Menuju konten utama

Meski Melemah, Rupiah Masih Lebih Baik Dibanding Rupee & Ringgit

Sri Mulyani Indrawati mengklaim, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terjadi belakangan masih lebih baik dibandingkan mata uang negara tetangga.

Meski Melemah, Rupiah Masih Lebih Baik Dibanding Rupee & Ringgit
Menteri Keuangan Sri Mulyani (kanan) berbincang dengan Penasehat Senior Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Bruce Aylward (kiri) usai pertemuan Joint Finance and Health Ministers Meeting (JFHMM) G20 Indonesia di Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (21/6/2022). ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/rwa.

tirto.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengklaim, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terjadi belakangan masih lebih baik dibandingkan mata uang negara tetangga. Rupiah sendiri sudah terdepresiasi 8,62 persen (year to date/ytd) hingga 31 Oktober 2022.

Namun, pelemahan itu lebih rendah ketimbang depresiasi mata uang India (rupee) yang mencapai 10,20 persen, Malaysia (ringgit) 11,86 persen, dan Thailand (baht) 12,23 persen.

"Depresiasi rupiah masih relatif lebih baik dibandingkan dengan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang lainnya, seperti India, Malaysia, dan Thailand, sejalan dengan persepsi terhadap prospek perekonomian Indonesia yang tetap positif," ujarnya dalam konferensi pers KSSK, di Jakarta Kamis (3/11/2022).

Sri Mulyani menuturkan, tren depresiasi nilai tukar negara berkembang tersebut didorong oleh menguatnya dollar AS dan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global akibat pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif di berbagai negara, terutama Amerika Serikat (AS).

Indeks nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama (DXY) tercatat sudah mencapai level tertinggi dalam dua dekade terakhir yaitu 114,76 pada 28 September 2022 lalu. Namun, ia meyakini, stabilitas rupiah masih terjaga di tengah penguatan dolar AS.

"Stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga di tengah tren menguatnya dolar AS," kata dia.

Untuk diketahui, dalam perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 48 poin walaupun sebelumnya sempat melemah 50 poin dilevel Rp15.695 dari penutupan sebelumnya di level Rp15.646.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi menuturkan, pelemahan rupiah terjadi lantaran indeks dolar dan indeks dolar berjangka masing-masing naik 0,5 persen setelah Federal Reserve menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin (bps).

Sementara data ekonomi yang lemah dari Cina juga mengurangi sentimen terhadap kawasan tersebut.

Ketua Fed Jerome Powell menepis spekulasi bahwa bank berencana untuk menghentikan kenaikan suku bunga, dan mengatakan bahwa Fed akan terus menaikkan suku lebih lama dari yang diperkirakan semula.

Powell mengatakan bahwa suku bunga AS, yang saat ini berada di level tertinggi sejak krisis keuangan 2008, juga akan mencapai puncaknya pada level yang jauh lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya, karena inflasi yang sangat tinggi.

Sementara Ketua Fed juga meningkatkan prospek kenaikan suku bunga yang lebih kecil ke depan, sebagian besar pasar yang digerakkan oleh risiko anjlok karena sikapnya yang hawkish. Namun, mayoritas pedagang sekarang memperkirakan kenaikan 50 bps di Desember.

Baca juga artikel terkait NILAI TUKAR RUPIAH atau tulisan lainnya dari Dwi Aditya Putra

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Dwi Aditya Putra
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Anggun P Situmorang