Badaruddin Andi

"Modal Kami Program Pak Harto"

Oleh: Reja Hidayat - 4 April 2018
Dibaca Normal 3 menit
Sebagaimana impian setiap politikus: Partai Berkarya ingin menjadi tiga besar pada Pemilu 2019.
tirto.id - Untuk kali pertama partai yang dibina Tommy Soeharto lolos dalam verifikasi KPU untuk Pemilu 2019 mendatang. Lima tahun lalu, Partai Nasional Republik (Nasrep) besutan trah Cendana gagal bertarung pada Pemilu 2014.

Partai Berkarya adalah fusi dua partai lama: Partai Nasrep dan Partai Beringin Karya. Keduanya melebur pada 15 Juli 2016, tepat pada hari ulang tahun Tommy Soeharto. Partai berlambang beringin dan warna seragam kuning-oranye ini memanfaatkan nama Tommy dan menjual imajinasi "rindu Orde Baru".

Sekretaris Jenderal Partai Berkarya, Badaruddin Andi Picunang, mengatakan nama Tommy menjadi magnet partai untuk mengumpulkan suara.

“Kami bisa seperti ini karena program Pak Soeharto. Itu modal kami. 'Piye kabare, enak zamanku to?' Tagline kami akan memengaruhi orang untuk memilih Partai Berkarya,” kata Picunang, yang pernah memegang wakil sekjen DPP Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Golkar periode 2010-2015.

Bertemu di sebuah kedi kopi di lantai dua Gran Melia Hotel Kuningan, Jakarta, Picunang masih berbincang dengan Priyo Budi Santoso, politikus Golkar. Sesudahnya Picunang sigap menjawab sejumlah pertanyaan dari saya. Berikut wawancaranya.

Apa yang ditawarkan dari Partai Berkarya?

Segmen kami tidak jauh dari latar belakang Pak Soeharto. Lambang partai ada beringin, yang tak lepas dari Sekber Golkar yang didirikan tahun 1964 oleh TNI AD. [Baca: Sejarah Golkar: Digagas Sukarno, Lalu Meninggalkannya]

Kami hadir saat ini belajar dari sejarah. Program yang ditawarkan ke masyarakat merupakan ciri khas partai ini, yakni mengadopsi trilogi pembangunan: pemerataan pembangunan, pertumbuhan ekonomi, dan keamanan. Konsep tersebut yang akan diterapkan.

Bagaimana membuka peluang ekonomi masyarakat luas dengan mendidik orang-orang bisa berternak ikan lele, udang, dan program yang mencerdaskan bangsa seperti kartu cerdas. Mungkin Pak Jokowi sudah menggunakannya tapi agak beda dari kami.

Siapa yang Anda maksud dengan "segmen" Partai Berkarya. Orang yang pernah merasakan kehidupan Orde Baru?

Bukan. Orang yang pernah hidup di zaman Pak Soeharto pasti merasakan program transmigrasi, sekolah inpres, dan desa inpres. Mungkin sekarang sudah berumur tua. Usia 40 tahun juga pernah merasakan kehidupan zaman Pak Soeharto.

Basisnya bukan orang tua. Kami terbuka kepada siapa pun. Pemilih pemula pasti orang tuanya hidup di zaman Pak Soeharto sehingga bisa berbagi cerita sama anak-anaknya. Pada saat menggunakan hak pilih, pasti anaknya nanya ke orangtua. Mana yang terbaik? Maka kami hadir sebagai alternatif karena masyarakat sekarang sudah agak apatis dengan partai lama. Bukan berarti kami menuduh partai lama. Kami hadir dengan program yang becermin dari sejarah keberhasilan Pak Soeharto di zaman dulu.

Pada pemilu 2019, pemilih berusia di bawah 17-39 tahun sekitar 50 persen. Sedangkan usia di atas 40-64 tahun sekitar 30 persen. Bagaimana Anda mendapatkan suara pemilih anak muda sementara program partai produk lama?

Kami menargetkan 14 persen suara nasional. Kami enggak hanya melihat umur pada saat Orde Baru. Tapi yang hidup di era Pak Soeharto masih banyak hak suara. Contoh transmigrasi di daerah-daerah. Seluruh provinsi ada. Anak-anak transmigrasi generasi kedua dan ketiga pasti berterima kasih kepada Pak Soeharto.

Dengan program itu mereka sekolah dan ada yang berhasil menjadi bupati dan pejabat daerah. Pasti mendapat cerita dari orang tua mereka bahwa zaman Pak Soeharto programnya jalan. Buktinya dengan terbentuknya beberapa pengurusan dan merekrut anggota Partai Berkarya di daerah dengan mudah.

Partai Berkarya memiliki program 1 DPD 1 koperasi. Bagaimana konsepnya?

Bukan hanya koperasi, tapi usaha kecil dan menengah juga. Ada program dari ketua umum yakni goro alias gotong royong. Nanti ada semacam outline di setiap kabupaten dan dimungkinkan di kecamatan. Bagaimana berdekatan dengan petani dan nelayan sehingga produknya bisa dijual.

Dalam dunia politik nama Tommy tidak mendongkrak suara. Tanggapan Anda?

Dari kacamata kami justru nama Tommy menjadi magnet Partai Berkarya untuk mengumpulkan suara. Sebab ada segmen tersendiri yang cinta Soeharto dibarengi program kekinian. Saya kira pesimis dengan pendapat itu. Justru partai optimis bahwa Hutomo Mandala Putra [adalah] matahari bagi Partai Berkarya.

Tommy Soeharto memiliki target 80 kursi DPR RI. Apakah akan tercapai target?

Harus yakin karena mesin partai politik kami di bawah segera bergerak, mulai tingkat kabupaten hingga provinsi.

Pada Munaslub Partai Berkarya di Solo, Tommy Soeharto terpilih secara aklamasi sebagai ketua umum. Dampaknya adalah perubahan struktur DPP Berkarya. Bagaimana prosesnya sekarang?

Pertama, surat keputusan sedang proses di Kemenkumham. Kedua, partai dalam proses rekrutmen caleg-caleg potensial yang akan kami jual ke masyarakat. Target 80 suara dari 575 kursi DPR-RI. Kami optimis.

Untuk SK kepengurusan DPP baru kapan selesai? Beberapa DPD mengeluh karena tak bisa menggelar rapat pimpinan wilayah dan rapat pimpinan daerah. Padahal jadwal pendaftaran caleg sudah dekat?

Sebenarnya teman-teman DPW/DPD enggak boleh menunggu SK itu karena sudah ada anggaran dasar partai. Ada PO yang mengatur kegiatan teman-teman di bawah yang harus segera ditindaklanjuti, terutama dalam proses rekrutmen caleg. Ini domain DPD. Kami tahu SK itu legitimasi yuridis. Secara legalitas, Ketua Umum Hutomo Mandala Putra. Jadi enggak ada pengaruhnya.

Justru teman-teman daerah harus siap-siap untuk melaksanakan rapat wilayah dan rapat daerah untuk menindaklanjuti hasil rapat nasional. Mereka harus siap dievaluasi. Apabila tidak cakap atau tidak mampu membawa partai mencapai target yang diinginkan partai, maka DPD harus ambil sikap.

Maksudnya ada perubahan struktur DPD ketika target tak tercapai?

Iya, ada evaluasi. Bukan berarti kami menghilangkan kader, tapi dikasih jabatan lain. Kami butuh tim solid, baik di pusat maupun di daerah. Anggaplah saya dan teman yang aktif diganti demi kebesaran Partai Berkarya. Kami siap dan legowo. Begitu pula dengan teman-teman di DPW dan DPD Kabupaten/Kota, harus siap (dievaluasi) jika tidak sesuai program. Kalau berpangku tangan keluar SK, itu sama aja dengan bohong. Kepengurusan apaan itu?!

Untuk menggerakkan mesin partai harus disokong finansial kuat. Sampai saat ini belum ada kucuran dana dari DPP ke DPD. Benar enggak?

Kata siapa? Dari DPD yang saya datangi ada, tapi enggak merata. Memang disesuaikan kesiapan teman-teman DPD. Saat verifikasi, kami bantu teman-teman DPD yang perlu bantuan. Yang sudah mandiri, enggak kami bantu.

Sudah menjadi rahasia umum jika caleg harus mengeluarkan mahar. Bagaimana di Partai Berkarya?

O... enggak ada. Kami enggak ada mahar. Kalau ada pengurus, baik di pusat maupun kabupaten/kota, meminta mahar, langsung kami pecat. Itu sudah kesepakatan bersama. Yang jelas kami ada seleksi agar caleg potensial bisa dijual ke masyarakat. Justru partai berpikir bagaimana caleg bisa jadi (anggota dewan).

Kalau saksi, bukannya biaya dari caleg itu sendiri?

O... enggak. Itu partai, dong. Tapi ada aturannya. Kami berusaha semua caleg tetap bekerja sesuai dengan penugasan.

Survei LSI pada Januari 2018 menyebut lima partai di Senayan terancam tak mencapai ambang batas parlemen sebesar 4 persen. Jika partai yang sudah ada di Senayan saja bisa tak lolos, bagaimana Partai Berkarya yang baru dan kecil?

Kami enggak merasa partai kecil. Tentu dengan target tiga besar kami ingin jadi partai besar. Harus optimis. Kami enggak bisa membandingkan dari partai yang ada di parlemen sekarang, walaupun teman-teman survei merilis. Coba nanti menjelang pemilu disurvei lagi, posisi Partai Berkarya gimana? Ketum kami juga baru terpilih pada 11 Maret 2018.

Nanti setelah kami kerja 2-3 bulan ke depan dan daftar caleg baru kelihatan. Kami masih sejajar dengan partai lain dan memiliki peluang yang sama. Kami optimis dengan program yang tadi. Kalau pesimis, untuk apa jadi peserta pemilu?

Baca juga artikel terkait PARTAI BERKARYA atau tulisan menarik lainnya Reja Hidayat
(tirto.id - Wawancara)

Reporter: Reja Hidayat
Penulis: Reja Hidayat
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight