Minimnya Pendidikan Seksual Tingkatkan Angka Pernikahan Usia Anak

Ilustrasi organ reproduksi wanita. Getty Images/iSockphoto
Oleh: Aditya Widya Putri - 18 Oktober 2019
Dibaca Normal 3 menit
Anak-anak yang memiliki informasi mencukupi soal seksualitas justru terhindar dari perilaku berisiko ketimbang anak yang minim edukasi kesehatan reproduksi.
tirto.id - Anak-anak yang tidak tereduksi baik soal seks justru cenderung melakukan perilaku seks berisiko.

Ini adalah kisah seorang anak perempuan dari desa kecil, Ngasinan, Rembang, Jawa Tengah yang berhasil memperjuangkan prinsipnya untuk tidak menikah muda. Namanya Istiqomah. Seperti kebanyakan remaja seusianya, ia punya impian meraih gelar sarjana, memberdayakan diri, mencari pengalaman, sebelum akhirnya benar-benar menemukan jodoh sesuai kriterianya.

Tapi bedanya, untuk meraih kemewahan itu, Istiqomah harus lebih dulu bertarung melawan ego sang bapak. Beberapa tahun lalu, demi menjaga nama baik keluarga, bapaknya, seorang ketua RT yang disegani di desa hendak menikahkan Istiqomah sebelum ia menginjak usia 17 tahun.

“Supaya tidak malu diomongin tetangga, karena di sini, umur kurang dari 17 tahun sudah umum buat nikah,” ceritanya.

Sang bapak memaksa Istiqomah berhenti sekolah bahkan sudah mengeluarkan ia demi mempersiapkan pernikahan. Tapi gadis itu teguh menolak, dibantu sang ibu, Naimunah, mereka berjuang memberi pemahaman bapaknya. Mendapat tentangan dari istri dan anaknya, sang bapak sempat murka dan membanting segala jenis perabotan dapur.

Berbeda dengan suaminya, Naimunah memiliki pengetahuan cukup soal kesehatan reproduksi. Ia rutin mengikuti diskusi komunitas soal kesehatan reproduksi yang diadakan sebuah LSM di desa. Perempuan itu tak mau masa depan anak gadisnya tergadai hanya karena mengikuti adat. Ia tak mau hak anaknya memperoleh pendidikan dan kehidupan layak jadi terenggut karena harus mengurus rumah tangga.


Singkat cerita, Naimunah berhasil membujuk sang suami untuk tidak menikahkan anaknya di usia muda. Istiqomah pun bisa kembali bersekolah meski harus pindah ke pesantren. Kisahnya kemudian diceritakan kembali dalam buku laporan Rutgers WPF Indonesia (2017-2018), lembaga yang aktif menangani masalah seksualitas dan kesehatan reproduksi.

“Ya di Rembang ini kehamilan remaja cukup tinggi dan alami, masalahnya kompleks,” papar Nur Jannah Kordinator Program Rutgers WPF Indonesia, dalam sebuah Konferensi Internasional Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (ICIFPRH), beberapa waktu lalu.

Rembang termasuk dalam daerah yang memiliki angka pernikahan anak tinggi di Indonesia. Di tahun 2016 saja, terdapat 54 kasus pernikahan anak terjadi di kota ini. Remaja perempuan di sana menanggung beban yang lebih pilu karena umum dinikahkan pada umur di bawah 16 tahun, berbeda tiga tahun lebih muda dibanding remaja laki-laki.

Selain karena kultur adat, banyak orangtua di sana belum memiliki pengetahuan cukup soal isu kesehatan reproduksi. Mereka berpikir, dibanding anaknya berpacaran dan berzina, maka lebih baik dinikahkan saja.


Tabu Edukasi Seksual dari Orangtua

Banyak orang berpikir, pernikahan anak terjadi karena alasan ekonomi. Tapi ternyata ada banyak faktor lain yang berpengaruh. Kasus Istiqomah jelas tidak disebabkan oleh masalah ekonomi, melainkan karena bapaknya orang terpandang di desa. Keluarga bahkan mampu membiayai Istiqomah berkuliah.

Karena kungkungan norma, kasus pernikahan anak di Indonesia menempati urutan ketujuh tertinggi di dunia versi UNICEF. Satu dari tujuh anak sudah menikah sebelum umur 18 tahun (2016). Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2017 (hlm. 43) menjabarkan lebih detail angka pernikahan anak di Indonesia. Dilihat dari usia kawin pertama, ada sekitar 37,91 persen anak usia kurang dari 16 tahun yang telah menikah.

Sebanyak 39,17 persen setara 2 dari 5 anak perempuan usia 10-17 tahun menikah sebelum usia 15 tahun. Ada sekitar 37,91 persen dari mereka yang kawin di usia 16 tahun, dan 22,92 persen kawin di usia 17 tahun. Data tambahan dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 (hlm. 18), menyebut 33.5 persen remaja perempuan usia 15-19 tahun sudah hamil dan mengalami risiko kurang energi kronis.

“Faktor pemicu pernikahan anak ada banyak, mulai soal konstruksi seksualitas, pendidikan rendah, harga diri dan nama baik keluarga, hierarki patrilineal, serta hukum agama,” papar Jannah.



Edukasi soal kesehatan reproduksi mengambil peranan penting dalam mencegah pernikahan anak. Ketika anak memiliki pengetahuan cukup soal kesehatan reproduksi, mereka akan lebih bertanggung jawab dan waspada terhadap kesehatan seksualnya. Seperti yang dialami Istiqomah, karena mendapat pengetahuan cukup dari ibunya, ia berani menentang tradisi menikah muda di desanya.

Dengan pengetahuan memadai soal kesehatan reproduksi, mereka jadi paham, bahwa pernikahan usia anak menyebabkan kehamilan dan melahirkan dini yang berhubungan dengan angka kematian tinggi baik pada ibu maupun anak. Jika pun ibu dan anak sehat, ada kemungkinan perkembangan anak tidak maksimal karena terbatasnya pengetahuan ibu dalam membesarkan anak.

“Sayangnya banyak orangtua menganggap isu kesehatan reproduksi bisa diselesaikan di sekolah,” ungkap Dinar Pandan Sari, Demand Generation Officer di Johns Hopkins Center for Communication Program (JHCCP), organisasi non profit yang bergerak di bidang kesehatan.

Beberapa alasan orangtua jarang membicarakan soal kesehatan reproduksi kepada anak karena menganggap hal tersebut tak pantas atau tabu dibicarakan. Ada juga yang tidak tahu atau bingung cara menyampaikannya. Sementara yang lain merasa enggan lantaran takut mendapat pertanyaan aneh atau justru dianggap mengajarkan 'seks bebas'.


Padahal studi dalam Jurnal Pendidikan Biologi Indonesia (2017) mengungkapkan menyembunyikan pendidikan seks dari anak justru membuat mereka lebih rentan, karena anak dan remaja sedang berada dalam fase mencari dan memiliki rasa penasaran tinggi. Penelitian lain yang dimuat dalam African Health Science (2008) mengatakan anak yang diberi edukasi kesehatan reproduksi melaporkan perilaku seksual kurang berisiko, dibanding rekan mereka yang tidak diberi edukasi.

Dari penelitian tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa edukasi seks yang benar justru mencegah pernikahan anak. Dengan informasi memadai, anak jadi terhindar dari perilaku berisiko dan kehamilan di usia muda. Apalagi, banyak juga anak-anak yang terpaksa dinikahkan karena kurang informasi soal seks sehingga melakukan hubungan seksual tidak aman dan hamil.

Pernikahan dini bisa menghapus kesempatan anak untuk melanjutkan pendidikan karena tanggung jawab merawat anak atau malu terhadap status pernikahannya. Apalagi, banyak sekolahan menolak siswa yang sudah pernah menikah. Jika sudah begitu, anaklah yang akan menuai dampak jangka panjang berupa hilangnya peluang mendapat pekerjaan dan hidup yang layak.

Baca juga artikel terkait PENDIDIKAN SEKSUAL atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Windu Jusuf
DarkLight