Semifinal Piala AFC Zona Asean

Mimpi PSM Melaju ke Final Terhenti Setelah Gagal Bermain Direct

Oleh: Herdanang Ahmad Fauzan - 27 Juni 2019
Dibaca Normal 2 menit
Bermain direct dengan mengandalkan umpan-umpan panjang, PSM mengalahkan Becamex Binh Duong 2-1 dalam leg kedua semifinal Piala AFC zona Asean. Namun, itu tak cukup mengantarkan Juku Eja menembus final.
tirto.id - PSM Makassar mnang tipis 2-1 dalam leg kedua semifinal Piala AFC zona Asean, Rabu (26/6/2019). Namun, hasil positif dalam laga di Stadion Pakansari, Bogor, itu tak mampu meloloskan Juku Eja ke final lantaran mereka kalah produktivitas gol tandang, setelah leg pertama, PSM kalah 1-0.

"Sebagai pesepakbola, tim harus menerima ini," tutur pelatih PSM, Darije Kalezic kepada reporter Tirto usai pertandingan.

Wander Luiz Diaz, pemain Becamex bernomor punggung 10 jadi penentu dengan gol tunggalnya. Sementara dwigol PSM yang masing-masing tercipta akibat bunuh diri Ho Tan Tai dan sontekan Aaron Evans tak berarti banyak.

"Kami sebenarnya bermain baik, terutama di babak kedua. Tapi pada akhirnya tentu kami tak puas karena harus masuk ke ruang ganti dengan kepala tertunduk," begitu kata kapten PSM, Wiljan Pluim berkomentar menimpali Kalezic.

Perkataan Pluim ada benarnya. PSM memang bermain relatif baik di babak kedua. Dwigol Juku Eja seluruhnya juga tercipta pasca-turun minum. Namun, di babak pertama, PSM gagal menerapkan strategi mereka dengan baik.

Blunder Kalezic Menyusun Lini Tengah



Di babak pertama, Darije Kalezic menerapkan formasi 4-1-4-1. Dalam skema ini, tim dibagi menjadi dua unit, yakni unit pertahanan dan unit penyerangan. Unit pertahanan terdiri dari empat orang bek dan satu gelandang jangkar, Marc Anthony Klok. Sementara unit penyerangan berisikan empat orang gelandang--yang acap saling bertukar posisi--sebagai penopang serta satu striker, Eero Maarkkanen.

Kalezic cenderung mengarahkan timnya bermain direct. Saat build-up, Marc Klok sebagai pengatur ritme di unit pertahanan akan memompa atau mengarahkan bola ke salah satu sisi sayap. Tujuannya jelas: agar gelandang sayap yang menerima bola bisa menusuk untuk mengirimkan crossing.

Sayang, Kalezic melakukan kekeliruan mendasar dalam pemilihan pemain. Dari empat gelandang yang dia tampilkan, cuma Muhammad Rahmat yang punya kecepatan di atas rata-rata. Alhasil, serangan PSM terlihat timpang.

Selama babak pertama, penetrasi lebih banyak dilakukan Juku Eja dari sayap kiri, pos Rahmat banyak beroperasi. Di sisi sebaliknya, meski tidak tampil buruk, Wiljan Pluim kerap kalah saat adu sprint dengan fullback Becamex, Nguyen Thanh Hao, sehingga pemain asal Belanda itu tak bisa menciptakan banyak momen penting.



Bukan cuma dalam menyikapi Pluim, Becamex juga menangkal dengan baik upaya PSM bermain direct. Pelatih Nguyen Thanh Sonh mengandalkan skema 4-4-2. Saat PSM melakukan build-ip, empat pemain di lini tengah Becamex akan mengawal empat pemain tengah PSM, sementara dua striker ditugaskan mengganggu upaya Marc Klok maupun bek tengah PSM menyirkulasikan bola dari belakang. Dan karena serangan PSM timpang ke kiri, Becamex lebih mudah mengantisipasi umpan-umpan panjang Klok. Nguyen memadatkan sektor kanan pertahanan untuk mengacaukan ritme Muhammad Rahmat.

Juku Eja tak banyak berkutik. Alih-alih berhasil mengurai padatnya lini tengah Becamex, mereka justru lengah dan kebobolan pada injury time babak pertama. Keterlambatan fullback kiri PSM, Benny Wahyudi turun saat transisi negatif dimaksimalkan dengan baik oleh Ho Tan Tai. Pemain bernomor punggung empat tersebut mengirim umpan silang ke kotak penalti. Abdul Rahman, bek PSM yang ditugaskan mengawal pemain nomor 10, Wander Luiz Dias tak melakukan tugas dengan maksimal. Luiz lepas dari penjagaan Abdul dan mengirim sebuah sundulan untuk mengubah skor jadi 0-1.

Saat dimintai komentar mengenai gol ini, Nguyen Tanh Sonh tak menampik kalau anak asuhnya beruntung. Bukan hanya karena timnya meredam upaya PSM dengan baik, tapi juga lantaran pertahanan PSM tak bermain konsisten menjelang peluit turun minum.

"Kami beruntung, menurut saya pertahanan PSM tampil kurang maksimal di babak pertama, khususnya nomor punggung 28 [Abdul Rahman]," ujarnya.

Zulham Membantu, Tapi Tak Mengatasi Masalah



Pada paruh kedua, PSM tak mengubah pendekatannya, tapi sadar ada ketimpangan serangan mereka. Darije Kalezic memasukkan winger kanan, Zulham Zamrun untuk menyeimbangkan ketimpangan itu. Hadirnya Zulham yang menggantikan gelandang nomor 19, Rizky Pelu secara otomatis bikin Wiljan Pluim bergeser lebih ke tengah dan banyak berinteraksi dengan pengatur ritme Marc Klok.

Hasilnya tidak mengecewakan. Baru 10 menit masuk, berawal dari build-up Klok dan Pluim, Zulham yang punya kecepatan sprint di atas rata-rata sempat mengirim key-pass (umpan kunci) terukur. Sayang, bola hasil kreasi Zulham gagal dimaksimalkan striker Eero Markkanen, yang cuma menyundul bola ke samping gawang.

Hadirnya Zulham juga merangsang fullback kanan PSM, Asnawi Mangkualam untuk tampil lebih berani. Berkolaborasi dengan Zulham, Asnawi melakukan penetrasi membahayakan pada menit 58, yang lagi-lagi gagal dimanfaatkan penyerang PSM menjadi gol.

Puncaknya adalah pada menit 75. Kerja sama apik antara Asnawi dan Zulham berujung umpan lambung ke kotak penalti yang justru disambar bek Becamex, Ho Tan Tai menjadi gol bunuh diri.

Dengan skor 1-1, atmosfer Stadion Pakansari semakin bergemuruh dan tiga menit jelang laga usai Zulham kembali membuktikan dampak kehadirannya. Sebuah umpan sepak pojok terukurnya dituntaskan Aaron Evans dengan sontekan kaki kanan yang mengecoh kiper Vietnam, Nguyen Thanh Hao. Skor akhir 2-1.

Dengan fakta bahwa PSM tampil tanpa cela pada babak kedua, sepintas Juku Eja terlihat gagal lolos cuma karena tak beruntung. Namun, di luar masalah Kalezic mengatur lini tengah, skor tersebut sekadar merepresentasikan bahwa PSM punya kelemahan lain yang sudah tak tertolong: kemampuan finishing mereka.

Sepanjang laga, Juku Eja sebenarnya punya sembilan peluang bersih. Namun, dari angka itu cuma satu yang mengarah ke sasaran dan berujung gol. Eero Markkanen, striker yang dipercaya Kalezic sebagai starter, gagal memaksimalkan keunggulan posturnya, padahal dengan tinggi badan di atas rata-rata, Eero seharusnya punya peluang mencetak gol dari bola-bola direct yang dikirim rekan-rekannya.

Soal kegagalan Eero menjadi pembeda sempat disinggung Kalezic saat konferensi pers pasca-laga. Namun alih-alih mengakui itu, Kalezic cenderung menyembunyikan kekecewaannya.

"Saya sudah jelaskan tadi, para pemain telah menampilkan yang terbaik di laga ini. Dan itu termasuk soal dia [Eero]," pungkasnya.

Baca juga artikel terkait PIALA AFC 2019 atau tulisan menarik lainnya Herdanang Ahmad Fauzan
(tirto.id - Olahraga)

Reporter: Herdanang Ahmad Fauzan
Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Abdul Aziz
DarkLight