Metamorfosis Gurita Bisnis Foxconn

Oleh: Wan Ulfa Nur Zuhra - 30 Mei 2016
Dibaca Normal 2 menit
Dari sekadar menjadi perusahaan manufaktur yang membuat perangkat elektronik sejumlah merek ternama, Foxconn perlahan bertransformasi menjadi perusahaan pemilik brand. Tidak dengan mengeluarkan brand baru, tetapi dengan mengakuisisi, membeli merek-merek yang sudah punya nama.
tirto.id - Di Barat Daya Taipei, ada sebuah kota kecil bernama Tucheng. Di kota itu, 42 tahun lalu, Hon Hai Precision Industry yang kini dikenal dengan nama Foxconn Technology Group lahir. Terry Gou sang CEO, dan beberapa pekerja, memulainya dengan produksi tombol plastik untuk televisi hitam putih.

Tahun berganti, Gou tak puas dengan hanya memproduksi tombol plastik. Ia lalu membuat kabel dan konektor, casing komputer, juga perakitan komputer. Produk-produk itu dibuat seiring dengan meningkatnya permintaan komputer dunia mulai periode 1980 – 1990.

Foxconn mendapat banyak pesanan dari sejumlah merek terkenal. Demi memenuhi banyaknya permintaan ini, Foxconn lantas membuka pabrik di Shenzhen, Provinsi Guangdong, Cina pada 1988. Pabrik di Shenzen inilah yang kemudian menjadi pabrik terbesar Foxconn.

Sejak saat itu, pertumbuhan Foxconn sangat pesat. Pada periode 1990-an, permintaan elektronik tumbuh dengan pesat. Hal ini merupakan berkah bagi industri-industri manufaktur, termasuk Foxconn. Merek-merek terkenal memilih mengalihkan pekerjaannya ke produsen dari negara-negara yang “murah” seperti Cina. Tren inilah yang membawa pertumbuhan bagi Foxconn.

Greget Aksi Korporasi

Tahun 1991, Foxconn mencatatkan sahamnya di bursa saham Taiwan. Aksi korporasi itu kemudian diikuti dengan serangkaian merger dan akuisisi. Foxconn seperti perusahaan lapar yang siap memangsa lawan-lawannya.

Akuisisi pertama dilakukan Foxconn pada 2003. Sebuah perusahaan di Finlandia bernama Eimo Oyj, pemasok komponen untuk Nokia, menjadi target akuisisi pertamanya. Di tahun yang sama, perusahaan asal Taiwan ini juga membeli pabrik ponsel Motorola di Meksiko.

Pada tahun itu pula, nama-nama besar seperti HP, Dell, IBM, Apple, dan Compaq tercatat sebagai pelanggan Foxconn. Produk-produk yang mereka keluarkan, dibuat secara massal di pabrik-pabrik milik Foxconn.

Dua tahun kemudian, Foxconn mengakuisisi pabrik perakitan milik HP. Di tahun itu juga, Foxconn menjadi peserta bursa saham Hong Kong. Setahun kemudian, Foxconn kembali melebarkan sayapnya. Sebuah merger dilakukan dengan Premier Image Technology, produsen kamera digital. Terjadi penambahan 10.000 karyawan dengan adanya merger ini.

Tahun 2007, jumlah karyawan Foxconn telah mencapai 508.000 orang. Foxconn pun memegang predikat perusahaan manufaktur elektronik terbesar di dunia yang hingga kini masih digenggamnya.



Bunuh Diri Marak, Ekspansi Berlanjut

Namun, perjalanan Foxconn bukan tanpa halangan. Pada 2010, Foxconn menghadapi sorotan tajam ketika 18 karyawannya melakukan bunuh diri. Sebagian besar mengakhiri hidup mereka dengan melompat dari jendela kamar asrama. Kerasnya tekanan pekerjaan, panjangnya jam kerja, dan kecilnya gaji disebut-sebut sebagai penyebab banyaknya buruh Foxconn yang frustasi.

Tetapi persoalan buruh ini tak menyurutkan langkah Foxconn Technology Group untuk terus melebarkan gurita bisnisnya. Di tahun ketika bunuh diri para buruh marak terjadi, Foxconn menambah 10 pabrik di Chengdu. Di saat yang sama, Foxconn mengakuisisi pabrik televisi milik Sony di Meksiko dan membangun pabrik baru di Hanoi.

Tahun-tahun berikutnya, akuisisi terus dilakukan, tanpa henti hingga tahun ini, mungkin juga tahun depan. April lalu, Foxconn sepakat untuk membeli Sharp dengan harga $3,5 miliar. Foxconn tak gentar meskipun perusahaan yang dibelinya sedang merugi besar-besaran.

Bagi Foxconn, ini adalah titik di mana ia harus mengubah model bisnisnya, setelah 42 tahun. Kali ini konsumennya tak lagi perusahaan-perusahaan besar, tetapi orang-orang di seluruh dunia.

Mengubah Strategi, Meraup Margin

Setelah Sharp, Foxconn melanjutkan langkahnya mengakuisisi merek besar. Kali ini di lini bisnis telepon selular, Foxconn berniat mengambil alih Nokia dari tangan Microsoft senilai $350 juta. Akuisisi itu akan membuat Microsoft mentransfer semua aset ponsel fitur Nokia, termasuk merek, perangkat lunak dan layanan, kontrak pelanggan, dan perjanjian pasokan kepada Foxconn.

Sekitar 4.500 karyawan juga akan ditransfer ke Foxconn. Jika tidak mau, mereka berhak memilih bekerja ke perusahaan lainnya. Anak usaha Foxconn, FIH Mobile Taiwanese, juga akan membeli Microsoft Mobile Vietnam, perusahaan manufaktur yang berbasis di Hanoi. Transaksi ini direncanakan akan selesai pada semester kedua tahun ini.

Mulai tahun ini dan tahun-tahun berikutnya, Foxconn tak lagi sekadar pabrik manufaktur. Dengan model bisnis yang baru ini, Foxconn kemungkinan besar akan mendapat margin laba yang lebih besar dari yang biasa diperolehnya.

Dari memproduksi produk-produk milik Apple seperti iPad dan iPhone, Foxcon hanya mendapat margin laba kurang dari 2 persen. Sementara Apple, si pemilik brand, mendapat margin keuntungan rata-rata di atas 20 persen, bahkan hingga 30 persen. Sebuah ketimpangan yang cukup nyata.

Namun, Sharp dan Nokia memang bukan Apple. Dalam jangka pendek, meski sudah ditangani Foxconn, Sharp mungkin akan terus merugi. Sejumlah analis memprediksi, setidaknya dalam tiga tahun ke depan, kolom laba bersih Sharp akan terus negatif. Tetapi bukan berarti perusahaan ini tidak mampu kembali mencetak keuntungan. Para analis meyakini, Sharp paling tidak butuh lima tahun untuk bangkit dari kerugian. Ketika ia telah bangkit, Foxconn tentu akan menikmati keuntungan, dengan margin yang lebih besar, tentu saja.

Baca juga artikel terkait FOXCONN atau tulisan menarik lainnya Wan Ulfa Nur Zuhra
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Wan Ulfa Nur Zuhra
Penulis: Wan Ulfa Nur Zuhra
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
Artikel Lanjutan
DarkLight