Menuju konten utama

Meski Kalah, Suara Kotak Kosong Signifikan di Pati

Pendukung kotak kosong (kolom kosong) di Pilkada Pati tak sukses menjegal calon bupati tunggal yang inkumben. Tapi, suara kotak kosong signifikan untuk ukuran kubu tanpa kandidat di daerah dengan DPT 1.035.663 orang.

Meski Kalah, Suara Kotak Kosong Signifikan di Pati
Sejumlah warga melewati jalan yang tergenang banjir menuju Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Desa Mustokoharjo, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Rabu (15/2/2017). Sebanyak 435 warga memberikan hak pilih di TPS yang dipindahkan ke Mushola karena lokasi asalnya terendam banjir. ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho.

tirto.id - Hasil Pilkada Pati 2017 membetot perhatian Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo. Kandidat tunggal di pilkada ini hampir dipastikan menang berdasar hasil hitung cepat KPUD Pati. Tapi, suara pemilih kotak kosong (kolom kosong), mampu unggul di sebagian TPS di kabupaten dengan jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) lebih dari sejuta orang itu.

Data hitung cepat KPUD Pati menyebut jumlah pemilih kotak kosong seperempat dari suara sah. Tjahjo pun melaporkan fenomena perlawanan sengit ke kandidat tunggal di pilkada ini ke Presiden Joko Widodo pada Kamis kemarin.

Pilkada dengan kandidat tunggal sebenarnya tak hanya Pati. Kasus Pati jadi perhatian Tjahjo karena jumlah DPT di delapan Pilkada paslon tunggal lainnya, jauh lebih minim. Selain di Pati, jumlah DPT terbesar di Pilkada kandidat tunggal ada di Tulang Bawang Barat, Lampung, yakni cuma 100.086 jiwa. Ditambah lagi, ada jaringan relawan yang aktif mengampanyekan pilihan kolom kosong di Pati.

Kampanye “bawah tanah” para relawan Aliansi Kawal Demokrasi Pilkada Pati (AKDPP), di lima bulan sebelum pemilihan, memang membuat suara pemilih kotak kosong menguat. Suara kotak kosong malah hampir mengejar perolehan paslon tunggal, yang diusung delapan partai politik, di dua kecamatan.

Berdasar hasil hitung cepat KPUD Kabupaten Pati berbasis data form C1 dari semua TPS, yang tuntas pada Kamis sore (16/2/2017), pasangan Haryanto-Saiful Arifin memenangi pemilihan tanpa lawan ini. Pasangan ini meraup 74,52 persen suara sah, atau 519.688 pemilih. Sementara jumlah pemilih kotak kosong mencapai 25,48 persen, yakni 177.682 suara.

Suara sah di Pilkada Pati 2017 sebanyak 696.310. Ada 15.195 suara tak sah. Artinya, dari jumlah DPT 1.035.663 orang, hanya 711.402 orang menggunakan hak pilihnya. Mereka yang tak mencoblos, 324.261 pemilih. Tingkat partisipasi di pilkada paslon tunggal ini, 68,7 persen. Sebanyak 31,3 persen pemilih tak mencoblos.

Di atas kertas, pasangan Haryanto-Saiful Arifin menang telak. Tapi, apabila jumlah suara kolom kosong dan pemilih yang tak mencoblos digabung, ketemu 501.943 suara, hampir separuh jumlah DPT di Pati. Sejatinya, Haryanto-Saiful Arifin cuma menang tipis di Pilkada ini.

Padahal, Haryanto calon bupati inkumben. Pengusungnya delapan partai penguasa 46 kursi di DPRD Pati, yakni koalisi PDIP, Gerindra, PKB, Demokrat, Golkar, Hanura, PKS dan PPP.

Haryanto-Saiful Arifin mendominasi perolehan suara di 21 kecamatan di Pati, namun, tak unggul telak di semua wilayah. Pemilih kotak kosong melampaui 25 persen suara sah di sembilan kecamatan.

Paling mencolok, di Kecamatan Margoyoso, suara kotak kosong ada 41,9 persen dan pemilih paslon tunggal, 58,1 persen. Di Kecamatan Pati, suara kotak kosong tercatat 40,4 persen dan perolehan paslon tunggal, 59,6 persen suara.

Suara kotak kosong di Kecamatan Tambakromo juga lumayan, 39,8 persen, di Kecamatan Trangkil, 36,2 persen dan di Kecamatan Wedarijaksa, 33,8 persen. Adapun di Kecamatan Kayen, suara kotak kosong 32,1 persen, dan di Margorejo, 30 persen. Sementara di Kecamatan Gabus, pemilih kolom kosong 27 persen dan di Kecamatan Tayu, 29,2 persen. Di 11 kecamatan sisanya, pemilih kolom kosong, mencapai jumlah beragam, dari 5,7 persen hingga 25,2 persen.

Sekretaris AKDPP, Itqonul Hakim menuding separuh suara untuk Haryanto-Saiful Arifin diperoleh berkat politik uang. Organisasinya sudah melaporkan 12 kasus politik uang ke Panwaslu Pati. Sebagian besar kasus di laporan-laporan itu terjadi di tujuh hari jelang pemilihan.

Dia juga menyangsikan keakuratan hasil hitung cepat KPUD Pati. Hasil hitungan relawan AKDPP, sampai Jumat (17/2/2017), pemilih kotak kosong mencapai 35 persen suara sah. Itu pun para relawan AKDPP masih mengoreksi ulang ketepatan hitungan suara kotak kosong di sebagian kecamatan yang terindikasi bisa lebih besar.

“Kalau pun kalah, tipis dan terhormat karena tak pakai politik uang,” kata dia pada Jumat (17/2/2017) saat dihubungi Tirto.

Dia menambahkan, “Dan ingat, walaupun nanti mereka betul menang, mayoritas warga Pati akan menentang semua kebijakan pemerintah daerah yang tak pro-rakyat.”

Itqonul memastikan para relawan AKDPP akan mengawal proses penanganan laporan dugaan politik uang di Pilkada Pati. Dia berharap Bawaslu Jawa Tengah ikut serius mengawal penanganannya.

Adapun Juru Bicara Tim Pemenangan Haryanto-Saiful Arifin, Joni Kurnianto membantah kubunya menebar politik uang. “Saya berani sumpah, semua partai pengusung haramkan money politic. Silahkan dibuktikan.” Kata Joni lagi, “Kemenangan di depan mata kok tebar uang.”

Joni juga mengaku puas dengan perolehan suara jagonya sekalipun belum sesuai target, 80 persen suara. “Kami cuma kalah di sebagian kecil TPS, tak apa, yang jelas kami sudah menang.”

Dia mengatakan pilihan delapan partai pengusung Haryanto-Saiful Arifin sudah tepat. Sebagai inkumben, Haryanto susah dilawan. “Dia populer, modalnya kuat dan jaringannya luas. Survei semua partai (sebelum pencalonan), Haryanto selalu di atas 60 persen,” ujar Joni.

Sementara Ketua KPUD Pati, Mukhamad Nasikh mengatakan Pilkada Pati menyadarkan pentingnya ada regulasi terkait kehadiran tim pemenangan suara kotak kosong. Kekosongan regulasi ini, sempat membuat repot penyelenggara Pilkada di Pati karena kebanjiran protes.

“Mulai regulasi soal kampanyenya (pendukung kotak kosong), alat peraga kampanye hingga kehadiran saksi sah di pemilihan,” ujar dia.

Baca juga artikel terkait PILKADA SERENTAK 2017 atau tulisan lainnya dari Addi M Idhom

tirto.id - Politik
Reporter: Addi M Idhom
Penulis: Addi M Idhom
Editor: Addi M Idhom