Miuccia Prada: Daya Tarik Ada pada Pikiran, Bukan Busana

Oleh: Hasya Nindita - 15 Februari 2021
Dibaca Normal 5 menit
Sebelum total di dunia fesyen, Muiccia Prada sempat aktif berpolitik. Tetap jadi feminis dan menjadikan fesyen sebagai senjata.
tirto.id - Meski dunia tengah murung dilanda pandemi, rumah mode premium Prada tetap produktif meluncurkan koleksi busana musim gugur 2021. Pada 17 Januari 2021 lalu, Prada menggelar fashion show secara virtual dan turut meramaikan tren loungewear—jenis pakaian yang dikenakan saat bersantai di rumah . Kali ini, Prada menampilkan sekelompok model pria mengenakan beragam variasi long john.

Long john ialah setelan panjang yang berfungsi sebagai pakaian dalam. Ia biasanya dikenakan sebagai pakaian hangat dengan dilapisi sweater, hoodie, atau mantel. Tren loungewear sendiri mulai mencuat semenjak khalayak lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah akibat pandemi COVID-19. Pergeseran gaya hidup itu memicu peningkatan pembelian loungewear termasuk setelan olahraga, piyama, hingga long john.

Direktur Kreatif Prada Miuccia Prada dan Raf Simons menyebutnya sebagai body piece yang memberikan kehangatan bagi tubuh. Simons menjelaskan kepada Vogue, Prada ingin menampilkan sesuatu yang secara harfiah dekat dengan tubuh dan merupakan representasi dari tubuh. Long john dipilih karena dianggap simbolis untuk mewakili keadaan dan diprediksi menjadi tren mode dalam dunia era pandemi.

“Satu-satunya evolusi pakaian yang tepat untuk musim dingin adalah pakaian rajut yang hangat, nyaman, dan sempurna untuk melapisi tubuh di bawah mantel besar,” kata Editor Fesyen Vogue Steff Yotka.

Pada 2020, saat banyak rumah mode mengalami kerugian hingga gulung tikar, Prada adalah salah satu dari sedikit rumah mode yang tetap eksis dan membukukan keuntungan. Nama di balik kesuksesan itu adalah Miuccia Prada.

Lahir dengan nama Maria Bienchi Prada di Milan pada 10 Mei 1949, dia mewarisi bisnis keluarganya ini sejak 1978. Setelah diadopsi oleh sang bibi pada 1980-an, dia mengubah namanya menjadi Miuccia Prada. Sebelum mewarisi Prada, Miuccia memperoleh gelar sarjana ilmu politik dari Universitas Milan pada 1970 dan mengantongi gelar Ph.D dalam bidang keilmuan yang sama tiga tahun kemudian.

Sebelum menjadi rumah mode raksasa, Prada adalah unit bisnis keluarga yang didirikan oleh Mario Prada—kakek Miuccia—pada 1913. Mario membuka Prada di Galleria Vittoria Emanuele II, Milan, pusat perbelanjaan tertua di Italia yang masih ramai hingga saat ini. Awalnya, Prada dikenal sebagai toko yang menjual koper, tas, hingga aksesoris plesiran untuk warga Milan.



Debut dengan Tas Ransel

Miuccia yang dianugerahi International Designer of the Year 2013 oleh British Fashion Council mengaku tidak pernah berencana untuk berkarir di kancah fesyen. Selain aktif terlibat gerakan politik, Miuccia juga pernah bermimpi menghabiskan hidupnya untuk teater. Dia sempat mendalami pantomim selama lima tahun sebelum kakeknya memutuskan untuk mewariskan Prada kepadanya dan kedua kakaknya, Albert dan Marina.

“Menjadi, sebut saja, feminis sayap kiri dan bekerja di industri fesyen adalah mimpi buruk. Aku membenci ide itu. Aku tidak percaya diri dan merasa bersalah karena melakukan pekerjaan yang sebelumnya bertolak belakang dari gagasan-gagasan di kepalaku,” kata Miuccia Prada kepada Financial Times.

Sebelum merilis lini busana wanita, Miuccia mengembangkan desain untuk aksesori. Pada 1984, dia memperkenalkan salah satu desainnya yang dianggap paling berpengaruh: tas ransel hitam minimalis berbahan nilon pocono.

Ide desain tas ikonik ini datang dari rasa risih Miuccia pada bentuk tas yang marak di pasaran saat itu. Saat itu, para wanita lazim menggunakan tas tangan yang terkesan tradisional dan klasik. Miuccia menilai tas tangan macam itu terlalu lady-like.

Maka Miuccia memutuskan untuk memproduksi tas ransel berbahan nilon pocono. Tas itu didesain lebih praktis dan beberapa tahun kemudian menjelma sebagai it bag dari label Prada.

Perlu dicatat pula, kesuksesan bisnis Prada tidak terlepas dari pengaruh Patrizio Bertelli, suami Miuccia. Pebisnis yang memiliki dua pabrik kulit ini sekarang menjadi manajer bisnis Prada. Mereka bertemu pertama kali pada 1977. Berkat dorongan Bertelli, Miuccia akhirnya berani merilis koleksi busana wanita siap pakai pertamanya.

“Tanpa dia, mungkin aku tidak akan pernah berkecimpung dalam pekerjaan ini sama sekali,” kenang Miuccia seperti dikutip Financial Times.

Koleksi pakaian wanita Miuccia yang rilis perdana pada Februari 1988 menjadi langkah awal Prada memasuki bisnis fesyen. Miuccia tak melupakan identitasnya sebagai feminis dan karena itu dia menjuluki koleksi perdananya sebagai “seragam untuk mereka yang kehilangan haknya”.

Sejak awal, Miuccia ingin menonjolkan pakaian dengan desain dan warna yang berbeda. Maka warna-warna pilihannya cenderung netral, seperti hitam, cokelat, dan abu-abu. Keputusan kreatifnya sering kali membuahkan karya-karya yang dianggap sebagai terobosan dalam dunia mode.

Miuccia juga dikenal karena insting bisnisnya yang tajam. Pada 1993, Miuccia melebarkan sayap bisnisnya dengan membuka label mode kedua, Miu Miu. Diambil dari nama panggilannya di masa kecil, Miu dikhususkan untuk meproduksi pakaian bagi kawula muda yang lebih ekspresif.

Miuccia membawa Prada semakin eksis dan produktif sepanjang dekade 1990-an hingga awal 2000-an. Koleksi pakaian pria, parfum, dan kacamatanya rutin rilis hampir setiap tahun.

Tak hanya itu, Miuccia juga seorang pebisnis yang bernyali. Sebagai misal, tengoklah langkahnya pascatragedi 11 September 2001. Dalam tahun-tahun sulit itu, kebanyakan bisnis busana mewah memperketat pengeluarannya dan pergi dari Manhattan, New York.

Tapi, Miuccia justru membawa Prada membuka butik di New York. Butik yang dibuka pada akhir 2001 itu berlokasi di gedung Guggenheim dan menghabiskan biaya pembangunan hingga US$50 juta.


Menantang Konsep Kemewahan

Beberapa desain Miuccia menjadi ciri khas dari Prada. Salah satunya adalah rancangan rok rapi berbentuk pensil yang membentuk siluet vintage. Miuccia menggunakan bahan nilon untuk rok itu, sebagaimana beberapa desainnya sebelum itu.

Miuccia memang dikenal sebagai desainer yang memperlakukan nilon selayaknya sutra atau kasmir. Itu adalah bentuk penentangannya atas gagasan konservatif tentang kemewahan. Baginya, kemewahan tidak semata ditentukan oleh berapa jumlah kristal yang dijahit pada busana. Kemewahan bisa saja berupa sesuatu yang abstrak seperti ide.

“Prada berani mempertanyakan: apa itu kecantikan? Apa itu selera yang bagus? Selama bertahun-tahun dia terus mempesona karena dia selalu menantang konvensi dan menolak klise,” kata Pemimpin Redaksi Vogue Anna Wintour seperti dikutip Financial Times.

Sebagai desainer, Miuccia Prada selalu mengedepankan kemerdekaan pikiran dan selera. Selera fesyennya sudah menonjol bahkan sebelum merilis lini busana. Pada 1963, saat berumur 14 tahun, dia adalah siswi pertama yang datang ke sekolah dengan setelan hippy.

“Aku menjadi konservatif karena didikan kedua orang tuaku. Namun, ketika berumur 14 tahun, aku ingin menjadi berbeda. Aku menjadi orang pertama yang muncul dengan ide itu. Hingga kini, aku masih digerakkan oleh obsesi menjadi berbeda itu. Aku melakukannya secara konstan sepanjang hidupku,” kata Prada kepada The Guardian.

Miuccia yang lahir di keluarga burjois memilih aktif sebagai anggota Partai Komunis Italia (PCI) pada 1970-an. Di Italia, era tersebut dikenal sebagai Years of Lead, sebuah periode kekacauan sosial dan politik yang ditandai dengan sejumlah insiden bentrokan antara sayap kanan dan sayap kiri.

Menurut Miuccia, komunisme sangatlah umum pada masa itu. Setiap anak muda cerdas pun lazim bergabung dengan sayap kiri. Jadi, dia menganggap pilihannya bergabung dengan PCI sebenarnya tidaklah istimewa untuk ukuran masa itu.

Sebagai anggota PCI, Miuccia ikut terlibat dalam gerakan memperjuangkan hak-hak wanita. Miuccia kerap mengikuti demonstrasi dengan mengenakan rok, sementara rekan-rekannya memakai jeans dan sepatu kets.


Infografik Miuccia Prada
Infografik Miuccia Prada. tirto.id/Quita



Fesyen dan Feminisme

Karena keterlibatannya yang cukup intens itu, dia mengaku sempat mengalami konflik batin kala memutuskan untuk meneruskan bisnis keluarga dan masuk dunia fesyen. Namun, rasa sukanya pada fesyen pada akhirnya menenangkan dirinya.

“Mungkin, rasa sukaku pada fesyen yang berhasil memenangkan perasaan negatif yang muncul ketika melakukan pekerjaan ini (fesyen). Aku sangat suka mendadani diri sendiri. Aku selalu ingin terlihat berbeda. Semuanya bermula dari hal personal sehingga kupikir aku melakukannya karena begitu menyukai fesyen. Dan rasa sukaku mengalahkan teori-teori pertentangan akan industri ini,” kata Miuccia sebagaimana dikutip The CUT.

Sejak masuk total dalam dunia fesyen, Muiccia tidak lagi berkecimpung dalam politik. Dia juga memilih berhati-hati untuk tidak membuat penyataan politik yang terbuka pada busananya.

Tapi, dia tetaplah seorang feminis dan fesyen adalah senjata pilihannya. Miuccia kerap membicarakan feminisme di belakang panggung. Dia pun dikenal tegas menyuarakan keinginan untuk mengubah dunia, khususnya untuk kaum wanita.

“Kami ada di sini. Kami cerdas, hebat, dan memiliki segalanya. Lalu, mengapa kita (wanita dan pria) tidak setara?” kata peraih International Designer Award 2004 dari CFDA itu kepada Vogue pada 2020.

Pandangannya sebagai seorang feminis ikut memengaruhi pendekatan desain Miuccia. Desain busananya praktis untuk dikenakan wanita modern.

“Saya mencoba untuk menjadi sepolitis mungkin melalui pekerjaanku, tapi tidak secara terang-terangan. Menurut saya, menggunakan fesyen untuk politik harus dilakukan secara halus,” kata Miuccia kepada Vogue.

Desainer yang pernah bertengger di urutan ke-79 dalam daftar The Most Powerful Women 2017 versi Forbes ini juga membantah pandangan tentang power dressing. Miuccia menegaskan, pakaian tidaklah menjelaskan seorang wanita. Seorang wanita bebas bernampilan sebagaimana yang dikehendakinya. Wanita tidak seharusnya diatur oleh cara berpakaian tertentu.

“Daya tarik itu ada pada pikiran, bukan pada apa yang kamu kenakan. Jadi, menurutku, pakaian hanyalah sesuatu yang kamu pakai. Tapi, itu tidak berarti pakaian dapat mengubah seseorang,” katanya dalam wawancaranya dengan Vogue.

Baca juga artikel terkait FESYEN atau tulisan menarik lainnya Hasya Nindita
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Hasya Nindita
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight