Merekam Suasana Kertanegara Saat Prabowo Dua Kali Klaim Kemenangan

Oleh: Haris Prabowo - 18 April 2019
Dibaca Normal 2 menit
Prabowo Subianto dua kali mendeklarasikan 'kemenangan' dalam Pilpres 2019 tanpa didampingi wakilnya Sandiaga Uno.
tirto.id - Sore itu, halaman depan rumah Prabowo Subianto di Jakarta terlihat ramai. Puluhan pendukung dan relawan tampak memenuhi ruas di antara Jalan Kertanegara dan Jalan Sriwijaya, lokasi markas Prabowo-Sandiaga selama kampanye Pilpres 2019. Tampak juga para penjual asesoris 02 yang menjajakan dagangannya berupa gantungan, pin, hingga kemeja biru sewarna atribut khas Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga.

Di depan rumah Prabowo, panggung pendek setinggi 30 cm dengan luas sekitar 5 meter kali 10 meter sudah didirikan sejak siang.

Di panggung itu, pukul 16.54 WIB, Prabowo Subianto mengklaim ia menang Pilpres 2019 di hadapan puluhan pendukungnya dan media yang meliput. Ini didasarkan atas -- menurut klaim mereka -- exit poll internal pada sekitar 5.000-an TPS di seluruh Indonesia. Exit poll internal tim sukses bilang Prabowo-Sandiaga menang 55,45 persen.

Prabowo juga menyerang lembaga survei lain yang sebagian besar hasilnya bertolak belakang: memenangkan Jokowi-Ma'ruf.

"Mohon semua relawan untuk mengawal kemenangan kita di TPS dan kecamatan. Juga saya tegaskan di sini pada rakyat bahwa ada upaya lembaga-lembaga survei-survei tertentu yang memang sudah bekerja untuk satu pihak, untuk menggiring opini seolah-olah kita kalah," kata Prabowo.


Ia juga bicara soal kecurangan yang membikin mereka rugi.

"Banyak surat suara tidak sampai, TPS buka jam 11, pendukung kita enggak dapat undangan dan sebagainya. Belum lagi banyaknya surat yang sudah dicoblos 01," kata Prabowo.

Saat konferensi pers ini, Prabowo ditemani beberapa orang seperti Djoko Santoso, Shohibul Iman, Yusuf Martak, Dahnil Anzhar Simanjuntak, dan Sufmi Dasco Ahmad.

Namun, ada yang aneh: tidak ada Sandiaga Uno. Ketidakhadiran Sandiaga menjadi buah bibir dan pertanyaan di kalangan pendukung, relawan, bahkan awak media sore itu.

Situasi yang Memanas

Semakin mendekati malam, pendukung dan relawan kian ramai di Kertanegara. Jam menunjukkan pukul 17.45 WIB saat sejumlah orang muncul di panggung. Diawali mantan komisioner Komnas HAM Natalius Pigai, dan dilanjutkan beberapa tokoh seperti Eggi Sudjana, Slamet Maarif, Yusuf Martak, Ustadz Sambo, dan Bachtiar Nasir.

Hampir bersamaan muncul dua mobil Datsun yang dilengkapi sistem pengeras suara yang menjulang tinggi. Keadaan di Kertanegara berisik dan panas.

Penasihat PA 212 Eggi Sudjana ambil panggung. Ia yakin betul Prabowo-Sandiaga seharusnya menang.

"Konteks analisis kalau 2014 itu Prabowo dikalahkan 8 juta suara, itu sudah teratasi 2016 ada alumni 212 bisa mengumpulkan 13 juta di Monas. Artinya 8 juta bisa teratasi," kata Eggi.

Apalagi, kata Eggi, Prabowo pergi ke daerah tak pernah sepi namun Jokowi ke daerah selalu sepi.

"Ini menjadi anomali dari kampanye sepi tapi menang. Jika temuan kecurangan semakin terang benderang, Malaysia sebelum pemilu sudah dicoblos, maka jika kecurangan diakumulasi oleh KPU, insya Allah setelah diumumkan resmi, apakah ada kecurangan serius? Kekuatan people power mesti dilakukan. Setuju? Berani?," kata Eggi bertanya ke relawan.

"Kalau people power terjadi, tak perlu ikut-ikut mekanisme, karena sudah kedaulatan rakyat," katanya.

Para pendukung dan relawan menambah keriuhan. Suasana sudah tidak kondusif, sedangkan langit makin gelap.

"Presiden Prabowo!"

"Saatnya Jokowi turun!"

Ucapan-ucapan itu diucapkan oleh ratusan sembari mengepalkan tangan ke atas. Massa makin ramai yang datang.


Sandiaga Tak Hadir (Lagi)

Pukul 20.25 WIB, Prabowo Subianto mendadak kembali muncul di panggung. Ia mendeklarasikan 'kemenangan' lagi di depan rumahnya.

"Ini kemenangan bagi rakyat Indonesia, seluruh rakyat indonesia, dan saya katakan di sini, saya akan jadi presiden seluruh rakyat Indonesia, dan bagi saudara sekalian yang membela 01, tetap kau akan saya bela," kata Prabowo.

Keadaan semakin riuh. Ratusan orang terus berteriak menyerukan nama Prabowo, gantikan Jokowi, dan hal-hal lainnya. Kendati, ada juga perkataan yang menyatukan mereka semua: "Prabowo Presiden kita!"

"Saya akan dan sudah menjadi presidennya seluruh rakyat Indonesia. Kita akan membangun Indonesia yang menang, Indonesia yang adil makmur, yang damai, dan disegani seluruh dunia," imbuhnya.

Saat memberikan pidato kemenangan, Prabowo tampak berpidato dengan semangat. Ia didampingi Salim Segaf Al Jufri, Mustafa Kemal, Slamet Ma'arif, Idrus Sambo, Tedjo Edhy.

Namun, lagi-lagi, tidak ada Sandiaga. Beberapa humas BPN dan ajudan Sandiaga menyebut Sandiaga sedang tidak enak badan dan perlu istirahat. Sekjen PKS Mustafa Kamal, misalnya, mengatakan hal itu.

"Beliau lagi istirahat. Namanya lagi istirahat, masak kita ganggu. Masak orang enggak boleh istirahat," katanya. "Enggak sakit, istirahat saja. Beliau, kan, baru pulang umrah jetlag. Itu aja."

Hal senada diucapkan juru bicara BPN Prabowo-Sandiaga Ferdinand Hutahaean. Ia berkomentar agak berbeda dari dugaan banyak pihak yang mengatakan Sandiaga sedang kurang fit.

"Ada di dalam. Ya, bagi-bagi tugas. Bukan sakit. Bang Sandi sehat. Lagi diskusi dengan banyak tokoh. Ulama, purnawirawan, dan lainnya," katanya.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Haris Prabowo
(tirto.id - Politik)

Reporter: Haris Prabowo
Penulis: Haris Prabowo
Editor: Zen RS