15 Juli 1997

Misteri Pembunuhan Gianni Versace, Sang Desainer Legendaris

Infografik Mozaik Pembunuhan Versace
Ilustrasi Mozaik Gianni Versace. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Joan Aurelia - 15 Juli 2019
Dibaca Normal 3 menit
Pembunuhan desainer Gianni Versace hingga kini masih jadi misteri. Siapa Andrew Cunanan, orang yang disebut sebagai pembunuhnya?
tirto.id - Gianni Versace tengah membungkuk untuk membuka pintu gerbang rumahnya. Sebelum pintu itu terbuka, Versace telah tergeletak bersimbah darah akibat tembakan jarak dekat yang dilakukan oleh Andrew Cunanan. Kejadian itu terjadi pada 15 Juli 1997, tepat hari ini 22 tahun yang lalu, di pagi hari saat Gianni hendak masuk ke rumahnya seusai membeli beberapa media cetak.

Buku berjudul Vulgar Favors: Andrew Cunanan, Gianni Versace, and the Largest Failed Manhunt in U.S. History menulis bahwa Cunanan menembaknya sebanyak dua kali. Tembakan pertama mengenai bagian otak Gianni, membuatnya terbaring di atas aspal dengan mata terbuka. Tembakan kedua mengenai area wajah.

Seorang tetangga menyaksikan kejadian itu. Antonio D’Amico, kekasih Versace, segera bergerak dari tempat duduknya setelah ia mendengar suara tembakan. Cunanan berjalan santai, meninggalkan korbannya. Saksi mata tak bisa berkata apa-apa.

Gambaran kejadian itu ditayangkan kembali pada pertengahan bulan Januari 2018 di stasiun televisi FX. Produser Eksekutif Ryan Murphy mengangkat kisah pembunuhan desainer Gianni Versace, pemilik rumah mode Versace menjadi mini seri.

Tayangan tersebut diberi judul "The Assasination of Gianni Versace." Sejumlah media seperti New York Times, Vanity Fair, Bustle, dan Highsnobeity memberitakannya. Sebagian menulis ulasannya.

Selain media, D'Amico turut memberikan tanggapan. Ia berkomentar bahwa dirinya tidak pernah memegang jasad Gianni dalam pelukannya, seperti ditayangkan dalam serial tersebut. Setelah kejadian pembunuhan, Antonio tidak banyak muncul di media massa untuk berkomentar. Ia mengaku dirinya dilanda depresi lantaran ditinggal oleh kekasih yang telah bersamanya selama 15 tahun.

"Saya merasa darah saya membeku. Saya melihat Gianni berlumuran darah. Saat itu semua terasa gelap, saya berbalik badan dan tidak melihatnya lagi. Saya merasa hidup dalam sebuah mimpi buruk," kata D'Amico kepada Time.


Serial ini berangkat dari kisah yang tertulis dalam buku Vulgar Favors: Andrew Cunanan, Gianni Versace, and the Largest Failed Manhunt in U.S. History. Penulisnya, Maureen Orth, mewawancara 400 orang untuk dijadikan narasumber. Banyaknya narasumber tersebut nyatanya tetap tidak mampu memberi penjelasan pasti mengapa Versace dibunuh.

Pembunuhan terjadi satu hari setelah Versace menggelar peragaan busana. Saat itu Versace tengah bersemangat untuk membesarkan rumah mode ini. Di usia 50 tahun, ia ingin dirinya bisa menjadi desainer Italia pertama yang bisa masuk dalam daftar bursa saham di Amerika Serikat dan Milan.

Saat itu, rumah mode Versace tengah menempati titik puncak keuntungan. Namun, keinginan itu sirna di tangan pemuda 27 tahun yang pernah melakukan pembunuhan berantai. Sang desainer ialah korban kelima Andrew.

Kisah pertemuan pertama mereka hadir dalam berbagai versi. Satu hal yang jadi benang merah, tatap muka berlangsung di San Fransisco pada tahun 1990 di sebuah klub malam. Orth berkata bahwa Cunanan diundang ke acara pesta tersebut untuk bertemu Versace.

"Saya bertemu dengan lima orang berbeda yang melihat mereka berbincang malam itu. Saya pun bicara dengan salah satu kawan Andrew yang bercerita bahwa malam itu mereka sempat bepergian bersama dengan kendaraan milik Gianni," tutur Orth.

Vanity Fair menulis bahwa Cunanan sempat berkata bahwa Versace mengenalnya. Namun, di malam pertemuan itu, Versace melontarkan pertanyaan yang dianggap sebagai basa-basi saat hendak memulai pembicaraan dengan orang baru dikenal. Mereka dianggap tidak memiliki hubungan dekat.



Sebuah tayangan berjudul "Dying Famous" yang ditayangkan di stasiun televisi ABC pernah membahas tentang pembunuhan ini.

"Versace memiliki apa yang Andrew inginkan kekuasaan, kekayaan, keglamoran, dan popularitas," kata Donna Brant, mantan redaktur pelaksana America’s Most Wanted. Candice Delong, mantan anggota FBI Criminal Profiler dan pembawa acara ID’s Deadly Women, menyatakan "Andrew menginginkan bahwa dunia tahu bahwa dirinya yang telah membunuh Gianni. Ia ingin berkata ‘Lihat saya! Saya bisa mendekati siapa saja'."

Vulgar Favours menuliskan latar belakang Cunanan dengan lengkap. Ia pria berdarah campuran Italia dan Filipina, bungsu dari empat bersaudara yang menjadi anak kesayangan dalam keluarga. Di sekolah, ia adalah anak dengan prestasi gemilang. IQ-nya 147. Dalam keluarga, Mary Anne, sang ibu, berkata bahwa Cunanan ialah konsultan pernikahannya. Hal ini membuatnya bertahan dalam situasi rumah tangga yang tidak harmonis.

Ayahnya, Pete Cunanan, pernah bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang ekonomi. Ronald Johnston, mantan rekan kerja Pete berkata bahwa sang ayah senantiasa menerapkan gaya hidup kelas atas, mulai dari busana, kendaraan, dan rumah.

Ia memanjakan anaknya. Sejak lahir, ialah yang merawat Andrew. Mary Anne sempat mengalami depresi pasca-melahirkan, sampai harus dirawat di rumah sakit. Karier Pete Cunanan tidak berlangsung mulus. Ia dituduh pernah melarikan uang kliennya.


"Andrew membiarkan dirinya tumbuh dalam keserakahan, niat jahat, dan dunia yang menilai kebahagiaan berdasarkan usia muda, ketampanan, dan uang. Ia punya kebiasaan menonton film porno yang memuat kekerasan, mengonsumsi metamfetamin, kokain, dan jenis obat terlarang lainnya," tulis Orth dalam bukunya.

Ia selalu berniat menjalin keintiman dengan pria yang jauh lebih tua dan bergelimang harta. Ketidakpuasan dalam sebuah hubungan membuatnya menjadikan pasangannya sebagai target pembunuhan. "Ia selalu menginginkan lebih banyak narkoba, lebih banyak seks, dan lebih banyak wine."

Andrew Cunanan ditemukan tewas bunuh diri sembilan hari setelah kematian Versace. Kedua orangtuanya tidak terima anaknya dituduh membunuh. Menurut mereka, seorang mafia telah meminta Cunanan melakukan pembunuhan tersebut.

Sepeninggal Gianni, nasib rumah mode Versace ditentukan oleh Donatella, adiknya. Seperti Antonio D’Amico, ia pun merasakan kepedihan mendalam. Beberapa tahun setelah Gianni meninggal, Donatella masih kerap mempertanyakan apakah rancangan busana dan aksesori yang dibuatnya bisa membuat sang kakak bangga.

Kepada Time, ia mengaku bahwa sesaat sebelum show ia mengambil waktu untuk diam dan mengenang sang kakak sambil berharap agar apa yang dibuatnya tetap sesuai dengan filosofi rumah mode Versace.

Dalam serial televisi, Donatella diperankan oleh aktris Penelope Cruz, sementara Gianni diperankan oleh Edgar Ramirez. "Ini adalah sebuah cerita yang juga mengisahkan tentang homofobia di zaman tersebut," katanya dalam The Tonight Show Starring Jimmy Fallon.


==========


Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 23 Januari 2018 dengan judul "Pembunuhan Gianni Versace." Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Baca juga artikel terkait VERSACE atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Film)


Penulis: Joan Aurelia
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight