Mereka yang Dipersatukan oleh Kesedihan

Ilustrasi. FOTO/Istock
Oleh: Dea Anugrah - 28 April 2017
Dibaca Normal 2 menit
“Semua keluarga yang berbahagia sama saja, tetapi setiap keluarga yang murung punya kemurungannya sendiri-sendiri,” tulis Leo Tolstoy dalam Anna Karenina. Amatan itu agaknya tak hanya berlaku bagi keluarga, tetapi juga kota dan negara.
tirto.id - Pada abad ke-15, Portugis mengirimkan banyak pemudanya ke pelbagai penjuru dunia untuk membuka jalur perdagangan dan mendirikan koloni-koloni. Sebagian besar di antara mereka tak pernah pulang.

Bagi perempuan, anak-anak, dan orang-orang tua yang ditinggalkan, kehilangan itu tak hanya diiringi rindu dan kesedihan mendalam, tetapi juga harapan yang awet bahwa kekasih, abang, dan anak-cucu mereka hilang bukan buat selama-lamanya. Mereka menamai perasaan campur aduk itu saudade. Mereka mengalami saudade bersama-sama, karena alasan yang sama. Itulah melankolia kolektif milik bangsa Portugis.

Dalam makalah “Mourning and Melancholia” (1917), Sigmund Freud membedakan antara duka dan melankolia. Duka, menurutnya, adalah reaksi alamiah ketika seseorang kehilangan orang yang ia cintai atau abstraksi tertentu yang ia anggap berharga (tanah air, kemerdekaan, cita-cita, dan seterusnya). Tetapi duka punya batas. Pada suatu waktu, orang-orang yang berduka bakal berdamai dengan kehilangan dan menyadari bahwa apa-apa yang tak kembali mungkin saja tergantikan.

Melankolia, di sisi lain, membuat orang-orang mengubur “objek kehilangan” dalam ego masing-masing, bukan melepasnya pelan-pelan.

Alih-alih berdamai dengan kehilangan dan ganti menghasratkan objek-objek baru, menurut Freud, orang-orang melankolik justru membelah ego-nya menjadi dua: “subjek murni” dan “subjek yang berbaur dengan objek kehilangan.” Bagian diri yang terkontaminasi objek kehilangan itu, dengan demikian, rentan jadi sasaran kritik dan penghakiman bagian diri yang lain. Mudahnya: selain kesedihan dan harapan, melankolia mengandung perasaan bersalah yang akut.

“Jika duka membuat orang-orang merasa dunia gersang dan hampa, melankolia membuat mereka menganggap diri masing-masinglah yang gersang dan hampa. Pengidap melankolia menunjukkan kepada kami bahwa dirinya tak berharga, tak sanggup melakukan apa pun, dan berlumuran dosa. Ia membenci dan mengutuk dirinya sendiri dan berharap diasingkan,” tulis Freud.

Namun, yang menarik, melankolia tak seutuhnya buruk. Proses perendahan-diri yang dilahirkannya malah membuat orang-orang melankolik lebih mawas diri. Freud menerangkan: “Ketika orang melankolik menggambarkan dirinya sebagai manusia berjiwa kerdil, egois, pendusta, dan lain-lain, boleh jadi ia justru telah mengenal dirinya sendiri; tetapi yang kami tak mengerti, mengapa seseorang harus bersakit-sakit dahulu buat menemukan kebenaran semacam itu?”

Hande Takdemir dalam disertasinya di University of Southern California, “Collective Melancholy: Istanbul at the Crossroads of History, Space, and Memory” (2008), menyatakan bahwa pengenalan-diri tak hanya ada dalam melankolia individual, tetapi juga melankolia kolektif. Takdemir mencontohkan warga Istanbul dan melankolia kolektif mereka: hüzün.

Hüzün adalah kata dalam bahasa Turki yang akarnya dalam bahasa Arab (ia muncul lima kali dalam kitab suci Alquran) menggambarkan kehilangan sekaligus harapan bercorak spiritual terhadap situasi yang lebih baik di masa depan. Bagi kaum sufi, misalnya, ia berarti kerinduan luar biasa yang mendesak seseorang agar semakin mendekatkan diri kepada Tuhan.

Namun, dalam konteks Istanbul dan para penghuninya, hüzün berarti kehilangan dan perasaan terputus dari sejarah kejayaan bangsa Turki semasa kesultanan Utsmani sekaligus harap-harap cemas terhadap kebaruan. Ia bukanlah kesedihan seorang manusia, tetapi mood hitam yang melingkupi jutaaan orang sekaligus,” ujar novelis termahsyur Turki Orhan Pamuk dalam memoarnya, Istanbul: Memories and the City (2003).

Istanbul dimutakhirkan dengan cetak biru pinjaman dari negeri-negeri Barat, tetapi tak dapat melepaskan diri dari bayang-bayang ukiran-ukiran kuno, istana para pasha, jalan-jalan yang menyerupai labirin jika dipandang dari ketinggian, dan minaret-minaret megah yang pernah membanggakan para penduduknya serta memukau para pendatang.

Menurut Esra Akcan dalam “Melancholies of Istanbul” yang diterbitkan World Literature Today (November-Desember 2006), Pamuk memahami hüzün sebagai hasil perpaduan dua jenis melankolia. Pertama, situasi kejiwaan seseorang yang mengalami trauma kehilangan, sebagaimana diuraikan Freud (melankolia subjek). Kedua, jenis yang agak sumir dan lebih jarang dibicarakan, ialah melankolia yang melekat pada benda-benda (melankolia objek).

Di Istanbul, objek itu adalah lanskap (manzara) kota itu sendiri. Puing-puing bangunan kuno, selat Bosphorus, dan pemukiman-pemukiman yang gagal disejahterakan oleh modernisasi menjadi perantara yang menularkan wabah kemurungan kepada segenap warga Istanbul, menyatukan mereka dalam melankolia kolektif.

“Bagiku, Istanbul senantiasa merupakan kota penuh puing dan kemurungan yang mengiringi keruntuhan sebuah imperium,” tulis Pamuk, “dan seumur hidupku, aku sibuk bertarung melawan melankolia itu atau berusaha menjadikannya milikku sendiri, sebagaimana semua orang Istanbul.”



Jika melankolia individual menjadikan orang kritis terhadap dirinya sendiri, demikian pula imbas melankolia kolektif terhadap suatu bangsa atau penduduk kota yang mengalaminya. Dengan murung bersama, mereka dapat lebih mengenal diri mereka sebagai sebuah kesatuan dan, pada akhirnya, menghadapi situasi-situasi pelik juga sebagai sebuah kesatuan.

Pamuk menyampaikan situasi itu secara terang dan indah: “Hüzün mengajari kami daya tahan pada masa-masa kere dan kekurangan. Ia juga mendorong kami untuk membaca kehidupan serta sejarah Istanbul secara terbalik, memungkinkan kami berpikir bahwa kekalahan dan kemiskinan bukanlah akhir sejarah, melainkan permulaan yang terhormat.

“Memang perasaan terhormat itu bisa menyesatkan, tetapi ia juga berarti Istanbul tak memandang hüzün sebagai penyakit tak tersembuhkan, atau kemiskinan seumur hidup yang patut diratapi, atau kegagalan buat dihakimi. Istanbul mengenakan hüzün-nya dengan kebanggaan penuh.”

Berbeda dari bahasa Portugis dan Turki, bahasa Indonesia tak punya istilah khusus untuk melankoli kolektif. Sebabnya, kemungkinan besar, karena kita memang tak mengenal kesedihan bersama sekalipun sejarah kita dipenuhi kekalahan, penderitaan, dan tragedi besar. Dalam keadaan demikian, wajar bila kita senantiasa jadi sasaran empuk buat diadu-domba.

Baca juga artikel terkait KESEDIHAN atau tulisan menarik lainnya Dea Anugrah
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Dea Anugrah
Penulis: Dea Anugrah
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight