Mewaspadai Trigeminal Neuralgia, Gangguan Saraf Penyebab Bunuh Diri

Oleh: Widia Primastika - 16 Oktober 2018
Dibaca Normal 2 menit
Rasanya seperti terbakar di wajah. Atau ditusuk. Atau disetrum.
tirto.id - Pada 7 Oktober biasa diperingati sebagai Trigeminal Neuralgia Awareness Day. Tak banyak orang yang tahu tentang penyakit ini. Padahal, saking hebatnya rasa sakit akibat Trigeminal Neuralgia (TN), penderitanya bisa terdorong untuk bunuh diri.

Kepada BBC, seorang pria bernama Peter Codd bercerita tentang pengalamannya 20 tahun menderita akibat penyakit Trigeminal Neuralgia, yang lazim dikenal sebagai penyakit bunuh diri.

Pria asal Wales, Britania Raya ini mengatakan bahwa serangan penyakit tersebut sering membuat dirinya merasa seperti disengat listrik atau terbakar di bagian wajah. Untuk menghilangkan rasa sakitnya itu, Codd menggunakan anestesi di wajahnya.

“Rasa sakit berasal dari saraf trigeminal yang mengalir di sisi wajah Anda,” ujar Codd.

Codd membeberkan bahwa serangan itu sering membuat dirinya tidak bisa makan, minum, berbicara atau menelan selama beberapa jam. Ia mengalami masalah itu pada sisi kiri wajahnya.

“Setiap serangan, saya tidak bisa berbicara, makan, atau minum selama dua jam. Dan karena saya tidak bisa menelan, saya akan menggiring makanan dari sudut mulut saya. Rasanya tidak enak,” ungkap Codd.

Apa itu Trigeminal Neuralgia?


Artikel berjudul “Trigminal neuralgia” (2013, PDF) yang ditulis oleh Joanna Zakrzewska dan Mark E. Linskey menjelaskan bahwa penyakit ini merupakan nyeri yang terjadi pada satu atau lebih cabang saraf kelima dari 12 pasang saraf yang berasal dari otak.

Serangan ini terjadi secara paroksismal, atau dalam waktu singkat dengan setiap nyeri berlangsung selama beberapa detik hingga beberapa menit. Frekuensi paroksismal ini bervariasi, bisa berlangsung selama sehari, atau bahkan bertahun-tahun.


Sebagaimana ditulis Zakrzewska dan Linskey, rasa nyeri yang dihasilkan seperti ditikam atau disetrum
Rasa sakit tersebut dapat dipicu oleh sentuhan ringan pada area saraf trigeminal, misalnya ketika mengunyah, berbicara, mencuci muka, atau membersihkan gigi. Akibatnya, kondisi ini bisa merusak aktivitas sehari-hari dan menimbulkan depresi bagi penderitanya.

Dilansir situs resmi National Health Service, Britania Raya, sebagian besar kasus trigeminal neuralgia bisa memengaruhi sebagian atau seluruh sisi wajah. Rasa sakit itu bisanya dirasakan pada bagian bawah wajah dan terkadang mempengaruhi kedua sisi wajah dalam waktu yang berbeda.

Rasa sakit bisa hilang sama sekali selama beberapa bulan atau bertahun-tahun pada periode tertentu, tetapi ada kemungkinan untuk muncul lagi.

Hidup dengan neuralgia trigeminal tidaklah mudah, sebab penyakit ini berdampak pada kualitas hidup seseorang, sehingga bisa memengaruhi berat badan dan kondisi psikologis penderita.

Pengobatan Trigeminal Neuralgia


Menurut situs Mayoclinic.org, ada beberapa cara penanganan Trigeminal Neuralgia. Biasanya, penderita akan diberi obat-obatan terlebih dahulu. Namun, jika obat-obatan tersebut tak bisa menyembuhkan, maka penderita akan diberi suntikan atau operasi perawatan neuralgia.

Obat yang digunakan oleh penderita trigeminal neuralgia biasanya adalah obat yang digunakan untuk mengurangi rasa sakit yang dikirim ke otak pasien, misalnya antikonvulsan. Biasanya, dokter akan memberikan obat yang terbukti efektif: carbamazepine.

Jika obat tak mempan, maka dokter akan meningkatkan dosisnya, atau beralih ke jenis obat lain. Meski begitu, obat aktikonvulsan memiliki efek samping seperti pusing, gelisah, kantuk, dan mual.


Dalam makalah berjudul “Trigeminal neuralgia versus atypical facial pain” (1996, PDF) yang ditulis Jens C. Turp dan John P. Gobetti, dijelaskan bahwa obat antikonvulsan yang diberikan kepada penderita trigeminal neuralgia juga bisa menyebabkan efek samping dari sisi hepatotoksik dan hematologi seperti agranulostosis, anemia aplastik, leukopenia, atau pansitopenia.

“Karena itu harus dilakukan uji laboratorium dasar. Hematologi lengkap dan evaluasi fungsi hari sangat dianjurkan sebelum dan selama terapi, dan termasuk menunjukkan jumlah sel darah lengkap (CBC), ion serum, tes fungsi hati, dan konsentrasi plasma carbamazepine,” ungkap Turp dan Gobetti.

Infografik Trigeminal Neuralgi


Pasien juga akan mengalami beberapa reaksi terhadap pengobatan dengan carbamazepine, misalnya kemungkinan penyakit gastrointestinal seperti sakit perut, diare, sembelit, anoreksia, stomatitis, glositis, dan kekeringan pada mulut dan faring.

Selain itu, pengobatan dengan carbamazepine juga bisa menyebabkan masalah kulit seperti pruritus dan ruam eritematosa, urtikaria, dan fotosensitifitas. Dalam studi tersebut, Turp dan Gobetti juga menyebutkan bahwa sistem saraf dan sistem kardiovaskular bisa terganggu.


Dikutip dari Mayoclinic, obat lain yang bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakit trigeminal neuralgia adalah agen antipasmodic dan suntikan botox.

Selain pengobatan, ada alternatif operasi untuk mengobati penyakit trigeminal neuralgia. Misalnya dengan dekompresi mikrovaskuler, yakni prosedur yang melibatkan relokasi atau pemindahan pembuluh darah yang bersentuhan dengan akar trigeminal untuk menghentikan saraf dari gangguan fungsi.

Dekompresi mikrovaskuler bisa menghilangkan atau mengurangi rasa sakit beberapa saat. Namun, dalam beberapa kasus, penyakit ini bisa kambuh kembali. Selain itu, dekompresi mikrovaskuler juga mengandung risiko seperti pendengaran menurun, wajah melemah, mati rasa, stroke, atau komplikasi lainnya.

Baca juga artikel terkait GANGGUAN SARAF atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Kesehatan)


Penulis: Widia Primastika
Editor: Windu Jusuf