Mereka yang Bersedia Berkorban Mengamankan Natal di Katedral

Oleh: Alfian Putra Abdi - 25 Desember 2018
Dibaca Normal 3 menit
Polisi, petugas Satpol PP, hingga pelayan gereja mengamankan Misa Natal di Gereja Katedral Jakarta.
tirto.id - Ikrar Setiawan bersandar pada sebuah tiang lampu jalan, persis di seberang pintu keluar Gereja Katedral, Jakarta. Di bawah terpaan sinar lampu, wajahnya tampak lesu. Pandangannya sayup. Namun, Ikrar tak membiarkan matanya terkatup, apalagi sampai jatuh tertidur.

“Ngantuk sebenarnya,” kata Ikrar saat saya temui, Senin (24/12/2018) malam.

Senin pagi sekitar pukul 08.00 WIB, Ikrar sudah bergegas menuju Gereja Katedral Jakarta demi menjalankan tugas mengamankan prosesi Natal. Malam sebelumnya, ia tak sempat tidur lantaran ada kegiatan yang harus diikutinya.

Gereja Katedral bukan tempat asing bagi Ikrar. Sejak menjadi anggota Brimob Polda Metro Jaya tahun 2006 silam, sejak itu pula ia sudah ikut bagian menjaga malam Natal di sana. Tugas itu terus dilakoninya saban tahun sampai sekarang. Tak jarang ia harus berjaga 24 jam, tanpa tidur barang semenit pun. Saat saya sambangi, Ikrar masih harus berjaga sampai Misa III selesai.

“Namanya juga tugas,” kata Ikrar, “mau tidak mau harus on terus.”

Selama berjaga seharian, Ikrar tak memungkiri kejenuhan kerap datang. Apalagi, personel seperti dirinya pantang bermain gawai saat berjaga. Ia harus berdiri terus, memastikan kondisi aman dan kondusif. Ketika jenuh melanda, Ikrar biasanya menyiasatinya dengan berbincang dengan rekan anggota Brimob lainnya. Namun itu pun tak bisa leluasa, karena dirinya tetap harus fokus dan waspada.

Meski situasi dan kondisi aman sedari awal hingga pelaksanaan Misa III selesai, Ikrar tetap tidak boleh lengah. Setidaknya, ada dua faktor yang membuatnya tak boleh kendur menjaga Katedral.

Pertama, Katedral adalah gereja tua di Jakarta dan berstatus cagar budaya. Kedua, segala kemungkinan buruk bisa saja terjadi.

Setelah berbincang beberapa menit, saya melihat wajah Ikrar kian letih. Namun matanya yang sayup tak berhenti menjalari sekeliling gereja, dengan kedua tangan yang terus menggenggam senjata laras panjang.

Lepas tugas, Ikrar mengaku akan mempertimbangkan kembali untuk langsung pulang ke rumahnya di daerah Tanggerang Kota. Dia berpikiran untuk tidur di markas meski Selasa, hari ini (25/12/2018), adalah jadwalnya libur.


Ikrar tak sendiri. Anton Ali, petugas Satpol PP Sawah Besar, juga mengabdikan diri untuk tugas yang sama dengan Ikrar.

Sejak Senin pagi (24/12/2018), Anton berada di Gereja Katedral Jakarta. Kegiatannya diawali dengan Giat Lingkar untuk memastikan seluruh area gereja aman. Dalam istilah Anton pribadi: 'bersih'. Selain menjaga keamanan gereja, Anton juga membantu mengurus arus lalulintas di sekitar Jalan Katedral.

“Kita tidak boleh melihat ini sebagai rutinitas. Soalnya kalau gitu, nanti jadi nggampangin. Ini tugas penting,” kata Anton.

Namun, tidak seperti Ikrar, Anton masih sedikit longgar. Dia bisa duduk sesekali.

“Kalau saya bosen, saya main game. Tapi lihat-lihat [situasi] dulu,” ujarnya.

Di antara Ikrar dan Anton, ada pula anggota kepolisian yang menjalankan tugas yang sama. Namanya Yusak. Ia memang terlihat lebih santai, tidak memakai seragam dinas, melainkan pakaian kasual, dengan jins dan kemeja.

Yusak adalah anggota Intelijen Keamanan (Intelkam) Polres Metro Jakarta Pusat. Saat saya sambangi, ia tengah duduk dan berbincang dengan pelayan keamanan Gereja Katedral di dekat meja registrasi tamu. Ia seolah tidak sedang bertugas, dan penampilannya lebih seperti tamu misa yang lain. Namun, sebetulnya ia sedang mengamankan bagian dalam gereja.

“Memang harus [tampil] begini. Kalau kayak itu [menunjuk anggota kepolisian berseragam] nanti orang jadi segan,” ujarnya kepada saya.

Senin malam (24/12/2018) itu, Yusak tidak ikut misa. Barangkali hari ini, katanya. Sebagai umat Protestan, sebetulnya dia merasa sedih tidak bisa ikut misa. Namun apa lacur, kehadirannya malam itu sangat diperlukan untuk hal yang jauh lebih penting.

“Ini sudah perintah. Perintah itu di atasnya tugas. Jadi harus [dilaksanakan],” tutur Yusak.

Dari Yusak, saya menjadi tahu bahwa ternyata banyak anggota Intelkam yang disebar di seluruh area Gereja Katedral Jakarta.

“Banyak. Kalau saya masih bisa ditebak. Ada juga yang susah ditebak. Yang kayak kamu, gondrong gitu, juga ada,” kata Yusak, seraya menjelaskan, hal tersebut dilakukan semata-mata demi memaksimalkan penjagaan.

Panggilan Hati


Persis di samping Yusak, saya menyalami May, salah satu pelayan keamanan Gereja Katedral. Raut wajah May juga letih. Dia mengaku sudah berada di gereja sejak pukul 10.00 WIB, Senin (24/12/2018). Padahal, Misa I sendiri baru dimulai pukul 17.00 WIB.

Briefing dulu dan mempersiapkan hal-hal yang lain,” ujarnya.

Sama halnya dengan Yusak, May yang seorang Katolik pun tidak bisa ikut misa malam itu, lantaran harus berjaga, memastikan barang para tamu dan jemaat gereja bukan benda berbahaya.

“Yah, mau bagaimana lagi. Tapi saya besok akan ikut misa sebentar. Baru jaga lagi,” ujarnya.

May berasal dari Flores. Sudah bertahun-tahun dia tinggal di Jakarta. Dirinya mulai aktif di Gereja Katedral Jakarta sejak 2010. Mulanya ia bertugas sebagai petugas kebersihan. Lama-lama, ia mendapat tanggung jawab yang lebih besar. Dan pada malam Natal, dirinya menjadi petugas keamanan.

May berjaga tanpa dibayar. Ia melakukannya secara sukarela.

“Panggilan hati saya. Ini bentuk persembahan saya untuk Tuhan Yesus,” katanya.

Dorongan hati dan pengabdian itulah yang membuat May tak pernah absen ambil bagian dari keamanan malam Natal di Katedral. Ia pun sudah kerasan dengan lingkungan gereja yang menurutnya mampu menerima dirinya.

“Mungkin saya tidak akan bisa mendapatkannya di luar,” ujarnya.

Rekan May, Topan, pelayan keamanan Gereja Katedral lainnya, juga mengungkapkan hal serupa. Ia bertugas menjaga pintu keluar, dan tugas itu sudah nyaris dua dekade dijalaninya di setiap Misa Natal.

Sama seperti May, Topan juga tidak mengharap pamrih atas apa yang dilakukannya untuk gereja. Baginya, tugas pengamanan adalah bentuk ibadah yang lain kepada Tuhan.


Bertugas di saat semua jemaat melakukan misa tidak membuat Topan merasa iri sebagai seorang Katolik. Dia menyiasatinya dengan ikut Misa I sebentar, sebelum lanjut berjaga kembali.

“Awalnya saya hanya main dan sering beribadah di sini. Lama-lama seperti terpanggil jiwa saya untuk melakukan hal yang lebih,” ujar Topan.

Baca juga artikel terkait HARI RAYA NATAL 2018 atau tulisan menarik lainnya Alfian Putra Abdi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Alfian Putra Abdi
Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Abul Muamar