih menggunakan $Cashtag akun pribadi untuk bertransaksi, pelaku usaha bisa memakai $Cashtag sesuai dengan nama bisnisnya.

Selain mengaktifkan akun bisnis di aplikasi Jenius, pelaku usaha juga bisa memanfaatkan Bisniskit. Ini adalah aplikasi pengelolaan bisnis bebas biaya dari Jenius dengan fitur cukup lengkap, mulai dari mesin kasir, pencatatan stok produk, hingga pencatatan pengeluaran bisnis, yang bisa terintegrasi dengan akun bisnis Jenius. Bila digunakan sekaligus, akun bisnis Jenius dan Bisniskit akan memudahkan pelaku usaha dalam mengatur arus keuangan dan mengelola bisnisnya hanya dari smartphone.

Aplikasi Bisniskit memiliki dua menu utama, yaitu toko dan kasir. Menu toko dilengkapi fitur Dashboard (untuk cek kondisi usaha terkini), Produk (mencatat dan mengetahui stok), Pengeluaran (mencatat, menjadwalkan, melihat histori pengeluaran), Pelanggan (melihat data pelanggan), Pengaturan Toko (untuk pengelolaan toko dan memberikan akses ke karyawan), dan Rekening (menghubungkan Bisniskit dengan akun Jenius).

Sementara itu, menu Kasir dibuat untuk memproses transaksi dengan empat metode pembayaran (Tunai, Transfer, Kartu Debit, dan Kartu Kredit) yang bisa dihubungkan ke printer untuk mencetak struk.

Indra Dwi Nugraha, seorang wiraswasta, merasakan betul manfaat akun bisnis Jenius dan Bisniskit dalam mengembangkan bisnis dekorasi rumah dan desain interiornya di Bandung. “Jenius sangat membantu untuk monitoring dan bookkeeping untuk urusan bisnis biar gak tercampur sama urusan pribadi,” katanya kepada Tirto.

“Ada e-statement (rekening koran) yang bisa diakses kapan pun, gak harus nunggu kiriman tiap akhir atau awal bulan dari banknya. Terus bisa langsung di-share juga ke owner yang lain untuk di-review. Asli enak banget. Bikin bisnis jadi lebih transparan juga,” lanjutnya.

Era pandemi seperti sekarang tak boleh menyurutkan mimpi banyak orang untuk berwirausaha. Pemerintah pun terus mendukung pertumbuhan UMKM untuk membangkitkan perekonomian negara yang terdampak pandemi. Apalagi, kini ada akun bisnis Jenius dan Bisniskit yang dapat menjadi starter kit sekaligus rekan bisnis andal bagi siapa pun yang serius memulai maupun mengembangkan usahanya.
DarkLight