Mi Instan Tak Genting Diterpa Isu Miring

Oleh: Suhendra - 22 Oktober 2016
Dibaca Normal 3 menit
Indonesia menempati urutan kedua di dunia sebagai negara dengan permintaan mi instan terbanyak setelah Cina. Penjualan mi instan di Indonesia nyaris tak goyah oleh beragam isu negatif soal kesehatan. Hanya saja, dua tahun terakhir penjualannya justru dalam tren melemah. Mengapa?
tirto.id - “Kalau mie instan berbahaya untuk dikonsumsi, mungkin dari beberapa belas tahun yang lalu banyak orang Indonesia yang mati"

“Kalau mi instan itu mengandung banyak bahan-bahan yang berbahaya. Kenapa sampai detik ini produk mereka masih beredar di mana-mana?”

Pernyataan-pertanyaan tersebut merupakan reaksi keras para netizen setelah Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) melalui akun Facebook-nya mengunggah sebuah infografik “Dibohongi Mi Instan” akhir Januari lalu. Unggahan itu menarik sekitar seribu komentar. Sikap kontra lebih dominan daripada yang pro terhadap YLKI.

Bukan sekali ini saja mi instan mendapatkan tudingan miring. Tapi bukan sekali ini pula mi instan dibela mati-matian oleh penggemar beratnya. Belakangan, kampanye negatif itu semakin gencar seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan. Pada saat yang sama, permintaan mi instan di Indonesia mengalami penurunan dalam dua tahun terakhir.

World Instant Noodles Association (WINA) merilis permintaan mi instan pada 2015 turun tipis jadi 13,2 miliar bungkus dari 13,4 miliar bungkus di 2014. Penurunan ini tak seberapa. Pada 2014, permintaan mi instan turun parah hingga 10 persen dari 14,9 miliar bungkus pada 2013. Dampak isu miring?

Tahan Isu Miring

Bola panas yang dilemparkan YLKI ke publik hanya sebagian dari rentetan isu miring yang menghinggapi mi instan. Produk ini juga pernah dianggap mengandung lilin, minyak babi, pengawet berbahaya, dan rumor tak sedap lainnya.

Salah satu tudingan yang menghebohkan terjadi pada 2010, ketika otoritas pengawas makanan Taiwan melarang produk mi instan Indonesia karena dianggap berbahan pengawet berbahaya. Pemberitaan yang masif itu tak berdampak pada konsumen. Pemerintah Indonesia bahkan harus turun tangan untuk memberikan klarifikasi bahwa mi instan aman dikonsumsi.

”Mi instan produk Indonesia aman untuk dikonsumsi," kata MS Hidayat, Menteri Perindustrian ketika itu, seperti dikutip dari Antara.

Yang terbaru adalah komentar YLKI yang dilempar pada 31 Januari 2016 lalu. Beberapa isu yang dilempar YLKI antara lain. Pertama, mi instan tidak mengandung nutrisi apapun. Mi instan malah mengandung hampir 2700 mg sodium dalam satu kemasan.

Kedua, mi instan mengandung bahan pengawet beracun TBHQ, yang umum ditemui di semua jenis makanan yang telah diproses. Bahan ini diproduksi juga di industri minyak tanah. Hanya 1 gram saja dari TBHQ dapat memberi efek muntah dan mual.

Ketiga, makanan populer ini juga mengandung monosodium glutamat (MSG) yang dapat memacu kerja sel saraf anda secara berlebihan dan dapat mengakibatkan kerusakan atau kematian, sehingga disfungsi dan kerusakan otak dapat terjadi dalam berbagai stadium. Hal ini memicu terjadinya penurunan kemampuan belajar, penyakit Alzheimer( melemahnya daya ingat), Parkinson dan lainnya.

Keempat, wanita yang mengkonsumsi mi instan lebih dari dua kali dalam seminggu, 68 persen lebih rentan terhadap penyakit metabolisme tubuh.

Bombardir isu negatif ternyata tidak menyurutkan konsumsi mi instan. Misalnya ketika muncul tudingan dari Taiwan pada 2010, konsumsi mi instan tak goyah. Pada 2011, permintaan mi instan di Indonesia justru naik menjadi 14,53 miliar bungkus dari 14,4 miliar bungkus di 2010.

Termasuk adanya tudingan dari YLKI, ternyata tak menggoyahkan konsumsi mi instan selama triwulan I - 2016. Parameternya bisa dilihat dari angka penjualan mi instan Indofood, yang menguasai lebih dari 70 persen pangsa pasar nasional. Penjualan mi instan Indofood tetap tumbuh 8,27 persen pada triwulan I-2016. Divisi usaha Grup Indofood yang khusus memproduksi mi instan ini mencatatkan penjualan Rp5,96 triliun dalam 3 bulan.

Kampanye negatif terbukti tidak menyurutkan penjualan mi instan. Fans garis keras mi instan ternyata lebih banyak. Mereka selalu berusaha meyakinkan diri bahwa mi instan sehat dikonsumsi. Dalam mesin pencari google, kata kunci “Mi Instan Sehat” mencatat 526.000 hasil pencarian (dalam 0,60 detik).

Angka ini jauh lebih tinggi dari kata kunci “Mi Instan Berbahaya” yang terekam hanya 266.000 hasil pencarian (dalam 0,61 detik). Kata kunci “Mi Instan Mengandung Pengawet” justru tercatat jauh lebih rendah hanya 55.900 hasil pencarian (dalam 0,64 detik).

Dari angka-angka itu, seolah masyarakat sudah akrab dengan informasi negatif terhadap mi instan yang dikonotasikan berbahaya hingga mengandung bahan pengawet berlebih. Sehingga mereka tak tertarik mencari tahu soal informasi itu. Di sisi lain, rasa ingin tahu dan penasaran masyarakat lebih tinggi terhadap aspek kesehatan produk yang dikonsumsi sejuta umat ini.

Infografik HL MI


Mi Instan dan Bencana

Isu kesehatan terbukti tidak menggoyahkan penjualan mi instan. Namun, ada faktor lain yang sangat berpengaruh pada penjualan mi instan yakni daya beli konsumen yang menurun karena pelemahan ekonomi, intensitas bencana, ekspansi produk mi instan, dan faktor produksi beras.

“Kondisi 2014-2015 karena panen bagus. Kalau gagal panen, atau banyak bencana dan banjir, cuaca tidak bagus, permintaan mi instan pasti naik,” kata Ketua Umum Asosiasi Produsen Roti, Biskuit, dan Mie (Arobim) Sribugo Suratmo kepada Tirto.id Jumat (20/5/2016)

Bencana ternyata memberikan efek yang besar pada penjualan mi instan. Ini dikarenakan mi instan kerap ambil bagian dari misi kemanusian seperti bencana alam di dalam dan luar negeri. Dipilihnya mi instan dalam hampir setiap paket bantuan bukan tanpa alasan. Selain pertimbangan praktis dan mudah dikonsumsi, mi instan juga relatif mudah diterima semua kelas sosial.

Dalam sebuah peta sumber daya logistik makanan yang dibuat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 2010, mi instan hampir selalu masuk dalam daftar bahan pangan untuk bantuan bencana, selain beras dan makanan tambahan lainnya. Dari 8 kota pusat logistik BNPB, hanya 2 kota yang tak menyediakan cadangan mi instan.

Data BNPB juga mencatat jumlah bencana di Indonesia pada 2015 turun 15 persen jadi 1.740 kasus dari 2.053 kasus pada tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, permintaan mi instan ikut turun. Sebaliknya, pada 2012, bencana yang terjadi di Indonesia mengalami kenaikan dari 2.177 kasus menjadi 2.342 kasus. Ketika itu, permintaan mi instan naik jadi 14,75 miliar bungkus dari 14,53 miliar bungkus di tahun sebelumnya.

Selain bencana, faktor lainnya karena ada kenaikan produksi padi. Saat permintaan mi instan turun di 2015, produksi padi saat itu naik 7 persen hingga 75,36 juta ton. Faktor penurunan daya beli konsumen juga punya andil memberikan kondisi genting pada mi instan. Pada 2014 saat ekonomi Indonesia hanya tumbuh 5,02 persen, atau melemah dari 5,78 persen, permintaan mi instan turun tajam.

“2014 daya beli turun, suplai tidak bertambah, 2014 tak ada pabrik baru brand baru, ditambah daya beli turun,” kata Sribugo.

Faktor terakhir, upaya ekspansi produsen mi instan. Sebanyak 14,9 miliar bungkus terjual di 2013, angka ini tertinggi sepanjang sejarah permintaan mi instan di Indonesia. Pada waktu itu, jumlah bencana yang terjadi di Indonesia relatif rendah hanya 1.816 kasus bencana. Namun, penjualan terdongkrak oleh munculnya varian-varian baru.

“Pada 2013 itu banyak brand baru, pabrik baru, sehigga permintaan naik,” jelas Sribugo.

Tahun ini, produsen mi instan tetap optimistis meski terus diterpa isu negatif. Permintaan mi instan diperkirakan bisa pulih ke angka 15 miliar bungkus, sejalan membaiknya ekonomi.

Kontribusi pemerintah yang berperan “menjaga” nasib produk ini, turut mempengaruhi permintaan mi instan tetap tumbuh di tengah pandangan sumir pada si mi keriting.

“Intinya semua produk pangan punya izin edar BPOM, jadi sudah dievaluasi dari keamanan, mutu, dan gizi. Semuanya sudah memenuhi," kata Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Roy Alexander Sparringa menanggapi postingan YLKI, dikutip dari bisnis.com.

Pemerintah selalu tampil di depan ketika ada isu negatif mi instan. Pertanyaannya, apakah pembelaan itu semata untuk melindungi konsumen, atau ada kepentingan bisnis lain?

Baca juga artikel terkait INDOMIE atau tulisan menarik lainnya Suhendra
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Suhendra
Penulis: Suhendra
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
Artikel Lanjutan
DarkLight