Militer Bolivia Minta Presiden Evo Morales Undur Diri Usai Pemilu

Oleh: Anggit Setiani Dayana - 11 November 2019
Dibaca Normal 1 menit
Militer Bolivia meminta Presiden Evo Morales untuk mengundurkan diri demi stabilitas negara.
tirto.id - Presiden Bolivia, Evo Morales diminta mengundurkan diri oleh pihak militer Bolivia dengan alasan menjaga stabilitas negara pada Minggu (10/11/2019).

"Setelah menganalisis situasi konflik internal, kami meminta Presiden Negara untuk meninggalkan mandat presidennya, agar perdamaian dipulihkan dan menjaga stabilitas, untuk kebaikan Bolivia," kata Williams Kaliman, Komandan Angkatan Bersenjata Bolivia, seperti dikutip The New York Times.

Protes terjadi setelah pemilihan umum bulan lalu, di mana Morales memenangkan suara. Morales sebelumnya telah memimpin Bolivia selama 14 tahun. Audit pemilihan umum menyebut ada pelanggaran dalam pemilihan umum, tetapi Morales menyebut dia adalah korban dari suatu persekongkolan.

Morales adalah pemimpin asli pertama Bolivia yang memerintah sejak 2006. Dia mencalonkan diri untuk masa jabatan keempat pada Oktober lalu setelah pengadilan konstitusi membatalkan batas masa jabatan presiden.

Di jalan-jalan ibukota Bolivia, La Paz, rakyat melakukan unjuk rasa untuk pembatalan kemenangan Morales. Keluarga Morales menerima ancaman berupa serangan dan rumahnya dibakar massa.

Hingga akhirnya, kemiliteran Bolivia turun tangan dengan merekomendasikan Morales untuk mundur demi stabilitas nasional.

Bagi sebagian masyarakat Bolivia, terutama masyarakat miskin Bolivia, Morales adalah pemimpin yang anti-demokrasi, sebagian lainnya menganggap Morales berhasil membuat masyarakat lebih setara dan lebih inklusif.

Pendukungnya menyebut tindakan ini adalah kudeta, yang menimbulkan kerusuhan di negara termiskin Amerika Selatan tersebut.

BBC mewartakan, Wakil Presiden terpilih Alvaro Garcia Linera dan Ketua Senat Adriana Salvatierra juga mengundurkan diri.

Bolivia dilanda protes selama berminggu-minggu usai kabar kecurangan pemilu menyeruak. Ketegangan pertama bermula setelah penghitungan hasil dihentikan selama 24 jam. Morales mendapat 10 persen poin lebih tinggi untuk menang di putaran pertama.

Setidaknya selama kerusuhan berlangsung, tiga orang tewas. Petugas kepolisian juga bergabung dengan para demonstran.

Pada Minggu (10/11/2019) Organisasi Negara-negara Amerika, yang memantau pemilihan umum Bolivia, menyebut mereka menemukan bukti manipulasi data skala besar, dan tidak dapat mengesahkan hasil jajak pendapat sebelumnya.

Tekanan terus berlanjut kepada Morales, beberapa rekan politiknya mengundurkan diri, dan keamanan keluarga Morales pun dikhawatirkan.

Jenderal Williams Kaliman meminta pengunduran diri Morales dan menyatakan militer Bolivia akan melakukan operasi netralitas untuk mengamankan para demonstran.

Di sisi lain, pihak oposisi, Carlos Mesa berterima kasih pada para demonstran atas "kepahlawanan dalam menjaga perdamaian".

Ia juga menyebut, kemunduran Morales sebagai akhir dari masa tirani dan ini akan menjadi pelajaran sejarah berharga bagi Bolivia.


Baca juga artikel terkait PRESIDEN BOLIVIA atau tulisan menarik lainnya Anggit Setiani Dayana
(tirto.id - Politik)

Kontributor: Anggit Setiani Dayana
Penulis: Anggit Setiani Dayana
Editor: Dipna Videlia Putsanra
DarkLight