Menuju konten utama

Mimpi Renault Meraih Pasar Segmen MPV di Indonesia

Masuk ke segmen kendaraan paling ramai di Indonesia, mungkinkah MPV Renault ambil porsi pasar besar?

Mimpi Renault Meraih Pasar Segmen MPV di Indonesia
PT Maxindo Renault Indonesia (MRI) selaku APM Renault di Indonesia resmi membuka selubung Triber. Kemunculan MPV baru ini menandai komitmen Renault dalam menjawab kebutuhan konsumen sekaligus jadi bukti keseriusan berbisnis di Indonesia. tirto.id/Dio Dananjaya

tirto.id - Jenama mobil asal Perancis, Renault, bukanlah nama baru di industri otomotif Tanah Air. Sejak awal 2000-an, Renault telah meramaikan pasar kendaraan dan mengalami berbagai pasang surut selama berkiprah di Indonesia.

Kerja sama dengan Indomobil Group jadi pintu masuk Renault ke Tanah Air. Lewat jalur ini pula Renault mengalami berbagai pembaruan dalam beberapa tahun terakhir. Dilansir dari Antara, Presiden dan CEO Renault kala itu, Carlos Ghosn, telah melakukan kesepakatan untuk memasarkan beberapa mobil seperti Duster, Koleos, dan Megane RS.

Selain memasarkan mobil dalam bentuk completely built up (CBU), salah satu di antara model Renault juga berstatus completely knocked down (CKD), yakni SUV Duster. Model tersebut dirakit oleh fasilitas milik Indomobil di kawasan Pulogadung, sebelah timur Jakarta.

Ghosn mengatakan kerja sama dengan perusahaan otomotif lokal diharapkan menjadi cara untuk memaksimalkan potensi pasar Indonesia dengan memenuhi kebutuhan dalam negeri. "Selain tiga jenis itu, akan ada jenis lainnya yang dilakukan secara bertahap. Saya memiliki partner yang kuat dan rencana yang kuat," kata dia.

Presiden Direktur Indomobil Group, Jusak Kertowidjojo, menyebutkan sejak 2001 pihaknya telah bertanggung jawab terhadap layanan purnajual Renault. Dengan peningkatan kerjasama pada 2013, menurut Jusak, akan lebih mudah bagi pihaknya untuk memasarkan Renault di Indonesia.

"Ini karena Renault sudah punya aliansi terlebih dahulu dengan Nissan, jadi kepercayaan masyarakat sudah ada," ujar Jusak, masih dari Antara.

Namun, rencana hanya tinggal rencana. Sejak kerja sama itu diperbarui, penjualan Renault tak kunjung mengalami peningkatan berarti. Dari 2013 hingga 2018, tren penjualan Renault naik-turun. Pabrikan ini seperti belum mendapat formula yang pas dalam memasarkan produknya.

Menilik data wholesales Gaikindo, penjualan merek Perancis paling banyak terjadi pada 2017 yang mencapai 559 unit. Selebihnya, capaian Renault lebih sering berada di bawah 300 unit sebulan.

Untuk diketahui, kala itu Renault disokong model SUV seperti Duster dan New Koleos yang meraih lebih dari 50 persen dari total penjualan. Di samping itu, ada pula Renault Kwid yang dari segi harga masuk dalam kelas LCGC, serta Megane RS salah satu hatchback ternama asal Perancis yang mengincar segmen hobi.

Namun, semua raihan itu seperti belum cukup bagi Renault, hingga akhirnya kerja sama dengan Indomobil Group putus pada awal 2019.

Modal MPV Murah

Selepas dari Indomobil Group, Maxindo Renault Indonesia jadi mitra baru untuk memasarkan mobil-mobil Renault di Tanah Air. Renault langsung bergerak agresif dengan memegang hak impor, memasarkan, mendistribusikan dan mengadakan layanan purnajual.

Paling awal, Renault akan memasarkan kendaraan tujuh penumpang, model mobil favorit di Indonesia. Pabrikan Perancis ini mulai menggarap segmen MPV atau lebih tepatnya LCGC 7-seater setelah mendapat porsi di segmen SUV lewat Duster dan New Koleos. Bisa dibilang Renault mulai melebarkan sayap.

Renault langsung memboyong produk terbaru mereka yang baru meluncur di India pada Juni lalu ke sini: Renault Triber. Model andalan Renault ini diperkirakan bakal kompetitif di Indonesia, selain model-model SUV yang sudah dipasarkan lebih dulu.

Davy J. Tuilan, Chief Operating Officer PT Maxindo Renault Indonesia (MRI), mengatakan bahwa meluncurnya Triber merupakan pembuktian Renault sebagai produsen mobil ternama di dunia. "Kami sangat optimis bahwa Triber bisa membuktikan, bahwa mobil yang dibangun di India dengan supervisi Renault yang sudah berpengalaman 120 tahun membuat mobil, itu hasilnya mobil yang luar biasa," ucapnya di sela-sela peluncuran Renault Triber, Jumat (12/7).

Sebagai catatan, penjualan mobil produksi India di Indonesia kerap kali tak berlangsung lama. Ada saja masalah yang sering ditemui oleh pengguna di tengah-tengah kepemilikan. Tak heran mobil tersebut biasanya kurang diminati di Indonesia.

Renault berusaha menepis anggapan tersebut lewat Triber. Davy mengatakan pihaknya yang menjadi taruhan sampai kapan Renault akan bertahan. Dengan latar belakang pernah menjual mobil India dari merek lain, ia mengisyaratkan punya modal baik dalam memasarkan Renault.

"Saya tahu betul kualitas mobil India seperti apa, semua kegiatan marketing kami harus diramu sehingga mobil ini sesegera mungkin keluar di jalanan. Hal ini memang butuh beberapa faktor, makanya perlu APM berpengalaman untuk meluncurkan Renault Triber," terangnya.

PT MRI pun yakin masyarakat bisa menerima merek Renault maupun mobil buatan India lebih baik lagi dibanding sebelumnya. Terlebih karena potensi pasar otomotif Indonesia yang masih terbuka lebar. "Market kalau ditotal sebulan ada 50.000 unit. Enggak usah muluk-muluk, kami ambil 5 persen, sebulan bisa 2.500 unit. Setahun berapa tinggal dihitung saja menurut kami begitu," tambah Davy.

Di sisi lain, Toyota, selaku pionir di kelas LCGC 7-seater, tidak merasa terancam dengan kehadiran Triber. Direktur Marketing PT Toyota Astra Motor Anton Jimmi menganggap kehadiran produk baru di segmen ini akan berdampak baik pada penjualan kendaraan.

"Bagi kami peluncuran produk baru itu baik untuk menstimulasi pasar sebenarnya, memang satu sisi ada kompetisi yang dihadapi. Tapi itu juga menstimulasi pasar," katanya saat ditemui Tirto di sela-sela konferensi pers yang digelar Toyota (9/7).

Rencana CKD dan Mesin Tiga Silinder

MPV Triber yang jadi senjata andalan Renault ke depan juga sudah masuk rencana strategis untuk diproduksi di dalam negeri. Selain dapat menekan harganya, Renault memperkirakan Triber yang dibuat secara lokal bisa meningkatkan nilai jual mereka mereka di Indonesia.

Davy mengatakan, Renault diperkirakan dapat memanfaatkan fasilitas milik aliansi yang sudah berkembang di Indonesia, seperti kepunyaan Mitsubishi ataupun Nissan. Meski begitu, ia belum mau mengungkap seperti apa detil rencana tersebut.

"Belum bisa share, yang pasti kami sudah berbicara serius dengan pihak prinsipal. Bahkan Renault sudah datang ke Kementerian Perindustrian, kami sudah ngomong niat kami seperti apa. Kita sudah tahu kalau tidak menyiapkan CKD, kuota impor kan dibatasi, apalagi kalau CBU itu repot," terangnya.

Infografik Rencana Renault

Infografik Rencana Renault. tirto.id/Fuadi

Bicara soal Triber, MPV Renault ini mengusung dapur pacu 1.000 cc berkonfigurasi tiga silinder. Tak ada masalah dengan mesin ini, toh kompetitor di segmen LCGC juga ada yang menggunakan mesin berkapasitas serupa, termasuk Daihatsu dengan Ayla.

Namun, pilihan mesin tiga silinder yang disebut-sebut kurang bertenaga dan tidak sehalus mesin empat silinder, bisa menjadi batu sandungnya di pasar Indonesia. Terlebih medan jalanan Indonesia yang masih didominasi jalur menanjak dan menurun, terutama di luar perkotaan, membuat mesin tiga silinder kerap mendapat stigma negatif.

"Jadi gini, itu semua adalah hasil dari studi kami, sudah gitu mesin yang kami pakai adalah mesin Renault Clio yang sudah terbukti di Eropa. Yang jelas, Triber sudah dicoba satu juta kilometer di India, dan hasil tes itu menunjukkan tidak ada masalah dengan daya menanjak dari kendaraan ini," tegas Davy.

Spesifikasi mesin 1.000 cc tiga silinder milik Triber memang bukan kaleng-kaleng. Davy menerangkan dapur pacu itu telah mengusung teknologi DOHC Dual VVT-I dengan tambahan air scoop, serta dikombinasikan dengan transmisi manual 5-percepatan atau AMT 5-percepatan. Tenaga yang dihasilkan mencapai 72 dk dan torsi 96 Nm.

Tenaga Triber meski dengan spesifikasi tiga silinder, juga disebut lebih bertenaga dibanding beberapa kompetitor yang menggunakan mesin empat silinder. Apalagi, dengan spek mesin lebih ringkas, konsumsi BBM mobil ini juga diklaim lebih efisien.

"Jadi mesin Triber ini masih satu basis dengan Clio yang dijual di Eropa. Coba Anda cek kompetior yang 1.200 cc, tenaganya cuma 69 dk. Apalagi untuk dipakai dalam kondisi stop and go, jelas lebih enak mesin ini," pungkasnya.

Baca juga artikel terkait RENAULT atau tulisan lainnya dari Dio Dananjaya

tirto.id - Otomotif
Penulis: Dio Dananjaya
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara