Merenungi Karier Sembari Jobbymoons

Oleh: Restu Diantina Putri - 24 Juni 2018
Dibaca Normal 3 menit
Say goodbye untuk bizcation yang tetap bikin keningmu berkerut-kerut memikirkan deadline kantor. Buat yang sedang memikirkan akan resign dari pekerjaan, tak ada salahnya mencoba jobbymoons!
tirto.id - Trinzi sedang berada dalam puncak kariernya ketika memutuskan hengkang dari kursi pemimpin redaksi cewekbanget.id, sebuah media online khusus remaja putri (sebelumnya kawanku.co.id). Saat itu, perusahaan tengah membuka program pensiun dini bagi para karyawannya. Empat belas tahun berkecimpung di bidang dan kantor yang sama membuatnya merasa harus mencari hal baru untuk dilakukan. Tawaran pensiun dini pun tak ia lewatkan. Apalagi angka pesangon yang menggiurkan, cukup membuatnya tak harus bekerja hingga bertahun-tahun.

Tak lama setelah mengajukan pengunduran diri, Trinzi mengepak kopernya dan terbang ke Amerika Serikat. Ia memulai perjalanannya pada Desember 2017 dengan mengunjungi Washington DC dan The Big Apple, New York. Puas mengunjungi Paman Sam di dua tempat itu, ia kemudian melanjutkan perjalanan ke Amerika Latin. Dalam dua setengah bulan, setidaknya ia berhasil menjelajah ke lima negara di Amerika Latin seperti Kuba, Peru, Ekuador, Kolombia dan Meksiko.

“Memang dari dulu ingin ke Peru. Baru ada aja sekarang waktu dan uangnya,” ujar Trinzi yang akhirnya berhasil mencapai daratan tinggi Macchu Picchu.

Selama berkarier di dunia media, Trinzi dikenal sebagai seorang feminis dan aktif menyuarakan isu kesetaraan gender. Dalam perjalanannya itu, ia lantas bertemu banyak orang yang memiliki nilai yang sama seperti dirinya menyoal isu feminisme.

“Selama ini aku merasa sendiri. Merasa seperti alien. Di perjalanan aku menemukan orang-orang yang memiliki pandangan sama. Jadi enggak merasa kesepian,” cerita Trinzi.

Trinzi juga menemukan masih adanya opresi terhadap perempuan sisa-sisa kolonialisme masa lalu di kota-kota yang ia kunjungi, sama halnya seperti di Indonesia. Hal itulah yang membuatnya makin sadar dengan passionnya dan apa yang akan ia lakukan dalam hidupnya setelah ini.

Sepulang dari trip panjangnya itu, Trinzi banyak mengisi waktu menjadi pembicara di berbagai event yang membahas isu feminisme dan kesetaraan gender. Ia juga mulai mempertimbangkan kembali cita-citanya melanjutkan S2 di bidang tersebut. Sembari membangun mimpinya itu, Trinzi kini menjadi manajer komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta.

“Dulu pekerjaanku itu mendefinisikan diriku banget. Aku dikenal karena kerjaanku. Sekarang aku mau lepas dari itu. Biar kerjaanku ini urusan cari makan dan bertahan hidup aja, but not define myself,” ujar Trinzi.

Liburan Tanpa Beban


Masyarakat mengenal tradisi honeymoon, babymoon, staycation (berlibur di dalam kota/negeri) hingga bizcation (rekreasi di sela-sela perjalanan bisnis). Apa yang dilakukan Trinzi, saat ini lazim disebut sebagai jobbymoons.

Istilah ini diperkenalkan pertama kali oleh The New York Times pada 8 Juni 2018 dalam artikel berjudul Honeymoons, Babymoons, and Jobbymoons?

Secara bebas, jobbymoons diterjemahkan sebagai perjalanan yang dilakukan di antara pekerjaan lama sebelum memulai pekerjaan baru. Dalam studi vakansi 2016 yang dilakukan Asosiasi Perjalanan Amerika Serikat untuk proyek inisiasi mereka: Time Off menunjukkan 55 persen pekerja Amerika dengan jam kerja 35 jam per pekan, tidak menggunakan masa cutinya untuk bervakansi.

Padahal, rekreasi memiliki banyak keuntungan bagi para pekerja. Jeda, yang dapat dilakukan dengan melakukan travelling dapat meningkatkan produktivitas dan kreativitas karyawan. Sabbine Sonnentag, Profesor Psikologi Universitas Mannheim Jerman dalam studinya yang berjudul Recovery from Job Stress: The Stressor-detachment Model as an Integrative Framework menemukan bahwa ketidakmampuan memisahkan antara jam kerja dan tidak, dapat dilihat dari bagaimana seorang karyawan bekerja terus menerus, yang tentunya memengaruhi kualitas dan produktivitas pekerjaan.

“Sedikit liburan pada akhir pekan saja dapat membantu memulihkan stres karena pekerjaan secara signifikan. Dan ini akan semakin baik jika dilakukan lebih panjang,” ujar Sonnentag. Studi itu juga menyatakan, setelah liburan, 64 persen pekerja mengatakan mereka merasa segar kembali dan bersemangat untuk kembali bekerja.

Pada akhirnya, waktu jeda antara dua pekerjaan ini pun kerap menjadi momen tepat digunakan para pekerja untuk menghabiskan sisa cuti.

infografik liburan


Tidak hanya sebagai momen kontemplasi menyoal karier masa depan, jobbymoons juga dapat dilakukan dengan tujuan refreshing sembari menyiapkan energi di pekerjaan baru. Ratri, 28, segera menggendong carrier besarnya begitu mendapat pekerjaan pengganti dari pekerjaan lamanya. Ia bersama empat kawannya mendaki Gunung Gede Pangrango medio April 2017.

“Buat rileks aja. Enggak mikirin karier karena memang sudah dapat. Buatku, liburan itu meninggalkan masalah-masalah di belakang. Live the moment,” kata Ratri yang kini bekerja di sebuah rumah produksi.

Tak seperti bizcation yang mengaburkan antara pekerjaan dan rekreasi, jobbymoons memungkinkan kamu untuk terlepas sama sekali dengan urusan pekerjaan. “Kamu tidak lagi berkutat dengan drama kantor yang mungkin saja dirasakan dan membuat dirimu merasa terpenjara. Lebih baik kamu memulai pekerjaan baru tanpa terus memanggul beban dari posisi lamamu,” ujar Michelle Gielan, salah satu psikolog yang juga terlibat dalam proyek inisiasi: Time Off kepada The New York Times.

Di beberapa negara, terdapat tradisi yang serupa dengan jobbymoons. Mereka menyebutnya Gap Year, atau dapat disebut jobbymoons dalam waktu yang lebih panjang, yakni sekitar satu tahun.

“Mereka melakukan perjalanan keliling dunia selama setahun penuh. Aku belum bisa seperti itu. Tidak kuat juga finansialnya,” ucap Trinzi.

Cuma Untuk Orang Kaya?


Meski terlihat menyenangkan, fenomena jobbymoons juga mendapat nada skeptis dari beberapa kelompok. Mereka menyebut tradisi hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang berpenghasilan tinggi. Dalam artikel Grazia Daily bertajuk Jobbymoons Are The Perfect Break Between Jobs…But Only If You’re Rich menyebut bahwa berganti pekerjaan bagi sebagian besar orang merupakan momen-momen krusial yang cukup berat. Mereka tetap butuh penghasilan untuk membiayai hidup sehari-hari yang tidak akan mungkin terpenuhi jika mereka tidak bekerja.

Eka, 28, membuktikan jobbymoons juga dapat dilakukan dengan budget minim. Ia memilih melakukan staycation selama sepekan penuh di rumah kawannya di Yogyakarta tepat setelah melepas pekerjaan lamanya yang penuh tekanan di ibukota. Dalam jeda itu, ia hanya menghabiskan waktu dengan menonton serial-serial drama Korea tanpa keluar rumah.

“Sambil memikirkan juga sih, habis ini mau ngapain. Dan setelah liburan itu, aku tahu aku mau meneruskan cita-citaku sebagai pengajar. Jadi sekarang aku ambil S2,” tutup Eka.

Baca juga artikel terkait TRAVELLING atau tulisan menarik lainnya Restu Diantina Putri
(tirto.id - Gaya Hidup)


Penulis: Restu Diantina Putri
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti