Menuju konten utama

Misteri Pecah Kongsi Inter-Mancini

Inter Milan dan Roberto Mancini tiba-tiba pecah kongsi saat kompetisi tinggal menghitung hari. Nerazzurri mendepak salah satu pelatih terbaiknya itu tanpa basa-basi. Hingga kini, apa yang sebenarnya terjadi antara Inter dan Mancini masih menjadi misteri.

Misteri Pecah Kongsi Inter-Mancini
Roberto Mancini [foto/shutterstock]

tirto.id - Usai sudah masa bulan madu kedua Roberto Mancini bersama Inter Milan. La Beneamata menuntaskan kebersamaan dengan pelatihnya itu lebih cepat. Pemutusan kontrak Don Mancio pun terkesan mendadak mengingat Liga Italia Serie A musim 2016/2017 akan segera digulirkan.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa Inter mengambil risiko dengan mendepak pelatih jelang musim baru? Apa yang sebenarnya terjadi antara Mancini dengan jajaran petinggi klub yang bermarkas di Giuseppe Meazza itu? Jika bukan karena alasan yang sangat prinsip, hal seperti ini tentunya mustahil terjadi.

Ada Apa dengan Mancini?

Belum ada keterangan resmi yang jelas terkait alasan ditendangnya Mancini, baik dari pihak klub maupun dari sang pelatih sendiri. Namun, spekulasi yang beredar menyebutkan bahwa Mancini terlibat polemik dengan pemilik baru Inter Milan, taipan asal Cina pemilik Suning Holdings Group, Zhang Jindong.

Mancini dikabarkan kecewa karena permintaannya terkait pembelian pemain tidak disetujui oleh sang bos meskipun pergerakan Inter di bursa transfer terbilang agresif. Sejauh ini, Inter adalah satu dari sedikit klub Italia yang telah menggelontorkan puluhan juta euro selain Juventus dan AS Roma.

Nerazzurri sudah merekrut beberapa pemain baru yang cukup menjanjikan. Salah satunya adalah Cristian Ansaldi, bek sayap Argentina yang diboyong dari Genoa dengan harga lebih dari 5 juta euro atau sekitar 73 miliar rupiah.

Yang paling signifikan tentunya didatangkannya Antonio Candreva dari Lazio. Inter dikabarkan harus menebus gelandang tim nasional Italia itu dengan mahar yang total nominalnya bisa menembus 25 juta euro.

La Beneamata juga telah menggaet dua pemain potensial secara cuma-cuma, yakni gelandang Argentina, Ever Banega, dari Sevilla, serta anggota skuad Turki di Piala Eropa 2016, Caner Erkin.

Bukan tidak mungkin duet Zhang Jindong dan Erick Thohir akan terus mendaratkan pemain baru lagi mengingat bursa transfer masih dibuka. Lagipula, Inter tentunya tidak ingin kalah bersaing dengan AS Roma, Napoli, dan terlebih lagi dengan seteru paling sengit, Juventus.

Skuad Inter saat ini sebenarnya termasuk mewah untuk ukuran klub Italia yang memang tidak segemerlap dulu. Di situ bercokol nama-nama top seperti Samir Handanovic, Felipe Melo, Geoffrey Kondogbia, Rodrigo Palacio, Stevan Jovetic, Davide Santon, Eder, Jeison Murillo, Joao Miranda, Ivan Perisic, Yuto Nagatomo, dan tentu saja sang kapten, Mauro Icardi.

Dengan komposisi pemain yang cukup mumpuni, ditambah perekrutan sejumlah punggawa anyar, pastinya bakal sulit bagi Mancini untuk menemukan alasan meninggalkan Inter jelang dimulainya musim baru jika tidak terjadi sesuatu yang di luar kebiasaan.

Ditendangnya Mancini keluar dari Inter juga disebut-sebut karena rentetan hasil buruk yang dituai Icardi dan kawan-kawan di sesi pra musim. Dari 7 laga ujicoba sejak awal Juni 2016 lalu, tim besutan Mancini nihil kemenangan.

Bermula dari skor sama kuat 1-1 melawan klub Austria, Wattens, Inter berturut-turut memperoleh hasil minor: kalah 1-2 dari CSKA Sofia (Bulgaria) dan Real Salt Lake (Amerika Serikat), kemudian ditekuk Paris Saint Germain (Perancis) 1-3.

Sempat ditahan imbang Estudiantes (Argentina) 1-1, dua hasil laga pra musim berikutnya berakhir memalukan. Inter digasak Bayern Munchen (Jerman) dengan skor 1-4, lalu dipermak Tottenham Hotspur (Inggris) 1-6. Tiga hari setelah kekalahan dari Spurs itu, Mancini sudah tidak lagi menjadi pelatih Inter.

Titik Hampa Sang Juara

Mancini adalah juara sejati. Sedari masih merumput hingga jadi tukang besut, pria yang mengawali karier profesionalnya di Bologna ini sering mengangkat trofi. Ia turut meraih juara Serie A alias Scudetto edisi 1990/1991 bersama Sampdoria, klub yang diperkuatnya sejak usia 17 tahun selama 15 musim.

Di Sampdoria pula, Mancini merengkuh sederet prestasi, termasuk Coppa Italia sebanyak 4 kali (1984/1985, 1987/1988, 1988/1989, dan 1993/1994), serta masing-masing satu kali Piala Super Italia (1991) dan Piala Winners UEFA (1989/1990).

Kegemilangannya berlanjut saat hijrah ke Lazio pada 1997. Di klub ibukota itu, Mancini turut mempersembahkan dua gelar Coppa Italia (1997/1998), Piala Super Italia (1998), Piala Winners UEFA (1998/1999), Piala Super UEFA (1999), dan Scudetto Serie A (1999/2000).

Setelah gantung sepatu, kesuksesan Mancini pantang surut. Lelaki asal Ancona, Italia, ini langsung membawa klub pertama yang dibesutnya, Fiorentina, menggamit kampiun Coppa Italia musim 2000/2001. Trofi di ajang yang sama juga diraihnya saat menukangi Lazio untuk musim 2003/2004.

Mancini pula yang mengembalikan Inter ke masa keemasan. Datang pertamakali pada 2004 menggantikan Alberto Zaccheroni, tak butuh waktu lama bagi Don Mancio untuk menjadikan Nerazzurri sebagai klub terkuat di negeri pizza hingga beberapa tahun ke depan.

Tiga gelar Scudetto secara beruntun direngkuh pasukan biru-hitam di bawah kendali Mancini, masing-masing pada musim 2005/2006, 2006/2007, dan 2007/2008, yang mana salah satunya didapatkan gratis karena Juventus tersangkut skandal Calciopoli.

Prestasi Mancini di era pertamanya bersama Inter dilengkapi dengan hadirnya masing-masing dua trofi Coppa Italia (2004/2005 dan 2005/2006), serta Piala Super Italia di dua musim yang sama. Tak cuma itu, Mancini dan Inter juga menorehkan berbagai rekor dalam 4 tahun kebersamaan mereka.

Mancini terpaksa hengkang karena Inter selalu melempem di Liga Champions. Pria Italia ini pun menyeberang ke klub tajir Inggris, Manchester City. Selama 4 musim di City, ia mempersembahkan gelar juara Liga Utama Inggris alias Premier League (2011/2012), FA Cup (2010/2011), dan FA Community Shield (2012).

Sempat merantau ke Turki untuk membesut Galatasaray musim 2013/2014 dengan raihan trofi Turkish Cup, Mancini akhirnya dipanggil pulang pada 2014 oleh bos anyar Inter Milan asal Indonesia, Erick Thohir.

Selama dipimpin Thohir, hubungan Mancini dengan klub baik-baik saja. Dijualnya mayoritas saham Inter kepada Suning Holdings Group boleh jadi telah memercikkan bibit-bibit sengketa antara pelatih dengan si pemilik baru, Zhang Jindong, yang pada akhirnya mengantarkan Mancini ke pintu keluar.

Jejak emas Mancini selama menangani Inter dalam dua periode berbeda telah terekam jelas oleh sejarah. Namun, kariernya ternyata dipungkasi dalam situasi yang tak lazim dan masih berselimut misteri. Sang juara kini ditempatkan pada titik hampa setelah rentetan kejayaan yang ditorehkan Mancini untuk La Beneamata.

Baca juga artikel terkait SEPAKBOLA DUNIA atau tulisan lainnya dari Iswara N Raditya

tirto.id - Olahraga
Reporter: Iswara N Raditya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti