Minimnya Serikat Pekerja Media Dinilai karena Takut Pada Perusahaan

Oleh: Riyan Setiawan - 1 Mei 2019
Federasi Serikat Pekerja Media Independen menyatakan, penyebab sedikitnya jumlah serikat pekerja media di Jakarta karena adanya ketakutan terhadap perusahaan dan dugaan union busting.
tirto.id - Serikat Pekerja Lintas Media (SPLM) Jakarta dan Federasi Serikat Pekerja Media Independen (FSPMI) melihat penyebab sedikitnya jumlah serikat pekerja media di Jakarta memang beragam.

Berdasarkan penelitian dari SPLM Jakarta, hal tersebut karena ketakutan karyawan terhadap perusahaan dan dugaan union busting yang tidak ditindaklanjuti oleh Dinas Tenaga Kerja. Sehingga, karyawan tidak berani membuat Serikat Pekerja Media di Perusahaannya.

Hal tersebut disampaikan Ketua FSPM Independen Sasmito Madrim ketika melakukan orasi di Kantor Dewan Pers, Jakarta Pusat pada saat peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day.

"Padahal keberadaan serikat pekerja sangat penting di tengah disrupsi digital yang berdampak besar terhadap pekerja media. Mulai dari meningkatnya beban kerja, hingga pemutusan hubungan kerja" kata Sasmito di Jakarta, Rabu (1/5/2019).

Oleh karena itu, lanjutnya, SPLM Jakarta dan FSPMI mendorong Dewan Pers untuk menjadikan Serikat Pekerja sebagai syarat utama verifikasi perusahaan media.

"Mendesak Dinas Tenaga Kerja atau Kementerian Tenaga Kerja menindaklanjuti pemberangusan serikat pekerja media agar tidak membuat takut pekerja media yang ingin mendirikan serikat," ucapnya.

Kemudian, SPLM Jakarta dan FSPMI juga mengajak perusahaan media untuk tidak alergi terhadap keberadaan serikat pekerja media. Sasmito menuturkan, serikat pekerja media merupakan mitra yang baik dalam memajukan perusahaan di tengah guncangan digital.

"Mengajak pekerja media untuk mendirikan serikat pekerja media di perusahaan masing-masing tanpa harus menunggu di PHK," pungkasnya.


Baca juga artikel terkait HARI BURUH atau tulisan menarik lainnya Riyan Setiawan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Dewi Adhitya S. Koesno